Showing posts with label semacam resensi. Show all posts
Showing posts with label semacam resensi. Show all posts

Monday, 9 January 2017

#kumcer: Si Janggut Mengencingi Herucakra

foto pribadi, buku pepustakaan :)


Ini buku pertama yang saya khatamkan di 2017. Suka sekali dengan ke-12 cerita di dalamnya. Ke kantor saya bawa, nongkrong sama teman sampai ke kondangan pun saya masih sempat nyuri-nyuri baca. 

Karena ini kumcer, bebas dong mau baca yang mana dulu dan mana yang belakangan. Si Janggut justru paling terakhir. 

Yang pertama saya baca, Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya. Judulnya ajah udah baper kan, gaes. Ceritanya tentang istri yang sangat mencintai suaminya, bahkan ketika dia meminta cerai pun, dia masih mencintai suaminya. Hanya saja, dia merasa suaminya tak lagi mencintainya. 

Benarkah sang suami tak mencintainya? Ketika dia berkata, lebih baik rumah beserta perabotannya dijual, bila perlu beserta kenangannya, tentu kita tahu bagaimana perasaan sang suami.  
"Kalau bisa sekalian dengan seluruh kenangan di dalamnya. Kau tidak membutuhkannya lagi, aku juga tidak membutuhkannya. "
Kisah berikut yang menarik perhatian saya adalah Rashida Chairani, perempuan korban pemerkosaan yang dikorbankan hukum. Tiga pemuda dari keluarga tepandang memperkosanya, ia dikeluarkan dari sekolah, diusir dari kos dan tak mendapatkan keadilan di kantor polisi. Siapa peduli dengan gadis muda dari keluarga miskin dengan perut buncit.

Lelaki ketiga di Malam Hari, saya menikmatinya. Pesannya hampir sama dengan Perpisahan Baik-Baik (PBB)dan Tentang Maulana dan Upaya Memperindah Purnama (TM). Bahwa cinta sejati adalah merelakan orang yang kita cintai berbahagia dengan apa yang dapat membuatnya bahagia. Cinta tak harus memiliki. 

Meski berdiri sebagai cerita yang terpisah, cerita PBB dan TM sepertinya masih nyambung. PBB bercerita tentang perpisahan Ratri dan Robi, sementara alasan Ratri melepaskan Robi bisa dibaca di TM. 

Eh, kesannya kok ini kumcer kayak roman picisan, bikin baper mulu. Tidak juga, sih, saya saja yang agak lebai. Biarpun isinya tentang cinta dengan segala jenisnya, A. S. Laksana tetap menuliskannya dengan kritis. Ia sangat piawai meramu kegiatan sehari-hari dan kisah orang sederhana seperti Maulana, Seto, Santoso, Trinil dan Nita jadi menarik dan memukau.  





Saturday, 12 November 2016

#novel: Pengakuan Eks Parasit Lajang




Saya mengenal Ayu Utami, dari buku-buku yang saya baca di perpustakaan kampus. Bagi seorang yang tertarik dengan isu perempuan macam saya, tulisan Ayu Utami makin bikin penasaran. Lebih menarik ketimbang karya-karya perempuan lain. Misal Djenar Maesa Ayu atau Fira Basuki. 

Larung, Saman dan Bilangan Fu, ketiganya berhasil mengajak saya mengenal sosok-sosok lain seperti Toeti Heraty, Derrida, Simone de Beauvoir dan beberapa lainnya.

Kadang-kadang terjadi diskusi kecil antara saya dan teman-teman. Saya ingat, ada Mbak Fitri, Istanti, Winda, Feny dan Ellik yang juga membaca karya-karya Ayu. Bilangan Fu yang paling fenomenal. Apa saja kami bahas, dari kisah percintaan sampai seksualitas dan feminisme dalam karya-karya Ayu. Beberapa dari mereka mengoleksi karyanya (sampai po juga loh...)

Namun, tertarik dan penasaran saja belum cukup untuk mengoleksi karya-karya Ayu. Saya pikir, baca di perpus saja sudah cukup. Sampai akhirnya, setelah semua lulus kuliah dan berpencar, diskusi berlanjut di facebook. Teman-teman merekomendasikan "Si Parasit Lajang." 

Kepada adik saya yang di Malang, saya minta dicarikan trilogi Si Parasit Lajang. Si Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico dan Pengakuan Eks Parasit Lajang. Dari tiga yang saya order, hanya Pengakuan Eks Parasit Lajang yang tersedia. Jadilah saya hanya membaca bagian terakhir. 

Di bagian akhir ini, berkisah tentang si A(yu) yang semulanya Si Parasit Lajang -menolak menikah tapi tidak selibat-. Sudah tentu A(yu) menolak menikah. Sebab pernikahan, dalam pandangan feminis terhadap budaya timur, adalah sebuah lembaga patriarki. Ia tentu tidak mau dicap perempuan lemah yang hanya dapat bergantung kepada kaum laki-laki.

Yang mengejutkan, di akhir trilogi ini, Si Parasit Lajang memutuskan pensiun. Ia Akhirnya menikah. Ironi memang, setelah sebelumnya ia meyakinkan pembaca agar tak perlu khawatir jika belum menikah atau memang menolak menikah.

Lantas, kenapa A(yu) memilih menikah? 

Pengakuan Eks Parasit Lajang ini menjawab semuanya. Ia semacam argumentasi yang ingin disampaikan A(yu) atas pilihannya tersebut.

Ketika sampai pada halaman terakhir, saya tertawa dalam hati. Seksualitas, feminisme, militerisme, dan spiritualitas yang dibincangkan Ayu dalam bukunya menguap begitu saja. 

Sepanjang, serinci, dan serasional apapun pengakuannya dan alasan yang ia kemukakan kenapa ia menikah, bagi saya, alasan tetaplah alasan. 

Saya menyadari satu hal. Hal sederhana yang kerap kita dengar. Bahwa jodoh, sesungguhnya, adalah rahasia tuhan. Takdir.

Sekhusyuk apapun kau meminta,
jika belum waktunya, 
tak akan kau dapat...

Sekuat apapun kau menghindar,
jika sudah waktunya,
tak dapat kau menolak... 

