Showing posts with label semacam catatan. Show all posts
Showing posts with label semacam catatan. Show all posts

Thursday, 15 March 2018

Berjodoh




Bahwa jodoh tidak melulu tentang lelaki atau perempuan yang dipersatukan dalam akad. Bertemu orang baik pun adalah jodoh. Bukan kebetulan.

Banyak orang baik yang tlah kutemui. Ibu dan anak ini salah satunya. Pertama kali bertemu dengan ibunya ia berkisah tentang getir hidupnya: Susah payah bekerja di luar negeri, suami yang ditinggal malah foya-foya, main perempuan dan menelantarkan anak.

Sudah ia ikhlaskan jerih payahnya yang sia-sia. Pun suaminya, ia ikhlaskan untuk perempuan lain. Ia hanya tak habis pikir, untuk apa si mantan suami mencuci otak anaknya agar menjauhinya. 

Tak ada yg lebih sedih selain dijauhi anak sendiri. 

Ia percaya Tuhan tak kan membiarkannya sendiri, tak putus doa untuk sang anak.

Seperti sudah direncanakan, beberapa bulan kemudian, kami bertemu lagi. Kali ini ia mengenalkanku pada anaknya. Ah, betapa bahagianya. 

Kisah ini, bagimu, mungkin biasa saja. Banyak kejadian seperti ini. Atau mungkin aku tak begitu pandai menceritakannya. Apapun lah. Bagiku, kisah ini sangat berharga. 

Selama ini kupikir hanya drama indosiar saja yang dramatis. Nyatanya, hidup bisa lebih dramatis. Dan tak perlu kuceritakan dengan dramatis pula. 






Tuesday, 19 September 2017

catatan september

pict from here


Dunia makin aneh, atau kita sudah terlalu lama hidup? semua bergerak maju, cuma kita yang masih gagal move on dari "Piye, masih enak jamanku, toh?"

Di negeri ini September tak selalu ceria, ia juga bisa lebih seram dari Oktober dengan halloween-nya. Pada bulan ini hantu PKI dibangkitkan. 

Lain waktu, buku-buku dibakar, pajak (penulis) buku naik, diskusi dibubarkan, sementara tingkat minat baca masyarakat makin nyungsep. 

Berserikat dilarang, aktivis dilenyapkan, dan koruptor malah dibela. Situ waras? Atau saya yang gila? 

Lalu dimana hak untuk merdeka? Dimana letak demokrasi?

Sepertinya yang dibilang demokrasi itu hanya momen sesaat ketika masuk bilik suara saat pemilu, begitu keluar kelingking ungu bertebaran di linimasa sosial media. Sudah, itu saja. Selebihnya disimpan dalam lemari bagian kanan paling bawah. tertumpuk baju-baju yang sudah tidak terpakai.  








 

Wednesday, 5 July 2017

sariawan, santriwan & rohaniwan



foto dari sini


"Sariawan... Sariawati... ?!?!"

Ceritanya, saat ramadan kemaren, sayup-sayup, di dalam kamar mandi sekolah, terdengar sapaan yang ganjil dari kelas pesantren kilat di ruang sebelah.

Lepas dari kamar mandi, saya simak lagi baik-baik. Masa iya toh, santri-santri peskil disapa sariawan/wati.

"Santriawan... Santriawati.... ?!?!" Lagi-lagi, dari pengeras suara, terdengar mentor menyapa santri-santri.

Oh, ternyata santriawan/wati.... Tapi kok masih tetap ganjil di kuping yah. Diucapkan juga kurang pas di lidah.

Lebih ganjil lagi sebab yang ngucapin guru-guru madrasah. Nyapa santri ajah keliru (Eit, guru juga manusia kali.)

Besoknya, saat mendampingi seorang mentor peskil, lagi-lagi santri-santri disapa dengan panggilan santriawan/wati, yang dikuping saya jadinya sariawan/wati.

Dari pada kuping keri terus-terusan, akhirnya saya menegur belio dengan halus. Saya bilang ke belio bahwa bukan santriawan/awati, melainkan santriwan/wati.

