Tuesday, 8 November 2011

SUMBANGAN INTELEKTUAL

 
 

Judul               : Khazanah Intelektual slam   
Penerjemah      : Nurcholish Madjid
Editor              : Nurcholish Madjid
Penerbit           : Bulan Bintang
Cetakan           : 1984
Tebal               : VII, 384 halaman


           
Islam di bangun di atas sejarah panjang. Peradaban islam bukan ka’bah, sejarah islama bukan masjid nabawi. Islam sublim dalam ruhnya, yang dipegang teguh oleh umat islam. Dialektika dalam islam, setuju atau tidak, telah berpengaruh besar dalam sejarah islam. Begitu mewarnai intelektual islam. Di sini, saya menemukan bahwa, sejarah dan peradaban islam bukan saja kebudayaan, artefak, artefak, atau politik, tapi juga warisan pemikiran sarjana-sarjana muslim. Untuk itu, khazanah Intelektual Islam menjadi laik untuk dihadirkan di hadapan anda.
Buku ini merupakan terjemahan karya-karya sepuluh sarjana besar islam. Ada Alkindi, Al-Asy’ari, Al-Farabi, Ibn sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Taimiyah, Ibn Khaldun, Al-Afghani, dan terakhir Muhammad Abduh. Jangan pernah membayangkan riwayat hidup mereka dalam buku ini, sebab ini adalah riwayat pemikiran yang hidup dalam karya-karya.
Kita patut berterimakasih pada cendekiawan Nurcholish Madjid atas upayanya dalam menerjemahkan karya-karya intelektual islam, sehingga pemikiran mereka sampai kepada kita saat ini.
Terhitung sejak meninggalanya nabi, perebutan kekuasaan sudah mulai kembali mewujud. Kesukuan atau syu’biah juga bermunculan. Masalah semakin mengerucut dan rumit pasca naiknya Ali sebagai khalifah ke-empat. Perselisihan paham antar sahabat nabi sebenarnya juga sangat jelas terlihat. Bilal contohnya, perna memprotes kebijakan Umar. Bilal menuduh Umar telah menyimpang dari Al-Qur’an dan sunnah, sebab tanah yanng baru saja dibebaskan di Iran tidak dibagikan kepada tentara muslim, tapi malah diberikan kepada para petani-petani kecil yang bukan muslim. Menurut Al-Qur’an harta rampasan perang sejatinya dibagikan kepada muslim, tappi umar dengan jiwa sosial yang tinggi, memiliki pemikiran beda, yang tidak dipahami para sahabat lain.
Setelah Ali, muncul aliran-aliran dialektika atau dalam islam dikenal sebagai ilmu kalam. Mulanya berdebat mengenai kedudukan Ali dan Mu’awiyah dalam perebutan kekuasaan mereka. Namun, paham-paham tersebut ternyata terus memengaruhi tindak laku yang lain, bahakan perpolitikan kekuasan khalifah-khalifah selanjutnya.
Khawarij, Murjia’ah, Jabbariah, Qadariyyah, dan Mu’tazilah, merupakan aliran-aliran besar yang muncul pada saat itu. Aliran terakhir, Mu’tazilah sedikit banyak dipengaruhi filsafat Yunani yang dibangun atas kebebasan rasio. Dari sinilah muncul perumusan ­ushul fiqh oleh Imam Syafi’e dan ushul al-din oleh kaum Mu’tazilah.
Setelah mu’tazilah, lahir para pemikir islam yang di sebeut sebagai al falasifah, mereka adalah para skolastik islam yang menekuni filsafat Yunani. Aristoteles yang mengakaji logika formal (al manthiq), bilogi, ilmu bumi matemaris, dan masih banyak lagi, merupakan filsuf Yunani yang pemikirannya banyak dadopsi oleh para skolastik di atas.
Abu Ya’qub ibn Ishaq Al Kindi (wafata sekitar 257 H/870 M) adalah orang pertama yang menjadikan filsafat Yunani terkenal dalam islam.
Dalam anatologi ini,  pemikiran Alkindi dapat diketahui daru kedua risalah yang ditulisnya. Pertama, Risalah tentang Kemahaesaan Tuhan dan Keterhinggaan Massa Alam. Ia berbicara mengenai keesaan tuhan, menegaskan ajaran tauhid yang dibawa turun-temurun oleh para nabi, dan juga mengenai kebadaian alam yang ternya terbatasi, terhingga. Semacam kritik pada filsafat Aristoteles. Risalah keduanya adalah Risalah tentang Akal. Risalah ini seperti meringkas ulang dengan rasa penuh kebanggaan kepada filsafat ajaran Aristoteles mengenai akal. Al Kindi mengajak kaum muslimin untuk memanfaatkan mata akal secara radikal, menurutnya hal ini akan mengantarkan muslim menuju ma’rifat yang luas.
Selanjutnya adalah Al Asy’ari (wafat 300 H/913 M.) ia adalh pengukuh fondasi kaum Sunni. Nama  lengkapnya, Abu al Hasan al-Asy’ari.  Meski seorang Sunni, ia mulanya adalah penganut faham Mu’tazilah. Metode filsafat kerap terlihat dalam penulisannya mengenai teologia dan pemikiran intelektual lainnya. Meminjam metode berfikir mu’tazilah, Al-Asy’ari tercata sebagai orang yang bisa mengkritik tepat ajaran Mu’tazilah pada sasaran.
Buku ini memperkenalkan kita pada Al-Asy’ari, bersentuhan langsung dengan pemikirannya lewat tulisan. Pembelaan bagi Pengkajian Ilmu Kalam menegaskan pandangannya terhadap ilmu kalam. Semacam argumentasi menguatkan kedudukan kalam di hadapan orang-orang yang alergi terhadap ilmu kalam (filsafat retorika). Ia menohok langsung dengan  mengambil imam-imam mazhab besar dalam islam. Menurutnya, nabi Muhammad tidak pernah membincangkan nazar, wasiat, apalagi pembebasan budak yang kemudian ditulisnya dalam kitab. Tidak, nabi tidak pernah menulis buku, tapi itu dilakukan oleh para pewarisnya seperti Malik, Al Syafi’i, dan Abu Hanifah. Bukankah itu bid’ah? Dan bukankah secara sadar kita mengikuti ajaran imam-imam tersebut?
Selanjutnya adalah adalah Muhammad Abu Nash al-Farabi (wafat 340 H/950 M). Atau yang lebih kita kenal sebagai al-Farabi, guru kedua dalam falsafah islam setelah Aristoteles. Filsuf muslim kedua setelah al-Kindi, meskipun begitu banyak yang mengakui bahwa kapasitas keilmuan al-Farabi lebih unggul.
Di dalam karangan berjudul Perincian Ilmu Pengetahuan, ia menjabarkan ilmu ketuhanan yang terdiri dari tiga bagian; pertama yang membahas semua wujud, kedua yang membahas prinsip-prinsip burhan dalam ilmu-ilmu teori partikular, dan terakhir ilmu yang mebahas semua wujud yang bukan berupa benda atau yang berada dalam benda.
Selain itu ada juga ilmu politik yang menerutnya mempelajari tingkah laku, watak-watak manusia agar dapat mengetahui bagaimana manusia dapat diatur, dikuasai, serta bagaimana melanggengkan kekuasaan tersebut.
Sementara yang dimaksud ilmu fiqih ialah ilmu yang memberi hak untuk menyimpulkan hukum-hukum tentang hal-hal yang tidak dijelaskan secara rinci. Ketentuan hukum mengacu pada nas dengan mempertimbangkan alasan tujuan atas agama yang diturunkan pada umat.
Terakhit ia menjelaskan ilmu kalam. Ilmu kalam adalah kemampuan berargumentasi untuk mempertahankan dan membenarkan ide-ide serta perbuatan-perbuatan. Tentu tetap berdasar pada dalil-dalil serta bertujuan membela islam.
Pemegang estafet falsafat islam Al-Kindi dan Al-farabi adalah Abu ‘Ali Al-Husayn ibn ‘Abdullah ibn Sina (wafat 428 H/1037 M.) Karangannya berjudul Risalah tentang Peneguhan kenabian dan tafsir akan Simbul-simbul serta Lambang Para Nabi, berusaha mengukuhkan kedudukan para nabi, sama halnya dengan para filsuf sebelumnya. Mengenai nabi ia menulis (141):
            Inilah yang disebut Nabi, yang padanya terdapat puncak tingkat-tingkat keunggulan dalam lingkungan bbentuk-bentuk material. Karena yang unggul berdiri di atas yang rendah serta menguasainya, maka Nabi  berdiri di atas semua wujud yang diunggulinya serta menguasai mereka.
Al-Ghazali yang bernama asli Abu Hamid ib Muhammad al-Ghazali (wafat 505 H/1111 M) merupakan filsuf selanjutanya yang muncul setelah Ibn Sina. Pemikir orisinal yang tampil hebat dengan mengkritik filsafat al-Farabi dan Ibn Sina.
Jika al-Asy’ari meminjam metode Mu’tazilah untuk mengkritis Mu’tazilah, sama halnya dengan al-Ghazali yang kali ini meminjam metode ilmu kalam dan filsafat guna membela agama dan kembali mengaktifkan kajian keagamaan. Karya-karyanya terkenal adalah Ihya ‘Ulum al-Din dan Tahafut Falasifah. Menurutnya, kedkatan hamba dengan tuhan dapat dihayati dalam kehidupan zuhud seperti yang dilakukan para sufi.  
Penjelasan yang Menentukan, merupakan tulisannya yang tersitematisasi dalam tigabelas pasal. Ia mendedahkan dengan rinci tantang hakikat ada, kafir, pengkafiran, mengambil hukum tentang fakir. Semuanya dalam bahasa yang sangat filsafat.
Ahli Fiqih yang juga seorang filsuf adalah Ibn Rusyd, Abu al-Walid ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Ahmad ibn Rusyd (wafat 594 H/1198 M). Di dunia filsafat, ia merupakan filsuf yang sukses menerjemahkan filsafat Aristoteles. Tidak hanya terkenal di Arab, ia juga dikenal di Eropa.
Ibn Rusyd lahir dari keluarga hakim yang sangat dekat dengan tradisi ilmu keislaman, fiqih. Ia sendiri  sangat menguasainya, Bidayatul Mujtahid merupakan contoh karya nyata yang dekat dengan fiqih.
Ia coba mencari jalan damai antara filsafat dan Syariat, tulisannya yang kemudia diterjemahkan menjadi Makalah Penentu tentang Hubungan antara filsafat dan Syariat menjelaskan lebih detai mengenai hal tersebut. Ia menulis makalahnya dengan tujuan mencari pembenaran, adakah filsafat diperbolehkan untuk dipelajari dalam hukum syara’. Ia tiba pada kesimpulan bahwa filsafat sangat erat kaitannya dengan syara’. Kekacauan filsafat, bisa berakibat kekrusakan pada syara’ juga. Untuk amannya, setiap orang hendaknya berilmu, paling tidak tidak taqlid pada syara’, juga tidak menjadi bagian dari kegilaan para filsuf.
Pembaharu selanjutnya adalah Taqi al-din Ahmad ibn Timiyyah, atau Ibn Taimiyyah (wafat 728 H/1328 M). Tulisannya berjudul Tangga Pencapaian mengkritik para filsuf terdahulu seperti Ibn Sina dan Ibnu Rusyd. Menurutnya, para filsuf terdahulu lewat analisis mereka telah mengklaim bahwasanya nabi telah melakukan kebohongan mengenai nubuwat demi sebuah kebaikan.
Ibn Taimiyyah menyangkal tuduhan para filsuf tentang para nabi yang disebut tidak memahami esensi kenabian, ketuhanan, dan universala. Hakikat hanya diketahui oleh ahli filsafat. Ia sangat radikal dan kritis terhadap pokok ajaran yang sudah diwariskan dalam islam, baginya Al-Qur’an dan Sunnah memiliki tempat tinggi yang tak tergantikan.
Setelah Ibn Taimiyyah adalah ‘Abd al-Rahman ibn Khaldun yang lebih populer sebagi ibn Khaldun (808 h/1406 M). Ia menulis tentang Ilmu Pengetahuan dan Berbagai Jenisnya, tentang pengajaran serta Metode-metode dan Aspek-aspeknya, dan Tentang Berbagai Hal yang Bersangkutan dengan itu Semua.
Poin yang dapat ditarik dari tulisan ini adalah, sejatinya ilmu pengetahuan dan pengajaran merupakan hal yang alami dalam peradaban manusia. Ilmu pengetahuan mekar hanya bila peradaban tumbuh serta kebudayaan berkembang. Ia juga berpendapat bahwasanya ilmu penegtahuan terbagi menjadi dua bagian besar, yang pertama ilmu-ilmu hikmah dan filsafat, sedangkan yang kedua adalah ilmu-ilmu tradisional dan konvensional.
Ia juga membahas ilmu kalam, ilmu –ilmu rasional dan bagian-bagiannya, lalu ia membantah falsafah, dan terakhir mengenai cara yang benar dalam mengajarkan ilmu pengetahuan dan metode penggunaannya.
Salah seorang lagi pembesar isalm kali ini dalam kancah modern adalah Jamal al-Din al-Afghani (1255-1315 H/1839-1897 M). Inilah al-Afghani, pembaharu islam modern. Tulisannya dalam bung rampai ini berjudul Masa lalu Umata dan Masa Kininya, serta Pengobatan bagi Penyakit-penyakitnya, menyiratkan pemikirannya yang sangat jelas akan islam saat ini. Ada kekhawatiran di sana.
Ia melihat umat islam sedang berdiam dibawah kemunduran terus-menerus, sehingga perlu kiat tertentu untuk mengembalikan kejayaan tersebut. Ia menuntut umat islam untuk berfikir seradikal-radikalnya, sebebas-bebasnya. Tapi tentu saja, tetap dalam semangat menjalankan kemurnian islam.
Intelektual selanjutnya adalah Muhammad ‘Abduh (1261-1323 H/1845-1905 M). ‘Abduh merupakan murid al-Afghani, keduanya pernah menerbitkan majalah dalam bahasa Arab di Perancis,al-Urwah al-Wutsqa. Ia banayak belajar ilmu logika, ilmu kalam, astronomi, metafisika, dan sufisme isyraqiyyah dari sang guru.
Ia menulis sebuah Mukaddimah (Tentang Ilmu Tauhid). Ilmu yang mempelajari keesaan tuhan. Sejak wujud, sifat-sifatnya yang wajib, jaiz, maupun mustahil. Ia juga meringkassejarah dealektika ilmu kalam dalam tulisannya ini.
Akhirnya, buku ini menjadi bacaan wajib bagi anda untuk lebih memahami pergolakan pemikiran dalam islam. Sangat bermanfaat bagi nutrisi kognisi khazanah keislaman. Ia menyentuh dengan pemikiran, bukan sekadar kebanggan pada ketokohan.


