Showing posts with label pernikahan. Show all posts
Showing posts with label pernikahan. Show all posts

Saturday, 12 November 2016

#novel: Pengakuan Eks Parasit Lajang




Saya mengenal Ayu Utami, dari buku-buku yang saya baca di perpustakaan kampus. Bagi seorang yang tertarik dengan isu perempuan macam saya, tulisan Ayu Utami makin bikin penasaran. Lebih menarik ketimbang karya-karya perempuan lain. Misal Djenar Maesa Ayu atau Fira Basuki. 

Larung, Saman dan Bilangan Fu, ketiganya berhasil mengajak saya mengenal sosok-sosok lain seperti Toeti Heraty, Derrida, Simone de Beauvoir dan beberapa lainnya.

Kadang-kadang terjadi diskusi kecil antara saya dan teman-teman. Saya ingat, ada Mbak Fitri, Istanti, Winda, Feny dan Ellik yang juga membaca karya-karya Ayu. Bilangan Fu yang paling fenomenal. Apa saja kami bahas, dari kisah percintaan sampai seksualitas dan feminisme dalam karya-karya Ayu. Beberapa dari mereka mengoleksi karyanya (sampai po juga loh...)

Namun, tertarik dan penasaran saja belum cukup untuk mengoleksi karya-karya Ayu. Saya pikir, baca di perpus saja sudah cukup. Sampai akhirnya, setelah semua lulus kuliah dan berpencar, diskusi berlanjut di facebook. Teman-teman merekomendasikan "Si Parasit Lajang." 

Kepada adik saya yang di Malang, saya minta dicarikan trilogi Si Parasit Lajang. Si Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico dan Pengakuan Eks Parasit Lajang. Dari tiga yang saya order, hanya Pengakuan Eks Parasit Lajang yang tersedia. Jadilah saya hanya membaca bagian terakhir. 

Di bagian akhir ini, berkisah tentang si A(yu) yang semulanya Si Parasit Lajang -menolak menikah tapi tidak selibat-. Sudah tentu A(yu) menolak menikah. Sebab pernikahan, dalam pandangan feminis terhadap budaya timur, adalah sebuah lembaga patriarki. Ia tentu tidak mau dicap perempuan lemah yang hanya dapat bergantung kepada kaum laki-laki.

Yang mengejutkan, di akhir trilogi ini, Si Parasit Lajang memutuskan pensiun. Ia Akhirnya menikah. Ironi memang, setelah sebelumnya ia meyakinkan pembaca agar tak perlu khawatir jika belum menikah atau memang menolak menikah.

Lantas, kenapa A(yu) memilih menikah? 

Pengakuan Eks Parasit Lajang ini menjawab semuanya. Ia semacam argumentasi yang ingin disampaikan A(yu) atas pilihannya tersebut.

Ketika sampai pada halaman terakhir, saya tertawa dalam hati. Seksualitas, feminisme, militerisme, dan spiritualitas yang dibincangkan Ayu dalam bukunya menguap begitu saja. 

Sepanjang, serinci, dan serasional apapun pengakuannya dan alasan yang ia kemukakan kenapa ia menikah, bagi saya, alasan tetaplah alasan. 

Saya menyadari satu hal. Hal sederhana yang kerap kita dengar. Bahwa jodoh, sesungguhnya, adalah rahasia tuhan. Takdir.

Sekhusyuk apapun kau meminta,
jika belum waktunya, 
tak akan kau dapat...

Sekuat apapun kau menghindar,
jika sudah waktunya,
tak dapat kau menolak... 

Thursday, 20 June 2013

pernah mimpi




Aku pernah bermimpi dalam tidurku. Aku memimpikan diriku. Aku yang sudah menikah. Punya empat anak lucu, menggemaskan, dan, tentu saja, nakal. Ada juga seorang lelaki di sana, mimpiku. Kami memanggilnya 'Papa.'

Kami menempati rumah yang tdak mungil, tidak juga terlalu besar. Meskipun begitu, halaman rumah kami cukup luas. Halaman depan penuh bebungaan; favoritku kembang kantor. Latar belakang untuk sepetak tegalan. Ada pohon mangga dan rambutan.

Setiap pagi aku akan melepas suami dan anak sulungku yang hendak bekerja dan sekolah. Mengantar mereka sampai jalan depan rumah. Aku akan mengajak dan mengajari si bungsu yang masih dalam gendongan, melambaikan tangan saat mobil melaju. Dua anak kembarku akan berlari mengikuti mobil, berlari-lari kecil di belakangnya sampai mobil menghilang di ujung jalan.