Thursday, 3 January 2013

#novel: aku lupa bahwa aku perempuan



Kata Orang Aku Bukan Perempuan




lama

Judul               : Aku Lupa bahwa Aku Perempuan

Penulis             : Ihsan Abdul Qudus

Penterjemah    : Syahid Widi Nugroho

Penerbit           : Alifia Books
Cetakan I        : Desember 2005
Tebal               : 248 halaman

Menghabiskan 10 bab dalam novel ini, pembaca diajak untuk menyelami kehidupan seorang perempuan yang berambisi besar menjadi politisi sukses. Suad, tokah utama dalam cerita ini, mulai berkenalan dengan dunia politik saat masih duduk di bangku SMA. Pada tahun 1935, ketika banyak gerakan nasionalis Mesir berunjuk rasa memerdekakan diri dari Inggris, ia mengkoordinir teman-teman sekolahnya untuk turut terlibat. Pertemuannya dengan salah seorang sepupu, mahasiswa dan pentolan gerakan nasioalisme Mesir, mengawalinya berkenal dengan politik lebih matang.
            
Diceritakan, sejak kecil Suad adalah anak yang tomboy, berbeda dengan kakak perempuannya yang sejak kecil telah menyiapkan dirinya menjadi wanita tulen. Saat Suad menikmati permainan dengan teman-teman lelakinya, kakaknya asyik berlatih memasak, menjahit, mendekorasi rumah. Bahkan, tatkala beranjak dewasa, banyak teman lelaki datang menawarkan cinta padanya. Tapi tak satu pun diterimanya, ia memilikki konsep tersendiri mengenai cinta dan perkawinan.
            
“Mereka datang, tetapi aku selalu menolaknya karena dengan menerimanya aku masih menjadi manusia biasa. Aku menolak mereka juga mungkin karena mereka, laki-laki yang datang tidak ada yang mampu membawaku menjadi manusia luar biasa.”
            
Begitulah Suad, cerdas dan berambisi. Keaktifannya dalam politik diimbangi dengan prestasi yang memuaskan disekolah, pun ketika menjadi mahasiswa. Menjadi orator, menghadiri pertemuan-pertemuan politik, sebagai pelajar ia selalu duduk di peringkat pertama. Ketika akhirnya Suad jatuh cinta pada pria bernama Abdul Hamid, dari sinilah bermunculan peperangan antara ego poltisi dan ego perempuannya. Kiprahnya dalam berbagai organisasi politik maupun pergerakan perempuan menghanyutkanya dalam linkar elit politik. Berbanding terbalik dengan kehidupan pribadinya. Semakin dekat dunia politik dengannya, semakin ia jauh dari suaminya, perceraian pun tak terelakkan. Faizah anak semata wayangnya, memanggilnya dengan Suad. Padahal dalam hatinya ia begitu merindukan sebutan ibu untuk dirinya.

@@@             @@@             @@@

baru

Sejak dahulu wanita diidentikkan sebagai makhluk lemah. Meski pada kenyataanya, banyak wanita lebih cerdas dan kuat ketimbang laki-laki di luar sana. Sejatinya, wanita dan laki-laki terlahir berbeda, namun itu bukan alasan tepat untuk menciptakan pembedaan yang merugikan spesies tertentu. Toh yang berbeda hanya anatomi biologis saja. Ada sejuta Suad yang menyuarakan keadilan dan kemerdekaan untuk bangsangnya, juga untuk kaumnya. Kiprahnya sudah pasti diakui, namun belum tentu kenyataan bahwa ia seorang wanita diakui.
            
“Karena apa? Karena aku hamil? Begitu?”
            
Betapa kesalnya Suad saat para dosen dan mahasiswanya akan mengadakan pertemuan penting dengan perdana menteri terkait revolusi di negaranya, tapi ia tidak diajak. Padahal selama ini, Suadlah masterminder mereka. Dan alasan yang mereka kemukakan klise, mereka malu pertemuan dengan perdana menteri dihadiri wanita hamil.
          
Dalam kehidupan pernikahan, Suad pernah dua kali jatuh bangun. Hubungan wanita dan pria adalah hubungan kemitraan complementer, hubungan yang saling melengkapi. Bukannya hubungan antara majikan dan pelayan, dalam hal ini, acap kali wanita yang berperan sebagai pelayan. Mulai dari melayani suami, anak, hingga mengurusi segala tetek bengek keluarga. Hidup dengan laki-laki yang besar dalam budaya patriarki seperti Abdul Hamid dan Doktor Kamal, sulit baginya untuk mewujudkan konsep ini. Apalagi dengan kondisi sosial yang masih menjunjung tinggi budaya patriarki. Bagi mereka, dalam institusi pernikahan suami harus lebih dominan dari isteri. Alih-alih membangun keluarga yang harmonis, pernikahan malah menjadi tameng baginya. Jika ia bisa sukses dalam berkarir, ia juga ingin menunjukkan pada publik bahwa segudang aktivitasnya tidak menghabat keharmonisan keluarganya.
            
Meskipun begitu, upaya yang dilakukan Suad untuk membebaskan diri dari kekangan budayalah yang harus dicermati. Tatkala banyak wanita merasa nyaman menjadi “jenis kelamin kedua”, Suad tengah bergembira merayakan kebebasannya dari superioritas laki-laki. 
           
 Ihsan Abdul Qudus, penulis novel ini, amat piawai menuturkan kisah pergolakan kehidupan Suad. Ia dengan lugas menceritakan seorang perempuan yang memperjuangkan kesetaraan jender. Bagaimana Suad menghadapi keluarganya, saat dimana Suad berusaha menjaga eksistensi karir politiknya tanpa merusak hubungan dengan suaminya, utamanya kala Suad menyerukan pada rekan-rekannya, bahwa ia adalah wanita, dan itu bukan penghalang baginya untuk memantapkan langkah di dunia politik.
            
Lalu Ihsan menghadirkan pergolakan batin Suad sebagai pembanding. Ia mengisahkan bahwa bagaimanapun, Suad tetap membutuhkan kehadiran lelaki dalam hidupnya. Meski pada akhirnya ia selalu menuai perceraian. Kemudian Ia bertutur tentang Suad yang begitu terpukul mengetahui anaknya lebih dekat dengan ibu tirinya, Samirah. Faizah lebih dekat dan terbuka dengan Samirah, daripada dengan dirinya, ibu kandungnAya.
           
