Showing posts with label aku. Show all posts
Showing posts with label aku. Show all posts

Thursday, 10 November 2016

Selamat Hari Pahlawan

Mari sejenak mengheningkan cipta, mengenang para pahlawan...

Masing-masing kita, pasti punya pahlawan yang diidolakan. Iya, kan?


 
Sebagai penggemar bulu tangkis, sudah tentu pahlawan saya Liliyana Natsir-Tantowi Ahmad yang mempersembahkan sebuah kado terindah bagi ulang tahun Indonesia, medali emas Olimpiade RIO 2016, saudara-saudara!  


Sebagai penikmat puisi, Chairil Anwar belum tergeser. Dia tetap nomor satu!


Dan, terakhir, entah dari mana saya mengenalnya. Saya ingat, dulu saya begitu penasaran dengan novel Pacar Merah yang bertengger di rak buku Togamas malang. Saya membelinya, belum juga dibaca, sudah duluan dibarter oleh mpok Istanti dengan buku The Second sex-nya Simone de Beauvoir. Hm...bukan dibarter sebenarnya, tapi jamninan. Sebab sudah lama bukunya saya pinjam tak kunjung dikembalikan.
 
Si Pacar merah itu adalah Tan malaka. Saya sedang berkenalan dengannya, mengenalnya lewat karyanya, Dari Penjara ke Penjara. Baru beberapa bab saya baca, tapi saya dapat merasakan semangat juang yang dikobarkannya dari dalam kubur sana. 

Bagi saya, ia sosok binatang jalang, dari kumpulannya terbuang. Ia pahlawan, yang terbuang dari sejarah. 

Kalau kamu, siapa pahlawanmu?
 

Friday, 26 December 2014

di akhir tahun

di akhir tahun ini, saya banyak berkaca. melihat-lihat ke dalam diri saya. apakah masih sama, atau sudah banyak berubah?

dan saya mendapati, saya berubah. saya melaukan banyak hal yang tidak pernah saya lakukan. yang susah payah saya jauhi. yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. 

saya gak pernah menyangka bakal mengajar, jadi guru di tk, sd, dan (pernah) di sma. saya sama sekati tidak punya cita-cita jadi guru. mulanya saya menolak, tapi ibu saya terus mendorong. beliau bilang, mengajar itu, tidak membuat ilmu kamu berkurang, justru ia mearawat dan bahkan menambah ilmu yang kamu punya. kata-kata itulah yang bikin saya bertahan jadi guru. 

karena saya mulai bekerja, saya juga mulai merubah penampilan. saya yang dulu cuek, sekarang mulai belajar pakai make-up. paling gak bedak dan gincu merah harus sedia dalam tas. well, saya sepertinya baby-face, ditunjang dengan tubuh mungil, seringkali oranng tua peserta didik mengira saya teman anaknya. haha. 

terakhir, saya juga pake sepatu yang tingginya hampir sama dengan telunjuk saya. saya belum terbiasa, jalannya sedikit kagok. jadi sepatunya saya simpan di kelas, dipakai untuk kegiatan tertentu saja. misal, photo bersama. biar saya gak terlihat lebih pendek dari teman-teman guru yang laen. 

hmm, apalagi yah? sepertinya maish banyak, hanya saja saya tidak ingat. lain waktu akan saya ceritakan lagi.

how do you look in this 2014, fellas? wishing you all a very happy new year :*

Monday, 9 December 2013

percayalah...



ketika kau mengajariku berjalan, 
apa yang sedang kau pikirkan?

ketika kau mengajariku berlari,
apa yang ada dalam pikiranku?

yang kutempuh sekarang,
sekadar berjalan, menjalani takdirku.

yang kulakukan sekarang,
hanya berlari, mengejar nasibku.

berjalan, bukan untuk pergi darimu.
berlari, bukan untuk menjauhimu.

percayalah...