Kata santriwan/wati berasal dari kata santri. Arti kata santri menurut KBBI Online bisa dilihat di bawah ini.

santri/san·tri/ n 1 orang yang mendalami agama Islam; 2 orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh;
Jadi,
kata santriwan berasal dari kata santri + imbuhan -wan, untuk menunjukkan Jenis kelamin laki-laki.
kata santriwati berasal dari kata santri + imbuhan -wati, untuk menunjukkan jenis kelamin perempuan.

Bukan,
Santri + imbuhan -awan = Santriawan
Santri + imbuhan -awati = Santriawati

Sambil tulis ini, sebenarnya saya juga agak mikir gini, kok, orang yang ahli dalam hal kerohanian, sebutannya rohaniawan, bukan rohaniwan???

Apa jangan-jangan kata yang berakhiran huruf "i" harus diimbuhi -awan/awati, bukan -wan/wati. Jadi Ucapan yang benar adalah memang rohaniawan/wati dan santriawan/santriawati.

Untuk membuktikan mana yang benar saya googling sana-sini, dan akhirnya nemu juga. Bahwa yang benar memang santriwan/wati. Sementara itu menurut wikipedia, orang Indonesia selama ini banyak yang salah eja rohaniwan jadi rohaniawan. Setelah saya cek di KBBI Online pun, tidak ada lema rohaniawan, yang ada adalah rohaniwan.

Nah seperti itu..., teman. Setelah ini, biasakan mengeja santriawan/wati dan rohaniwan/wati. Keliru dan khilafnya jangan dipelihara :)




_________________________
NB: tulisan ini tidak bermaksud nyinyir atau menggurui. Ini hanya catatan seseorang yang gemar belajar bahasa.










  

Friday, 5 May 2017

Broken

Wajah-wajah Tual masa kini


"Bu Guru, panggil beta Broken saja." Seorang siswa sma kelas XII memperkenalkan dirinya. Kala itu saya baru lulus kuliah dan mengajar di salah satu SMA di Kabupaten Maluku Tenggara

Dalam hati saya pengen ngakak sekaligus ngedumel. Sebagai guru Bahasa Inggris, saya tau betul arti kata broken. Rusak. 

Saya pengen sekali menceramahi dia. Dasar anak ini, apa dia kira dia punya nama kaco-kaco itu bagus. huh... Tidak tahu dia kalau nama aslinya lebih keren dan mahal. Sebab dia muslim, untuk mengesahkan namanya ia perlu diaqiqah, dengan memotong kambing yang sudah cukup umur, sehat dan tidak cacat. 

Namun, saya memilih menahan diri. "Kok, Broken?"
"Iya, Bu. Biar keren to."
"Kamu tahu arti broken?"
"Ada artinya, Bu?"
"Coba, deh, buka kamus."
"Rusak," jawab seseorang.
"Wi... masa rusak tuh?" ujarnya tak percaya.
"Ibu, tapi di Ambon sana, semua orang punya nama Broken.," timpal yang lain. "Biasa satu panggil satu deng Broken."

Maksudnya, anak-anak muda di Ambon kerap menyapa sesama temannya dengan istilah broken. Seperti menyapa seseorang dengan "Boy", "Saudara", atau "Kawan". 

Sampai beberapa lamanya, hal tersebut masih mengusik pikiran saya. Saya sempat curiga, mungkinkah sapaan Broken tersebut sengaja dipakai untuk menunjukkan karakter dan pribadi orang ambon (baca: Maluku umumnya) sebagaimana prejudice umum tentang orang Ambon. Hitam, sangar dan keras. Bikin par orang tau skali... 

Hatta, suatu ketika saya bertemu dengan Onco Nisma dan Onco Gaya di Tk Hang Tuah Tual. Kala itu saya sudah tak lagi mengajar di SMA. Karena mereka anak bongso (bungsu), disematkanlah kata Onco (bentuk imut, manis, dan sayang dari kata bongso) di depan namanya. Onco Nis, Onco Gaya. Namum, dalam keseharian baik teman-teman guru maupun keduanya, kerap menyebut atau menyapa mereka dengan nama "Coken" saja. Terdengar lebih segar, gaul dan keren. 

Di sinilah, samar-samar saya mulai mengerti makna Broken yang sesungguhnya. Di Tual, dan mungkin juga di Ambon, orang-orang kerap meambahkan akhiran '-ken' pada nama mereka agar berkesan segar, gaul dan keren. Nama kaco-kaco istilahnya.