 Aku Lupa bahwa Aku Perempuan, adalah judul yang diberikan untuk novel terjemahan Bahasa Arab ini. Sayang sekali Syahid Widi Nugroho, penterjemah, tidak menyertakan judul aslinnya. Dengan judul novel seperti itu, jelas pembaca akan salah menginterpretasi isi novel ini. Penulis novel hanya bermaksud menguraikan ambisi seorang wanita memperjuangkan haknya, dibumbui kehidupan yang berbenturan dengan budaya. Budaya yang menggambarkan seolah-olah ia menjadi wanita yang gagal. Penulisnya, sama sekali tidak menghakimi suatu apapun. 




underline__________
ini buku sudah lama banget belinya, jaman masih sma. kalo resensinya dibuat waktu awal-awal kuliah. jadi maklum ajah kalo bahasanya geje gitu :p... oya, ini sudah pernah saya posting di multiply, tapi saya sudah tidak pernah buka multiply lAgi. mungkin sekarang sudah tutup. saya jadi tertarik posting ini lagi, gara-gara Pipit, teman saya, bilang kalo dia sedang ingin baca novel ini. ini barang pertama yang akan dia beli kalo gaji perdananya sudah keluar :D (jok lali traktir aku yo, mak ^.^)





Friday, 28 December 2012

#gambar idoep: Luther


Cerdas Beragama





Cerita bermula dari Luther yang pada suatu malam gelap, hujan lebat di luar. Gemuruh petir menyambar. Dalam keadaan kuyup dan ketakutan, Luther bernazar, ia akan jadi BIARAWAN jika TUHAN menyelamatkan hidupnya. Maka jadilah anak penambang ini seorang Biarawan.

Suatu ketika, setelah jadi biarawan, ia diutus mengantar surat ke Roma. Meski termasuk pendeta baru, ia berpendidikan tinggi, seorang sarjana hukum, karena itu di anatara sekian biarawan, Luther yang diutus ke Roma.

Masuk gerbang kota, ia dikagetkan dengan kehadiran pelacur, pengemis, dan selusin orang-orang miskin. Pendeta bebas menyalurkan hasrat dengan pelacur, serta santo-santo digadaikan dalam jimat yang dijual bebas.  

Ia menyaksikan sendiri, di Roma ini, orang-orang harus mengeluarkan uang setiap kali berdoa. Untuk dapat berdoa di depan tengkorak Yohanes, ia harus membayar terlebih dulu, sudah begitu, tidak bisa berlama-lama dan berkhusuk-khusuk ria. Pendeta yang menjaga akan segera menyeret keluar jemaah yang terlalu lama berdoa. Di belakang, masih ada ratusan orang mengantri.

Lain waktu ia mengikuti ritual penebusan dosa. Dengan membeli indulgensia, berdoa Bapa Kami setiap anak tangga dari paling bawah sampai puncak, ia akan membebaskan orang yang didoakannya, sang kakek Hendrik Luther dari apu penyucian menuju gerbang surga. Satu perak untuk satu indulgensia. Kalau ditambah barang dua tiga perak, ia mungkin bisa membebaskan keluarganya yang lain juga. 

Sepulang dari Roma, ia mulai merasakan ketidakberesan dalam Katolik Roma. Luther, oleh gurunya, kemudian dikirm untuk menuntaskan keinginantahuannya yang dalam akan kasih Tuhan yang sebenarnya untuk belajar teologi di Wittenberg.

Sama halnya seperti di Roma. Di sini pun, Luther masih menemukan kenyataan yang berlawanan dengan akal sehat serta hati nuraninya. Setiap pendeta baru datang, berarti beban bagi warga Wittenberg. Membayar sedekah untuk menanggung hidup si pendeta. Sementara mereka sendiri harus melarat.

Ia melihat bagaimaan Pendeta berkhotbah di hadapan kerumunan rakyat miskin bin melarat, para tukang, kuli, pelacur, peminta-minta, seperti layaknya sales mengobral indulgensia. Dengan memberikan efek dramatis, seperti visualisasi neraka. Mereka yang berdosa, akan dibakar dalam bara api.

Dibayangi ketakutan seperti itu, jemaah berbondong-bondong membeli indulgensia. Tidak tega rasanya membayangkan sanak keluarga mereka kelak dilahap  api neraka. Indulgensia, seolah rakit yang akan melarung mereka menuju keselamatan tuhan. Surga.

Luther jelas marah. Tuhan Maha Pengasih, baginya. Dialah yang karena cinta kepada umatnya, rela memikul salib. Tapi tuhan, telah dihadapkan kepada umatnya sangat menakutkan, menyiksa, menyeramkan, dan pamrih.

Indulgensia, hanya selembar kertas yang bisa dikeluarkan oleh setiap Uskup. Tapi lembar kertas ini, bisa ditukar dengan kepingan uang yang konon dapat menyelamatkan manusia dari api neraka. Luther menyangkalnya. 



Ia lantas menulis surat yang berbunyi;

Kepada Albert di Mainz.
Bapa dalam Kristus dan pangeran yang termasyhur.

Maafkan atas kelancanganku menulis surat padamu. Aku memberanikan diri sebab itu tugasku untuk melayanimu dan memperingatimu akan praktik tidak benar dari mereka yang mengaku meakili Anda. Kristus tidak memerintahkan penyebaran indulgensia. Tapi penyebaran injil.
 
Orang Kristen harus diajarkan kalau orang memberi pada yang miskin, atau meminjamkan pada yang membutuhkan, melakukan hal yang lebih baik daripada yang membeli indulgensia. Kalau Paus bisa mengosongkan api penyucian, mengapa dia tidak melakukannya demi kasih namun demi uang?

Surat itu kemudian sampai ke Roma, kedua murid Luther di sekolah teologia mencetaknya makin banyak dan menyebarluaskannya ke semua warga. Dan tebak, bagaimana reaksi masyarakat kelas bawah dan para penguasa negara dan pemuka gereja.

Hidup Luther mulai berbuah ketika ia memutuskan untuk mengikuti hati nurani dan melawan ketidakadilan. Ia mulai terseret dalam kelindan penguasa dan gereja. Antara Jerman dan Roma. Ia mengahadapi berbagai kemelut dalam hidupnya. Ia berjuang keras untuk itu. Satu prestasi terbesarnya adalah menerjemahkan Injil dari bahasa Yunani ke bahasa Jerman. Sejak itu pula, gereja Jerman memisahkan diri dari Roma. Ini yang kemudian kita kenal sebagai peristiwa reformasi gereja.

Gereja, pada masa itu, begitu hegemonik. Bagaimana tidak, sumber pengetahuan agama adalah Injil, tapi injil ini berbahasa Yunani sementara berjuta umatnya bukan orang Yunani saja. Jadi, siapa yang punya sumber otoritas penyebaran Injil selain mereka yang bisa berbahasa Yunani dan belajar Theologia. Orang miskin hanya punya sedikit kemungkinan. Untuk bisa sekolah, biaya yang dibutuhkan tidak sedikit.

Baik penguasa negara maupun gereja, dalam hal ini, melestarikan hegemoni mereka atas khalayaknya dengan tetap membiarkan mereka bodoh, menjauhkan mereka dari pengetahuan. Agama juga mereka gunakan sebagai sarana. Lewat agama, mereka mengeruk kekayaan untuk penguasa. Ambil contoh indulgensia tadi. Lewat agama, orang diajarkan untuk patuh seutuhnya pada penguasa, meski selalim apa pun orangnya. Agama mengajarkan orang untuk bersabar atas segala keterpurukan, kebodohan, kemiskinan yang mereka alami. Seolah seperti itulah mereka maksud penciptaan mereka, bukan karena penguasa yang tidak becus mengurus rakyatnya.

