Showing posts with label semacam cerita. Show all posts
Showing posts with label semacam cerita. Show all posts

Friday, 13 April 2018

hanya supporter





Darah berdesir melihatmu di lapangan. Degup berlipat tiap raketmu menyentuh kok. Berdebar-debar, poin demi poin.

Perasaan bahagia, harapan dan cemas berbaur dalam jejingkrak, tepuk tangan, doa dan  yel-yel:
In-do-ne-sia
Prok prok prok
In-do-ne-sia
Prok prok prok

Tepat setelah poin kemenangan, 21, aku berlari ke arah lapangan. Kau sigap menghampiri.

Menghampiri dia yang sedari tadi kau pandangi. Poin demi poin.

Aku lupa,
Pagi ini aku terbangun hanya sebagai seorang supporter.











Thursday, 8 December 2016

theme song

lagi, dari google
I'll fly away tomorrow 
To far away
 I'll admit a cliché 
Things won't be the same without you
I need to know what's on your mind
These coffee cups are getting cold
Mind the people passing by
They don't know I'll be leaving soon
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm
I need to know what's on your mind
These coffee cups are getting cold
Mind the people passing by
They don't know I'll be leaving soon
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.ht

kamu bilang ingin berhenti kerja 

kenapa? 
I'll fly away tomorrow
To far away
I'll admit a cliché
Things won't be the same without you
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm

I'll fly away tomorrow
To far away
I'll admit a cliché
Things won't be the same without you
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm
kamu ingin pergi. pergi jauh. 

apa karena itu kau terus memutar Adelaide Sky - Adhitia Sofyan. semacam theme song, lagu yang sesuai dengan suasana hatimu saat ini. atau justru ingin pergi karena terus-terusan mendengarkan lagu ini. terbawa perasaan. 

kemana?

mungkin ke luar Indonesia. mungkin saja ke tempat yang tak seaman dan senyaman sekarang, katamu. 


I've been meaning to call you soonBut we're in different times

kapan? 

you'll be leaving soon.

kamu tahu, aku juga kerap berpikir sepertimu. ingin pergi jauh, kabur, lari dari kenyataan saat ini. tapi aku tak pernah bisa. seolah ada yang merantai hatiku, tuk tidak meninggalkan kampung halaman.

seandainya suatu ketika aku pergi, aku akan pergi untuk kembali. 

untuk apa?

mengejar cita-cita. impian. kebahagiaan.


I'll be hearing my own foot steps under Adelaide sky
Would you be kind enough to remember me
ah, kamu ... 

impian apa yang hendak kau wujudkan. kebahagiaan seperti apa yang kau cari. apa kamu sedang menghukum dirimu sendiri? 

Tan Malaka -yang kerap diasingkan ke luar negeri- pernah bilang; salah satu hukuman terberat selain hukuman mati, yaitu meninggalkan tempat kelahiran, masyarakat, pekerjaan, para teman yang dicintai, dan mengembara tak berketentuan di negeri asing.

won't be back if you could.

aku terdiam. seketika hatiku kosong. tak tahu mengatakan apa. hanya senyum. 


won't be back if you could.

Muhammad, kamu tahu, dengan berat hati hijrah ke Madinah. bukan untuk menetap di sana. ia hanya mengatur strategi,untuk merebut kembali kota Mekah. 

you wish you could tell me earlier. katamu lagi. 


I'll let you know what's on my mindI wish they've made you portableThen i'll carry you around and roundI bet you'll look good on me

Persis setelah Adhitia selesai bernyanyi, Megan Trainor menyahut

so, i'm gonna love you, like I'm gonna loose you
i'm gonna hold you, like i'm saying goodbye

aku ingin menahanmu, tapi siapa bisa apa aku. aku hanya tahu mencintaimu.

jadi, 
aku akan mencintaimu, seolah akan kehilanganmu
aku akan mendekapmu, seolah akan berpisah.   
 



Thursday, 20 June 2013

pernah mimpi




Aku pernah bermimpi dalam tidurku. Aku memimpikan diriku. Aku yang sudah menikah. Punya empat anak lucu, menggemaskan, dan, tentu saja, nakal. Ada juga seorang lelaki di sana, mimpiku. Kami memanggilnya 'Papa.'

Kami menempati rumah yang tdak mungil, tidak juga terlalu besar. Meskipun begitu, halaman rumah kami cukup luas. Halaman depan penuh bebungaan; favoritku kembang kantor. Latar belakang untuk sepetak tegalan. Ada pohon mangga dan rambutan.

Setiap pagi aku akan melepas suami dan anak sulungku yang hendak bekerja dan sekolah. Mengantar mereka sampai jalan depan rumah. Aku akan mengajak dan mengajari si bungsu yang masih dalam gendongan, melambaikan tangan saat mobil melaju. Dua anak kembarku akan berlari mengikuti mobil, berlari-lari kecil di belakangnya sampai mobil menghilang di ujung jalan.

Dulu, aku pernah bekerja di sebuah penerbitan. Namun setelah malaikat kecilku berjumlah lebih dari dua, aku memilih resign. Sekarang, aku hanya sesekali menerima pekerjaan freelance sebagai penerjemah. Inilah yang kulakukan sekarang. Mengurusi keluarga kecilku; memasakkan makanan favorit anak-anak dan Papa mereka; mnyetrika baju, menyiram tanaman; dan masih seabrek pekerjaan rumah lagi…

Bahagia. Di usia muda, punya suami, anak, dan rumah. Meski tak punya pekerjaan tetap, penghasilan masih tetap ada.

Hanya saja, seperti yang aku bilang sedari awal. Semua kebahagiaan itu hanya mimpi. Mimpi yang hanya singgah sebentar dalam tidurku. Saat aku terjaga, aku sadari satu hal. Mimpi itu, ia bukan manifestasi keinginan terdalamku. Ia ada dalam mimpiku, tapi bukan hal yang aku impikan. Bukan mimpiku. Ia mimpi makhluk-makhluk di luarku yang menuntut aku menjadi seperti itu. 

Mimpi itu, bisa saja ia milik ibu dan ayahku yang sudah tak sabar menggendong cucu. Mungkin juga mimpi pacar aku, yang sudah tidak sabar mengkavling aku sebagai Nyonya X. Menyandangkan namanya kepadaku.

Barangkali ia mimpi sauda-saudaraku. Mereka kelak akan kasihan, lebih-lebih malu, sekiranya dalam sejarah keluarga besar ada seseorang yang disebut-sebut sebagai perawan tua...