Misalnya, Nama + ken
Onco jadi Coken
Ali jadi Liken
Aco jadi Coken
Usna jadi Naken
Mohamad jadi Moken

Akhirnya, terpecahkan sudah makna "Broken" yang sesungguhnya. Broken memang diambil dari Bahasa Inggris, tapi artinya bukan rusak. Ia diambil dari kata bro(ther) + ken. Jadilah broken. Panggilan akrab untuk saudara atau teman. 

Pemahaman baru ini sekaligus menyentil kesadaran saya. Betapa saya sudah khilaf dan picik memahami anak-anak ini. Bagaimana bisa saya tidak tau istilah-istilah seperti ini. Bagaimana bisa saya seperti alien di rumah sendiri. 

Ada pepatah bilang, when in Rome, do as the Romans do. Seandainya saya bukan orang Maluku, seharusnya saya memahami anak-anak ini dengan kacama mata budaya setempat. Jadi bagaimana bisa saya orang Maluku, tinggal di Tual, tapi memahami budaya di sini dengan kepala seseorang yang asing. Berjarak.    

Haha. Saya sedang menertawai diri sendiri. 
    

  

Monday, 10 April 2017

trip to dieng #1


Jauh-jauh hari udah janjian mau jalan-jalan bareng sama Pipit dan Mita, teman semasa aliyah di Solo. Kita sudah beberapa kali agendain main bareng begini sejak kuliah. Saya di Malang, Pipit di Solo, dan Mita di Jogja. Pernah ke Prambanan, Sekatenan di Solo, main ke Noknik di Semarang, dan terakhir ngacir dari Solo ke Jogja setalah acara Reuni Akbar MAPK 2015. Kami tidak bertiga saja, biasanya juga ngajak teman-teman. Kali ini Ichda konfirmasi bisa ikut. 

Tadinya pengen akhir tahun bisa ketemu mereka, nyatanya baru bisa nyuri-nyuri waktu libur di bulan Februari. Saya maunya muncak, gak mau ke pantai. Soalnya kalo di Tual, refreshing-nya ke pantai terus. Beruntung punya teman-teman yang pengertian, pada nurutin ngidamnya ibu hamil  teman yang jauh-jauh dari Tual ke Jawa. 

Monday, 3 April 2017

dalam hidup,

gambar dari sini


Dalam hidup, segalanya tidaklah selalu mudah. Hidup bisa begitu kerasnya. Ada saat dimana kamu begitu kuat. Lain waktu kamu jadi lemah. Lemah selemah-lemahnya. Hingga tak mengenali diri sendiri. 

Jalan hidup bisa sangat rumit. Semisal labirin. Kamu terjebak dan tersesat. Jalan pulang, kamu tak tahu. Mimpimu, sudah lama kamu lupakan. Ah, bukan lupa tepatnya. Bermimpipun kamu tak tahu caranya. 

Kemana kau menuju ketika terus berjalan? Apa yang kamu kejar ketika terus berlari?

Kamu seperti bukan kamu. Kamu berubah. Apakah hidup begitu keras dan rumit? Ataukah kamu yang lemah dan rapuh?

Monday, 26 December 2016

tentang lupa

aku gak bermaksud melupakanmu  



Sampai saat ini saya masih merasa tidak enak hati, pada beberapa kenalan, kolega atau pun kerabat. Pasalnya sifat penyakit lupa saya makin hari kok makin buruk. 

Bagaimana perasaanmu kalau dengan begitu antusias menyapa/memanggil seseorang di jalan, tapi yang dipanggil hanya menatap bingung, dahi berkerut dan terpaksa nyengir??? 

Kalau lupa bawa pena, dompet, payung, ato hape saat bepergian, mungkin masih wajar. Pun lupa beli belanjaan emak meski udah diingatkan berkali-kali. Lupa nama-nama tokoh novel/komik/film juga masih taraf wajar. 

Tarohlah itu bukan sesuatu yang begitu penting untuk diingat-ingat. Dan lagi, mereka gak bakal bilang "Masa gak ingat aku?" "Kok bisa sih lupa sama teman sendiri?" Pokoknya gak bakal dikira sombonglah sama itu-itu benda.   