Agama bagai candu bagi masyarakat ini (mengutip eyang Marx). Candu yang membuat mereka lupa akan segala bentuk kemiskinan dan derita, sebab satu pengetahuan telah mengelabui mereka; surga dijanjikan bagi mereka yang bersabar dan taat. Jadi, semakin seseorang beragama tanpa kecurigaan, maka semakin ia tak berdaya untuk melawan. 






Tuesday, 4 December 2012

#novel: The Expected One




Kalau ada yang bilang The Da Vinci Code-nya Dan Brown kontroversial lantaran mengisahkan Yesus seperti manusia biasa yang juga bisa menikah. Lebih gila lagi, menikah dan memiliki anak dengan perempuan yang dalam gereja dianggap sebagai pelacur, Maria Magdalena. Novel Kathleen McGowan ini lebih kontroversial lagi.

Maria Magdalena, dalam novel ini, berasal dari keluarga bangsawan Yahudi. Sejak kecil, dia dekat dengan Easha, nama kecil Yesus. Namun ketika dewasa, ia terpaksa dinikahkan dengan Yohanes Sang Pembaptis. Pernikahan ini sarat intrik politik kekuasaan dan agama. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, Yohanes-Yusuf

Bagaimanapun, takdir akhirnya menyerah pada kekuatan cinta. Yohanes mati dipenggal, dan Maria menjanda. Takdir pula yang mempersatukan kembali Yesus dan Maria. Yesus menerima Maria apa adanya, meski Ia tahu Maria janda beranak satu. Mereka memiliki sepasang anak, Sarah-Tamar dan Yeshua-Daud

Itu baru soal percintaan. Belum soal politik dalam kehidupan Yesus-Maria-Yohanes yang mengantarkan mereka pada ajal dan pengasingan. Yohanes mati dipenggal oleh penguasa Herodes, Yesus mati disalib, sementara Maria harus menyelamatkan keturunan Yohanes dan Yesus dari kejaran para penguasa. Anak Yohanes akhirnya diselamatkan para pengikut setia bapaknya, sementara maria dan anak-anak Yesus meneruskan perjalanan ke dataran Eropa. Di sanalah mereka meneruskan hidup dengan menyembunyikan identitas, agar bisa hidup tenang dan selamat.

Saya melihat ada kesamaan antara The Da Vinci Code dan The Expected One dalam menceritakan Maria Magdalena. Maria Magdalena tidak pernah dihadirkan sebagai karakter utama dan cerita yang berdiri sendiri. Kisah Maria, seperti bingkai dalam bingkai. Jika dalam The Da Vinci Code, Sophie dan Robert menyibak misteri Maria dari kode yang mereka pecahkan, dalam The Expected One ini Maria tampil di atas catatan yang ditulisnya sendiri yang di kemudian hari ditemukan oleh Maureen. Catatan itu dikenal sebagai Injil Arques Maria Magdalena, Kitab Para Murid.

Eniwei, saya menghatamkan novel ini selagi lampu di kamar mati minta diganti. Tiga malam ditemani lilin, dan pintu yang dibuka lebar, biar cahaya dari luar kamar bisa nyelinap masuk. Dan Christina Perri berulang-ulang menyanyikan A Thousand Years. Kayaknya lebih pas jadi soundtrack novel ini ketimbang jadi OST Breaking Dawn :)


Tuesday, 2 October 2012

#gambar idoep: Dear John....



Tidak mudah jadi orang baik. Jangan pernah berpikir jadi orang baik, jika kau tak sanggup hidup mendahulukan dan mengutamakan orang lain.
  


Savannah, tipekal gadis baik-baik. Tidak merokok, minum, atau kelayapan malam hari.  Alim bin hindun? Tidak juga. Ia layaknya remaja lain. Suka berkumpul sesama teman sebaya, melakukan hal-hal menyenangkan berrsama. Ke pantai bareng-bareng misalnya…

Tetap saja, dia gadis berhati mulia. Yang menghibahkan waktu liburan musim semi untuk membangun kembali rumah seorang warga yang roboh akibat diterpa badai. John Tyree, gebetan cakepnya, bahkan diajaknya serta.

John Tyree mungkinlah orang yang sangat dicintai Savannah. Yang selalu dikirimi surat cinta di manapun John Tyree dan pasukan perangnya berada. Yang mungkin ingin dinikahinya kelak. Yang dengannya, ia akan menghabiskan masa tua di tepi pantai sambil memandang senja. Tangan keriput John akan tanpa henti mengelus rambut Savannah yang sudah memutih. Mungkin.

Namun, sekali lagi,Savannah ini peri berbudi baik. Ia relakan hidupnya untuk Alan dan Tim. Alan anak tetangganya, mengidap autis sejak kecil. Ia mengenal baik Alan sejak baru lahir. Alan tidak dekat dengan orang lain selain Savannah, Tim dan orang-orang yang menurut Alan baik.

Dan Tim, dia ayah Alan. Di saat Alan beranjak besar, Tim menderita kanker. Tim jatuh cinta pada Savannah. Dia sadar, cinta Savannah hanya untuk John, namun ia tetap melamar Savannah. Setidaknya saat Tim sudah tidak ada, ia bisa pergi dengan tenang lantaran Alan berada di bawah pengasuhan orang yang tepat. Dan Savannah, dia memang putri paling baik. Ia menerimanya dengan lapang.

Savannah dan John percaya, suatu ketika mereka akan bertemu kembali. Semoga :)


__________________
beberapa hari terakhir ini saya punya banyak waktu luang, jadi bisa  buat nonton pilem :)



Tuesday, 8 November 2011

SUMBANGAN INTELEKTUAL

 
 

Judul               : Khazanah Intelektual slam   
Penerjemah      : Nurcholish Madjid
Editor              : Nurcholish Madjid
Penerbit           : Bulan Bintang
Cetakan           : 1984
Tebal               : VII, 384 halaman