*pict from visualize



Wednesday, 5 June 2013

perempuan sendu...




Suaranya dalam, seperti datang dari ruang hati paling dalam, dari masa yang telah sangat purba. Tapi aku tak dapat membaca air mukanya. Tak mengerti apa yang sedang ingin dikabarkannya.

Ia terus bercerita. Aku mendengarkan.

Masa mudanya adalah kuncup bunga yang mekar mewangi. Ia, bukan gadis tercantik, bukan yang molek. Bukan yang biasa dibayangkan lelaki dalam fetis. Tapi kesalehan, intelektual, dan nasab bangsawan ada padanya. Ia anggun yang bersahaja. Tidak perlu kerling menggoda agar laki-laki berbondong-bondong datang melamarnya. Ia tak peduli itu.

Ia mencintai anak-anak. Ia menggandrungi berdiri di depan kelas, mengajar. Dunia ia mengabdikan hidup, dunia yang memberinya kebebasan di depan. Dunia yang membebaskannya dari dapur dan kasur.

Banyak pria datang mengetuk pintu hatinya. Tapi tak ada satu pun yang ia terima, sebab ia tidak berhak untuk itu. Ia tidak cerita, adakah di antara mereka, telah ia berikan hatinya.

Hidup, baginya, adalah ketaatan, kepatuhan. Lelaki yang berbagi kasur dengannya; yang memberikannya anak, bukan lelaki pilihannya. Lelaki itu, yang dipilihkan ayah dan ibunya.    

Laras air mata menyusuri gelembur pipi. Tangannya gemulai mengurut lengan  yang pernah menamparnya.

Tatapan lelaki menembus matanya. Menciptakan jeda hening. Mungkin ada penyesalan dan permohonan maaf yang tersampaikan. Suatu permohonan untuk membebaskannya dari perasaan bersalah. Agar ia tidak perlu berlama-lama sekarat di atas kasur rumah sakit dengan tubuh lumpuh, tak bersuara. Agar jalannya untuk kembali kepada Sang Pemilik tidak terhalang.

Apakah kamu mengerti apa itu cinta? Pernahkah kamu merasakannya?  Aku penasaran jawabnya, perempuan.

Ia mungkin saja tidak bahagia bersama lelaki yang tercatat dalam selembar kertas sebagai suaminya. Lelaki pemarah. Gajinya tidak seberapa untuk menghidupi perempuan ini. Lelaki yang menendangnya saat ia khusuk salat. Lelaki yang meniduri perempuan lain, sementara perempuan ini  menidurkan anak-anak di kamar belakang.  
Lelaki yang… semestinya ditinggalkan si perempuan.

Tapi perempuan ini tak mengenal kata lari. Ia hanya perempuan -perempuan beriman nan patuh. Hidup, baginya adalah ketaatan. Taat pada suami sebagaimana dianjurkan agamanya. Menjaga keutuhan keluarga, sebagaimana masyarakat menginginkannya.

Rumah tangga adalah pengorbanan dan pengabdian. Ia menahan diri, ia mengikhlaskan diri, seraya berharap; semoga segala yang telah dilewatinya adalah wujud bakti dan amal. Semoga berpahala baginya.

*pict from here


Thursday, 5 April 2012

makassar #Gate 6


Makassar. Kalau pulang ke rumah saya di Tual sana, baik naik kapal atau pesawat, selalu transit di Makassar. Naik pesawat sih, tidak pernah lama. Dan tidak bisa ke mana-mana. Jika naik kapal, transit bisa sampai 2-3 jam. Lumayan buat jalan-jalan keliling Makassar. Tapi yang ini beda. Nah hari ini, alhmadulillah ada kesempatan berkunjung. Lumayan lama, tanggal 4-8 April 2012.

Sesuai jadwal, penerbangan saya dengan SJ564, Sriwijaya Air, semestinya berangkat pukul 13.05. Ternyata ditunda. Di papan display tertera sampai 13.45. Alasannya sedang pergantian pilot atau kapten. Padahal sebelumnya saya sudah tiba di bandara juanda, Surabaya, lebih awal. Pukul 12.25. Takut ketinggalan pesawat.

Saya membunuh kebosanan saya di ruang tunggu gate 6 dengan diam. Sambil sesekali melirik orang disekeliling saya. Empat petugas bandara yang menjaga loket sibuk bercerita. Suara mereka terdenga cukup jelas. Berbicara diselingi tawa berderai. Beberapa kali terlihat ada penumpang datang menghampiri.

Ada lelaki, saya taksir umurnya 35-40an, datang menanyakan apatah maasih sempat untuk menunaikan salat dhuhur. Petugas mempersilakannya. Ia lalu menghampiri seorang teman, mengajaknya keluar ruang tunggu. Mungkin ke mushola.

Sementara itu, jauh di seberang meja petugas, terdengar suara bayi menangis. Sangat kencang. Saya melengok kanan-kiri. Mencari asal suara. Sedikit bergeser dari tempat duduk, agar dapat melihat si bayi. Padangan saya terhalangi meja petugas. Dan saya mendapati gadis kecil dalam balutan baju warna pink, muka merah, dan tangisan kencang. Itu dia. Duduk dipangkuan sang ibu. Duduk manis sambil menangis.

Tak lama berselang setelah lelakki yang ijin salat. Seorang wanita 60an menghampiri petugas. Dengan menggunakan bahasa inggris ia bertanya kenapa pesawatnya ditunda. Dia sampai sudah kelaparan gara-gara menunggu. Petugasnya menjawab terbata-bata. Bahasa inggrisnya mungkin kurang lancar.

Suara si bayi sudah tidak terdengar lagi. Rupanya ia tenang setelah digendong sang ibu. Sambil menyusu pula. Ah, mungkin bayi pink itu juga lapar gara-gara menungggu.

Sedang lelaki tua di pojok ruangan, tiga kursi dari tempat saya duduk, sudah tertidur pulas. Ia mengenakan baju light cyan dan celana coklat terang. Kepalanya bersandar di kursi, wajah menengadah, dan mulut terbuka. Entah lapar, entah capek. 

Beruntung, penumpang sudah diperbolehkan naik pesawat 15 menit lebih awal dari jadwal tertunda. Mungkin bakal banyak lagi orang-orang lapar, tertidur, atau diam karena bosan.

Ayo, cepat, cepat. Jangan tunda-tunda lagi. Sudah tidak sabar menginjakkan kaki di tanah Ayam Jago dari Timur.

Tuesday, 21 February 2012

Tahayad Panggil Pulang


Ingin ke mana?