Tuesday, 25 October 2011

Major Characters in Othello

taken from http://students.cis.uab.edu/black790/Othello.html

Othello 

Othello is a black –Moor, and is a Christian. He is the general of the armies of Venice. Although he is a black, people respected him due to his eloquent and powerful profile. People recognized him as a strength man and a clever general.
However, he is not a forcefully man. He possesses a psychological disorder or syndrome like that. When Iago told him about Desdemona and Casssio, the depiction of the story appears in his mind which makes him hurt and sick. Iago made the best use of this condition to separate him with Desdemona, and take over his authority. He is really in jealous till he kill Desdemona. 

Desdemona  
She is a gentle woman. She secretly married to Othello, the moor, because she knew that her father and might some white people do not like it. His father was Venetian senator, Brabanzio.
Desdemona really love Othello, and won’t be poles apart from him. She does not contemn Othello like others because of racial issue. She also a faithful wife who wants always getting on together with Othello. When Othello appointed to do his duty as a general in Turkey, Desdemona begs to follow him.
Desdemona for those who know him, such as Cassio and Emily, is e benevolent woman. That is why Cassio asked Desdemona to help him clarifying his problem with Othello.
Otherwise she is a true lover; her heart was not blinded by love. She still uses her smart mind. She realized that Othello has been provoked; she challenged Othello to find proofs that Desdemona was adultery. Desdemona finally killed by Othello because of his silly jealous. 

Iago
Iago is one of Othello ensigns, anoter is Cassio. He is a racist. I said so because he actually does not agree the marriage between Othello and Desdemona, white-black. He help Roderigo to win Desdemona heart, beside of racism, I think the highest motivation of it is money. He has been paid for help Rodrigo.
And when he helped Cassio, it is actually just an intrigue. In fact, he keened on Cassio’s position. He wanted to be lieutenant. He construct the situation that make Cassio in bad side, he made Cassio drunk then fight with a man from Cyprus. Then he testified before Othello as if he on Cassio side. He is good at manipulation.
He also created a story about Desdemona and Cassio for Othello. He told and showed him scenes as if Cassio and Desdemona were in love. He asked her wife, Emilia, to bring him Desdemona’s kerchief, the he inserted it to Cassio’s room. Othello were mad to now that Desdemona’s kerchief has been found in Cassio’s room. He was absolutely success to break up that couple.  
He is a big fat villain.

Emilia
Emilia is Iago’s wife. He really knew what his husband is. He knew that Iago is not an honest man. She works as Desdemona’s attendant and is attached to her. At first, she did not realize that the conflict between Othello and Desdemona was set up by Iago. However, she finally know it, the clue is how can Desdemona’s kerchief she stole for Iago is founded in Cassio’s room.
The time she found Desdemona lied dying on her bed, she tried to tell Othello that it all were Iago’s intrigues. She told her distrustful of her husband to Othello. She died in Iago’s hand; Iago killed her because her witness that Desdemona does not fault but Iago the villain.    

Thursday, 13 October 2011

gelisah

ini gelisah bermuara dua

lari atau maju

diam atau bergerak

ini gelisah datang, saat kau sadar akan bodoh

Thursday, 30 June 2011

Laskar hijau,,,


pertama kali ke laskar hijau, di Klakah, Lumajang, bulan juli tahun 2010,, lupa dah tanggal pastinya. waktu itu ceritanya bareng Ariph ()yg make topi kupluk) Muchlasin (di pojok kanan) nemenin winda (jaket merah putih) liputan. selama di sana ditemenin ma Noven...

langsung jatuh cinta we, pengen ke sana terus, nanam pohon, merawat tanaman,,,. melakukan hal-hal sederhana yg sudah mulai dilupakan orang banyak.

Wednesday, 15 June 2011

Maluku


bukan indonesiaNUS
bukan indonesiYAH
tapi INDONESIA saja


:mengenang peristiwa '99

Monday, 13 June 2011

arek2 B1



foto bareng teman2 PKPBA B1. jaman masih maba, smester I & II (masih imut ya?)
pkpba; sebenarnya melelahkan. bayangkan aja kuliah mulae jam 2 siang mpe jam 8 malam.. busyet dah. untung aja ada istirahat sholat bentar. serunya pkpba, py teman byk, dari jurusan mana aja ada di satu kelas. bisa kenal rohman, dari bahasa arab, ariel, dari ekonomi, badriah dari psikologi, firda dari biologi... pokoknya seru deh.

palagi kyak yg di foto ini nih, jalan2 ke wbl...
emang sih nguras tenaga, dompet; tapi tak apelah.....

kapan lagi bisa rame2 gini...

