Showing posts with label semacam curhat. Show all posts
Showing posts with label semacam curhat. Show all posts

Saturday, 6 August 2022

hai


hai, 

dari aku yang merindukanmu
dari aku yang selalu merasa aman dan nyaman di sini
dari aku yang tak pernah peduli dengan pendapat orang atas pendapatku di sini
dari aku yang merasa tak perlu mengenakan topeng dan jubah di sini
dari aku yang bisa jadi diri sendiri di sini. 

tolong ingatkan aku untuk sesekali mengunjungimu. 



Tuesday, 4 September 2018

Melepas kalut



Katanya cewek kalo lagi PMS, berubah jadi singa. Galak, suka marah-marah gak jelas. Yang terjadi pada saya berapa bulan belakangan ini malah kebalikannya. Jadi, over sensitive. Mellow mulu.


Senggol dikit, langsung nangis.


Entah berapa kali diam-diam saya menangis di kamar mandi atau di balik selimut.


Entah karena kram perut atau masalah-masalah sepele, selisih paham dengan si anu, telepon gak diangkat si itu, atau si ini yang gak pernah kirim pesan.


Pokoknya, hal kecil, jadi dibesar-besarin. Dipikir sendiri, ditangisi sendiri.


Saya sedih sekaligus takut

Jika sensitivitas seperti ini terus berlarut.

Ah, ingin lari ke laut. 

Melepas semua kalut.








____________

Pict. from pinterest 

Friday, 3 August 2018

Titik nol



Lalu, setelah hari-hari yang manis, ketjup sebelum dan sesudah bangun tidur, serta percakapan hangat dan sekantong gombalan receh, kita kembali ke titik nol.

Kembali ke awal. Tiba-tiba saja aku enggan untuk menyapamu. Sedang kau sudah tentu, tak mungkin lebih dulu memulai.

Ah, sebenarnya bukan enggan. Hanya saja, aku tak tahu, dengan cara apa aku mesti menyapamu. Dengan alasan apa lagi? Alasan? Ah, kenapa mesti butuh alasan hanya untuk mengirim pesan padamu?

















__________________________
Pict from pinterest




Saturday, 19 May 2018

Mengalienasi




Mengapa dengan yang asing kita bisa berbagi hal-hal paling sakral dan intim.


Sementara yang dekat begitu beku dan kaku. 


Haruskah kita saling mengalienasikan diri agar lebih intim? 


Aku alien bagimu

Kau alien bagiku


Tuesday, 24 April 2018

Ini adalah hari-hari di mana, gak pengen marah, jutek dan judes bin ketus, tapi semua terjadi begitu saja. Ketika orang mengatakan hal sepele dan kamu nganggap lebih, over sensitif. Ketika kamu tahu, itu tidak bisa begitu, tapi kamu tak kuasa menahannya.


Ish😔, I need to run away somewhere to keep my sanity.




 









Friday, 13 April 2018

hanya supporter





Darah berdesir melihatmu di lapangan. Degup berlipat tiap raketmu menyentuh kok. Berdebar-debar, poin demi poin.

Perasaan bahagia, harapan dan cemas berbaur dalam jejingkrak, tepuk tangan, doa dan  yel-yel:
In-do-ne-sia
Prok prok prok
In-do-ne-sia
Prok prok prok

Tepat setelah poin kemenangan, 21, aku berlari ke arah lapangan. Kau sigap menghampiri.

Menghampiri dia yang sedari tadi kau pandangi. Poin demi poin.

Aku lupa,
Pagi ini aku terbangun hanya sebagai seorang supporter.











Thursday, 15 March 2018

Berjodoh




Bahwa jodoh tidak melulu tentang lelaki atau perempuan yang dipersatukan dalam akad. Bertemu orang baik pun adalah jodoh. Bukan kebetulan.

Banyak orang baik yang tlah kutemui. Ibu dan anak ini salah satunya. Pertama kali bertemu dengan ibunya ia berkisah tentang getir hidupnya: Susah payah bekerja di luar negeri, suami yang ditinggal malah foya-foya, main perempuan dan menelantarkan anak.

Sudah ia ikhlaskan jerih payahnya yang sia-sia. Pun suaminya, ia ikhlaskan untuk perempuan lain. Ia hanya tak habis pikir, untuk apa si mantan suami mencuci otak anaknya agar menjauhinya. 