Kalau sedang diam di tempatmu, kamu mungkin ingin pergi ke suatu tempat yang mungkin belum pernah kau lihat, kunjungi. Mungkin juga ke suatu tempat yang mungkin pernah kau kunjungi. Dan kau ingin mengulang kenangan.

Tapi bagaimana kalau kau sedang pergi, berjarak dari tempatmu? Apakah kau ingin terus pergi lagi?

Ingin ke mana?

Aku tidak ingin pulang saat ini. Tapi aku ingin kembali, mengunjungi tempat yang selalu jadi rumah untukku. Rumahku adalah Tahayad, orang-orang kadang menyebutnya Tayando.  Tempat leluhurku dilahirkan.

Kepulauan kecil jauh di timur sana. Termasuk dalam teritorial Kota Tual, Maluku. Aku tidak dilahirkan di Tahayad, juga tidak di besarkan di sana. Aku lahir dan besar di Tual, beberapa jam perjalanan laut dari Tahayad. Sejak berumur 10 tahun bersekolah di pulau Jawa.

Meskipun begitu, tubuhku mengalir pasir dan laut tanah Tahayad.

Tahayad, ada tiga kampung; Yamru, El, dan Yamtel. Yamru dan El bertetangga dalam satu pulau, sedang Yamtel di pulau terpisah. Ayahku berasal dari Yamru, sedang mama dari Yamtel. Kami sekeluarga, jarang pulang kampung. Seingatku, hanya beberapa kali kami pulang. Saat liburan panjang waktu TK dan Kerusuhan Maluku tahun 98-99. aku masih duduk di bangku kelas dua SD.

Tahun 98, peperangan melanda Maluku. Peperangn atas nama agama. Mulanya hanya di Ambon, tapi merambat ke daerah-daerah seberang, Tual salah satunya.

Saat-saat genting seperti itu, kamu akhirnya mengungsi, oh bukan, kami akhirnya pulang ke Tahayad. Rumah leluhur yang selalu terbuka. Rumah yang selalu memberi keteduhan saat kamu merasa resah, tak nyaman. Di sini, semua penduduk asli beragama islam, begitu pula pendatang yang hanya seberapa. Aku bebas bermain di luar rumah tiap hari. Tanpa perlu takut diserang tiba-tiba. Setiap malam aku bisa tidur nyenyak. Tanpa harus menyelipkan pisau di bawah kasur atau bantal; khawatir jika ada musuh yang datang. Peperangan yang tak jelas sebabnya, berhasil membuat orang jadi paranoid kala itu.

Tahayad, di atas pasir putih yang membentang, di sela-sela pepohonan kelapa, di bawah sengat sinar mentari, dan belaian angin pantai, aku mendengar ombak membisikkan pesan damai.

Bulan dan Bintang

Dalam kenangan masa kecilku, Tahayad pulau yang lumayan luas. Akan tetapi, pemukiman hanya dibangun di tepi pantai, di atas pepasiran putih. Dengan rumah-rumah menghadap laut. Para lelaki tiap malam pergi melaut, menjaring ikan. Sedang perempuan di rumah menyiapkan ambal babuhuk -makanan pokok dari olahan singkong- yang masih hangat. Nantinya dimakan dengan ikan yang baru saja ditangkap. Aku selalu yakin dan bangga menyanyikan: nenek moyangku seorang pelaut…

Tidak banyak kenangan yang aku punya, kecuali masa kerusuhan itu. Ada hikmahnya juga, setidaknya aku bisa sedikit lebih lama menetap di Tahayad.

Seingatku, jangkauan PLN belum mencapai kampung. Rumah-rumah hanya diterangi lampu minyak atau lampu gas. Hanya saudagar atau orang-orang bugis pedagang yang punya listrik di rumahnya. Aku ingat, di depan rumah tete --kakek-- di Yamtel ada rumah keluarga bugis, almarhum Haji Halim. Di rumahnya ada lampu menyala, ada televisi dilengkapi parabola yang selalu dinyalakan tiap malam. Biasanya dibawa ke teras toko mereka, orang-orang kampung sering nonton bareng di jalan antara rumah mereka dan rumah tete. Oh ya, di kampung, tidak ada rumah berpagar, apalagi pagar tinggi dari beton atau besi seperti rumah-rumah di kota.

Meski tak ada listrik, bukan berarti kampung jadi gelap gulita. Aku tahu, karena pasir yang aku pijak masih berwarna putih, memantulkan sinar bulan dan bintang di atas langit sana. Ya, bulan dan bintang. Begitu dekat, begitu terang. Sesuatu yang sudah lama terlupa. Saat sendirian dalam gelap, di jalan depan kos waktu mati lampu bergilir, aku kembali melihat bulan begitu dekat. Dan aku merasa seperti terbawa kembali ke sebuah dimensi ruang dan waktu; Tahayad.

Arisan Anak

Tak ada listrik, tak ada saluran telepon, dan juga tak ada toilet!

Haha, tapi itu bukan masalah, sus. Karena bagiku yang saat itu masih kecil, semuanya selalu menyenangkan. Acara buang hajat bisa jadi arisan yang menyenangkan. 

Pernah ngobrol sama teman waktu lagi -maaf- pup? Dulu sih sering. Seusai subuh, para sepupuku biasanya datang mengetuk jendela kamar dan membangunkanku agar ke pantai bersama. Mengajak pergi melakukan hajat besar yang sudah ditahan sejak semalam. Saat pagi, air laut masih surut, dan kami, gerombolan anak-anak kecil berjalan mencari ceruk-ceruk air di tengah laut yang sedang surut. Duduk melingkar dan hmmm, buang hajat sambil gantian menceritakan mimpi tadi malam. Kadang-kadang juga mengatur rencana strategi permainan di siang hari nanti. Seru dah.

Seusai buang hajat, biasanya kami tidak langsung pulang, tapi bermain-main dulu. Mencari ubur-ubur dan bia atau kut yau -kerang- untuk main masak-masakan.

Kalau laut sedang pasang, lebih gampang lagi kalau mau buang hajat. Dulu, keramba omku ada yang sengaja dipasang hanya beberapa meter dari pantai, airnya tidak seberapa tinggi. Kami, ponakan-ponakan usil, sering duduk di tepiannya. Tentu saja sedang buang hajat. Sambil mengamati ikan-ikan pada berebutan kotoran kami, lantas tertawa terbahak-bahak. Senang rasanya bisa mengerjai ikan-ikan itu. Lalu saat makan siang, kami mungkin saja tidak tahu, kalau ikan bakar di atas nasi kami diambil dari keramba milik om.