Beda lagi masalahnya kalau berhadapan dengan manusia yang punya hati dan perasaan. Hal pertama yang paling menohok perasaan saya terjadi sekitar setahun lalu. Saat reuni aliyah. 

Saya ingat semua teman-teman yang hadir. Bahkan yang bertahun-tahun tidak bertemu, seperti Aan, Vahrul, dan beberapa yang kuliah di Mesir. Dari jauhpun saya yakin, saya masih mengenali mereka. Ada satu yang tidak saya kenali, meski berkali-kali saya bongkar file-file dalam memori, tetap tidak ditemukan. 

Tak tahan, saya bertanya ke dia "Kamu angkatannya siapa yah?" gerrr. Sontak teman-teman sekelas geger. Aan di sebelah saya bertanya "Kamu nanya beneran apa guyon?" 

Duh, gak cuma malu-maluin, tapi udah bikin malu orang juga. Hanya gegera dia pakai kacamata, saya tidak bisa mengenalinya. 

Tak lama setelah itu, kejadian-kejadian yang hampir sama terulang. Saya bertemu teman sekamarnya Yessi saat di asrama, saya ingat mukanya, tapi tidak ingat namanya. Saya ingat betul Senyuman dan suara khas Radin saat memanggil "Ibu Guru," tapi saya sulit memanggil balik, karena tidak ingat namanya. 

Saya tidak mengenali Bibi Linda, hanya karenanya perutnyi buncit sedang hamil. Saya tidak dapat mengenali Bapaknya adit, hanya karena dia tidak pakai seragam anggota Brimob. Saya tidak mengenali mamanya Raffa hanya karena dia pakai behel. Dan masih banyak lagi... 

Apakah itu semacam penyakit? atau kebiasaan yang dipelihara? should i see a doctor? 

Monday, 28 November 2016

batal beli kaos

pict from here



Saya pengen order kaos tokoh, yang ada sablonan wajah Tan Malaka guede-gude di bagian depan, biar orang-orang tahu kalau saya sedang nge-fans sama blio. 

Saya mengunjungi beberapa online shop kaos tokoh. Rata-rata warna dan desainnya seragam. Kalau gak hitam yah putih. Ada pula yang merah jreng, tapi jarang. Di antara yang seragam itu, ada satu yang saya suka. 

Sebelum memutuskan beli di online shop  tersebut, saya liat-liat dulu isi web dan instagramnya. Hm... lah kok ada gambar Ahok pula di situ. Tentu saja saya kaget. Kamu tahu kan, kaos tokoh itu biasanya identik dengan pemikiran dan pergerakan ke-kiri-an. 

Akhirnya, gak jadi deh pesan di situ. 

Saya emang agak sensi kalau masalah Ahok ini. Lepas dari kasus penistaan agama. Atau identitasnya sebagai etnis Tionghoa atau seorang nasrani. Rasis dan picik jika berpikir seperti itu... 

Kasus Ahok ini memang lagi hot. Tidak menyangkut diri Ahok pribadi saja, tapi juga identitas yang diembannya. Kasus ini seperti menebarkan benih-benih permusuhan di antara orang muslim dan Ahok. Beberapa nasrani pembela Ahok bisa saja terpengaruh. Ia juga berpretensi memecah belah muslim pembela al Quran dan pro Ahok. 

Hanya gegara satu orang ini, Habib Riziq bela al Qur'an, dipojokkan. Buya Syafi'i Maarif bela Ahok, dipojokkan pula. 

Saya agak mengambil jarak dari peristiwa ini. Sebab informasi yang disampaikan media hanya sepotong-sepotong. Cenderung tidak seimbang. Jadi, pemirsa harus lebih bijak, agar tidak menelan begitu saja isu-isu yang penuh intrik dan berkelindan sana-sini.

Capek juga kalo ngikutin berita di TV. Baru ajah istirahat dari maraton drama kopi sianidanya Jessica, sekarang udah Ahok menista Al-Qur'an. Besok apalagi? Kancil korupsi timun?

Well, balik lagi ke laptop. Jadi, bukan lantaran hal di atas saya jadi sensi. Yang saya tidak suka, dia seringkali gusur-gusur warga. Mau alasannya mereka penduduk liar, mau mempercantik Jakarta, atau apapun, saya tetap tidak suka. Itu menyayat-nyayat hati nurani, gaes. Melihat orang-orang kecil diperlakukan seenaknya.  Niatnya mempercantik yang lain, tapi malah melukai yang lain. Haduh. Cantik itu memang luka!