Because She is a Woman

Title                     : Agora

Directed by          : Alejandro Amenabar                   

Produced by        : Fernando Bovaira and Álvaro Augustin

Written by           : Alejandro Amenabar and Mateo Gil

Starring               : Rachel Weisz and Max Minghella
Music by             : Dario Marianelli

Cinematography  : Xavi Giménez

Editing by            : Nacho Ruiz Capillas

Release date(s)    : October 9, 2009 (2009-10-09)

Running time        : 126 minutes

Country               : Spain

Language            : English  



Agora is a biopic of Hypatia, a female mathematician, philosopher and astronomer of Roman Egypt in 4th century. Rachel Weisz stars as Hypatia, act as an independent woman in a history which highlight the relation between religion and science. Christian versus Greco-Roman polytheism in Alexandria.

It is told in the film that Orestes (Oscar Isaac), her pupil at the Platonic school, and Davus, her slave were in love with her. Orestes, moreover, declares his love to Hypatia trough playing music in a public theatre, in front of many people. Whereas Davus only secretly in love.

As a woman, in some cases, Hypatia was lucky to be born as daughter of Theon (Michael Lonsdale), the director of the Museum of Alexandria, beside she is also an independent scientist, and she has some peculiarities that others do not have. She can speak up her mind in Agora, a gathering place in ancient, or teach at school.

However, whatever will be Hypatia is just a woman, when Orestes love and want to possess her, she just such a prey. That is why she rejects Orestes' love and prefers to be a freedom woman.

Two men who have conversation with Theon the day when Orestes declared his love, seems to represent what the society of Roman Empire think about woman. These two men jokingly suggest Theon to accept Orestes love and let them married. Hypatia is great woman people indeed, but as woman she does not get her blessing yet till she gets married. This is Theon's answer.

"Hypatia subjected to a man? without freedom to teach, or even to speak up her mind." You may agree that Hypatia is lucky to have father like Theon.

The struggle of Hypatia does not finished yet. She should fight against Christian to won her love of science. Her research about the heliocentric model of solar system which proposed by Aristarchus contradicts to the 'truth' of Christian. She investigates that the world is sphere. Due to this objection, Hypatia is forbidden to teach at school. In Christian, the only one who knows about the world is God. All is written in bible, so just believe it and do not question it.

Several years later, Orestes become the prefect of Alexandria, and had converted her belief to Christianity. While Synesius (Rupert Evans), one of Hypatia's students, become the Bishop of Cyrene. Both are immersed in a situation after religious commotion, Christian monotheism against Roman-Greco polytheism (science) –Christian called them as pagan. Both of them still appreciate Hypatia as their teacher. Moreover, Orestes yet loves her.

Cyril, stars Sami Samir, sees that Hypatia influences much over on Orestes. Cyril does not accept if the governor is smitten by any other Christian, especially only a woman. Therefore, he set up a public ceremony to force Orestes subjugate her. Synesius also come to rescue her if she agrees to be a Christian. Under all circumstances, Hypatia refuse to be a Christian, she loves science very much. She said that if she becomes a Christian she cannot explore her love on science anymore, because in Christian people are not free even only asking.

Hypatia is accused by Cyril as a witch, he successfully convince the Christendom to kill her. The parabalani then find her, they strip her naked and stone her to death. Anyhow, before that Davus, based on Hypatia permission, suffocates her till die, so when they stone her, she does not feel any pain. 
doc.istimewa?

Sunday, 12 June 2011

ngangenin

haduh.. ini ni ha-er-de inovasi yang geje..
suka lari kalo ada kerjaan. saling lempar kewajiban. yg paling diandalin mbak zi,, walo sering gak bisa ditemui di ukm..

dari kiri: mbak ozy, nophy (aku), mbak em-yu, dan winda
Posted by Picasa

Saturday, 11 June 2011

She is the one


She cheers me up when I sad
She raises me up when I desperate
She treats me like a father to his children;
giving them candy, kite, and rollcoaster

 

She stays there: bestowing me with planty of mercy
So I can smile
She hugs me tight: showering me with seas of affection
So I can laugh
She is so kind like mother to me;
cooking my breakfast and sewing my blanket

 

You know,
She is the one in my heart
No one can replace her
I love her wherever, whenever
: she is my god

 

Malang, 7 Juni 2011

 

Saturday, 28 May 2011

Musrifah? so why...

“Walk before, me. I don’t want anyone see me wearing this jeans.” Nur told her friend. It such a disgrace thing if she, who once became musrifah (female supervisor) wearing jeans. She put on grey veil, grey jacket, and jeans.


It was dark outside, Nur got up at 03:30, or at least before the Dawn pray. After that, she leaded the students of Umu Salamah, Ma’had Sunan Ampel Al ‘Ali to study about English vocabulary. It is called shobahullughoh. Next, she conditioned an accompanied the student to join the reciting Kitab program. All of these programs will have end at 06:30.

It is usual for them to hold that activity outside the mabna, it can be in the field, in front of SC building, behind rector building, everywhere at campus. If you see some girls crowd round a girl that might be a group of musrifah with her students doing shobahullughoh.

Yeah, that was the regular activities of a supervisor or Musrifah of Ma’had Sunan Ampel Al ‘Ali, the boarding house for fresh student of UIN Maliki Malang. She above refers to Nur Winda Safitri, a student of English Language and Letter Department.

She became musrifah when she was in her second year in this campus, at third and fourth semester. Since June 2009 to June 2010, she almost did that routine morning activity every day, otherwise on red letter days or official national holidays. She became musrifah of Ummu Salamh, a mabna near by Ulul Albab Mosque and A building.
From 06:30 to 20:00 is time for her to spend her need as a student. She goes to campus, studies at class, and passes the rest time at UKM (unit Kegiatan Mahasiswa). Later, before the fresh female students back to mabna, buildings such a flat for student in ma’had, she should stand by there. Sometimes, musrifah will stand beside the door, if there is a student back more than 9 pm o’clock, they will be punished.

At night, according to the schedule, the musrifahs only have a program of reciting kitab. However, they have many unscheduled times for some activities such as meeting among musrifah in Umu Salamah, inter-mabna, or with both Musyrif (male supervisor) and musrifah of Ma’had. It begins after praying Isya until undetermined time, but mostly end at eleven o’clock or more.

What a boring orderly schedule, eh? May be yes, may be no. The important that these activities have bothered her study is true. In the morning for example, sometimes Nur has a class on 06:30 while reciting kitab still in progress. To anticipate it, she prepared all things before the scheduled programs after daybreak begin. Meanwhile in the night, most of the time has been stolen for meetings till she did not have enough time to study. “It really bothers me. I need time to express my interest at UKM and to study.” She avowed.

What can she does? That was a consequence being a musrifah. Other consequences are not allowed to date someone and wear jeans. It is such an unwritten agreement that it is a taboo for a musrifah has a boy friend. Moreover, the students should not know about it. In ma’had, not only female students, but musrifahs also were forbidden to wear jeans. They may wear skirt, cotton trouser, or jubbah. As if the virtuousness can be judged from what they wear.

In some occasion, if mabna plans an event and they do not get money from ma’had, they have to contribute their money or ask the contribution of student. As a musrifah, the nominal account may be not too big. On the other hands, we all know that students expensively pay for ma’had. Should they go the pace again?
The first time she applied for that position, as someone who graduated of Islamic boarding school, she thought that it is time to serve and share her knowledge sincerely. She did not ask for any fee-paid money. Some of those who still stand as musrifah as same as her, most of them are graduate from Islamic boarding school who used to live in that way. While others, might consider it as charity deed.

In fact, a musrifah did not be paid, but they are free for charge living cost, free for living in ma’had. Compare it with fresh students, they have to pay about 4-5 millions, whereas sophomore level who wants to live at ma’had should pay about 2 millions. Besides that, at the end of leadership, all musyrif and musrifah have an agenda of having fun time together.

Based on her experience, she told that they went to Wisata Bahari Lamongan (WBL). All of them are given Rp100.000 and free for the transportation, also the pass ticket. On any account, that cannot paid for times and energy she has spent for being a musrifah.

After a year, she quitted the duty as musrifah. She thought that now is the time for her to focus on study and UKM. She goes to campus happily, but sometimes she still feels so clumsy to walking with male students or wearing jean. When she wear jean, all eyes are on her. Her friends in English Department know that she is a former musrifah.

“Wah, mantan musrifah. Pake jins ni ye… (there is a former musrifah wearingjeans!)” said her friend colloquially.

What a life!

Friday, 22 April 2011

Seterah

 

Beberapa pertanyaan mungkin ada jawabannya, beberapa mungkin tidak.

Kalau ada, jawab saja, atau kalau tidak mau, ya bilang saja. dan bila tidak tahu jawabannya, jangan sok tahu. Jujur saja bahwa memang tidak tahu.

Kalau ditanya mau, apa. Bilang donng.... Biar dituruti. Tak perlu melulu ikut-ikutan, atau menuruti orang lain.

Mau apa? Terserah.

Mau dimana? Terserah.

Mau yang mana? Terserah....

Jancukkk!!!!

Aku tanya kamu maunya apa, kuk terserah? Yang punya mau aku atau kamu, sih?

TERSERAH, menurutku bukan jawaban yang baik. kalau dijawab terserah terus, aku merasa seperti memaksakan kehendakku atasmu, seolah jawaban yang nantinya kamu berikan padaku sudah pasti akan aku tolak mentah-mentah, jadi jawaban terserahlah yang kamu pilih.

Emang ada benda terserah? Makan tu seterahmu!!!

Cerita hujan





Butiran hujan melesat membasahi tanah

Ratusan, ribuan, kemungkinan tak terhingga

Meninggalkan langit

Tik,           tik,           tik,         tik,         tik,       tik,       tik,     tik,    tik,   tik,  tik, tik.