Love you, Nene

Nene -nenek-, hanya ada dalam kenanganku. Sebab sejak pasca kerusuhan aku selalu tidak punya kesempatan untuk bertemu nene Kam, ibu ayahku, hingga akhir hayatnya. Waktu dan jarak memisahkan. Dan kematian memperjelasnya. Aku tidak sempat melihat untuk terakhir kali. Aku tidak pernah bilang aku sayang nene. Aku belum bisa membelikan tembakau untuk nyirih. Aku belum bisa membelikannya kebaya baru. Namun, aku selalu mengingatnya, sebagai nene tersayang. Al Fatihah buat nene…

Dari Yamtel, aku dipindahkan ke Yamru. Dijemput ayah dan diantarkan sepupu-sepupuku. Kami naik sampan bersama-sama.

Di Yamru, aku tinggal berdua dengan nene. Suasana di Tual mulai membaik. Mama, adik, dan Ayah sudah lebih dulu ke Tual. Sementara aku dititipkan pada nene

Nene sudah tua sekali. Untuk keperluan sehari-hari, ia menjual kopi tumbuk yang diolah dari biji kopi di ladang. Nenek punya banyak pohon kelapa. Buahnya yang jatuh dan tua, dipungut nene untuk dibawa pulang. Terkadang bapa pulang kampung, memanjat kelapa, buahnya kemudian dijadikan kopra untuk bahan minyak goreng atau mentega. Kalau kopra sudah banyak, diangkut ke tual dan dijual ke tengkulak.

Kadang, dari kelapa yang terkumpul, nene menyuruhku membawa kelapa-kelapa tersebut ke warung-warung untuk ditukarkan dengan jajan atau mainan. Tak ada uang, barter pun jadi.

Nene selalu ingin membuatku senang dan betah di kampung. Kalau adik ayahku tidak sempat mengirim hasil tangkapan ikan kerumah, nene mengajakku ke pantai saat air pasang. Menggali-gali pasir mencari bia-bia kecil yang tersembunyi. Aku suka menggali-gali pasir. Aku suka bia yang direbus nene. Meski cuma digarami dan diberi sedikit bawang merah dan bawang putih, bia-nya lezat sekali. Apa lagi dimakan dengan nasi yang masih hangat, Hmmm, slurrrp.


Entah kapan aku bisa kembali…

Monday, 6 February 2012

Jilbab Dalam Cermin


Berdiri mematut diri depan cermin. Menatap penuh selidik pada sosok yang menyerupaiku di seberang sana. Hei! Helo? Siapakah kau? Lihat, dari ujung kaki sampai naik ke ujung kepala kita benar-benar sama! Apakah kita kembar?

Hmm… oke. Aku harus memastikan siapa kau sebenarnya. Ada beberapa pertanyaan yang akan kuajukan. Tapi santai saja, ini bukan interogasi di kantor polisi. Silakan jujur sejujur-jujurnya jujur. Tak perlu takut salah. Karena tidak akan mengurangi nilai. Ah, ya. Tidak ada penilaian di sini.

Nah. Apa kau sudah siap? Apa? Oh, tentu. Kau pasti kaget, butuh waktu untuk mencerna sebentar. Dan butuh jeda untuk bernapas. Maaf, aku agak tergesa kalau sedang bicara.

Hmm, bagaimana? Kau siap? Oke. Kita mulai.

(+)catatan= a adalah aku
  b adalah beta



a: Aku akan mulai dari atas. Hm, jangan tersinggung. Apa itu yang menutupi kepalamu?
b: Oh. Tak apa. Ini kerudung.
a: Kau botak?
b: *menggeleng*
a: Gak punya kuping?
b: *menggeleng lagi*
a: Terus?
b: Sekarang sedang tren di kalangan perempuan di negriku.
a: Seperti itu rupanya. Haha. Lantas, apa kau memakainya karena mengikuti tren?
b: Hehe. Tidak seperti itu. Beta sudah memakainya sejak umur 10 tahun. Kelas 1 SMP.
a: Wow. Muda sekali. Kau nyaman? Aku saja yang melihatnya, merasa ribet dan..
b: Gerah?
a: Ya. Kau tahu… jadi, apa alasanmu menutupi kepala, rambutmu dengan sehelai kain seperti itu?
b: Orangtua memintaku memakainya. Sekolahku mewajibkannya. Semua perempuan dalam keluargaku mulai memakai kerudung saat beranjak remaja. 
a: Kenapa?
b: Agamaku, islam, memerintahkan perempuan islam agar menutup kepalanya, rambutnya, sampai ke dada. Inilah identitas perempuan muslim. Agar mereka merasa aman. Terlindungi dari pandangan -bahkan perbuatan yang tak sepantasnya.
a: Kau merasa aman dan nyaman?
b: Biasa saja. Tapi setidaknya beta bisa menyembunyikan rambut yang kusut. Hehe. Beta malas menyisir.
a: Sekarang kau sudah tak bersekolah di sana lagi. Orang tua juga tidak melihatmu. Kau di kota ini. Dan mereka di kota lain. Lalu?
b: Sampai SMA pun beta tetap memakainya, sekolahku lagi-lagi mewajibkan para siswi berjilbab. Kuliah juga begitu. Beta rasa, lama-lama beta terbiasa dengan dengan ini *membelai jilbab*
a: I see. Terbiasa.
b: Guruku bilang jilbab ini semacam remote tubuh. Yang jadi pengontrol.
a: Maksudnya?
b: Pengontrol diriku. Biar tidak berbuat di luar jalur. Gak nglakuin yang tidak-tidak. Jadi, kalo aku mau berbuat jahat, kayak mencuri, nyopet, berbohong, cabul, aku mawas diri. Masa orang jilbaban berbuat seperti itu? Apa pantas?
a: Aha.
b: Maaf, tadi kamu bilang boleh jujur, kan?
a: Ah, kau mau mengatakan sesuatu? Bicaralah. Aku mendengarkan.
b: Hufft.. Sebenarnya. Beta hanya terbiasa. Terbiasa. Beta tidak tahu apa beta berani melepas jilbab ini. Tapi untuk apa beta melepasnya. Namun, apa gunanya juga beta memakai ini. Beta…
a: Kau mau minum?
b: Tidak. Trims. Sebenarnya beta pikir, beta memakai jilbab ini karena beta ingin patuh pada orangtuaku.
a: anak manis…
b: Ibuku sangat keras masalah menutup aurat. Beta mencintainya. Dan beta akan melakukan apa yang dimintanya. Itu sepertinya alasan pertama.
a: Jadi ada yang lain kedua, ketiga dan alasan lainnya dong?
b: Beta sudah biasa dan tidak siap menerima tanggapan orang-orang melihatku berbeda. Bayangkan, sejak usia 10 tahun. Sekarang umurku 20 tahun. Separoh masa hidupku di dunia saat ini, beta terus memakai kain ini.
a: Bagaimana dengan perintah agamamu tadi?
b: Banyak orang yang aman dan nyaman tanpa kain ini. Itu sudah cukup jadi bukti untukku mempertanyakan perintah itu. Mempertanyakan diriku sendiri.
a: …
b: Menjadi seorang perempuan islam, haruskah memakai ini? Apakah identitas itu ditandai dengan hanya selembar kain ini? Identitas sama dengan jilbab. Jilbab sama dengan identitas.
a: Kain seperti itu, banyak di jual di pasar, toko, mall. Siapa saja bisa beli dan memilikinya. Memakainya
b: Hihi. Kau benar. Yang bukan islam juga bisa. Beta sering melihatnya di sinetron-sinetron. J-Lo, juga memakainya saat syuting videoklip I'm into You.
Beta merasa kehilangan arah, pegangan. Terombang-ambing dalam ketidakyakinanku. Beta belum menemukan jawaban atas soalku; kenapa perempuan islam berjilbab? Haruskah? Beta sedang merasa sebagai robot. Ada perintah, dan beta melaksanakan. Itu saja. Beta sedang tidak sungguh-sungguh dengan diriku.
a: *nyimak*
b: …
a: Ada apa?
b: Beta tak tahu harus berkata apa lagi. Beta akan terus mencari. Beta akan terus bertanya. Sampai Beta yakin. Beta bosan dalam ketidaktahuanku. Beta bosan melulu patuh.
a: Yup. Harus.
b: Umm. Trims.
a: Untuk apa?
b: Tidak menginterogasiku.
a: ...?
b: Kamu sudah membiarkan beta bercerita banyak. Mengeluarkan semua yang bercokol di kepala.
a: Ah, bukan apa-apa. Aku rasa sudah cukup. Kapan-kapan, aku mau tanya-tanya soal itu *menunjuk baju.*
b: *meraba-raba baju kaos panjang sepantat. Mencermati.* Apa ada noda?