Wajar dong, kalau saya sensi, kok, ujug-ujug ada muka Ahok -si tukang gusur- di lini masa online shop kaos tokoh itu. Hak dia juga sih sebenarnya. Mau jualan muka tokoh siapa saja juga boleh. 

Saya bertanya-tanya, selain sebagai pemimpin daerah, kontribusi apa yang sudah diberikan Ahok?  Mungkin sebab saya tidak tinggal di Bangka Belitung atau Jakarta -tempat Ahok pernah memimpin-, jadi saya tidak tahu sumbangsih apa yang sudah diberikan Ahok bagi rakyat-nya.

Saya scroll  terus ke bawah, melihat lebih banyak isi instragram itu online shop. Saya menemukan Che Guevara, Tan Malaka, Wiji Thukul, Munir dan Cak Nun. Di antara para toko pemikir, revolusioner, pejuang kece-kece itu terselip wajah Ahok. 

Memangnya dia sehebat para tokoh itu? 
Apa dia sekanan mereka?
Apa dia se-kiri mereka? 

Saya tidak melihat itu dalam diri Ahok. 

Hanya karena sebagian besar umat islam -yang dianggap kanan- mendemo Ahok, bukan berarti Ahok itu seorang kiri yang perlu diselamatkan.

Saya rasa, sebelum berpihak, sebaiknya berpikir kritis terlebih dahulu. Jangan sampai belok kiri jalan terus, eh, malah nabrak.    




 

Thursday, 10 November 2016

Selamat Hari Pahlawan

Mari sejenak mengheningkan cipta, mengenang para pahlawan...

Masing-masing kita, pasti punya pahlawan yang diidolakan. Iya, kan?


 
Sebagai penggemar bulu tangkis, sudah tentu pahlawan saya Liliyana Natsir-Tantowi Ahmad yang mempersembahkan sebuah kado terindah bagi ulang tahun Indonesia, medali emas Olimpiade RIO 2016, saudara-saudara!  


Sebagai penikmat puisi, Chairil Anwar belum tergeser. Dia tetap nomor satu!


Dan, terakhir, entah dari mana saya mengenalnya. Saya ingat, dulu saya begitu penasaran dengan novel Pacar Merah yang bertengger di rak buku Togamas malang. Saya membelinya, belum juga dibaca, sudah duluan dibarter oleh mpok Istanti dengan buku The Second sex-nya Simone de Beauvoir. Hm...bukan dibarter sebenarnya, tapi jamninan. Sebab sudah lama bukunya saya pinjam tak kunjung dikembalikan.
 
Si Pacar merah itu adalah Tan malaka. Saya sedang berkenalan dengannya, mengenalnya lewat karyanya, Dari Penjara ke Penjara. Baru beberapa bab saya baca, tapi saya dapat merasakan semangat juang yang dikobarkannya dari dalam kubur sana. 

Bagi saya, ia sosok binatang jalang, dari kumpulannya terbuang. Ia pahlawan, yang terbuang dari sejarah. 

Kalau kamu, siapa pahlawanmu?
 

Sunday, 11 May 2014

(Merasa) dilecehkan tukang ojek

6 dari 10 ojek yang saya tumpangi, para tukang ojek tersebut mengajukan pertanyaan yang nyaris sama. "Namanya siapa, cewek?", "boleh kenalan?" dan "boleh minta nomor hp?"
Sebagai perempuan, saya sama sekali tidak merasa tersanjung. Apalagi merasa GR, cantik, dan seksi, hingga pantas digoda. Jujur, saya justru merasa tidak aman, tidak nyaman, dan dilecehkan. Ada urusan apa dia mau kenalan dan minta nonor hape segala. Baru juga naruh pantat di ojeknya bebebrapa menit.

Apalagi akhir-akhir ini marak terjadi pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak-anak di kota Tual. Dalam beberapa kasus, pelakunya adalah tukang ojek. Kabar terakhir, seorang siswi SD diperkosa tukang ojek di seputaran Watdek, Langgur.