Perlahan lalu memburu

Terdengar di atas genting

Gemiricik air menetes dari ujung daun ke tanah

Seolah hasrat yang segera dituntaskan

Mengalir menemukan arusnya, di antara deras kali

Tebing curam,

Dan danau teduh

Rindu anak pada rahim ibunya

Di segara ini

Tempat ia bermuara

Di rahim bumi.

Monday, 11 April 2011

yuri & teri




Yuri?

Ry, yuri?

Di manakah, kamu?



Kemana kamu belum muncul juga? Sebentar lagi hari akan rembang. Aku takut jika harus pulang sendiri. ibu bilang anak nakal yang masih keluyuran waktu magrib akan ditangkap setan. Ngeri!

Kalau kamu tidak bisa datang kenapa saat pulang sekolah tadi kamu tidak memberitahuku? Tiap sore kamu dan aku harus datnga ke taman ini. Dunia kita berdua.

Seringkali, kau duduk selonjor di depanku. Khidmat. Mendengarkan celotehku cerita-cerita yang aku sadur dari Uti Ni, kadang-kadang juga aku tambahkan dari dongeng Kung Fu. Tapi kamu lebih suka tidur-tiduran sembari membaca coretan-coretan dalam buku bersampul pink. Kamu bilang lebih asyik membaca ceritaku dari pada mendengar suaraku, cempreng ejekmu.



Huh, dasar! Aku sangat marah. Tapi entah kenapa, aku tidak pernah punya kekuatan untuk memarahimu. Kamu mau bilang aku nenek sihir sekalipun, aku akan menganggapnya sebagaai puian. Sebab sekian lama dekat dengamu, aku tahu, kamu bukan tipe orang yang suka memuji, mengakui perasaanmu sendiri.

Hanya lukisanmu yang berbicara jujur. Gadis kecil, mata berkaca. Nenek tua dengan senyum lebar menampilkan gigi utuh, dan sisa merah sirih pinang di sudut bibir. Bayi dalam dekapan ayah, duduk di bangku taman. Aku suka semuanya. Beberapa kali sudah aku minta dilkusi, tapi kamu selalu saja mengelak. Katamu, wajahku jelek. Bisa-bisa kuasnya patah semua. Tuh, kan... Kamu memang menyebalkan.
Setidaknya aku masih terhibur mendengar nada gitar menyatu dengan suaramu. Syahdu. Menyenandungkan kisah indah.
Just a smile and the rain is gone
Can hardly believe it (yeah)
There's an angel standing next to me
Reaching for my heart

Just a smile and there's no way back
Can hardly believe it (yeah)
But there's an angel calling me
Reaching for my heart
Dan mungkin satu kesalahan besar. Karena tiap kali kamu memainkannya lagi dan lagi. Aku selalu berpikir 'that angel must be me.'
Malaikat di atas sana menyapukan cat hitam menutupi mozaik-mozaik merah. Langit, Yuri, sudah benar-benar gelap. Kamu tidak datang. Aku pulang dengan ketakutan. Selamat dan utuh sampai rumah. setan tidak menculikku. Dia tau, kuk, aku bukan anak nakal. Hanya seorang gadis malang, menunggu teman yang entah kenapa lupa menepati janji. (oh, sebaiknya, kamu harus hati-hati. Jangan-janngan setan akan menyantumkan namamu di daftar anak nakal.)ketakutanku lebih pada kamu juga tidak akan datang keesokan hari.
#### #########

 

Moonlight Sonata

Suatu sore Ludwig van Beethoven dan seorang temannya sedang berjalan-jalan. Ketika mereka melewati jalan sempit nan gelap, terdengar alunan musik dari sebuah rumah kecil.

"Sst!" kata Beethoven, "ini salah satu karya terindahku."

Tiba-tiba ada suara berkata, "aku tidak bisa memainkan lagi –ini teramat indah! Aku berharap bisa mendengar karya ini dimainkan oleh seseorang yang pantas melakukannya."

Tanpa sepatah kata, Beethoven dan temannya memasuki rumah tersebut. Rumah seorang tukang sepatu miskin. Sesosok gadis muda duduk di hadapan piano.

"Permisi," ujar Komposer hebat tersebut. "Saya pemusik. Saya dengar kamu bilang ingin mendengar seseorang memainkan karya yang baru saja kamu mainkan. Maukah kamu mengijinkan saya memainkannya untukmu?"

"Terima kasih sekali", jawab si Gadis, "tapi piano kami sudah tua. Lagipula kami tidak punya lembaran musik".

"Tidak ada lembar musik? Lantas, bagaimana kamu memainkannya?" tanya Beethoven.

Gadis tersebut memalingkan wajahnya menghadap sang maestro besar. Diamati lebih dekat, dia tau bahwa si gadis ternyata buta.

"Aku memainkannya berdasar memori", ujar si gadis.

"Dari mana kamu mendengar karya yang baru saja kamu mainkan tadi?"

"Aku biasa mendengar seorang perempuan sedang berlatih dekat rumah lama kami. Selama sore musim panas, jendelanya terbuka, lalu aku berjalan ke sana dan dari mendengarkannya dari luar". Jawab si gadis.

Beethoven duduk di depan piano. Si gadis buta dan saudara laki-lakinya dengan terpesona mendengarkan permainan sang maestro. Pada akhirnya si tukang sepatu datang mendekat dan bertanya, "Anda siapa?"

Beethoven tidak menjawab. Si tukang sepatu mengulang pertanyaannya, dan sang maestro tersenyum. Ia mulai memainkan karyanya yang coba dimainkan si gadis.

Semua yang mendengar menahan napas. Ketika permainan usai, mereka berteriak, "andalah maestro itu! Anda adalah Beethoven".

Ia bangkit untuk pergi, tapi mereka menahannya kembali. "Mainkahlah untuk kami sekali lagi –hanya sekali saja", pinta mereka.

Ia kembali duduk di depan piano. Cahaya cerlang bulan bersinar di dalam kamar kecil nan sederhana.

"Saya akan menggubah sebuah sonata untuk sinar bulan", katanya. Untuk beberapa saat ia memandang penuh perhatian pada langit cerah yang diterangi bulan dan kerlip bintang. Kemudian jemarinya berpindah dari tuts-tuts piano yang terlihat tua. Lewat nada rendah, sedih, dan manis, ia memainkan karya barunya. Akhirnya, ia menyorong kembali kursinya, dan sambil berbalik menuju pintu ia berkata, "selamat tinggal semua!"

Ia berhenti dan memandang lembut wajah si gadis buta. "Ya, aku akan datang lagi untuk mengajarimu musik. Selamat tinggal! Aku akan segera kembali!"

Beethoven berkata pada temannya, "ayo bergegas agar aku bisa menuangkan sonata ini selagi aku masih mengingatnya!"

Begitulah bagaimana karya terkenal Ludwig van Beethoven "Moonlight Sonata" tercipta.



Diterjemahkan dari "The Moonlight Sonata"

PKPBA should be reduced

uapminovasi.doc

On June 2010, there was a demonstration against PKPBA (Program Khusus Perkuliahan Bahasa Arab). The students, most of them are second semester, came with some demands to be fulfilled (Q Post, June). One of which is reducing time schedule of PKPBA at night. Just for your information, sometimes lecture in UIN MALIKI Malang begin from 07.00 WIB and PKPBA begin from 14.00-16-00 WIB & 18.30-20.00 WIB. For regular schedule, the students might do not have specific time how long they study in a day. However, in PKPBA they have 5 hour a day, from Monday-Friday. What a full day! As a student who once studied PKPBA, I agree that the time schedule of PKPBA should be reduced.


Actually PKPBA is a good program, because studying foreign language in a classroom can be effective. This university facilitates the students with foreign languages course (Arabic and English) to help them to compete in global era. Unfortunately, the time is too much, and it bothers the other activities. For instance, students from Faculty of Science and Technology have less time to do their report. Moreover, students who participate in internal/external students' organization could not actualize their selves. There were 90.48% students agree that PKPBA at night should be abolished (Q Post, June), because of some reasons above. PKPBA only have six credit courses each semester, but in the realization of it there were more than 6 credits. Therefore, the demand of students to reduce the time schedule at night should be fulfilled or they will ask more to abolish all illegal credits.


It is a good chance to study foreign language, but if it is forced and it consumes the time, it will not be fun anymore. According to the experiences before, the director of PKPBA and all the staff should reduce time schedule of PKPBA at night and find a new method or formulation to maximize students' abilities and make them enjoy the study.

   

Thursday, 7 April 2011


Sayangi aku lagi
Kubenci kau sepenuh hati
Cintai aku lagi
Kan kutinggalkan dirimu
Hantui aku lagi
Lalu kubunuh kau

 

(saranku:
kau enyah saja)

 

surakartahadiningrat, 130308

Nenek tua; Anak laki dan perempuan.


Dia telah pergi, semoga dengan tenang. Semoga dia tahu betapa aku juga menyayanginya. Meski mungkin mendendamnya.

 

Karena kau sudah disana, dan aku belum sempat mengatakannya. Lewat puisi ini aku ingin kau tahu. Siapa yang merawatmu saat kau gila dan pikun? Anak perempuanmu, serta anak-anaknya.
Bajumu yang menyebarkan bau busuk, tinja berceceran di dalam kamar, serta tubuh penuh koreng. Siapa yang bersihkan? Anak perempuanmu, serta anak-anaknya.
Lapar, haus, mandi, tidur. Siapa yang layani? Anak perempuanmu, serta anak-anaknya.