*pict from here

Tuesday, 15 January 2013

sahaya aku



Sahaya aku

Tepi pantai kala senja
Nelayan menjaring siluet matahari
Dan mega di ujung lazuardi
Bersama mengukir ikar ; “hanya bapa raja diraja”
                                 
Sekali waktu
Insan terperangkap labirin
Resah
Galau
Pun dilema
Dari keheningan, alam berbisik;
“iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”

Di sini
Seorang diri meniti tasbih
Mengukir lafal atas sujud kultus
Luruh keangkuhan sluruh
Dengan segenap kekerdilan
Sahaya aku;
“hanya bapa tunggal yang esa”



Thursday, 3 January 2013

#novel: aku lupa bahwa aku perempuan



Kata Orang Aku Bukan Perempuan




lama

Judul               : Aku Lupa bahwa Aku Perempuan

Penulis             : Ihsan Abdul Qudus

Penterjemah    : Syahid Widi Nugroho

Penerbit           : Alifia Books
Cetakan I        : Desember 2005
Tebal               : 248 halaman

Menghabiskan 10 bab dalam novel ini, pembaca diajak untuk menyelami kehidupan seorang perempuan yang berambisi besar menjadi politisi sukses. Suad, tokah utama dalam cerita ini, mulai berkenalan dengan dunia politik saat masih duduk di bangku SMA. Pada tahun 1935, ketika banyak gerakan nasionalis Mesir berunjuk rasa memerdekakan diri dari Inggris, ia mengkoordinir teman-teman sekolahnya untuk turut terlibat. Pertemuannya dengan salah seorang sepupu, mahasiswa dan pentolan gerakan nasioalisme Mesir, mengawalinya berkenal dengan politik lebih matang.
            
Diceritakan, sejak kecil Suad adalah anak yang tomboy, berbeda dengan kakak perempuannya yang sejak kecil telah menyiapkan dirinya menjadi wanita tulen. Saat Suad menikmati permainan dengan teman-teman lelakinya, kakaknya asyik berlatih memasak, menjahit, mendekorasi rumah. Bahkan, tatkala beranjak dewasa, banyak teman lelaki datang menawarkan cinta padanya. Tapi tak satu pun diterimanya, ia memilikki konsep tersendiri mengenai cinta dan perkawinan.
            
“Mereka datang, tetapi aku selalu menolaknya karena dengan menerimanya aku masih menjadi manusia biasa. Aku menolak mereka juga mungkin karena mereka, laki-laki yang datang tidak ada yang mampu membawaku menjadi manusia luar biasa.”
            
Begitulah Suad, cerdas dan berambisi. Keaktifannya dalam politik diimbangi dengan prestasi yang memuaskan disekolah, pun ketika menjadi mahasiswa. Menjadi orator, menghadiri pertemuan-pertemuan politik, sebagai pelajar ia selalu duduk di peringkat pertama. Ketika akhirnya Suad jatuh cinta pada pria bernama Abdul Hamid, dari sinilah bermunculan peperangan antara ego poltisi dan ego perempuannya. Kiprahnya dalam berbagai organisasi politik maupun pergerakan perempuan menghanyutkanya dalam linkar elit politik. Berbanding terbalik dengan kehidupan pribadinya. Semakin dekat dunia politik dengannya, semakin ia jauh dari suaminya, perceraian pun tak terelakkan. Faizah anak semata wayangnya, memanggilnya dengan Suad. Padahal dalam hatinya ia begitu merindukan sebutan ibu untuk dirinya.

@@@             @@@             @@@

baru

Sejak dahulu wanita diidentikkan sebagai makhluk lemah. Meski pada kenyataanya, banyak wanita lebih cerdas dan kuat ketimbang laki-laki di luar sana. Sejatinya, wanita dan laki-laki terlahir berbeda, namun itu bukan alasan tepat untuk menciptakan pembedaan yang merugikan spesies tertentu. Toh yang berbeda hanya anatomi biologis saja. Ada sejuta Suad yang menyuarakan keadilan dan kemerdekaan untuk bangsangnya, juga untuk kaumnya. Kiprahnya sudah pasti diakui, namun belum tentu kenyataan bahwa ia seorang wanita diakui.
            
“Karena apa? Karena aku hamil? Begitu?”
            
Betapa kesalnya Suad saat para dosen dan mahasiswanya akan mengadakan pertemuan penting dengan perdana menteri terkait revolusi di negaranya, tapi ia tidak diajak. Padahal selama ini, Suadlah masterminder mereka. Dan alasan yang mereka kemukakan klise, mereka malu pertemuan dengan perdana menteri dihadiri wanita hamil.
          