           
Islam di bangun di atas sejarah panjang. Peradaban islam bukan ka’bah, sejarah islama bukan masjid nabawi. Islam sublim dalam ruhnya, yang dipegang teguh oleh umat islam. Dialektika dalam islam, setuju atau tidak, telah berpengaruh besar dalam sejarah islam. Begitu mewarnai intelektual islam. Di sini, saya menemukan bahwa, sejarah dan peradaban islam bukan saja kebudayaan, artefak, artefak, atau politik, tapi juga warisan pemikiran sarjana-sarjana muslim. Untuk itu, khazanah Intelektual Islam menjadi laik untuk dihadirkan di hadapan anda.
Buku ini merupakan terjemahan karya-karya sepuluh sarjana besar islam. Ada Alkindi, Al-Asy’ari, Al-Farabi, Ibn sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Taimiyah, Ibn Khaldun, Al-Afghani, dan terakhir Muhammad Abduh. Jangan pernah membayangkan riwayat hidup mereka dalam buku ini, sebab ini adalah riwayat pemikiran yang hidup dalam karya-karya.
Kita patut berterimakasih pada cendekiawan Nurcholish Madjid atas upayanya dalam menerjemahkan karya-karya intelektual islam, sehingga pemikiran mereka sampai kepada kita saat ini.
Terhitung sejak meninggalanya nabi, perebutan kekuasaan sudah mulai kembali mewujud. Kesukuan atau syu’biah juga bermunculan. Masalah semakin mengerucut dan rumit pasca naiknya Ali sebagai khalifah ke-empat. Perselisihan paham antar sahabat nabi sebenarnya juga sangat jelas terlihat. Bilal contohnya, perna memprotes kebijakan Umar. Bilal menuduh Umar telah menyimpang dari Al-Qur’an dan sunnah, sebab tanah yanng baru saja dibebaskan di Iran tidak dibagikan kepada tentara muslim, tapi malah diberikan kepada para petani-petani kecil yang bukan muslim. Menurut Al-Qur’an harta rampasan perang sejatinya dibagikan kepada muslim, tappi umar dengan jiwa sosial yang tinggi, memiliki pemikiran beda, yang tidak dipahami para sahabat lain.
Setelah Ali, muncul aliran-aliran dialektika atau dalam islam dikenal sebagai ilmu kalam. Mulanya berdebat mengenai kedudukan Ali dan Mu’awiyah dalam perebutan kekuasaan mereka. Namun, paham-paham tersebut ternyata terus memengaruhi tindak laku yang lain, bahakan perpolitikan kekuasan khalifah-khalifah selanjutnya.
Khawarij, Murjia’ah, Jabbariah, Qadariyyah, dan Mu’tazilah, merupakan aliran-aliran besar yang muncul pada saat itu. Aliran terakhir, Mu’tazilah sedikit banyak dipengaruhi filsafat Yunani yang dibangun atas kebebasan rasio. Dari sinilah muncul perumusan ­ushul fiqh oleh Imam Syafi’e dan ushul al-din oleh kaum Mu’tazilah.
Setelah mu’tazilah, lahir para pemikir islam yang di sebeut sebagai al falasifah, mereka adalah para skolastik islam yang menekuni filsafat Yunani. Aristoteles yang mengakaji logika formal (al manthiq), bilogi, ilmu bumi matemaris, dan masih banyak lagi, merupakan filsuf Yunani yang pemikirannya banyak dadopsi oleh para skolastik di atas.
Abu Ya’qub ibn Ishaq Al Kindi (wafata sekitar 257 H/870 M) adalah orang pertama yang menjadikan filsafat Yunani terkenal dalam islam.
Dalam anatologi ini,  pemikiran Alkindi dapat diketahui daru kedua risalah yang ditulisnya. Pertama, Risalah tentang Kemahaesaan Tuhan dan Keterhinggaan Massa Alam. Ia berbicara mengenai keesaan tuhan, menegaskan ajaran tauhid yang dibawa turun-temurun oleh para nabi, dan juga mengenai kebadaian alam yang ternya terbatasi, terhingga. Semacam kritik pada filsafat Aristoteles. Risalah keduanya adalah Risalah tentang Akal. Risalah ini seperti meringkas ulang dengan rasa penuh kebanggaan kepada filsafat ajaran Aristoteles mengenai akal. Al Kindi mengajak kaum muslimin untuk memanfaatkan mata akal secara radikal, menurutnya hal ini akan mengantarkan muslim menuju ma’rifat yang luas.
Selanjutnya adalah Al Asy’ari (wafat 300 H/913 M.) ia adalh pengukuh fondasi kaum Sunni. Nama  lengkapnya, Abu al Hasan al-Asy’ari.  Meski seorang Sunni, ia mulanya adalah penganut faham Mu’tazilah. Metode filsafat kerap terlihat dalam penulisannya mengenai teologia dan pemikiran intelektual lainnya. Meminjam metode berfikir mu’tazilah, Al-Asy’ari tercata sebagai orang yang bisa mengkritik tepat ajaran Mu’tazilah pada sasaran.
Buku ini memperkenalkan kita pada Al-Asy’ari, bersentuhan langsung dengan pemikirannya lewat tulisan. Pembelaan bagi Pengkajian Ilmu Kalam menegaskan pandangannya terhadap ilmu kalam. Semacam argumentasi menguatkan kedudukan kalam di hadapan orang-orang yang alergi terhadap ilmu kalam (filsafat retorika). Ia menohok langsung dengan  mengambil imam-imam mazhab besar dalam islam. Menurutnya, nabi Muhammad tidak pernah membincangkan nazar, wasiat, apalagi pembebasan budak yang kemudian ditulisnya dalam kitab. Tidak, nabi tidak pernah menulis buku, tapi itu dilakukan oleh para pewarisnya seperti Malik, Al Syafi’i, dan Abu Hanifah. Bukankah itu bid’ah? Dan bukankah secara sadar kita mengikuti ajaran imam-imam tersebut?
Selanjutnya adalah adalah Muhammad Abu Nash al-Farabi (wafat 340 H/950 M). Atau yang lebih kita kenal sebagai al-Farabi, guru kedua dalam falsafah islam setelah Aristoteles. Filsuf muslim kedua setelah al-Kindi, meskipun begitu banyak yang mengakui bahwa kapasitas keilmuan al-Farabi lebih unggul.
Di dalam karangan berjudul Perincian Ilmu Pengetahuan, ia menjabarkan ilmu ketuhanan yang terdiri dari tiga bagian; pertama yang membahas semua wujud, kedua yang membahas prinsip-prinsip burhan dalam ilmu-ilmu teori partikular, dan terakhir ilmu yang mebahas semua wujud yang bukan berupa benda atau yang berada dalam benda.
Selain itu ada juga ilmu politik yang menerutnya mempelajari tingkah laku, watak-watak manusia agar dapat mengetahui bagaimana manusia dapat diatur, dikuasai, serta bagaimana melanggengkan kekuasaan tersebut.
Sementara yang dimaksud ilmu fiqih ialah ilmu yang memberi hak untuk menyimpulkan hukum-hukum tentang hal-hal yang tidak dijelaskan secara rinci. Ketentuan hukum mengacu pada nas dengan mempertimbangkan alasan tujuan atas agama yang diturunkan pada umat.