Tak ada yg lebih sedih selain dijauhi anak sendiri. 

Ia percaya Tuhan tak kan membiarkannya sendiri, tak putus doa untuk sang anak.

Seperti sudah direncanakan, beberapa bulan kemudian, kami bertemu lagi. Kali ini ia mengenalkanku pada anaknya. Ah, betapa bahagianya. 

Kisah ini, bagimu, mungkin biasa saja. Banyak kejadian seperti ini. Atau mungkin aku tak begitu pandai menceritakannya. Apapun lah. Bagiku, kisah ini sangat berharga. 

Selama ini kupikir hanya drama indosiar saja yang dramatis. Nyatanya, hidup bisa lebih dramatis. Dan tak perlu kuceritakan dengan dramatis pula. 






Wednesday, 7 March 2018

#tukangojek1: ya sudah

sebab tidak punya kendaraan dan gak bisa nyetir, kemana-mana praktis saya naik ojek ataupun angkutan kota. berhubung tidak ada lyn angkot ke arah rumah, saya lebih sering naik ojek. 

banyak pengalaman yang saya alami. manis maupun traumatis. beberapa kali saya dan kang ojek ngobrol ini itu, lebih seringnya saya menikmati perjalanan, duduk diam menatap rumah-rumah, anak-anak, dan pepohonan dan semak-semak yang segera berlalu, tenggelam dalam lamunan-lamunan riuh. 

lewat tulisan dengan label #tukangojek ini saya ingin berbagi cerita saya bersama kang ojek (duh, betapa mesranya kami :D)



Saya         : Om, minta helmnya, om. 
Kang ojek : Gak usah.
Saya         : Ya sudah .... (langsung meninggalkan kang ojek)
Kang ojek : loh, mo kemana, mbak? gak ada sweeping kok. ayo
saya         : @%$^^$%@@


tak sedikitpun acuh, sudah kadung ngambek. orang saya nyetopin belio karena helmnya. saya gak mau naik ojek yang gak sediain helm buat penumpangnya. kecuai kepepet dan terpaksa.  




 












__________________
pict from here

Tuesday, 6 March 2018

I hate it



I hate it when I love you, but I deny to admit it
I hate it when I love you, but I can't say it
I hate it when I love you, but I am not brave enough to say it
I hate it when I love you, but I have no confidence to say it

When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will lose your chance
To make your dreams come true...

This song stuck in my head








________________
pict taken randomly from google 

Tuesday, 19 September 2017

catatan september

pict from here


Dunia makin aneh, atau kita sudah terlalu lama hidup? semua bergerak maju, cuma kita yang masih gagal move on dari "Piye, masih enak jamanku, toh?"

Di negeri ini September tak selalu ceria, ia juga bisa lebih seram dari Oktober dengan halloween-nya. Pada bulan ini hantu PKI dibangkitkan. 

Lain waktu, buku-buku dibakar, pajak (penulis) buku naik, diskusi dibubarkan, sementara tingkat minat baca masyarakat makin nyungsep. 

Berserikat dilarang, aktivis dilenyapkan, dan koruptor malah dibela. Situ waras? Atau saya yang gila? 

Lalu dimana hak untuk merdeka? Dimana letak demokrasi?

Sepertinya yang dibilang demokrasi itu hanya momen sesaat ketika masuk bilik suara saat pemilu, begitu keluar kelingking ungu bertebaran di linimasa sosial media. Sudah, itu saja. Selebihnya disimpan dalam lemari bagian kanan paling bawah. tertumpuk baju-baju yang sudah tidak terpakai.  








 

Monday, 3 April 2017

dalam hidup,

gambar dari sini


Dalam hidup, segalanya tidaklah selalu mudah. Hidup bisa begitu kerasnya. Ada saat dimana kamu begitu kuat. Lain waktu kamu jadi lemah. Lemah selemah-lemahnya. Hingga tak mengenali diri sendiri. 

Jalan hidup bisa sangat rumit. Semisal labirin. Kamu terjebak dan tersesat. Jalan pulang, kamu tak tahu. Mimpimu, sudah lama kamu lupakan. Ah, bukan lupa tepatnya. Bermimpipun kamu tak tahu caranya. 

Kemana kau menuju ketika terus berjalan? Apa yang kamu kejar ketika terus berlari?

Kamu seperti bukan kamu. Kamu berubah. Apakah hidup begitu keras dan rumit? Ataukah kamu yang lemah dan rapuh?