Dulu, aku pernah bekerja di sebuah penerbitan. Namun setelah malaikat kecilku berjumlah lebih dari dua, aku memilih resign. Sekarang, aku hanya sesekali menerima pekerjaan freelance sebagai penerjemah. Inilah yang kulakukan sekarang. Mengurusi keluarga kecilku; memasakkan makanan favorit anak-anak dan Papa mereka; mnyetrika baju, menyiram tanaman; dan masih seabrek pekerjaan rumah lagi…

Bahagia. Di usia muda, punya suami, anak, dan rumah. Meski tak punya pekerjaan tetap, penghasilan masih tetap ada.

Hanya saja, seperti yang aku bilang sedari awal. Semua kebahagiaan itu hanya mimpi. Mimpi yang hanya singgah sebentar dalam tidurku. Saat aku terjaga, aku sadari satu hal. Mimpi itu, ia bukan manifestasi keinginan terdalamku. Ia ada dalam mimpiku, tapi bukan hal yang aku impikan. Bukan mimpiku. Ia mimpi makhluk-makhluk di luarku yang menuntut aku menjadi seperti itu. 

Mimpi itu, bisa saja ia milik ibu dan ayahku yang sudah tak sabar menggendong cucu. Mungkin juga mimpi pacar aku, yang sudah tidak sabar mengkavling aku sebagai Nyonya X. Menyandangkan namanya kepadaku.

Barangkali ia mimpi sauda-saudaraku. Mereka kelak akan kasihan, lebih-lebih malu, sekiranya dalam sejarah keluarga besar ada seseorang yang disebut-sebut sebagai perawan tua...


*pict from visualize



Wednesday, 5 June 2013

perempuan sendu...




Suaranya dalam, seperti datang dari ruang hati paling dalam, dari masa yang telah sangat purba. Tapi aku tak dapat membaca air mukanya. Tak mengerti apa yang sedang ingin dikabarkannya.

Ia terus bercerita. Aku mendengarkan.

Masa mudanya adalah kuncup bunga yang mekar mewangi. Ia, bukan gadis tercantik, bukan yang molek. Bukan yang biasa dibayangkan lelaki dalam fetis. Tapi kesalehan, intelektual, dan nasab bangsawan ada padanya. Ia anggun yang bersahaja. Tidak perlu kerling menggoda agar laki-laki berbondong-bondong datang melamarnya. Ia tak peduli itu.

Ia mencintai anak-anak. Ia menggandrungi berdiri di depan kelas, mengajar. Dunia ia mengabdikan hidup, dunia yang memberinya kebebasan di depan. Dunia yang membebaskannya dari dapur dan kasur.

Banyak pria datang mengetuk pintu hatinya. Tapi tak ada satu pun yang ia terima, sebab ia tidak berhak untuk itu. Ia tidak cerita, adakah di antara mereka, telah ia berikan hatinya.

Hidup, baginya, adalah ketaatan, kepatuhan. Lelaki yang berbagi kasur dengannya; yang memberikannya anak, bukan lelaki pilihannya. Lelaki itu, yang dipilihkan ayah dan ibunya.    

Laras air mata menyusuri gelembur pipi. Tangannya gemulai mengurut lengan  yang pernah menamparnya.

Tatapan lelaki menembus matanya. Menciptakan jeda hening. Mungkin ada penyesalan dan permohonan maaf yang tersampaikan. Suatu permohonan untuk membebaskannya dari perasaan bersalah. Agar ia tidak perlu berlama-lama sekarat di atas kasur rumah sakit dengan tubuh lumpuh, tak bersuara. Agar jalannya untuk kembali kepada Sang Pemilik tidak terhalang.

Apakah kamu mengerti apa itu cinta? Pernahkah kamu merasakannya?  Aku penasaran jawabnya, perempuan.

Ia mungkin saja tidak bahagia bersama lelaki yang tercatat dalam selembar kertas sebagai suaminya. Lelaki pemarah. Gajinya tidak seberapa untuk menghidupi perempuan ini. Lelaki yang menendangnya saat ia khusuk salat. Lelaki yang meniduri perempuan lain, sementara perempuan ini  menidurkan anak-anak di kamar belakang.  
Lelaki yang… semestinya ditinggalkan si perempuan.