 

Saat kau pikun dan tak waras, sepertinya tidak sempat tercatat rapi dalam memori. Jadi aku akan membantumu untuk mengingatnya. (aku tidak sedang menumpahkan marah)
Perempuan-perempuan yang selalu kau marahi, jatah makannya sering kau berikan pada anak laki-laki. Menurutmu, laki-laki itulah darah dagingmu, akan selalu menjagamu. Yang perempuan, akan jadi milik orang lain, untuk apa dihidupkan?

 

Kau tahu? Ah, sudah jelas tidak. Mungkin ketika lelakimu masih kecil, muda, bujang, mereka selalu pulang padamu. Minta makan, dicucikan baju, dan barangkali sedikit duit.

 

Tapi ketika perempuan lain hadir dalam hidup mereka, kau bukan siapa-siapa lagi. Dibanding perempuan serupa ratu di mata mereka. Ya, istri mereka itu. Hah.... Belum lagi dengan boneka-boneka kecil karya persatutubuhan mereka. Kau semakin terpinggir. Perempuan tua, tugasmu menemani boneka-boneka mereka. Bilaperlu juga ikut membersihkan rupa, kalo si ratu tidak sempat. Mencucikan baju boneka-boneka, sebagai penyayang anak dan anak-anaknya.

 

Oh, tidak. Itu mungkin masih mendingan. Lihat, dengan kondisimu seperti itu, pikun, koreng sekujur tubuh, kadang-kadang gila. Jelas lelakimu enggan menerima. Takut menular pada ratu-ratu mereka, apalagi boneka-boneka kecil, lucu, imut, dan menggemaskan. Tamatlah sudah. Kemana lagi kau hendak berlabuh, jika tidak pada perempuan-perempuanmu.

 

Air mata menyusuri pipi, suara tersedak. Sumpah, betapa pedih menyaksikan tubuh dan jiwamu yang makin membayi. Perempuan-perempuanmu lah, membelaimu seolah boneka kecil yang tak pernah kauberikan pada selama hidupnya.

 

Bila akhirnya puisi ini sampai padamu, entah dengan cara apa. Tak perlu kau sesali. Sumpah, aku tidak ingin mebuatmu merasa bersalah.

Saturday, 26 March 2011

perempuanku #habis

Ibuku menitis dalam perempuan ini, Murni, datang apadaku dengan caranya yang purba untuk dunia post-mo. Ia bukan perempuan foedal, seperti potret putri-putri kerajaan jawa, bukan. Sudah kubilang, purba.

Ia kembali dengan caranya yang sederhana. Seperti kehidupan di masa komunal primitif. Bertahan hidup menggunakan cara dan peralatan sederhana. Bergotong royong. Kekayaan alam adalah milik bersama, tidak ada kapling-kapling tanah, harta atas nama pribadi. Seperti itulah kiranya manusia memperlakukan perempuan. Dari masa itulah ibuku lahir.

Murni, perempuan dihadapanku, perwujudan reikarnasi perempuan di zaman ibuku. Mencintai murni, menghargainya sebagai manusia komunal modern. Dirinya, jiwanya, tidak bisa dibeli dengan uang, dan menjadikannya sebagai barang simpanan, atau boneka yang dipamerkan di setiap jamuan makan malam.

a pray for nen di



Seolah langit runtuh saat kabar kematianmu tiba. Beta kira itu mimpi. Tidur lagi. Berharap mimpi berlanjut, kita bertemu lagi. Sedang kabar yang datang pada beta keliru belaka. Sampai-sampai beta punya saraf-saraf lupa cara mengeluarkan air mata.

Seperti ada rongga, semakin melebar dalam hati. Mungkin rasa cemas, gelisah, khawatir. Tapi lebih seperti rasa kehilangan.

“Sudah seng mau makan, mata terpejam melulu. Badanyya sudah tinggal tulang dibungkus kulit.”

Sebenarnya beta tidak mau dengar berita itu. Tiidak mau percaya. Tidak mau bersangka-sangka.

“Doakan dia...”

Benarkah secepat ini? Masih ada kisah yang seharusnya kita tuntaskan. Tentang buku cin, batu badaun, dan beberapa kisah-kisah nabi. Kau tau? Beta selalu membayang buku cin itu adalah dirimu, si moy cina.

Oh, nen e... falbe? Nen mkai tawar, ufangnan lii rek o.

Semoga kau tenang di sana.

Wednesday, 23 March 2011

yang terbaik #3

Si gadis ingin segera menyudahi perang dingin yang melanda keluarganya. Ia sudah bosan melihat ulah laku kedua orang tuanya. Jika berpapasan, langsungsung membuang muka. Si gadis tahu, sekarang meski serumah, tapi sebenarnya mereka sudah lama pisah ranjang. Mami tetap tidur di kamar utama, sedang papi lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerja. Ada kasur lipat, berjejalan dengan kaleng-kaleng cat, palate, dan kuas-kuas yang berserakan.

“Mereka dulu dijodohkan. Masih saudara jauh.” Kata neneknya suatu hari. Oh, ceritanya biar merekatkan kembali kedua belah pihak keluarga besar. Kalo begitu saat aku lahir, harusnya mereka sudah boleh berpisah. Kan, sudah ada aku.

Saat si gadis masih berumur enam tahun, orang tuanya bertengkar hebat. Meski tidak memecahkan gelas, melempar panci, menendang kursi, atau meninju cermin di kamar mandi seperti biasanya, namun pertengkaran inilah yang terhebat. Akumulasi dari sekian banyak pertengkaran kecil-besar. Mereka berdua hanya mengucapkan satu kata bersamaan, “cerai!!!”

Yang dipanggil gadis kecil sebagai papi lalu meninggalkan rumah. membawa serta travel bag kecil. Ia mengantar sampai ke depan pintu.

“Papi, sukses, ya! Jangan lupa oleh-oleh. Da-da, Papi....” ia melambaikan, senyumnya semakin lebar. “I love you, Papi.” Ia sangat senang melepas keberangkatan ayahnya.

Tiga hari kemudian ia dikejutkan dengan kedatangan keluarga besar mami dan papinya. Mbak Susi, adik ibunya, diminta untuk mengantarkan si gadis ke hotel tempat ayahnya menginap. Ia semakin terkaget-kaget.

“Kalian ini....” Opa Josep memandang anaknya, papi, tajam. Lalu berganti manatap menantunya. “Anak masih kecil, ingusan, udah main ditinggal, saja.”

“Benar itu. Tidak baik untuk perkembangannya.” pasti yang dimaksud Kakek Lim itu aku, batin si gadis. Orang mengira gadis yang duduk di pangkuan mbak susi itu tidak mengerti apa-apa. Sesungguhnya, dialah yang paling mengerti, bukan mereka.

“Pikirkan lagi, jangan melulu kepentingan kalian yang di utamakan.” Kelak ketika di dalam kamar ia mendengar ibunya berkata; huh, aku menikah juga karena kepentingan kalian, kan? Brengsek!

Sunday, 20 March 2011

What is your decision?

Today, writing is not only a kind of hobbies anymore. There are many people out of there who study and start to write for some reasons. Some considered writing as a job. There are pencil-pushers write to fill the order. Others go on their own way; just because they are talented. Still others do it to share information, idea, and opinion, with an eye to create changes in the society.

Ayu Utami, Habiburrahman, and Andreas Harsono, write as if writing is their air to breath. Ayu write and challenge us to think critically over our life, thinking, spiritual, culture, and government. While Habiburrahman, it is a missionary endeavor way to bring people (esc. muslim) back to al Qur’an and sunnah. In the other hand, writing (journalism) is a belief/religion according to Andreas Harsono.

I am not a professional writer –paid for the works, nevertheless when I write I do it seriously. Not that I have an assignment to be submitted, but rather than that. For me writing not only means a medium to actualize our selves, but also a way to realize a mission of enlightenment.

In this world, many of the people just know what is white or black and forget that between these two colors there is a hollow space, grey. There always a mystery behind reality that they do not know –the grey hollow, so if you choose to be a writer, you should reveal it out. Take for example the separatist movement in West Papua. Indonesian might judge them as seditious band; in fact decades ago Indonesia forced them to be part of NKRI. Have you ever heard it before?

In a rather simpler way, what you write is what you are. Since now on the decision is in your hand; you will write due to assignment, money, or enlightenment.

A Is not (only) A

“May I borrow your veil?” Romlah asked to her friend.
“Which one?”
”biru (blue),” Romlah pointed to the veil which lied on the bed.
“Oh, please. That is green. Are you color blind?”

This dialog is not kind of narrative fiction. It happened to Romlah, a student from Madura with her friend in Malang. In Indonesian language, blue is biru-just the same with Java, and green is hijau. If you pay attention to Romlah or other Madurees when they pointed blue color, you will hear a sound seem the word biru. Biru in Madura language means both blue and green. To differentiate blue and green they use some additional word such as, biru lange’ for blue such as the sky, and biru deun for green such as the leaf.

Listen at a glance those two words are not different. If you gave ear to it, however, you will hear that the phoneme b of biru in Madura language is aspirated, according to the phonetic transcription, it is written as bhiru.

The case in which some people use some words of their mother language or first language in a conversation using national/formal language might befall to most of Indonesian people. As we know that our country consists of various ethnics who have their own language. From Sabang to merauke, Talaud to Timor, there were more 500 ethnics. Therefore sometimes a conversation in Indonesian language permeated by first language.

It means, Romlah is not color blind, but she brought Madura’s concept to Indonesian language. For your information, human have a dictionary in their mind, it is called mental lexicon. All words are stored here. The more you use the word, the easier you retrieve it (Dardjowidjojo: 2008).

What I want to share is not the differences between biru and bhiru, or how a linguist observes it. Rather than that, when the majority people said “it is a” and you say “it is b”, they will claim that you are wrong or crazy. Even if what you belief is right.