Tuesday, 31 January 2012

Celoteh Anak


Anak-anak tuh, yah… Ada aja celoteh-celoteh mereka yang buat kita takjub, gemas, dan tertawa. Setiap kali menjenguk kedua keponakankku, Nisa (6) dan Buba (4), tingkah-tingkah mereka sering menghiburku. Sambil menggeleng dan bergumam dalam hati "anak-anakku, kalian sudah besar yah, sekarang."

 Weekend disambung libur imlek kemarin (21-23 Jan), aku sengaja nginap di rumah mereka. Beberapa hari sebelumnya, aku kerap datang, tapi hanya untuk meminjam laptop. Tidak ada waktu untuk bermain dengan anak-anak. Nah, kali ini, dipuas-puasin deh… ^o^

Ceritanya, aku lagi nemenin mereka bobo. Susah banget buat mereka tertidur. Mulai main tenda-tendaan dalam kamar, matiin lampu, ceritain dongeng (dongeng waktu aku lagi nge-date).  Semuanya gak mempan.
"Aku puterkan lagu yah, lagu nina bobo." aku meraih hape dengan putus asa.  Usaha terakhir aku, memutar lagunya DEPAPE, Sakura Kaze. Ini lagu rekomendasi dari Aufa. Waktu aku perdengarkan untuk Ellik dan Winda, mereka bilang cocok buat pengantar tidur.

But guest what…

Setelah didengar beberapa kali, Nisa penasaran juga. "Ini lagu apa sih? Kok gak ada suaranya?" haha.., nak, tante lupa kasih tahu ya, ini musik instrumen.

"Lagunya gak romantis." cetusnya. Tueng, tueng. Dia bilang apa tadi? ROMANTIS?

"Wkakakakakaka." aku gak kuasa menahan tawa.

Sambil menahan senyum aku langsung mengirim pesan singkat ke Aufa; bilang ke dia kalo lagunya gak romantis menurut ponakanku. Juga curhat, dari mana ponakanku bisa mengeluarkan kata romantis. *tebakanku sih, korban sinetron. Mama dan tante-tantenya suka nonton tivi.

"hayo,,, Ma Novi sms cowoknya yah?" ledek Nisa.

"Gak kok."

"Habis senyum-senyum gitu." gantian Buba menggoda.  *ini sisa ngetawain kakak kamu, sayang..

"Ah.. Aku pusing deh. semua mama-mamaku (maksudnya tante) pada punya pacar." kok kamu yang pusing?, Nis "Ma Ica punya pacar, Ma Rika juga. Sekarang Ma Novi." Sok tahu deh,,,

"Kamu udah punya pacar, Kak?" tanyaku pada Nisa.

"Gak punya. Kata mama itu gak boleh." bener nak,,, kamu masih kecil buat pacar-pacaran. "kalo dedek tuh, pacaran. Sama mas Afif. Kalau ketemu mereka main berdua."

"Gak kok," tukas Buba yang sedari tadi sibuk denga hape. "udah ganti. Sekarang ama Morgan."

Hah? Aku semakin melongo. Jadi buba pacaran sama Morgan Sm*sh itu?

my baby, my baby,,, ada-ada saja. *ngelus dada*

ini Buba,




---------->>>
ini Morgan. pacarrrrnya???

Thursday, 30 June 2011

Laskar hijau,,,


pertama kali ke laskar hijau, di Klakah, Lumajang, bulan juli tahun 2010,, lupa dah tanggal pastinya. waktu itu ceritanya bareng Ariph ()yg make topi kupluk) Muchlasin (di pojok kanan) nemenin winda (jaket merah putih) liputan. selama di sana ditemenin ma Noven...

langsung jatuh cinta we, pengen ke sana terus, nanam pohon, merawat tanaman,,,. melakukan hal-hal sederhana yg sudah mulai dilupakan orang banyak.

Monday, 11 April 2011

yuri & teri




Yuri?

Ry, yuri?

Di manakah, kamu?



Kemana kamu belum muncul juga? Sebentar lagi hari akan rembang. Aku takut jika harus pulang sendiri. ibu bilang anak nakal yang masih keluyuran waktu magrib akan ditangkap setan. Ngeri!