Monday, 23 January 2017

kebaikan yang memuakkan


randomly taken from google 



seperti menemukan kembali 
mainan yang lama hilang 
kau memperlakukanku dengan 
sangat, sangat baik

bagai seorang ibu kecil terhadap bonekanya 
dimandikan, dipilihkan baju
didandani, dan blah... blah... blah... 

siapa pun, tak menolak diperlakukan baik
siapa pun, akan tetapi, menolak dibonekakan

kebaikanmu memuakkan
bagaimanapun, terima kasih. 



Friday, 6 January 2017

2017

selamat tahu baru


Mengawali tahun baru, selain ucapan selamat, rupanya resolusi juga jadi trending. Beberapa kawan menanyakan adakah resolusi besar yang akan saya buat tahun ini? 

Saya bukan tipe orang yang detail. Memikirkan, menuliskan, dan melakukan hal-hal apa yang perlu dicapai dan digapai. Bukan bearti saya tidak punya mimpi, cita-cita dan keinginan begini-begitu. 

Dua atau tiga tahun lalu, saya kerap lewat depan TK H*ng Tu*h. Melihat bangunan dan mainan warna-warni, dalam hati, saya mau jadi guru. Asalkan guru TK. Tak lama, tahu-tahu saya sudah mengajar di situ.

Semasa kuliah, saya kerap memimpikan kerja yang nyaman seperti di Perpustakaan. Bekerja sembari memuaskan hasrat membaca sepuasnya dengan gratis. Sekarang, pekerjaan itu datang sendiri, dan saya harus melepas aktivitas di TK. 

Wah, mungkin ini yang namanya di mana ada kemauan di situ ada jalan. Apa yang saya inginkan, impikan, mewujud satu per satu. 

Lalu, apa yang harus saya impikan tahun ini? Kali ajah, mantranya masih berlaku. 

Beberapa hari lalu ketika sahabat saya, si mommy wanna be, Winda, bertanya apa saya ada resolusi 2017 ini, apa sudah ingin menikah? Saya hanya mengamininya 33x. 

Lalu Ellik juga bilang, "Kamu ke Malang gak cuma mau main doang, kan? ada tujuan khusus apa gitu..." Sepertinya dia sedang membayangkan rencana saya berlibur di Malang nanti akan dipenuhi dengan agenda nyebar undangan pernikahan ke teman-teman. 

Lihatlah, teman-temanmu begitu perhatian dan berharap. Jadi, apakah sudah waktunya saya juga ikut membayangkan undangan pernikahan, malam pacar, dan duduk pelaminan? 

Tapi saya juga pengen nuntut ilmu lagi. Sudah lama bermain-main. Sepertinya isi kepala dan hati perlu di charge lagi. Lagipula emak sudah punya menantu dan cucu. Jadi sementara ini bebas dari segala macam tuntutan.

Duh kah, galaunya udah kayak iklan f*ir and lovely. Nikah dulu atau s2 dulu? 

Entah lah... 

Yang pasti saya berharap bisa menamatkan banyak buku dan drama korea, lebih rajin ngeblog dan punya kaos Tan Malaka. Sudah. Itu dulu... lain-lainnya menyusul.  


Sekali lagi, selamat tahun baru! 



Monday, 26 December 2016

tentang lupa

aku gak bermaksud melupakanmu  



Sampai saat ini saya masih merasa tidak enak hati, pada beberapa kenalan, kolega atau pun kerabat. Pasalnya sifat penyakit lupa saya makin hari kok makin buruk. 

Bagaimana perasaanmu kalau dengan begitu antusias menyapa/memanggil seseorang di jalan, tapi yang dipanggil hanya menatap bingung, dahi berkerut dan terpaksa nyengir??? 

Kalau lupa bawa pena, dompet, payung, ato hape saat bepergian, mungkin masih wajar. Pun lupa beli belanjaan emak meski udah diingatkan berkali-kali. Lupa nama-nama tokoh novel/komik/film juga masih taraf wajar. 

Tarohlah itu bukan sesuatu yang begitu penting untuk diingat-ingat. Dan lagi, mereka gak bakal bilang "Masa gak ingat aku?" "Kok bisa sih lupa sama teman sendiri?" Pokoknya gak bakal dikira sombonglah sama itu-itu benda.   