Terakhit ia menjelaskan ilmu kalam. Ilmu kalam adalah kemampuan berargumentasi untuk mempertahankan dan membenarkan ide-ide serta perbuatan-perbuatan. Tentu tetap berdasar pada dalil-dalil serta bertujuan membela islam.
Pemegang estafet falsafat islam Al-Kindi dan Al-farabi adalah Abu ‘Ali Al-Husayn ibn ‘Abdullah ibn Sina (wafat 428 H/1037 M.) Karangannya berjudul Risalah tentang Peneguhan kenabian dan tafsir akan Simbul-simbul serta Lambang Para Nabi, berusaha mengukuhkan kedudukan para nabi, sama halnya dengan para filsuf sebelumnya. Mengenai nabi ia menulis (141):
            Inilah yang disebut Nabi, yang padanya terdapat puncak tingkat-tingkat keunggulan dalam lingkungan bbentuk-bentuk material. Karena yang unggul berdiri di atas yang rendah serta menguasainya, maka Nabi  berdiri di atas semua wujud yang diunggulinya serta menguasai mereka.
Al-Ghazali yang bernama asli Abu Hamid ib Muhammad al-Ghazali (wafat 505 H/1111 M) merupakan filsuf selanjutanya yang muncul setelah Ibn Sina. Pemikir orisinal yang tampil hebat dengan mengkritik filsafat al-Farabi dan Ibn Sina.
Jika al-Asy’ari meminjam metode Mu’tazilah untuk mengkritis Mu’tazilah, sama halnya dengan al-Ghazali yang kali ini meminjam metode ilmu kalam dan filsafat guna membela agama dan kembali mengaktifkan kajian keagamaan. Karya-karyanya terkenal adalah Ihya ‘Ulum al-Din dan Tahafut Falasifah. Menurutnya, kedkatan hamba dengan tuhan dapat dihayati dalam kehidupan zuhud seperti yang dilakukan para sufi.  
Penjelasan yang Menentukan, merupakan tulisannya yang tersitematisasi dalam tigabelas pasal. Ia mendedahkan dengan rinci tantang hakikat ada, kafir, pengkafiran, mengambil hukum tentang fakir. Semuanya dalam bahasa yang sangat filsafat.
Ahli Fiqih yang juga seorang filsuf adalah Ibn Rusyd, Abu al-Walid ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Ahmad ibn Rusyd (wafat 594 H/1198 M). Di dunia filsafat, ia merupakan filsuf yang sukses menerjemahkan filsafat Aristoteles. Tidak hanya terkenal di Arab, ia juga dikenal di Eropa.
Ibn Rusyd lahir dari keluarga hakim yang sangat dekat dengan tradisi ilmu keislaman, fiqih. Ia sendiri  sangat menguasainya, Bidayatul Mujtahid merupakan contoh karya nyata yang dekat dengan fiqih.
Ia coba mencari jalan damai antara filsafat dan Syariat, tulisannya yang kemudia diterjemahkan menjadi Makalah Penentu tentang Hubungan antara filsafat dan Syariat menjelaskan lebih detai mengenai hal tersebut. Ia menulis makalahnya dengan tujuan mencari pembenaran, adakah filsafat diperbolehkan untuk dipelajari dalam hukum syara’. Ia tiba pada kesimpulan bahwa filsafat sangat erat kaitannya dengan syara’. Kekacauan filsafat, bisa berakibat kekrusakan pada syara’ juga. Untuk amannya, setiap orang hendaknya berilmu, paling tidak tidak taqlid pada syara’, juga tidak menjadi bagian dari kegilaan para filsuf.
Pembaharu selanjutnya adalah Taqi al-din Ahmad ibn Timiyyah, atau Ibn Taimiyyah (wafat 728 H/1328 M). Tulisannya berjudul Tangga Pencapaian mengkritik para filsuf terdahulu seperti Ibn Sina dan Ibnu Rusyd. Menurutnya, para filsuf terdahulu lewat analisis mereka telah mengklaim bahwasanya nabi telah melakukan kebohongan mengenai nubuwat demi sebuah kebaikan.
Ibn Taimiyyah menyangkal tuduhan para filsuf tentang para nabi yang disebut tidak memahami esensi kenabian, ketuhanan, dan universala. Hakikat hanya diketahui oleh ahli filsafat. Ia sangat radikal dan kritis terhadap pokok ajaran yang sudah diwariskan dalam islam, baginya Al-Qur’an dan Sunnah memiliki tempat tinggi yang tak tergantikan.
Setelah Ibn Taimiyyah adalah ‘Abd al-Rahman ibn Khaldun yang lebih populer sebagi ibn Khaldun (808 h/1406 M). Ia menulis tentang Ilmu Pengetahuan dan Berbagai Jenisnya, tentang pengajaran serta Metode-metode dan Aspek-aspeknya, dan Tentang Berbagai Hal yang Bersangkutan dengan itu Semua.
Poin yang dapat ditarik dari tulisan ini adalah, sejatinya ilmu pengetahuan dan pengajaran merupakan hal yang alami dalam peradaban manusia. Ilmu pengetahuan mekar hanya bila peradaban tumbuh serta kebudayaan berkembang. Ia juga berpendapat bahwasanya ilmu penegtahuan terbagi menjadi dua bagian besar, yang pertama ilmu-ilmu hikmah dan filsafat, sedangkan yang kedua adalah ilmu-ilmu tradisional dan konvensional.
Ia juga membahas ilmu kalam, ilmu –ilmu rasional dan bagian-bagiannya, lalu ia membantah falsafah, dan terakhir mengenai cara yang benar dalam mengajarkan ilmu pengetahuan dan metode penggunaannya.
Salah seorang lagi pembesar isalm kali ini dalam kancah modern adalah Jamal al-Din al-Afghani (1255-1315 H/1839-1897 M). Inilah al-Afghani, pembaharu islam modern. Tulisannya dalam bung rampai ini berjudul Masa lalu Umata dan Masa Kininya, serta Pengobatan bagi Penyakit-penyakitnya, menyiratkan pemikirannya yang sangat jelas akan islam saat ini. Ada kekhawatiran di sana.
Ia melihat umat islam sedang berdiam dibawah kemunduran terus-menerus, sehingga perlu kiat tertentu untuk mengembalikan kejayaan tersebut. Ia menuntut umat islam untuk berfikir seradikal-radikalnya, sebebas-bebasnya. Tapi tentu saja, tetap dalam semangat menjalankan kemurnian islam.
Intelektual selanjutnya adalah Muhammad ‘Abduh (1261-1323 H/1845-1905 M). ‘Abduh merupakan murid al-Afghani, keduanya pernah menerbitkan majalah dalam bahasa Arab di Perancis,al-Urwah al-Wutsqa. Ia banayak belajar ilmu logika, ilmu kalam, astronomi, metafisika, dan sufisme isyraqiyyah dari sang guru.
Ia menulis sebuah Mukaddimah (Tentang Ilmu Tauhid). Ilmu yang mempelajari keesaan tuhan. Sejak wujud, sifat-sifatnya yang wajib, jaiz, maupun mustahil. Ia juga meringkassejarah dealektika ilmu kalam dalam tulisannya ini.
Akhirnya, buku ini menjadi bacaan wajib bagi anda untuk lebih memahami pergolakan pemikiran dalam islam. Sangat bermanfaat bagi nutrisi kognisi khazanah keislaman. Ia menyentuh dengan pemikiran, bukan sekadar kebanggan pada ketokohan.