Tapi perempuan ini tak mengenal kata lari. Ia hanya perempuan -perempuan beriman nan patuh. Hidup, baginya adalah ketaatan. Taat pada suami sebagaimana dianjurkan agamanya. Menjaga keutuhan keluarga, sebagaimana masyarakat menginginkannya.

Rumah tangga adalah pengorbanan dan pengabdian. Ia menahan diri, ia mengikhlaskan diri, seraya berharap; semoga segala yang telah dilewatinya adalah wujud bakti dan amal. Semoga berpahala baginya.

*pict from here


Wednesday, 9 January 2013

10 besar






begini ni cara saya melewati liburan akhir tahun...
menghadiri pernikahan putri irma (puma) di Solo



*pernikahan teman sma itu berarti reuni keluarga besar Gravity Mutalazimaen

*mempelai pria bersama keluarga besan :)


puma and us :)

sekali lagi, yg di atas kan saya gak kliatan @,@
nah, jgn lihat pengantinnya yah (sudah ada yg py o_O)
apah angka 6 di vandel-nya terlihat jelas? itu berarti dia orang ke-6 dari sekian teman seangkatan saya yg sudah menikah...
gak tahu siapa yang punya ide kayak gini, kan aye malu kalo gak masuk peringkat 10 besar :)
secara 3 besar udah lewat, 5 besar juga udah... 


_______________
* yg bertanda bintang belongs to Husni Mubarok 









Tuesday, 4 December 2012

#novel: The Expected One




Kalau ada yang bilang The Da Vinci Code-nya Dan Brown kontroversial lantaran mengisahkan Yesus seperti manusia biasa yang juga bisa menikah. Lebih gila lagi, menikah dan memiliki anak dengan perempuan yang dalam gereja dianggap sebagai pelacur, Maria Magdalena. Novel Kathleen McGowan ini lebih kontroversial lagi.

Maria Magdalena, dalam novel ini, berasal dari keluarga bangsawan Yahudi. Sejak kecil, dia dekat dengan Easha, nama kecil Yesus. Namun ketika dewasa, ia terpaksa dinikahkan dengan Yohanes Sang Pembaptis. Pernikahan ini sarat intrik politik kekuasaan dan agama. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, Yohanes-Yusuf

Bagaimanapun, takdir akhirnya menyerah pada kekuatan cinta. Yohanes mati dipenggal, dan Maria menjanda. Takdir pula yang mempersatukan kembali Yesus dan Maria. Yesus menerima Maria apa adanya, meski Ia tahu Maria janda beranak satu. Mereka memiliki sepasang anak, Sarah-Tamar dan Yeshua-Daud

Itu baru soal percintaan. Belum soal politik dalam kehidupan Yesus-Maria-Yohanes yang mengantarkan mereka pada ajal dan pengasingan. Yohanes mati dipenggal oleh penguasa Herodes, Yesus mati disalib, sementara Maria harus menyelamatkan keturunan Yohanes dan Yesus dari kejaran para penguasa. Anak Yohanes akhirnya diselamatkan para pengikut setia bapaknya, sementara maria dan anak-anak Yesus meneruskan perjalanan ke dataran Eropa. Di sanalah mereka meneruskan hidup dengan menyembunyikan identitas, agar bisa hidup tenang dan selamat.

Saya melihat ada kesamaan antara The Da Vinci Code dan The Expected One dalam menceritakan Maria Magdalena. Maria Magdalena tidak pernah dihadirkan sebagai karakter utama dan cerita yang berdiri sendiri. Kisah Maria, seperti bingkai dalam bingkai. Jika dalam The Da Vinci Code, Sophie dan Robert menyibak misteri Maria dari kode yang mereka pecahkan, dalam The Expected One ini Maria tampil di atas catatan yang ditulisnya sendiri yang di kemudian hari ditemukan oleh Maureen. Catatan itu dikenal sebagai Injil Arques Maria Magdalena, Kitab Para Murid.

Eniwei, saya menghatamkan novel ini selagi lampu di kamar mati minta diganti. Tiga malam ditemani lilin, dan pintu yang dibuka lebar, biar cahaya dari luar kamar bisa nyelinap masuk. Dan Christina Perri berulang-ulang menyanyikan A Thousand Years. Kayaknya lebih pas jadi soundtrack novel ini ketimbang jadi OST Breaking Dawn :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...