Beda lagi masalahnya kalau berhadapan dengan manusia yang punya hati dan perasaan. Hal pertama yang paling menohok perasaan saya terjadi sekitar setahun lalu. Saat reuni aliyah. 

Saya ingat semua teman-teman yang hadir. Bahkan yang bertahun-tahun tidak bertemu, seperti Aan, Vahrul, dan beberapa yang kuliah di Mesir. Dari jauhpun saya yakin, saya masih mengenali mereka. Ada satu yang tidak saya kenali, meski berkali-kali saya bongkar file-file dalam memori, tetap tidak ditemukan. 

Tak tahan, saya bertanya ke dia "Kamu angkatannya siapa yah?" gerrr. Sontak teman-teman sekelas geger. Aan di sebelah saya bertanya "Kamu nanya beneran apa guyon?" 

Duh, gak cuma malu-maluin, tapi udah bikin malu orang juga. Hanya gegera dia pakai kacamata, saya tidak bisa mengenalinya. 

Tak lama setelah itu, kejadian-kejadian yang hampir sama terulang. Saya bertemu teman sekamarnya Yessi saat di asrama, saya ingat mukanya, tapi tidak ingat namanya. Saya ingat betul Senyuman dan suara khas Radin saat memanggil "Ibu Guru," tapi saya sulit memanggil balik, karena tidak ingat namanya. 

Saya tidak mengenali Bibi Linda, hanya karenanya perutnyi buncit sedang hamil. Saya tidak dapat mengenali Bapaknya adit, hanya karena dia tidak pakai seragam anggota Brimob. Saya tidak mengenali mamanya Raffa hanya karena dia pakai behel. Dan masih banyak lagi... 

Apakah itu semacam penyakit? atau kebiasaan yang dipelihara? should i see a doctor? 

Thursday, 8 December 2016

theme song

lagi, dari google
I'll fly away tomorrow 
To far away
 I'll admit a cliché 
Things won't be the same without you
I need to know what's on your mind
These coffee cups are getting cold
Mind the people passing by
They don't know I'll be leaving soon
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm
I need to know what's on your mind
These coffee cups are getting cold
Mind the people passing by
They don't know I'll be leaving soon
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.ht

kamu bilang ingin berhenti kerja 

kenapa? 
I'll fly away tomorrow
To far away
I'll admit a cliché
Things won't be the same without you
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm

I'll fly away tomorrow
To far away
I'll admit a cliché
Things won't be the same without you
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm
kamu ingin pergi. pergi jauh. 

apa karena itu kau terus memutar Adelaide Sky - Adhitia Sofyan. semacam theme song, lagu yang sesuai dengan suasana hatimu saat ini. atau justru ingin pergi karena terus-terusan mendengarkan lagu ini. terbawa perasaan. 

kemana?

mungkin ke luar Indonesia. mungkin saja ke tempat yang tak seaman dan senyaman sekarang, katamu. 


I've been meaning to call you soonBut we're in different times

kapan? 

you'll be leaving soon.

kamu tahu, aku juga kerap berpikir sepertimu. ingin pergi jauh, kabur, lari dari kenyataan saat ini. tapi aku tak pernah bisa. seolah ada yang merantai hatiku, tuk tidak meninggalkan kampung halaman.

seandainya suatu ketika aku pergi, aku akan pergi untuk kembali. 

untuk apa?

mengejar cita-cita. impian. kebahagiaan.


I'll be hearing my own foot steps under Adelaide sky
Would you be kind enough to remember me
ah, kamu ... 

impian apa yang hendak kau wujudkan. kebahagiaan seperti apa yang kau cari. apa kamu sedang menghukum dirimu sendiri? 

Tan Malaka -yang kerap diasingkan ke luar negeri- pernah bilang; salah satu hukuman terberat selain hukuman mati, yaitu meninggalkan tempat kelahiran, masyarakat, pekerjaan, para teman yang dicintai, dan mengembara tak berketentuan di negeri asing.

won't be back if you could.

aku terdiam. seketika hatiku kosong. tak tahu mengatakan apa. hanya senyum. 


won't be back if you could.

Muhammad, kamu tahu, dengan berat hati hijrah ke Madinah. bukan untuk menetap di sana. ia hanya mengatur strategi,untuk merebut kembali kota Mekah. 

you wish you could tell me earlier. katamu lagi. 