Tuesday, 25 October 2011

Major Characters in Othello

taken from http://students.cis.uab.edu/black790/Othello.html

Othello 

Othello is a black –Moor, and is a Christian. He is the general of the armies of Venice. Although he is a black, people respected him due to his eloquent and powerful profile. People recognized him as a strength man and a clever general.
However, he is not a forcefully man. He possesses a psychological disorder or syndrome like that. When Iago told him about Desdemona and Casssio, the depiction of the story appears in his mind which makes him hurt and sick. Iago made the best use of this condition to separate him with Desdemona, and take over his authority. He is really in jealous till he kill Desdemona. 

Desdemona  
She is a gentle woman. She secretly married to Othello, the moor, because she knew that her father and might some white people do not like it. His father was Venetian senator, Brabanzio.
Desdemona really love Othello, and won’t be poles apart from him. She does not contemn Othello like others because of racial issue. She also a faithful wife who wants always getting on together with Othello. When Othello appointed to do his duty as a general in Turkey, Desdemona begs to follow him.
Desdemona for those who know him, such as Cassio and Emily, is e benevolent woman. That is why Cassio asked Desdemona to help him clarifying his problem with Othello.
Otherwise she is a true lover; her heart was not blinded by love. She still uses her smart mind. She realized that Othello has been provoked; she challenged Othello to find proofs that Desdemona was adultery. Desdemona finally killed by Othello because of his silly jealous. 

Iago
Iago is one of Othello ensigns, anoter is Cassio. He is a racist. I said so because he actually does not agree the marriage between Othello and Desdemona, white-black. He help Roderigo to win Desdemona heart, beside of racism, I think the highest motivation of it is money. He has been paid for help Rodrigo.
And when he helped Cassio, it is actually just an intrigue. In fact, he keened on Cassio’s position. He wanted to be lieutenant. He construct the situation that make Cassio in bad side, he made Cassio drunk then fight with a man from Cyprus. Then he testified before Othello as if he on Cassio side. He is good at manipulation.
He also created a story about Desdemona and Cassio for Othello. He told and showed him scenes as if Cassio and Desdemona were in love. He asked her wife, Emilia, to bring him Desdemona’s kerchief, the he inserted it to Cassio’s room. Othello were mad to now that Desdemona’s kerchief has been found in Cassio’s room. He was absolutely success to break up that couple.  
He is a big fat villain.

Emilia
Emilia is Iago’s wife. He really knew what his husband is. He knew that Iago is not an honest man. She works as Desdemona’s attendant and is attached to her. At first, she did not realize that the conflict between Othello and Desdemona was set up by Iago. However, she finally know it, the clue is how can Desdemona’s kerchief she stole for Iago is founded in Cassio’s room.
The time she found Desdemona lied dying on her bed, she tried to tell Othello that it all were Iago’s intrigues. She told her distrustful of her husband to Othello. She died in Iago’s hand; Iago killed her because her witness that Desdemona does not fault but Iago the villain.    

Monday, 13 June 2011

Because She is a Woman

Title                     : Agora

Directed by          : Alejandro Amenabar                   

Produced by        : Fernando Bovaira and Álvaro Augustin

Written by           : Alejandro Amenabar and Mateo Gil

Starring               : Rachel Weisz and Max Minghella
Music by             : Dario Marianelli

Cinematography  : Xavi Giménez

Editing by            : Nacho Ruiz Capillas

Release date(s)    : October 9, 2009 (2009-10-09)

Running time        : 126 minutes

Country               : Spain

Language            : English  



Agora is a biopic of Hypatia, a female mathematician, philosopher and astronomer of Roman Egypt in 4th century. Rachel Weisz stars as Hypatia, act as an independent woman in a history which highlight the relation between religion and science. Christian versus Greco-Roman polytheism in Alexandria.

It is told in the film that Orestes (Oscar Isaac), her pupil at the Platonic school, and Davus, her slave were in love with her. Orestes, moreover, declares his love to Hypatia trough playing music in a public theatre, in front of many people. Whereas Davus only secretly in love.

As a woman, in some cases, Hypatia was lucky to be born as daughter of Theon (Michael Lonsdale), the director of the Museum of Alexandria, beside she is also an independent scientist, and she has some peculiarities that others do not have. She can speak up her mind in Agora, a gathering place in ancient, or teach at school.

However, whatever will be Hypatia is just a woman, when Orestes love and want to possess her, she just such a prey. That is why she rejects Orestes' love and prefers to be a freedom woman.

Two men who have conversation with Theon the day when Orestes declared his love, seems to represent what the society of Roman Empire think about woman. These two men jokingly suggest Theon to accept Orestes love and let them married. Hypatia is great woman people indeed, but as woman she does not get her blessing yet till she gets married. This is Theon's answer.

"Hypatia subjected to a man? without freedom to teach, or even to speak up her mind." You may agree that Hypatia is lucky to have father like Theon.

The struggle of Hypatia does not finished yet. She should fight against Christian to won her love of science. Her research about the heliocentric model of solar system which proposed by Aristarchus contradicts to the 'truth' of Christian. She investigates that the world is sphere. Due to this objection, Hypatia is forbidden to teach at school. In Christian, the only one who knows about the world is God. All is written in bible, so just believe it and do not question it.

Several years later, Orestes become the prefect of Alexandria, and had converted her belief to Christianity. While Synesius (Rupert Evans), one of Hypatia's students, become the Bishop of Cyrene. Both are immersed in a situation after religious commotion, Christian monotheism against Roman-Greco polytheism (science) –Christian called them as pagan. Both of them still appreciate Hypatia as their teacher. Moreover, Orestes yet loves her.