Dalam kehidupan pernikahan, Suad pernah dua kali jatuh bangun. Hubungan wanita dan pria adalah hubungan kemitraan complementer, hubungan yang saling melengkapi. Bukannya hubungan antara majikan dan pelayan, dalam hal ini, acap kali wanita yang berperan sebagai pelayan. Mulai dari melayani suami, anak, hingga mengurusi segala tetek bengek keluarga. Hidup dengan laki-laki yang besar dalam budaya patriarki seperti Abdul Hamid dan Doktor Kamal, sulit baginya untuk mewujudkan konsep ini. Apalagi dengan kondisi sosial yang masih menjunjung tinggi budaya patriarki. Bagi mereka, dalam institusi pernikahan suami harus lebih dominan dari isteri. Alih-alih membangun keluarga yang harmonis, pernikahan malah menjadi tameng baginya. Jika ia bisa sukses dalam berkarir, ia juga ingin menunjukkan pada publik bahwa segudang aktivitasnya tidak menghabat keharmonisan keluarganya.
            
Meskipun begitu, upaya yang dilakukan Suad untuk membebaskan diri dari kekangan budayalah yang harus dicermati. Tatkala banyak wanita merasa nyaman menjadi “jenis kelamin kedua”, Suad tengah bergembira merayakan kebebasannya dari superioritas laki-laki. 
           
 Ihsan Abdul Qudus, penulis novel ini, amat piawai menuturkan kisah pergolakan kehidupan Suad. Ia dengan lugas menceritakan seorang perempuan yang memperjuangkan kesetaraan jender. Bagaimana Suad menghadapi keluarganya, saat dimana Suad berusaha menjaga eksistensi karir politiknya tanpa merusak hubungan dengan suaminya, utamanya kala Suad menyerukan pada rekan-rekannya, bahwa ia adalah wanita, dan itu bukan penghalang baginya untuk memantapkan langkah di dunia politik.
            
Lalu Ihsan menghadirkan pergolakan batin Suad sebagai pembanding. Ia mengisahkan bahwa bagaimanapun, Suad tetap membutuhkan kehadiran lelaki dalam hidupnya. Meski pada akhirnya ia selalu menuai perceraian. Kemudian Ia bertutur tentang Suad yang begitu terpukul mengetahui anaknya lebih dekat dengan ibu tirinya, Samirah. Faizah lebih dekat dan terbuka dengan Samirah, daripada dengan dirinya, ibu kandungnAya.
           
 Aku Lupa bahwa Aku Perempuan, adalah judul yang diberikan untuk novel terjemahan Bahasa Arab ini. Sayang sekali Syahid Widi Nugroho, penterjemah, tidak menyertakan judul aslinnya. Dengan judul novel seperti itu, jelas pembaca akan salah menginterpretasi isi novel ini. Penulis novel hanya bermaksud menguraikan ambisi seorang wanita memperjuangkan haknya, dibumbui kehidupan yang berbenturan dengan budaya. Budaya yang menggambarkan seolah-olah ia menjadi wanita yang gagal. Penulisnya, sama sekali tidak menghakimi suatu apapun. 




underline__________
ini buku sudah lama banget belinya, jaman masih sma. kalo resensinya dibuat waktu awal-awal kuliah. jadi maklum ajah kalo bahasanya geje gitu :p... oya, ini sudah pernah saya posting di multiply, tapi saya sudah tidak pernah buka multiply lAgi. mungkin sekarang sudah tutup. saya jadi tertarik posting ini lagi, gara-gara Pipit, teman saya, bilang kalo dia sedang ingin baca novel ini. ini barang pertama yang akan dia beli kalo gaji perdananya sudah keluar :D (jok lali traktir aku yo, mak ^.^)





Sunday, 12 August 2012

merawat anak-anak(mu)


Aku berterimakasih akan hadirmu
Di sisiku saat ini
Kauberi aku kekuatan, kemuliaan
Mengandung anak-anak(mu)
Dan menyaksikan mereka tumbuh kembang tiap hari
: berlarian, menangis, terjatuh, tawa, bercanda, melakukan hal-hal konyol 
dalam ruang-ruang kepalaku
Anak-anak ini manis dan lucu sepertimu
Meski kadang juga bandel
Aku selalu bahagia merawat mereka untukmu 