Kalau kamu tidak bisa datang kenapa saat pulang sekolah tadi kamu tidak memberitahuku? Tiap sore kamu dan aku harus datnga ke taman ini. Dunia kita berdua.

Seringkali, kau duduk selonjor di depanku. Khidmat. Mendengarkan celotehku cerita-cerita yang aku sadur dari Uti Ni, kadang-kadang juga aku tambahkan dari dongeng Kung Fu. Tapi kamu lebih suka tidur-tiduran sembari membaca coretan-coretan dalam buku bersampul pink. Kamu bilang lebih asyik membaca ceritaku dari pada mendengar suaraku, cempreng ejekmu.



Huh, dasar! Aku sangat marah. Tapi entah kenapa, aku tidak pernah punya kekuatan untuk memarahimu. Kamu mau bilang aku nenek sihir sekalipun, aku akan menganggapnya sebagaai puian. Sebab sekian lama dekat dengamu, aku tahu, kamu bukan tipe orang yang suka memuji, mengakui perasaanmu sendiri.

Hanya lukisanmu yang berbicara jujur. Gadis kecil, mata berkaca. Nenek tua dengan senyum lebar menampilkan gigi utuh, dan sisa merah sirih pinang di sudut bibir. Bayi dalam dekapan ayah, duduk di bangku taman. Aku suka semuanya. Beberapa kali sudah aku minta dilkusi, tapi kamu selalu saja mengelak. Katamu, wajahku jelek. Bisa-bisa kuasnya patah semua. Tuh, kan... Kamu memang menyebalkan.
Setidaknya aku masih terhibur mendengar nada gitar menyatu dengan suaramu. Syahdu. Menyenandungkan kisah indah.
Just a smile and the rain is gone
Can hardly believe it (yeah)
There's an angel standing next to me
Reaching for my heart

Just a smile and there's no way back
Can hardly believe it (yeah)
But there's an angel calling me
Reaching for my heart
Dan mungkin satu kesalahan besar. Karena tiap kali kamu memainkannya lagi dan lagi. Aku selalu berpikir 'that angel must be me.'
Malaikat di atas sana menyapukan cat hitam menutupi mozaik-mozaik merah. Langit, Yuri, sudah benar-benar gelap. Kamu tidak datang. Aku pulang dengan ketakutan. Selamat dan utuh sampai rumah. setan tidak menculikku. Dia tau, kuk, aku bukan anak nakal. Hanya seorang gadis malang, menunggu teman yang entah kenapa lupa menepati janji. (oh, sebaiknya, kamu harus hati-hati. Jangan-janngan setan akan menyantumkan namamu di daftar anak nakal.)ketakutanku lebih pada kamu juga tidak akan datang keesokan hari.
#### #########

 

Moonlight Sonata

Suatu sore Ludwig van Beethoven dan seorang temannya sedang berjalan-jalan. Ketika mereka melewati jalan sempit nan gelap, terdengar alunan musik dari sebuah rumah kecil.

"Sst!" kata Beethoven, "ini salah satu karya terindahku."

Tiba-tiba ada suara berkata, "aku tidak bisa memainkan lagi –ini teramat indah! Aku berharap bisa mendengar karya ini dimainkan oleh seseorang yang pantas melakukannya."

Tanpa sepatah kata, Beethoven dan temannya memasuki rumah tersebut. Rumah seorang tukang sepatu miskin. Sesosok gadis muda duduk di hadapan piano.

"Permisi," ujar Komposer hebat tersebut. "Saya pemusik. Saya dengar kamu bilang ingin mendengar seseorang memainkan karya yang baru saja kamu mainkan. Maukah kamu mengijinkan saya memainkannya untukmu?"

"Terima kasih sekali", jawab si Gadis, "tapi piano kami sudah tua. Lagipula kami tidak punya lembaran musik".

"Tidak ada lembar musik? Lantas, bagaimana kamu memainkannya?" tanya Beethoven.

Gadis tersebut memalingkan wajahnya menghadap sang maestro besar. Diamati lebih dekat, dia tau bahwa si gadis ternyata buta.

"Aku memainkannya berdasar memori", ujar si gadis.

"Dari mana kamu mendengar karya yang baru saja kamu mainkan tadi?"

"Aku biasa mendengar seorang perempuan sedang berlatih dekat rumah lama kami. Selama sore musim panas, jendelanya terbuka, lalu aku berjalan ke sana dan dari mendengarkannya dari luar". Jawab si gadis.

Beethoven duduk di depan piano. Si gadis buta dan saudara laki-lakinya dengan terpesona mendengarkan permainan sang maestro. Pada akhirnya si tukang sepatu datang mendekat dan bertanya, "Anda siapa?"

Beethoven tidak menjawab. Si tukang sepatu mengulang pertanyaannya, dan sang maestro tersenyum. Ia mulai memainkan karyanya yang coba dimainkan si gadis.

Semua yang mendengar menahan napas. Ketika permainan usai, mereka berteriak, "andalah maestro itu! Anda adalah Beethoven".

Ia bangkit untuk pergi, tapi mereka menahannya kembali. "Mainkahlah untuk kami sekali lagi –hanya sekali saja", pinta mereka.

Ia kembali duduk di depan piano. Cahaya cerlang bulan bersinar di dalam kamar kecil nan sederhana.

"Saya akan menggubah sebuah sonata untuk sinar bulan", katanya. Untuk beberapa saat ia memandang penuh perhatian pada langit cerah yang diterangi bulan dan kerlip bintang. Kemudian jemarinya berpindah dari tuts-tuts piano yang terlihat tua. Lewat nada rendah, sedih, dan manis, ia memainkan karya barunya. Akhirnya, ia menyorong kembali kursinya, dan sambil berbalik menuju pintu ia berkata, "selamat tinggal semua!"

Ia berhenti dan memandang lembut wajah si gadis buta. "Ya, aku akan datang lagi untuk mengajarimu musik. Selamat tinggal! Aku akan segera kembali!"

Beethoven berkata pada temannya, "ayo bergegas agar aku bisa menuangkan sonata ini selagi aku masih mengingatnya!"

Begitulah bagaimana karya terkenal Ludwig van Beethoven "Moonlight Sonata" tercipta.



Diterjemahkan dari "The Moonlight Sonata"

Thursday, 7 April 2011

Nenek tua; Anak laki dan perempuan.


Dia telah pergi, semoga dengan tenang. Semoga dia tahu betapa aku juga menyayanginya. Meski mungkin mendendamnya.