We should remember that Indonesia is a multi-lingual society. A response like saying color blind is very not resourcefully. Prof. Henry, a cultural observer, said that we should apply pluralism not only in daily interaction, but also in daily conversation. Acknowledging the multi-lingual society is the first step, because every society has own agreement. The convention of language of Madura is different from Java, Ambon, or Indonesian itself.

As Indonesian, it is a must to know it. If we can tolerate someone to use a foreign language –English for instance-to replace a word in Indonesian language, why do not we tolerate the using of ethnical language? A society should not force others to have the same manner as us or the majority. Be tolerant and understand other is a wise step.

It reminds me to Ahmadiyah’s case. If most people have defined what Islam like, while others people have a different point of view, they will be categorized as pathological group. Ahmadiyah in Indonesia is a minority group; they have been discriminated due to the fact that they are different. Say that they are a part of people who have gone astray according to Islamic law in majority version. On the other hand, destruct their homes and mosques are not illegitimate. So far, Indonesian citizen known with their religious tolerance, for instance between Moslem live together with Christian or Buddhist. So, why cannot Moslems tolerate Ahmadiyah?

Tuesday, 22 February 2011

demi serapah

Inilah janjiku,
Untuk ibuku.

Suatu saat aku akan membunuh kalian semua
Kau, lelaki begundal, aku akan menikammu; dengan pisau yang setiap hari kuasah
Kumandikan dengan kembang tujuh rupa.
Niscaya kau akan mati sekali tebas
Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Aku ingan menusukmu, berkali-kali.
Di dada sebelah kanan
untuk hati ibuku yang kausakiti
kemudian sebelah kiri
sebagai terimakasihku, berkat mani yang menetes dalam darahku
Menusukmu, lagi, lagi, dan lagi.

Juga kau, lonte:
Cuih, merah gincumu membutakan si begundal itu.
Aku bersumpah demi garba ibuku.
Aku akan mengirimmu bersama iblis di akhirat sana.
Tenang, aku tidak akan, menjambak rambutmu, seperti di sinetron.
Atau mencekikmu bagai adegan bodoh dalam film-film hantu porno
Aku, akan...
Tunggu saja. karena ketika kau bangun di pagi hari
Rohmu tak legi menemukan wujudnya

Demi garba ibuku,
Demi airmata ibuku,
Dengarlah wahai alam raya
Aku memohon restumu, tuhan
Amin.

Monday, 7 February 2011

gadis kecil

Gadis kecil rambut keriting, berkulit terbakar matahari. Duduk terdiam di atas karang, memandang lurus pada laut lepas. Ia baru sadar, ujung laut rupanya tersambung dengan ujung langit.

Gadis kecil rambut keriting, berkulit terbakar matahari. Pagi-pagi sekali, berlari ke tepi pantai. Menanti perahu-perahu nelayan kembali. Menanti kepulangan datuk-datuk. Datuknya seorang pelaut.

Gadis kecil rambut keriting. Rambutnya bergerak-gerak lucu, tertiup angin laut. Berkulit terbakar matahari. sudah tak sabar menanti kedatangan datuk. Ia ingin bertanya; benarkah ia bayi yang keluar dari kelapa muda yang di belah datuk?

Gadis kecil rambut keriting, berkulit terbakar matahari. Nenenya bilang, jangan sering-sering berenang, mandi air masin. Sinar matahari saja sudah membakar kulit. Tapi ia tak peduli. Ia bukan mandi air masin. Ia menyongsong datuk.
*** **** ****

Friday, 28 January 2011

Klise


Kemarin tertulis putih
Katanya oleh putih yang suci
Hari ini terpercik abu-abu
Katanya untuk putih yang suci
Besok tentulah hitam
Katanya demi putih yang suci
Tidak!
Tak ada hitam untuk putih
Tidak ada putih karena hitam
Paham?
Malang, 200209

yang terbaik #2

Halaman rumah

Anak kecil seumuran tiga atau empat tahun duduk di atas sepeda mini roda empat. Mengayuh sepeda pelan-pelan diikuti si ayah di sampingnya. Oh, rupanya sedang belajar. Sedang si ibu berdiri menonton dari pojok teras, dan terus mewanti-wanti agar tidak bermain di jalan. Takut keserempet kendaraan.

Masuk ke ruang tamu

Si kecil sekarang sudah masuk sd. Selesai sekolah selalu saja ada pr. Biasanya si ayah yang selalu sabar mendampingi belajar. Duduk berdua di lantai. Lebih nyaman buat si kecil dibanding duduk di sofa. Si ayah tahu, putri kecilnya dianugrahi kecerdasan luar biasa. Itu yang membuatnya matanya selalu berbinar-binar selagi menemani putrinya belajar.

Dapur

Tempat paling favorit bagi si kecil yang sudah beranjak remaja. Biasanya ia datang menawarkan bantuan pada si ibu. Niatnya sih, pengen belajar memasak. Tapi si ibu tidak pernah membolehkan. Takut porselen-porselennya pecah kesenggol si kecil. Emang si kecil agak ceroboh. Belum terbiasa memegang pisau. Nanti malah teriris sendiri. selama ini si kecil lebih sering bergumul dengan si ayah di bengkel lukisnya. Jangan heran, selain jago megang pena, ia juga lihai megang kuas. Jika si ibu tidak membolehkan memasak, ia betah saja duduk memandangi si ibu masak sambil melukis wajahnya.

Sebenarnya si kecil mau protes, begini-begini dia kana juga cewek. Boleh dong belajar masak. “justru karna kamu, perempuan. Nggak belajar masak pun nanti juga tau sendiri.” nah, sejak itu si kecil baru sadar, selai jago masak, ibunya juga jago berdiplomasi (sebenarnya sih jago ngeles, tapi kalo bilang begitu takut kualat.)

Ruang makan

Kalo ini tempat favorit semuanya. Ibu, ayah, dan putri mereka selalu berkumpul di sini. Tiga kali sehari (bukan untuk minum obat loh ya...) saling bertukar cerita, bercanda. Si ayah dan si ibu malah suka bermesraan sendiri. lupa kalo ada si kecil yang sudah saatnya di panggil si besar.

***

Itu semua hanya potongan-potongan kenangan yang entah kenapa bermunculan begitu saja. seperti screen saver di layar laptop. Si gadis merutuki dirinya. Ia pasti sedang melamun, blank, atau tak sadar. Buktinya slide-slide tersebut bisa lolos dari sensor keamanan yang jelas-jelas memasukkan mereka dalam daftar black list.

Thursday, 27 January 2011

yang terbaik

Semua orang mengeluh, menyayangkan, beberapa mungkin bosan dengan berita perceraian selebritis yang hampir tiap hari muncul di layar telivisi.

Klik.

Si gadis lebih memilih mematikan tv. Memejamkan mata. Dan seandainya aku bisa mengenyahkan slide-slide yang terus menghantui. Wajah-wajah orang yang sangat dikasihi datang silih berganti. Ia ingin mengenyahkannya juga. Seandainya saja semudah menekan tombol power pada remote.

Tuh, kan. Mereka datang lagi! (someone, help!)

Mami selalu tampak cemas. Aku gak suka melihat bibirnya yang terus menerus melengkung ke bawah. Setiap pagi dengan mata bengkak dan cuping hidung kemereh-merehan, ia memasak nasi goreng untuk sarapan. Tolong jangan tularkan kesedihanmu. Si gadis menelan suapan nasi goreng cepat-cepat. Tidak ingin merasakan haru dalam rasanya.

Papi. Wajah yang selalu sangar, bahkan saat tersenyum sekalipun. Lihatlah matanya, tatapannya seperti puscuk pistol yang ditodongkan tepat di keningmmu. Membunuh. Amunisinya selalu penuh. Bisa membunuh mami dan si gadis kapan saja. aku tak pernah berani menantang matanya secara langsung. Aneh, dia papiku. Kenapa dia ingin membunuhku. Aneh, mami adalah istrinya. Kenapa ingin membunuhnya. Si gadis melahap sarapanku lebih cepat lagi. Ingin menghilang dari tatapan papi.

Setiap hari, si gadis sudah bangun pagi-pagi sekali. Melahap sarapan secepat kilat. Lalu pergi kemana saja. asalkan tidak terperangkap di rumah. pulang saat semua sudah tidur. Ia tak pernah betah di rumah. terlalu banyak hal yang tak ingin dilihat, didengar, dan dikenang.

Thursday, 20 January 2011

Entah sepiku

Saat, bersama:
Entah menjauh
Entah menyendiri
Entah menghindar
Entah enggan

Saat, sepi sendiri:
Entah tersingkir
Entah terkucil,
Entah...

Atau,
Tak pernah diharapkan?

Aarrgghh...!!!
Biar tetap begini
Biar tetap sepi
Biarkan saja
Aku berdua
Dengan entahku
(puisi jaman ba)

Ini lara!