I'll let you know what's on my mindI wish they've made you portableThen i'll carry you around and roundI bet you'll look good on me

Persis setelah Adhitia selesai bernyanyi, Megan Trainor menyahut, 

so, i'm gonna love you, like I'm gonna loose you
i'm gonna hold you, like i'm saying goodbye

aku ingin menahanmu, tapi siapa bisa apa aku. aku hanya tahu mencintaimu.

jadi, 
aku akan mencintaimu, seolah akan kehilanganmu
aku akan mendekapmu, seolah akan berpisah.   
 



Thursday, 1 December 2016

caraku mengingatmu

randomly take from google


awan gelap itu, sayang, rintik yang ritmis dan uar tanah basah. 
semuanya membisikkan kerinduan. 

kerinduan pada satu nama yang tak kukenali
wajah yang samar-samar
dan sosok yang teramat jauh
 
 

Monday, 28 November 2016

batal beli kaos

pict from here



Saya pengen order kaos tokoh, yang ada sablonan wajah Tan Malaka guede-gude di bagian depan, biar orang-orang tahu kalau saya sedang nge-fans sama blio. 

Saya mengunjungi beberapa online shop kaos tokoh. Rata-rata warna dan desainnya seragam. Kalau gak hitam yah putih. Ada pula yang merah jreng, tapi jarang. Di antara yang seragam itu, ada satu yang saya suka. 

Sebelum memutuskan beli di online shop  tersebut, saya liat-liat dulu isi web dan instagramnya. Hm... lah kok ada gambar Ahok pula di situ. Tentu saja saya kaget. Kamu tahu kan, kaos tokoh itu biasanya identik dengan pemikiran dan pergerakan ke-kiri-an. 

Akhirnya, gak jadi deh pesan di situ. 

Saya emang agak sensi kalau masalah Ahok ini. Lepas dari kasus penistaan agama. Atau identitasnya sebagai etnis Tionghoa atau seorang nasrani. Rasis dan picik jika berpikir seperti itu... 

Kasus Ahok ini memang lagi hot. Tidak menyangkut diri Ahok pribadi saja, tapi juga identitas yang diembannya. Kasus ini seperti menebarkan benih-benih permusuhan di antara orang muslim dan Ahok. Beberapa nasrani pembela Ahok bisa saja terpengaruh. Ia juga berpretensi memecah belah muslim pembela al Quran dan pro Ahok. 

Hanya gegara satu orang ini, Habib Riziq bela al Qur'an, dipojokkan. Buya Syafi'i Maarif bela Ahok, dipojokkan pula. 

Saya agak mengambil jarak dari peristiwa ini. Sebab informasi yang disampaikan media hanya sepotong-sepotong. Cenderung tidak seimbang. Jadi, pemirsa harus lebih bijak, agar tidak menelan begitu saja isu-isu yang penuh intrik dan berkelindan sana-sini.

Capek juga kalo ngikutin berita di TV. Baru ajah istirahat dari maraton drama kopi sianidanya Jessica, sekarang udah Ahok menista Al-Qur'an. Besok apalagi? Kancil korupsi timun?

Well, balik lagi ke laptop. Jadi, bukan lantaran hal di atas saya jadi sensi. Yang saya tidak suka, dia seringkali gusur-gusur warga. Mau alasannya mereka penduduk liar, mau mempercantik Jakarta, atau apapun, saya tetap tidak suka. Itu menyayat-nyayat hati nurani, gaes. Melihat orang-orang kecil diperlakukan seenaknya.  Niatnya mempercantik yang lain, tapi malah melukai yang lain. Haduh. Cantik itu memang luka!

Wajar dong, kalau saya sensi, kok, ujug-ujug ada muka Ahok -si tukang gusur- di lini masa online shop kaos tokoh itu. Hak dia juga sih sebenarnya. Mau jualan muka tokoh siapa saja juga boleh. 

Saya bertanya-tanya, selain sebagai pemimpin daerah, kontribusi apa yang sudah diberikan Ahok?  Mungkin sebab saya tidak tinggal di Bangka Belitung atau Jakarta -tempat Ahok pernah memimpin-, jadi saya tidak tahu sumbangsih apa yang sudah diberikan Ahok bagi rakyat-nya.

Saya scroll  terus ke bawah, melihat lebih banyak isi instragram itu online shop. Saya menemukan Che Guevara, Tan Malaka, Wiji Thukul, Munir dan Cak Nun. Di antara para toko pemikir, revolusioner, pejuang kece-kece itu terselip wajah Ahok. 