 

Karena kau sudah disana, dan aku belum sempat mengatakannya. Lewat puisi ini aku ingin kau tahu. Siapa yang merawatmu saat kau gila dan pikun? Anak perempuanmu, serta anak-anaknya.
Bajumu yang menyebarkan bau busuk, tinja berceceran di dalam kamar, serta tubuh penuh koreng. Siapa yang bersihkan? Anak perempuanmu, serta anak-anaknya.
Lapar, haus, mandi, tidur. Siapa yang layani? Anak perempuanmu, serta anak-anaknya.

 

Saat kau pikun dan tak waras, sepertinya tidak sempat tercatat rapi dalam memori. Jadi aku akan membantumu untuk mengingatnya. (aku tidak sedang menumpahkan marah)
Perempuan-perempuan yang selalu kau marahi, jatah makannya sering kau berikan pada anak laki-laki. Menurutmu, laki-laki itulah darah dagingmu, akan selalu menjagamu. Yang perempuan, akan jadi milik orang lain, untuk apa dihidupkan?

 

Kau tahu? Ah, sudah jelas tidak. Mungkin ketika lelakimu masih kecil, muda, bujang, mereka selalu pulang padamu. Minta makan, dicucikan baju, dan barangkali sedikit duit.

 

Tapi ketika perempuan lain hadir dalam hidup mereka, kau bukan siapa-siapa lagi. Dibanding perempuan serupa ratu di mata mereka. Ya, istri mereka itu. Hah.... Belum lagi dengan boneka-boneka kecil karya persatutubuhan mereka. Kau semakin terpinggir. Perempuan tua, tugasmu menemani boneka-boneka mereka. Bilaperlu juga ikut membersihkan rupa, kalo si ratu tidak sempat. Mencucikan baju boneka-boneka, sebagai penyayang anak dan anak-anaknya.

 

Oh, tidak. Itu mungkin masih mendingan. Lihat, dengan kondisimu seperti itu, pikun, koreng sekujur tubuh, kadang-kadang gila. Jelas lelakimu enggan menerima. Takut menular pada ratu-ratu mereka, apalagi boneka-boneka kecil, lucu, imut, dan menggemaskan. Tamatlah sudah. Kemana lagi kau hendak berlabuh, jika tidak pada perempuan-perempuanmu.

 

Air mata menyusuri pipi, suara tersedak. Sumpah, betapa pedih menyaksikan tubuh dan jiwamu yang makin membayi. Perempuan-perempuanmu lah, membelaimu seolah boneka kecil yang tak pernah kauberikan pada selama hidupnya.

 

Bila akhirnya puisi ini sampai padamu, entah dengan cara apa. Tak perlu kau sesali. Sumpah, aku tidak ingin mebuatmu merasa bersalah.

Saturday, 26 March 2011

perempuanku #habis

Ibuku menitis dalam perempuan ini, Murni, datang apadaku dengan caranya yang purba untuk dunia post-mo. Ia bukan perempuan foedal, seperti potret putri-putri kerajaan jawa, bukan. Sudah kubilang, purba.

Ia kembali dengan caranya yang sederhana. Seperti kehidupan di masa komunal primitif. Bertahan hidup menggunakan cara dan peralatan sederhana. Bergotong royong. Kekayaan alam adalah milik bersama, tidak ada kapling-kapling tanah, harta atas nama pribadi. Seperti itulah kiranya manusia memperlakukan perempuan. Dari masa itulah ibuku lahir.

Murni, perempuan dihadapanku, perwujudan reikarnasi perempuan di zaman ibuku. Mencintai murni, menghargainya sebagai manusia komunal modern. Dirinya, jiwanya, tidak bisa dibeli dengan uang, dan menjadikannya sebagai barang simpanan, atau boneka yang dipamerkan di setiap jamuan makan malam.

Wednesday, 23 March 2011

yang terbaik #3

Si gadis ingin segera menyudahi perang dingin yang melanda keluarganya. Ia sudah bosan melihat ulah laku kedua orang tuanya. Jika berpapasan, langsungsung membuang muka. Si gadis tahu, sekarang meski serumah, tapi sebenarnya mereka sudah lama pisah ranjang. Mami tetap tidur di kamar utama, sedang papi lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerja. Ada kasur lipat, berjejalan dengan kaleng-kaleng cat, palate, dan kuas-kuas yang berserakan.

“Mereka dulu dijodohkan. Masih saudara jauh.” Kata neneknya suatu hari. Oh, ceritanya biar merekatkan kembali kedua belah pihak keluarga besar. Kalo begitu saat aku lahir, harusnya mereka sudah boleh berpisah. Kan, sudah ada aku.

Saat si gadis masih berumur enam tahun, orang tuanya bertengkar hebat. Meski tidak memecahkan gelas, melempar panci, menendang kursi, atau meninju cermin di kamar mandi seperti biasanya, namun pertengkaran inilah yang terhebat. Akumulasi dari sekian banyak pertengkaran kecil-besar. Mereka berdua hanya mengucapkan satu kata bersamaan, “cerai!!!”

Yang dipanggil gadis kecil sebagai papi lalu meninggalkan rumah. membawa serta travel bag kecil. Ia mengantar sampai ke depan pintu.

“Papi, sukses, ya! Jangan lupa oleh-oleh. Da-da, Papi....” ia melambaikan, senyumnya semakin lebar. “I love you, Papi.” Ia sangat senang melepas keberangkatan ayahnya.

Tiga hari kemudian ia dikejutkan dengan kedatangan keluarga besar mami dan papinya. Mbak Susi, adik ibunya, diminta untuk mengantarkan si gadis ke hotel tempat ayahnya menginap. Ia semakin terkaget-kaget.

“Kalian ini....” Opa Josep memandang anaknya, papi, tajam. Lalu berganti manatap menantunya. “Anak masih kecil, ingusan, udah main ditinggal, saja.”

“Benar itu. Tidak baik untuk perkembangannya.” pasti yang dimaksud Kakek Lim itu aku, batin si gadis. Orang mengira gadis yang duduk di pangkuan mbak susi itu tidak mengerti apa-apa. Sesungguhnya, dialah yang paling mengerti, bukan mereka.

“Pikirkan lagi, jangan melulu kepentingan kalian yang di utamakan.” Kelak ketika di dalam kamar ia mendengar ibunya berkata; huh, aku menikah juga karena kepentingan kalian, kan? Brengsek!

Thursday, 27 January 2011

yang terbaik

Semua orang mengeluh, menyayangkan, beberapa mungkin bosan dengan berita perceraian selebritis yang hampir tiap hari muncul di layar telivisi.

Klik.