Thursday, 26 July 2012

jarak


Dia begitu jauh di atas sana
Kamu di depan mata
Sementara aku…
Membaur dalam aliran darahku
Bermuara  di jantung, pikir, dan jiwaku
Erat ketat
Kuat rapat
Lebih dekat daripada urat nadi

Trimakasih Pak Dahlan Tamrin untuk kultum-nya :)

Malang, 25 Juni 2012

Friday, 30 December 2011

kau/aku

 



kalau berpapasan denganku saat di jalan, perpus, toko buku, atau di taman; 'please, jangan palingin muka kamu. apalagi tidak menyapa.' ah.. senyum saja kau enggan.

kamu mau tahu pendapatku? 'norak. kekanak-kanakan.' aku tidak sakit hati. tidak. hanya merasa sangat-sangat konyol.

lebih baik kita pura-pura saling tidak mengenal. kembali saat sebelum saling mengenal. kau tak perlu acuh kehadiranku, aku akan melakukan hal yang sama. kau/aku. sama seperti jutaan orang yang kita temui setiap hari. tidak kenal. tak menyapa. berlalu begitu saja.

Tuesday, 22 February 2011

demi serapah

Inilah janjiku,
Untuk ibuku.

Suatu saat aku akan membunuh kalian semua
Kau, lelaki begundal, aku akan menikammu; dengan pisau yang setiap hari kuasah
Kumandikan dengan kembang tujuh rupa.
Niscaya kau akan mati sekali tebas
Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Aku ingan menusukmu, berkali-kali.
Di dada sebelah kanan
untuk hati ibuku yang kausakiti
kemudian sebelah kiri
sebagai terimakasihku, berkat mani yang menetes dalam darahku
Menusukmu, lagi, lagi, dan lagi.

Juga kau, lonte:
Cuih, merah gincumu membutakan si begundal itu.
Aku bersumpah demi garba ibuku.
Aku akan mengirimmu bersama iblis di akhirat sana.
Tenang, aku tidak akan, menjambak rambutmu, seperti di sinetron.
Atau mencekikmu bagai adegan bodoh dalam film-film hantu porno
Aku, akan...
Tunggu saja. karena ketika kau bangun di pagi hari
Rohmu tak legi menemukan wujudnya

Demi garba ibuku,
Demi airmata ibuku,
Dengarlah wahai alam raya
Aku memohon restumu, tuhan
Amin.

Thursday, 20 January 2011

risalahku

Kepada angin jasadmu kutanya
Kepada samudra kumengadu rimbamu
Kepada tuhan gugat cerita
Kepada siapa kuberkabar dirimu

Dalam malam kutulis sajak
Bai-bait cinta kita
Surat rindu untukmu
Tak terasa tiga belas
Purnama tlah terlewati

Kepada angin daku bertanya
Kepada samudra daku bersoal
Kemanakah risalahku
Kualamatkan

Dalam malam kutulis
Risalah cinta
Puluh purnama terlewati
Tak tahu kemana
Risalahku kualamatkan

(puisi jaman alif)

Wednesday, 12 January 2011

Terbang Jauh

Dengan hati-hati aku melepas rantai
Burung beo dan merpati
Melesat terbang jauh, sama sekali
Tidak menyia-nyiakan kesempatan bebas

Satu pintu sangkar kubuka lagi
Perkutut, camar, kasuari
Seribu sangkar masih menanti
Langkahku semakin gegas

Punya siapa, aku tak peduli
Dicaci, siapa peduli
Dimaki pun sudi
Asal burung-burung mengangkasa

Kicau yang kaunikmati
Sayap yang kaukagumi
Semuanya boleh kaumiliki
Tapi biarkan kepak sayapnya menari di udara.

Malang, 12 Januari 2011
*Cintamu, tak perlu kau genggam. Biarkan ia bebas. Kita sama-sama tahu kemana ia akhirnya kan kembali.

Thursday, 1 July 2010

dan bayangku

Aku menaklukannya
Menjadikan ia sebagai bayangku
Ia harus menurutiku
Titahku
Lakuku
Inginku

Aku mengurungnya
Dalam cahaya
Pada cermin
Aku ada
Karena dia ada
Bukan, ralat
kuadakan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...