Showing posts with label tuhan. Show all posts
Showing posts with label tuhan. Show all posts

Friday, 13 April 2018

pernah




pernah sekali kuragu padamu
ketika diri lugu
terombang-ambing
pusing

pernah merasa begitu asing 
padahal begitu dekat 
tak berpaling
erat

















_________________________
pict from here

Friday, 12 April 2013

percaya





Lo masih solat, kan?
Lo masih percaya tuhan kan?

Untuk pertanyaan pertama, saya masih bisa meraba-raba maksudnya; Magrib-magrib gini sms-an ama gue mulu, emang lu gak solat? Tapi kalo disusul dengan pertanyaan kedua itu, nunggu sejam ato dua jam kemudian baru saya balas.

Pertanyaannya sih gampang yah. Mungkin juga yang nanya sekadar iseng-iseng dan keceplosan saja. Tinggal bilang masih atau tidak aja, saya mikirnya lama banget. Penuh pertimbangan. Ekspresi muka saya mungkin macam anak gadis ditanya; masih pake bra (beha) gak?

Kalau kamu sendiri yang mengajukan pertanyaan "lo masih percaya tuhan, kan?" ke teman kamu, sebenarnya jawaban apa yang kamu ingin dengar. Atas maksud apa kamu bertanya seperti itu?

Apatah kamu akan berucap," alhamdulillah, puji tuhan," ketika dia jawab masih percaya. Lantas, akankah kamu menjauhi teman kamu jika dia bilang tidak. Mungkin kamu justru akan semakin mendekatinya, untuk menyerunya kembali di jalan yang benar…

Bagaimana caranya kita mengukur kepercayaan? Bilang "iya", apatah itu memang berarti saya percaya. Dan bilang "tidak",  apa itu mewakili ketidakpercayaan.

Teman saya yang nanya ini, mungkin akan sangat girang jika saya bilang, "ya iya, masihlah, boi.  percayaaa banget." Sayangnya saya tidak tega mengggembirakan dirinya  dengan kebohongan saya.

Saya memang percaya.
Selalu percaya.
Tapi, selalunya itu tidak selalu pake banget. Kadarnya berbeda tiap detik, menit, hari. Waktu. Kadang ia begitu kuat, kadang lindap. Yang saya yakini, kepercayaan itu selalu ada di antara reruang hati. Dan saya (akan) selalu berusaha menjaganya agar baranya terus menyala menerangi hidup saya.  







Tuesday, 15 January 2013

sahaya aku



Sahaya aku

Tepi pantai kala senja
Nelayan menjaring siluet matahari
Dan mega di ujung lazuardi
Bersama mengukir ikar ; “hanya bapa raja diraja”
                                 
Sekali waktu
Insan terperangkap labirin
Resah
Galau
Pun dilema
Dari keheningan, alam berbisik;
“iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”

Di sini
Seorang diri meniti tasbih
Mengukir lafal atas sujud kultus
Luruh keangkuhan sluruh
Dengan segenap kekerdilan
Sahaya aku;
“hanya bapa tunggal yang esa”



Thursday, 23 August 2012

Friday, 10 August 2012

the only one


Whatever you said, she or he
For the one, you worship,
Allah, Yhwh, Jesus
Or any other names

They will always be god.
Unchangeable, irreplaceable


Malang, 4 Agustus 2012
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...