Seperti inikah luka
Kita bergandeng sumpah
Memasung lara dengan mimpi
Lalu kaku berlari
Sedang aku tertatih, limbung

Hitam, pekat
Putri tirta bersenandung sendu
Kang bayu bersiul sumbang
Dan bianglala tersenyum jalang
Lihat,
Aura dunia berpendar jengah

Kalian
Usah acuh perih
Tak perlu petuah
Tahu apa tentang duka
Ku tak kan mati diracun madu

Surakartahadiningrat, 120308

ritual pemujaan

Malam kala pertiga
Aku terjaga
Menyusuri cinta
Di balik teduh wajahnya

Ranum kasihnya; hangat
Membelai mesra nafasku
Kupeluk erat tiap sembahku
Mengeja namanya penuh hasrat

Malam kala pertiga
Lagi, aku terjaga
Mengecup doanya segera

Biar dzikir jadi candu
Biar rahmat dalam laku
Biar rindu tak lagi sendu

Pabila esok
Ada malam kala pertiga
Beta hanya pinta; terjaga

Surakartahadiningrat, Maret 08

risalahku

Kepada angin jasadmu kutanya
Kepada samudra kumengadu rimbamu
Kepada tuhan gugat cerita
Kepada siapa kuberkabar dirimu

Dalam malam kutulis sajak
Bai-bait cinta kita
Surat rindu untukmu
Tak terasa tiga belas
Purnama tlah terlewati

Kepada angin daku bertanya
Kepada samudra daku bersoal
Kemanakah risalahku
Kualamatkan

Dalam malam kutulis
Risalah cinta
Puluh purnama terlewati
Tak tahu kemana
Risalahku kualamatkan

(puisi jaman alif)

Wednesday, 19 January 2011

Ia lahir dari
Rahim yang telah mati
; membusuk,
Orang bilang ia juga sama
Matinya
; membangkai.

Ia besar dan hidup
Dalam kubang seperti yang kau
Bayangkan; ulat, menyengat, jijik

Ia lalu kau kenal
Sebagai aroma
Dibuatnya kau mati
Mendambanya, hingga dama
Menyandunya, hingga candu
Menggilaianya, hingga gila

Ia lalu mati
Jangan kira dalam nista
Lihat dirimu; busuk, bangkai, ulat dan sengat
Dan ia menyedot sempurna
Aromamu.

Batu, 15-1-11

Tuesday, 18 January 2011

perempuanku #3

“Kenapa?”

“Karena kau adalah perempuanku.”

“Lantas?”

“Aku hanya ingin kau jadi milikku; aku. Saja.”

“Aku tidak mengerti.”

“Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. Apa kau pernah mendengar kisah ini.”

“Haha....”

“....”

“Jadi karena itu, kau harus tahu; hanya karena aku perempuan, hawanya adam, bukan berarti aku milikmu. Menurutimu, melayanimu. Jadi budakmu. Aku tidak pernah berharap diciptakan dari tulang rusukmu, mencurinya. Ambil saja hidupku, jika kau tidak setuju pendapatku.”

“Sombong sekali.”

“Sombong. Angkuh, angkuh sekali.”

Ya, seperti ibu. Aku melihatmu, bu. Sosok didepanku ini, apakah dirimu?

“Cincin ini aku kembalikan.”

“Itu aku berikan padamu. Tolong jangan kembalikan.”

“Aku tak ingin diikat.”

“Itu hadiah, bukan pengikat.”

“Kau yakin?”

“Ya, aku..., aku..., aku..., aaarrrgh”

“Oke. Aku percaya.”

“Kau tahu, aku hanya ingin melindungi.”

“Burung, tidak pernah mengharap hidup dalam sangkar emas.”

Ibu, kau benar-benar hadir di sini. “Maafkan aku. Terbanglah bebas, jelajahi alammu, burung mungil.”

“Jangan takut. Burung tidak pernah lupa arah pulang ke sarangnya.”

Wednesday, 12 January 2011

nadin,

“Nadin, di sini saja ya? Main sama tante.”

Nadin hanya menggeleng

“Tapi nadin tidak boleh masuk,” Nadin menatap wanita itu sejenak. Baju putihnya rapi, didisipkan kedalam rok hitam. Tangan kanannya memegang blazer hitam, dan tangan kirinya tak berhenti membelai kepala Nadin penampilannya sedikit mirip guru di sekolah.

“Pokoknya, tante, Nadin mau..... ” entah kenapa jantungnya berdetak kencang sekali. Sakit. Ia berpegang pada sandaran bangku taman, “mami-papi cerai saja”. Seolah ada bongkahan batu yang menggelundung bebas dari ringga dadanya. Ia buru-buru duduk sebelum akhirnya roboh.

Wanita mirip bu guru menaikkan kacamatanya yang tiba-tiba melorot, lalu menghampir Nadin. Duduk berdampingan.

“Nadin, tahu cerai itu apa?” Dia ragu dengan perkataan anak kelas 2 sd tersebut.

“Sesuatu yang sangat diinginkan mami-papi.”

“Kalo mami-papi cerai, artinya mereka tidak hidup bersama lagi. Mami akan tinggal di rumah mami sendiri. begitu juga dengan papi. Kalian akan.....”

”bagus dong”

“Hidup terpisah”

“Jadi nadin dan dede punya dua rumah”

“Kalian akan jarang bertemu, tidak seperti dulu lagi.”

“Nadin mau kasih tau teman-teman. Kalo Nadin punya dua rumah”

“Tidak bisa tidur dengan mami-papi, bermain berempat”

“Nanti kalo papi beli rumah lagi, aku mau punya kamar yangg lebih besar.”

“Nadin.” Ia memegang pundak si gadis kecil

“Kalo ada PR bahasa, nadin ke rumah papi. Papi jago buat pusi. Makanya dulu mami jatuh cinta. Kalo sains, nadin tinggal pulang ke rumah mami. Mami kan dokter, pasti hebat. Papi bilang, kalo mami pake jas lab, mirip bidadari.”

Dia melirik si gadis kecil. Nadin, tatapannya lurus kedepan. Mengoceh dari tadi, seperti ingin meneriakkan kekesalannya. Apa dia frustasi dengan hubungan orangtuanya? Kadang, anak-anak juga sudah bisa stress. Ia melirik sekali lagi. Gadis ini, tak sedikitpun mengeluarkan air mata.

“Jika akhirnya mereka bercerai, mamimu mungkin akan menikah lagi, papi sekarang malah sudah punya.”

“Aku senang Om Adi jadi papaku nanti. Aku juga sayang sama Mama Sandra. Dia cantik, seperti barbieku.”

“Kenapa?” anak-anak seharusnya menjadi penaut hati kedua orang tua.

“Dalam doa, pertengkaran, pergulatan, pergumulan mami-papi. Cerai-cerai-cerai. Nadin mendengarnya, Tante.”

Dia meraih gadis kecil kedalam pelukannya. Dibalas pelukan, erat, erat sekali. Nafas memburu. tak ada tetesan yang membasahi bajunya. Tak ada sesenggukan yang terdengar.

Ah, gadis kecil. Nadin....

Terbang Jauh

Dengan hati-hati aku melepas rantai
Burung beo dan merpati
Melesat terbang jauh, sama sekali
Tidak menyia-nyiakan kesempatan bebas

Satu pintu sangkar kubuka lagi
Perkutut, camar, kasuari
Seribu sangkar masih menanti
Langkahku semakin gegas

Punya siapa, aku tak peduli
Dicaci, siapa peduli
Dimaki pun sudi
Asal burung-burung mengangkasa

Kicau yang kaunikmati
Sayap yang kaukagumi
Semuanya boleh kaumiliki
Tapi biarkan kepak sayapnya menari di udara.

Malang, 12 Januari 2011
*Cintamu, tak perlu kau genggam. Biarkan ia bebas. Kita sama-sama tahu kemana ia akhirnya kan kembali.

Monday, 10 January 2011

pak tua dan gulo kacang #3

“Kacang, mbak.” Tawarnya sambil tersenyum. Hm..., manis. Saya membayangkan gigitan gulo kacang, gula merah bercampur air liur. Luber di lidah. Tak sadar saya menjilat-jilat bibir. Benar-benar manis! Lagi-lagi saya menghampiri pak tua dan gerobaknya. Sialan. Padahal beberapa hari ini sedang diet kacang. Saya termakan mitos yang dikasih tahu teman beberapa hari lalu; konsumsi kacang dapat menyebabkan jerawat. Dahi dan pipi saya sudah sesak dengan bintik-bintik merah dan noda-noda hitam bekas jerawat.

Beruntung, duit sepuluh ribu yang dikantong bukan milikku. Titipan teman saya. Waktu saya cerita tentang pak tua dan gula kacangnya, dia bilang saya mirip ayahnya. Sama-sama suka gulo kacang. Tak apa tidak turut mencicipi, beli saja saya sudah senang.

Ketika kutawari daganganku, kulihat dia menjilat-jilat bibir sambil memejamkan mata. Apakah dia sedang membayangkan nikmatnya kacang dan gula merah bercampur air liur? Terasa sekali manisnya saat luber di lidah. Kesekian kali dia menghampiri gerobakku. Aku tidak tahu kenapa dia masih suka makan gulo kacang, padahal aku lihat jerawat di pipnya banyak jerawat dan noda-noda hitam. Kan, kata orang sering-sering makan kacang nanti timbul jerawat.

Kali ini dia beli sepuluh ribu. Biasanya Cuma satu. Aku jadi sedikit curiga, jangan-jang titipan seseorang yang mirip dengannya. Sama-sama suka gulo kacang. Tak apalah kalau bukan uangnya, ada yang beli saja sudah senang. Apalagi sebanyak ini.
Lagi, dia menghampiri pak tua saat ditawari kacang. Bagaimana bisa menolak? Bayangan gulo kacang bercampur liur dan luber di lidah begitu menggodanya. Alangkah manisnya. Sampai mejilat-jilat bibir segala. “banyok konsumsi kacang, bisa menyebabkan jerawat, loh” aku mengingatkannya. Jerawat sudah memadati dahi dan pipinya. Mana, meninggalkan bekas kehitam-hitaman juga.

Lihat dari caranya berkisah, aku tahu dia lwbih menikmati beli gulo kacang daripada rasanya. Aku teringat ayah yang juga suka gulo kacang. Duit sepuluh ribu kuberikan padanya. Aku sendiri tidak terlalu suka. Yang penting dia senang, ayah senang. Tak apa tidak turut mencicipi.

*** *** ***

Friday, 7 January 2011

Hanisah, Muslim from Pattani

Have you ever heard about Thailand? The one first comes to your mind might be Buddhism. It is true that the major religion in Thailand is Buddha. However, what I will tell to you here is quite different. I have interviewed with a Thai, and she is a Muslim.