Memangnya dia sehebat para tokoh itu? 
Apa dia sekanan mereka?
Apa dia se-kiri mereka? 

Saya tidak melihat itu dalam diri Ahok. 

Hanya karena sebagian besar umat islam -yang dianggap kanan- mendemo Ahok, bukan berarti Ahok itu seorang kiri yang perlu diselamatkan.

Saya rasa, sebelum berpihak, sebaiknya berpikir kritis terlebih dahulu. Jangan sampai belok kiri jalan terus, eh, malah nabrak.    




 

Wednesday, 16 November 2016

sebenarnya

pict from google


Sebenarnya saya mau nulis ini dan itu. Tapi sementara di draft dulu ajah. Lagi panas-panasnya di kepala, takutnya malah terlalu emosional dan gak bisa objektif...

Jadi di postingan ini saya cuma mau bilang, kalo, tulisan saya tentang Pengakuan Eks Parasit Lajang-nya Ayu Utami juga di-publish di Padepokan Air Mata ... dan ada juga, semacam surat balasan, dari emak Fitri yang nulis tentang budaya kawin lari merarik dalam suku Sasak. Tulisannya emak fitri bisa dibaca di sini 

Selamat membaca, teman...    

Tuesday, 8 November 2016

tertuduh

pict from here


Saya cuek, bukan berarti sama sekali tidak peduli. Saya cuek, bukan berarti sama sekali tidak peka. Saya ceplas-ceplos, bukan berarti sama sekali tidak menghargai perasaan orang lain. Ada saat di mana saya bisa begitu sensitif, meski hanya karena hal-hal yang kamu anggap kecil dan sepeleh. 

Setiap orang punya batas, tembok yang membentengi dirinya dari orang lain. Membentengi dari teman atau mantan. 

Dari seorang sahabat terbaik, saya belajar satu hal. Ia tipe orang yang tidak suka punya banyak koleksi/barang. Satu, dua, cukup. Jika rusak, tidak segera ia buang, lalu membeli yang baru. ia akan memperbaiki benda tersebut, lalu dipakai lagi. ia akan membuangnya jika memang sudah benar-benar tak dapat diperbaiki.  

Dalam bergaul, saya menerapkan filosofi teman saya tadi. Saya senang membangun jembatan dengan orang lain, dan akan menjaganya baik-baik. Satu kesalahan kecil, tentu dimaafkan. Dilukai sekali, tak mengapa. Toh, sudah tentu, dalam suatu hubungan pertengkaran selalu ada. Ia semacam bumbu yang menyedapkan.

Namun, segala sesuatu ada batasnya. Jika batas sudah diseberangi, dan hubungan tak sanggup lagi dipertahankan, mungkin sudah saatnya kita bakar saja jembatan yang menghubungkan kita.  

Kamu boleh menertawai saya di belakang, atau memaki di hadapan saya. Tapi menuduh? Saya tidak suka itu. Apalagi jika jelas-jelas saya tidak pernah melakukan itu.

Seumur-umur main facebook, seorang teman sesama PKL, saat mahasiswa dulu, terpaksa saya block. Sebab ia menuduh saya untuk hal yang, ah... sudahlah. 

Bagi saya, ketika kamu menuduh seseorang, itu artinya kamu sedang meragukan ia. Mungkin bukan meragukan, lebih tepatnya tak menaruh kepercayaan. Mana mungkin kamu percaya padanya, jika kamu yakin ia melakukan hal yang tak dilakukannya. 

Baru-baru ini hal itu kembali terjadi. Seorang menuduh saya, saya bahkan tak pernah bermimpi dan berkhayal tentang hal seperti itu. Apa yang saya lakukan? saya tidak memblock dia di jejaring medsos. Kekanakan sekali. 

Sebab kami dekat, tentu saya maafkan. Tapi, saya rasa semua tak lagi sama. Mungkin ini cobaan. Entah Menjauhkan, atau justru mengeratkan...     


 

Sunday, 3 January 2016

Halo, 2016

Halo, 2016!!!

Senang bertemu, 2016

Banyak hal terjadi di tahun 2015. Ada yang baik, ada yang buruk. 

Terima kasih atas segala nikmat.
Terima kasih karena dihindarkan dan diselamatkan dari hal-hal buruk.

Semoga di 2016 segalanya bisa lebih ramah... 


First selfie in 2016

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...