Showing posts with label doa. Show all posts
Showing posts with label doa. Show all posts

Friday, 24 January 2014

mengetuk

jauh...
teramat panjang jarak
lama...
berbilang tahun lamanya
            berlari dari-Mu
            mengutuki-Mu
kini,
bolehkah kuketuk pintu-mu?
mengetuk saja.

Sunday, 27 January 2013

hujan


Ia akan selalu mengingatkan saya pada bapa yang mengasihi saya


Saya seperti umumnya anak-anak, setiap kali hujan turun, langsung berlari kegirangan keluar rumah. Hujan-hujanan di bawah pancuran langit.

Kalau pulang ke rumah, sudah pasti saya dimarahin. Bukan ibu saya yang marah-marah, tapi bapa saya.

Dulu, saya akan berpikir bapa saya tukang marah. Galak. Gak suka lihat anak-anaknya menikmati masa bermain. Gak suka lihat anaknya bahagia. Main sama anak-anak cowok, gak boleh. Main jauh-jauh dari rumah, gak boleh. Dan sekarang hujan-hujanan juga gak dibolehin.

Tapi itu dulu. Sekarang, sudah sebesar ini saya baru paham. Pikiran saya berubah. Saya tahu, bapa pasti khawatir kalau-kalau hujan bikin saya sakit.

Jika saya sakit urusannya panjang. Saya pasti tidak bisa masuk sekolah. Padahal, di dunia ini, hal yang paling bikin bapa saya bahagia adalah mengantarkan anak-anaknya ke sekolah.

Saya pasti juga tidak bisa bermain dengan teman-teman selama saya sakit. Itu bisa berhari-hari.

Ibu saya bakal libur kerja, atau minimal bolak-balik rumah kantor setiap ada kesempata buat nemenin saya di rumah. Sementara bapak saya di tempat kerjanya terus-terusan digelayuti perasaan masygul. Mungkin juga akan sedih karena tidak bisa menemani anaknya yang sedang sakit.

Januari ini, hujan lebih sering turun. Hampir tiap hari. Dan saya bahagia karena ia membawa kenangan saya bersama bapa serta.

Kalau hujan tidak turun, saya akan berdoa



Langit,
Curahkanlah hujanmu untuk merahmatinya
Utuslah mereka untuk menyampaikan cinta saya kepadanya, bapa


pict from visualizeus







Tuesday, 15 January 2013

sahaya aku



Sahaya aku

Tepi pantai kala senja
Nelayan menjaring siluet matahari
Dan mega di ujung lazuardi
Bersama mengukir ikar ; “hanya bapa raja diraja”
                                 
Sekali waktu
Insan terperangkap labirin
Resah
Galau
Pun dilema
Dari keheningan, alam berbisik;
“iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”

Di sini
Seorang diri meniti tasbih
Mengukir lafal atas sujud kultus
Luruh keangkuhan sluruh
Dengan segenap kekerdilan
Sahaya aku;
“hanya bapa tunggal yang esa”



Saturday, 4 August 2012

Memintamu untuk memohon


Lihatlah dirimu
Kau paling sombong
Enggan mengangkat tangan
Seraya memohon kepadaku

Aku paham inginmu
Tapi aku mengabulkan hanya apa-apa yang kaupinta

Mohonlah
Mintalah
Sebab bahwasanya aku tak pernah tega
Membiarkan tanganmu menengadah hampa

Malang, 4 Agustus 2012
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...