Family
Her name is Hanisah Khareng from Jala, Pattani, South Thailand. She lives with her nuclear family, his mom named Aminah, Hariran- big brothers, Fatihah, Asri, Matayudin, Bahri. Most of Muslims in Pattani use Arabic name rather than Thailand name such as, Bonsak, Panana, and others.

It is not a strange for Islam is the highest percentage of religion in this province. Thai was not their native language, even they are Thai. Their native language is Jawi (Malay)- a malay language written in Arabic alphabet.
In their tradition, a house only for a nuclear family, when a child gets married, they may stay for a while in their parent house (usually at man’s parent house). Then they have to move to their own house.

Just as most Malay, she call her father whose name is Khareng as “ayah”, her mom “mama”, and her big brother as “abang”. To someone younger they only call their name. While a big sister “kakak”. Ayah, mama, abang, and kakak will not be found in Thailand vocabulary but we will found it in Indonesian language or Malay.
Food

Hanisah is close to her mother and is open. She used to share her secrets with her mother. She told me that she really loves her mother and misses her cook. They are not accustomed to have breakfast together, but they usually have lunch and dinner together. Usually her mom cooks tomyam, padpid, and nasi goreng pataya.

Socio-Culture
The environment she lived in is densely populated. The distance between one house and other is not short. The citizens are welcome and cooperativeness like Malay. If someone held a big ceremonial feast, the family or neighbor will come to help them. They are a community self-helped.
As she told me, in fact, they do not have a certain tradition, most ritual or ceremonial are just the same in Islamic tradition. For instance, ritual on aqiqah, marrieage, death, open house at Ied day, and etc.

Economy
Hanisah’s father has passed away, he was a farmer. As the consequence her mother works outside as a seller in the traditional market to make ends meet.
Most of people there work as farmer at their own rubber plantation or as farmhand. Not many people work at government institution, it is difficult to penetrate. Pattani people have been discriminated due to their religion, language, and culture is different from the majority of Thailand.

Indonesia
After graduating from madrasah (Islamic school) students will be send to study abroad. Thus far, they study in Islamic country such as Saudi Arabia, Egypt, Iran, and Indonesia. The subject they take also concerning in Islamic value.

Hanisah is one of the students studying in Indonesia. She took Pendidikan Bahasa Arab course. She was glad to study in Malang, Indonesia. She admits that she is not accustomed with the food yet. However, people of Indonesia (especially at UIN Maliki Malang) are nice, kind, and hospitality, makes her feels like home. It really helps her to adapt with the new environment.

Tuesday, 4 January 2011

pak tua dan gulo kacang #2

Ujung jalan, di emper toko Cik Mei. Dari belokan gang, Saya selalu melihat dia duduk bertumpu di atas kaki, kedua tangan bersilangan memeluk lutut erat-erat. Membunuh angin malam. Entah kenapa langkah kaki menuntun saya ke emper toko Cik Mei. Dia gegas berdiri saat saya hampiri, badannya sedikit oleng mau jatuh. “kacang, nduk?” senyumnya memperlihatkan deretan gigi, tidak utuh. “Gulo kacang, pak, setunggal mawon.” Matanya mengerjap-ngerjap memantulkan spektrum orange dari lampu minyak. Caranya menyambut saya seperti berlebihan. Jangan-jangan saya pelanggan pertama hari ini.

Emper toko Cik Mei tempatku mangkal, dekat ujung jalan. Aku sedang duduk sambil memeluk lutut dengan erat, terlihat dia muncul dari belokan gang itu lagi. Kupererat pelukan, mencoba membunuh angin malam. Biasanya dia hanya lewat, kali ini dia berjalan ke arah toko. Aku tergesa-gesa berdiri saat dia datang, badanku sedikit oleng. Otot-otot pipi dan bibirku ku tertarik menampilkan deretan gigi yang sudah tanggal. “kacang, nduk?” mata tuaku mengerjap-ngerjap menangkap bayangannya lewat sinar lampu minyak. “gulo kacang, pak, setunggal mawon.” Mungkin caraku menyambutnya sedikit berlebihan. Dia pelanggan pertama hari ini.

Di ujung jalan memang banyak yang berjualan, kalau di emper toko Cik Mei, ada yang jualan kacang, ujarnya. Dari kejauhan, belokan gang, dia sedang duduk memeluk lutut erat-erta. Membunuh angin malam. Mungkin angin juga yang menuntunnya ke arah toko Cik Mei. “dia bergegas berdiri, sampai oleng mau jatuh” dia menceritakan adegan saat penjual itu dihampiri. Penjual itu menanyainya apa dia akan membeli kacang. “gulo kacang, pak, setunggal mawon.” Katanya dia menjawab seperti itu. Mata penjual itu mengerja-ngerjap ditimpa cahaya orange. Menurutku terlalu berlebihan cara pennjual itu menyambutnya. Mungkin dia pelanggan pertama.

Monday, 20 December 2010

pak tua dan gulo kacang

Garis-garis lengkung ke bawah, menghiasi pipi, kerutan di dahi menggambarkan bahwa sang empu sudah tak lagi muda. Pancaran matanya hampir redup, tapi menyimpan banyak harap untuk bisa bertahan. Badannya terlihat ringkih dari balik pakainnya yang selalu terlihat kebesaran. Kakinya kurus sekali. sulit membanyang kaki-kaki kecilnya menyusuri jalan, menuntun gerobak jualan.

Kacang. kacang kulit, gulo kacang. Gulo kacang, kacang kulit. Setiap hari.

Garis-garis lengkung ke bawah, menghiasi pipiku, kerutan di dahi menggambarkan aku sudah tua. Pancaran mataku mungkin mulai redup, tapi masih menyimpan banyak harap untuk terus bertahan. Badanku sudah ringkih di balik pakaian yang kebesaran. Kakiku kurus sekali. Namun tidak sulit bagi kaki-kaki kecilku menyusuri jalan, menuntun gerobak jualan.

Kacang, kacang kulit, gulo kacang. Gulo kacang, kacang kulit. Setiap hari.

Garis-garis lengkung ke bawah, menghiasi pipi, kerutan di dahi menggambarkan sang empunya sudah tua, ceritanya. Pancaran matanya hampir redup, tapi menyimpan banyak harap untuk bisa bertahan, itu yang menarik hatinya. Dia bilang badannya ringkih, dilapisi baju yang selalu terlihat kebesaran. Dan kakinya kurus. Aku juga sulit membayangkan kaki-kaki kecilnya menyusuri jalan, menuntun gerobak jualan.

Kacang. Kacang kulit, gulo kacang. Gulo kacang, kacang kulit. Setiap hari

Friday, 17 December 2010

perempuanku #2

“Senin dan Kamis” ujarnya smbil menutup pintu.

Aku hanya termangu di teras rumahnya, aku merasa kembang-kembang yang berjejer rapi dalam pot-pot di teras rumahnya, meliuk-liuk mengejekku. Sekuntum mawar merah yang kan kuberikan kepadanya layu seketika dalam genggamku yang memanas. Rinduku begitu sangat pada Murni telah menuntunku kesini.

“Emangnya puasa?” aku menahan daun pintu.

“Anggap saja begitu”

Aku melangkah gontai keluar pekarangan. Berjalan membawa segudang keinginantahuan tentang siapa yang mengujungi sepagi ini. Apa dia si Profesor Botak, si DPR Buncit, atau si Pengusaha Necis? Atau dia orang yang belum pernah diceritakan Murni?

Ingin sekali kutarik bunga-bunga dekat pagar, merobek daunnya, mencabut paksa akarnya, atau menendang pot. Biar berantakan. Dan aku puas, meski hanya membayangkan.

Friday, 26 November 2010

perempuanku

“Menangislah, jika kau rasa itu bisa membuatmu merasa lega” tangannya meraih kepalaku. Kini aku bersandar pada dadanya yang empuk, hangat. Detak jantungnya berirama lembut. Aku suka. Aku seperti dipeluk seorang ibu. Ibu? Seperti apa ibukku?

“Resahku sirna, hanya dengan memandangmu. Tenang, aku tak akan menangis” ujarku sambil mendongakkan kepala.

Kedua telapak tangannya membelai lembut pipiku, berhenti sejenak. “Laki-laki selau begitu. Mereka bilang mereka tak mau menangis, tapi akhirnya terjadi juga. Entah di kamar mandi, entah dimana saja. Asal tak ada yang memergoki.” Wajahnya menatapku seperti seorang ibu yang sedang menasehati anaknya. “betul, bukan?” tanyanya. Aku diam saja. Toh jawabanku tak diperlukan. “kalau begitu, sangatlah mubazir tuhan menciptakan air mata untuk kalian, para lelaki.”

Ah, Murni. Kau wanita lugu, cerdas, dan cantik. Bagaimana bisa aku berpaling darimu, menyakitimu.

Aku berdiri, meraih wajahnya yang mungil kedalam tanganku. Kupandangi sesaat, dan mengecup keningnya. Lama, lama sekali. Kemudian mendekap erat tubuhnya, seperti malam-malam sebelumya. Mengecupnya saja, mendekapnya saja. Sebagaimana yang dilakukan ibu padaku. Kapan? Entahlah... Membiarkannya terlelap dibawah sinar temaram dalam pelukanku, hingga pagi. Lalu aku bergegas pergi, sebelum tetangga-tetangganya terbangun.

Wednesday, 24 November 2010

takut

hal yang paling menakutkan dalam hidupku adalah bangun dan menyadari aku adalah perempuan. tersadar bahwa aku adalah perempuan yang lahir tanpa pernah mengenal "sutil", apa lagi "wajan".
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...