Pernah juga, saat pulang malam mingguan bersama sepupu perempuan saya, saya sudah sampai di rumah, sementara dia tak kunjung tiba. Setelah menunggu beberapa saat ia menghubungi dan minta dijemput di dealer yang tak jauh dari rumah. Rupanya, dia mencium hal yang tidak beres dari tukang ojek ini. Rute yang diambil, berbeda dari biasanya. Tukang ojeknya mengambil jalur yang sepi, dan jendak melewati jalan yang jauh dari rumah penduduk. Belum lagi, aroma minuman keras menguar dari si tukang ojek.

Ketika tiba di perempatan, selagi si tukang ojek sedang berhenti, memperhatikan kanan kiri, sepupu saya langsung lompat dari motor dan lari ke kios terdekat...

Sejak saat itu, saya selalu hati-hati memilih ojek. Buat teman-teman yang tinggal di Tual, atau siapapun, yang rumahnya hanya dilalui ojek, saya punya beberapa tips buat kalian. 

Pertama, saya selalu memastikan untuk melihat dengan jelas wajah tukang ojeknya, kalo yang pakai masker atau helm tertutup jarang saya stopin. 

Kedua, saya biasanya milih tukang ojek bapak-bapak, kalau anak muda atau kakek-kakek suka usil. 

Ketiga, saya seringkali milih tukang ojek muka-muka perantauan, macam orang jawa, sumatra, bugis atau buton. Bukan apa-apa sih, kalau orang rantau kan serius bekerja, jadi kecil kemungkinan untuk melakukan tindakan-tindakan di luar pekerjaan. 

Keempat, hafalkan nomor plat ojek yang kamu tumpangi. Terakhir, yang aman menurut saya, simpan nomor kebaln atau saudara kamu yang berprofesi sebagai tukang ojek. Selagi butuh, tinggal panggil saja.

Sekali lagi, jangan sampai tergoda untuk menanggapi pertanyaan tukang ojek yang ngajak kenalan atau minta nomor hape. Menurut saya, gada hal baik yang datang dari orang yang langsung minta nomot hape, padahal kenal aja enggak...

Wednesday, 16 October 2013

memilih pasangan...



memilih pasangan itu seperti membeli celana (pakaian) dalam; 
tidak boleh dicoba, tapi harus yakin pas....




_______
pict from visual

Saturday, 31 August 2013

tayando maule..


setelah sekian tahun, saya bisa dengan puas menikmati kampung halaman. beginilah kondisinya. penduduk yang dulu dikenal sebagai petani kelapa-kopra dan nelayan, sekarang sudah banyak beralih profesi sebagai pembudidaya rumput laut. foto di atas ini, penampakan rumput laut yang sedang dijemur. harga jualnya lumayan, 10/kg.



Tayando, itu kampung saya. tepatnya tayando yamru. ia pulau kecil yang bisa ditempuh dari tual dengan perahu motor atau kapal feri. sekitar 4 jam perjalanan. penduduknya menempati sepanjang pesisir pantai. sedang bagian daratan dan hutan di baliknya difungsikan untuk berkebun. 



saya bahagia bertemu dengan sanak famili di kampung. semua orang baik dan ramah. lebih-lebih, setiap kali melihat saya, mereka teringat almarhum bapa saya. ia saudara mereka yang paling ramah. 




mama saya juga merasa senang selama seminggu di kampung. kalau soal biaya hidup, makan terutama, di sini lebih murah memang. paman saya, sembari merawat rumput laut, bisa memancing atau menjala ikan untuk dibawa pulang. jika tidak sempat, kami bisa beli sendiri. harganya juga jauh lebih murah dibanding di kota. 10 ribu, sudah dapat 15-20 ekor ikan palala. 



sehari-hari, saya menghabiskan waktu berkeliling kampung. mengikuti sepanjang garis pantai. ditemani sepupu-sepupu saya yang masih kecil. kadang-kadang berdua saja dengan mama saya. duduk diam di belakang rumah bibi saya. memandang laut, menunggu matahari tenggelam. menunggu waktu berbuka tiba. 



yang unik selama di kampung, toa dari masjid selalu mengumandangkan surat ar-rahman setiap kali masuk waktu salat. mungkin cuma satu kaset itu yang ada di masjid. "fabiayialairabbikumaatukadziban..." dengan nikmat serta rizki yang melimpah, daratan yang subur, laut dengan aneka ragam kehidupan di dalamnya. maka, nikmat tuhan manakah lagi yang kau ingkari? ia semacam pengingat, bagi penduduk kampung untuk senantiasa mensyukuri nikmat tuhan yang melimpah, dengan meramaikan masjid-Nya...


mari, kembangkan layarmu ke tayando.. ke maluku..