Cyril, stars Sami Samir, sees that Hypatia influences much over on Orestes. Cyril does not accept if the governor is smitten by any other Christian, especially only a woman. Therefore, he set up a public ceremony to force Orestes subjugate her. Synesius also come to rescue her if she agrees to be a Christian. Under all circumstances, Hypatia refuse to be a Christian, she loves science very much. She said that if she becomes a Christian she cannot explore her love on science anymore, because in Christian people are not free even only asking.

Hypatia is accused by Cyril as a witch, he successfully convince the Christendom to kill her. The parabalani then find her, they strip her naked and stone her to death. Anyhow, before that Davus, based on Hypatia permission, suffocates her till die, so when they stone her, she does not feel any pain. 
doc.istimewa?

Thursday, 8 April 2010

Oleh-oleh dari Tomoe Gakuen

Judul Asli : Totto-Chan: A Little Girl at the Window
Penulis : Tetsuko Kuronayagi
Alih Bahasa : Widya Kirana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan XI : September 2006
Tebal : 272 halaman

Namanya Tetsuko Kuronayagi, orang-orang memanggilnya Tetsuko-chan. Namun di telinga gadis cilik ini, terdengar seperti Totto-chan, dan nama itulah yang ia sebutkan pada setiap orang yang menanyakan namanya. Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela berkisah tentang persahabat indah antara penulisnya dengan Sosaku Kobayashi dan murid-murid di gerbong kereta.

Pernahkah mendengar seorang murid kelas satu SD dikeluarkan dari sekolah? Totto-chan pernah mengalaminya. Ia dikeluarkan karena para guru tidak tahan dengan segala ulahnya. Ibu guru merasa kesal dengan tingkahnya yang terus-terusan mebuka dan menutup mejanya meski telah diperingati berulang kali. Bagi Totto-chan meja di sekolahnya keren, karena berbeda dengan yang dimilikinya dirumah. Di lain waktu, ia berdiri di depan jendela selama jam pelajaran. Bukan sekedar berdiri, tapi menanti pemusik jalanan lewat lalu meminta mereka menyanyikan sebuah lagu hingga selesai. Hal ini tentu saja mengundang murid lainnya untuk turut beridiri bersama depan jendela mendengarkan pemusik jalanan, setelah mereka pergi, ia tak lantas kembali ke temapatnya tapi terus berdiri di tempatnya. “Mungkin pemusik yang lain akan lewat. Lagi pula, sayang kan, kalau kita sampai tidak melihat rombomgan yang tadi kembali.”

Masih ada sederatan keluhan yang cukup menjadi alasan untuk mengeluarkannya dari sekolah. Suatu langkah yang tepat, karena akhirnya Totto-chan menemukan sekolah yang tepat, yang tidak hanya mendidik dan memperhatikan intelektualitas seorang murid, tapi juga emosinal, spiritual, dan fisiknya.

Sekolah baru Totto-chan bernama Tomoe Gakuen, kelasnya di gerbong kereta yang sudah tidak terpakai. Sistem belajar di kelas barunya sangat seru. Tiap pagi guru akan membuat daftar soal dan pertanyaan mengenai apa yang akan mereka pelajari hari itu, lalu membebaskan tiap murid untuk memulainya dengan pelajaran apa saja yang mereka suka. Jangan heran kalau ada anak yang sedang asyik belajar bahasa jepang, tapi disampingnya ada yang asyik berhitung. Yang di pojok ruangan malah asyik dengan eksperimen fisikanya. Menyenangkan bukan?

### ### ###

Cobalah melahap habis kisah-kisah dalam buku ini, dan bandingkan dengan pola pendidikan di negri ini. Atau dengan yang kau alami sendiri. Beberapa orang mungkin tidak suka hari Senin, Senin berarti Matematika, PPKN, Bahasa Indonesia. Senin berarti mempelajari mata pelajaran yang akan di-UAN-kan. Pelajara-pelajaran yang belum tentu kita suka, hingga selalu berharap-harap cemas agar Senin cepat berlalu.

Kegitan belajar di Tomoe pun tidak melulu di kelas, di dalam gerbong. Mereka biasa belajar sambil jalan-jalan ke hutan, ke kuil, atau ke sumber air panas. Anda dan saya mungkin pernah melakukan hal yang sama, out bond, tapi tentunya hanya pada saat-saat tertentu. Juga membutuhkan dana yang lebih.

Saat makan siang di sekolah, kepala sekolah akan selalu mengecek bekal murid, apakah kita membawa “sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan,” di belakangnya ada sang istri yang membawa dua panci berisi “sesuatu dari laut” di salah satunya, dan “sesuatu dari pegunungan” di sebelah yang lainnya. Isinya akan dibagikan kepada murid-murid yang tidak membawa salah satu dari keduanya. Mengesankan! Saat TK atau SD, kepala sekolah dan guru-guru sangat sering mengajarkan betapa pentingnya asupan gizi bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan. Bukan masalah enak atau lezat, tapi 4 sehat 5 sempurna. Akan tetapi kurang dalam penerapan sehingga bisa saja memberikan dampak modelling yang kurang baik bagi peserta didik.
Besok bawa tempe goreng catatan itu saya dapatkan di buku tulis Nisa, keponakan saya yang masih TK, beberapa hari yang lalu. “Harus tempe, ya?” tanya saya penasaran.

“Iya.” Jawab kakak sambil menyisir rambut nisa.
Lalu terbersit dalam benak saya, Cuma bawa tempe goreng? Cumak lauk? Sayurnya nggak? Meskipun begitu ketika menyiapkan bekal buat anaknya, kakak saya tidak hanya menyiapkan tempe goreng, tapi juga menambahkan sayur. Syukurlah kakak saya di sela kesibukannya menyempatkan diri menyiapkan bekal buat anaknya. Tapi bagaimana jika di lain waktu ia (ataupun ibu-ibu lainnya) lupa? Akankah sang ibu ditegur karena menyisipkan telur dan bukan tempe? Bukankah keduanya sama-sama lauk? Lagipula kandungan protein telur juga lebih banyak.

Sosaku Kobayashi, kepala sekolah cerdas yang tidak hanya mengajarkan muridnya untuk; belajar mengetahui, belajar berbuat, belajar hidup bersama, dan belajar menjadi seseorang. Lebih dari itu, ia mengajarkan untuk memberi teladan yang baik dengan mengamalkan ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri haandayani.

Suatu malam, banyak bom dari pesawat B29 berjatuhan menghanguskan ruamh-rumah, dan Tomoe Gakuen tak luput darinya. Berakhirlah kisah sekolah dalam gerbong kereta, sebab setelah peristiwa pengeboman hingga detik ini, belum ada Tomoe-tomoe baru yang dibangun.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...