 






Friday, 23 August 2013

perjalanan ke timur


langit dan laut, setiap hari



Perjalanan pulang kali ini saya anggap perjalanan wisata. Dengan KM Tidar saya berlayar ke Tual. Kapal ini milik PT. Pelni. Ia murah dan merakyat. Cukup Rp500 ribu, saya sudah bisa dapat tiket ekonomi tujuan Tual. Penumpang senantiasa padat. Kalau tidak cepat, kadang-kadang tidak dapat tempat tidur yang sudah disediakan. Banyak yang akhirnya bersyukur bisa tidur di depan ruang informasi, sekitar mushala, bahkan di tangga-tangga dek. Bagi penumpang yang menginginkan perjalanannya lebih aman, nymana dan sedikit mewah, bisa membeli tiket kelas 3, 2, 1 atau VIP.   
port of makassar

KM Tidar bertolak dari Tanjung Perak, Surabaya, melewati Makassar, Bau-bau, Ambon, Banda Naira, hingga akhirnya tiba di pelabuhan Yos Sudarso-Tual. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Ia akan singgah di masing0masing  pelabuhan sekitar 2-3 jam lamanya. Tergantung jumlah muatan dan penumang tiap pelabuhan. Semakin banyak, semakin lama.  
masih di pelabuhan makassar



Itulah yang saya tunggu~tunggu selama perjalanan. Saya akan menyempatkan diri berjalan~jalan sebentar sekitar pelabuhan. Pertama~tama dicari, tentu saja rumah makan. Pedagang kaki lima pun jadi. Selama di laut, saya benar~benar tidak pernah menyentuh jatah makanan yang disediakan kapal --tahu lah macam apa makanan yang dimasak untuk sekian ribu orang. Paling hanya buah dan sedikit makanan kafetaria untuk mengganjal perut.   

lama-lama jadi suka foto laut-langit...

Di Makassar, bisa menikmati kuliner khas seperti Coto Makassar yang terkenal itu. Kalau saya paling ngiler saat tiba di Bau~bau. Sangkola alias suami, dibuat dari olahan ketela singkong, bentuknya kayak gunung. Enak dimakan selagi hangat, sebagai pengganti nasi. Jangan lupa pesan ikan bakar yah ;) 

 
meninggalkan bau-bau yang mendung

Semakin ke timur, wisata kuliner ikannya semakin beragam. Kebetulan ketika sampai Ambon, sudah banyak rumah makan yang tutup. Biasanya warung-warung ini selalu sedia ikan bakar.
 
Terakhir, sebelum masuk Tual, ada satu pulau lagi yang disinggahi kapal. Pulau Banda Naira. Di sini, bukan perut saja yang bisa dipuasin. Kalau kamu termasuk pencinta sejarah, Banda tempatnya. Keluar pelabuhan langsung disambut museum dan masjid untuk mengenang Bung Hatta dan Bung Syahrir. Keduanya dulu pernah diasingkan di pulau Banda. Semakin masuk, semakin banyak tempat yang ditemui, salah seperti rumah bekas pengasingan Hatta-Syahrir, rumah budaya dan beberapa bangunan kuno yang masih dilestarikan. Puncaknya, benteng Belgica yang bisa ditempuh dengan ojek, becak, atau jalan kaki kalau kuat :)

 
meninggalkan gunung banda

Laut banda juga indah, ia terkenal dengan lautnya yang dalam. Mau nyelam atau renang sepertinya juga bisa, tapi belum pernah lihat penumpang nekat berenang @.@


Jangan heran yah liat foto-fotomya... Namanya juga di kapal. Kalau di dalam dek, kanan-kiri muka-belakang yang tampak depan mata adalah manusia dan beraneka barang bawaan. Keluar dek, sepanjang mata memandang hanya laut menghampar dan langit memayung. Jadi, jangan sampai kamu ketiduran saat kapal sedang berlabuh…. 

meninggalkan banda, menuju tual..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...