Si gadis lebih memilih mematikan tv. Memejamkan mata. Dan seandainya aku bisa mengenyahkan slide-slide yang terus menghantui. Wajah-wajah orang yang sangat dikasihi datang silih berganti. Ia ingin mengenyahkannya juga. Seandainya saja semudah menekan tombol power pada remote.

Tuh, kan. Mereka datang lagi! (someone, help!)

Mami selalu tampak cemas. Aku gak suka melihat bibirnya yang terus menerus melengkung ke bawah. Setiap pagi dengan mata bengkak dan cuping hidung kemereh-merehan, ia memasak nasi goreng untuk sarapan. Tolong jangan tularkan kesedihanmu. Si gadis menelan suapan nasi goreng cepat-cepat. Tidak ingin merasakan haru dalam rasanya.

Papi. Wajah yang selalu sangar, bahkan saat tersenyum sekalipun. Lihatlah matanya, tatapannya seperti puscuk pistol yang ditodongkan tepat di keningmmu. Membunuh. Amunisinya selalu penuh. Bisa membunuh mami dan si gadis kapan saja. aku tak pernah berani menantang matanya secara langsung. Aneh, dia papiku. Kenapa dia ingin membunuhku. Aneh, mami adalah istrinya. Kenapa ingin membunuhnya. Si gadis melahap sarapanku lebih cepat lagi. Ingin menghilang dari tatapan papi.

Setiap hari, si gadis sudah bangun pagi-pagi sekali. Melahap sarapan secepat kilat. Lalu pergi kemana saja. asalkan tidak terperangkap di rumah. pulang saat semua sudah tidur. Ia tak pernah betah di rumah. terlalu banyak hal yang tak ingin dilihat, didengar, dan dikenang.

Tuesday, 18 January 2011

perempuanku #3

“Kenapa?”

“Karena kau adalah perempuanku.”

“Lantas?”

“Aku hanya ingin kau jadi milikku; aku. Saja.”

“Aku tidak mengerti.”

“Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. Apa kau pernah mendengar kisah ini.”

“Haha....”

“....”

“Jadi karena itu, kau harus tahu; hanya karena aku perempuan, hawanya adam, bukan berarti aku milikmu. Menurutimu, melayanimu. Jadi budakmu. Aku tidak pernah berharap diciptakan dari tulang rusukmu, mencurinya. Ambil saja hidupku, jika kau tidak setuju pendapatku.”

“Sombong sekali.”

“Sombong. Angkuh, angkuh sekali.”

Ya, seperti ibu. Aku melihatmu, bu. Sosok didepanku ini, apakah dirimu?

“Cincin ini aku kembalikan.”

“Itu aku berikan padamu. Tolong jangan kembalikan.”

“Aku tak ingin diikat.”

“Itu hadiah, bukan pengikat.”

“Kau yakin?”

“Ya, aku..., aku..., aku..., aaarrrgh”

“Oke. Aku percaya.”

“Kau tahu, aku hanya ingin melindungi.”

“Burung, tidak pernah mengharap hidup dalam sangkar emas.”

Ibu, kau benar-benar hadir di sini. “Maafkan aku. Terbanglah bebas, jelajahi alammu, burung mungil.”

“Jangan takut. Burung tidak pernah lupa arah pulang ke sarangnya.”

Wednesday, 12 January 2011

nadin,

“Nadin, di sini saja ya? Main sama tante.”

Nadin hanya menggeleng

“Tapi nadin tidak boleh masuk,” Nadin menatap wanita itu sejenak. Baju putihnya rapi, didisipkan kedalam rok hitam. Tangan kanannya memegang blazer hitam, dan tangan kirinya tak berhenti membelai kepala Nadin penampilannya sedikit mirip guru di sekolah.

“Pokoknya, tante, Nadin mau..... ” entah kenapa jantungnya berdetak kencang sekali. Sakit. Ia berpegang pada sandaran bangku taman, “mami-papi cerai saja”. Seolah ada bongkahan batu yang menggelundung bebas dari ringga dadanya. Ia buru-buru duduk sebelum akhirnya roboh.

Wanita mirip bu guru menaikkan kacamatanya yang tiba-tiba melorot, lalu menghampir Nadin. Duduk berdampingan.

“Nadin, tahu cerai itu apa?” Dia ragu dengan perkataan anak kelas 2 sd tersebut.

“Sesuatu yang sangat diinginkan mami-papi.”

“Kalo mami-papi cerai, artinya mereka tidak hidup bersama lagi. Mami akan tinggal di rumah mami sendiri. begitu juga dengan papi. Kalian akan.....”

”bagus dong”

“Hidup terpisah”

“Jadi nadin dan dede punya dua rumah”

“Kalian akan jarang bertemu, tidak seperti dulu lagi.”

“Nadin mau kasih tau teman-teman. Kalo Nadin punya dua rumah”

“Tidak bisa tidur dengan mami-papi, bermain berempat”

“Nanti kalo papi beli rumah lagi, aku mau punya kamar yangg lebih besar.”

“Nadin.” Ia memegang pundak si gadis kecil

“Kalo ada PR bahasa, nadin ke rumah papi. Papi jago buat pusi. Makanya dulu mami jatuh cinta. Kalo sains, nadin tinggal pulang ke rumah mami. Mami kan dokter, pasti hebat. Papi bilang, kalo mami pake jas lab, mirip bidadari.”

Dia melirik si gadis kecil. Nadin, tatapannya lurus kedepan. Mengoceh dari tadi, seperti ingin meneriakkan kekesalannya. Apa dia frustasi dengan hubungan orangtuanya? Kadang, anak-anak juga sudah bisa stress. Ia melirik sekali lagi. Gadis ini, tak sedikitpun mengeluarkan air mata.

“Jika akhirnya mereka bercerai, mamimu mungkin akan menikah lagi, papi sekarang malah sudah punya.”

“Aku senang Om Adi jadi papaku nanti. Aku juga sayang sama Mama Sandra. Dia cantik, seperti barbieku.”

“Kenapa?” anak-anak seharusnya menjadi penaut hati kedua orang tua.

“Dalam doa, pertengkaran, pergulatan, pergumulan mami-papi. Cerai-cerai-cerai. Nadin mendengarnya, Tante.”

Dia meraih gadis kecil kedalam pelukannya. Dibalas pelukan, erat, erat sekali. Nafas memburu. tak ada tetesan yang membasahi bajunya. Tak ada sesenggukan yang terdengar.

Ah, gadis kecil. Nadin....

Monday, 10 January 2011

pak tua dan gulo kacang #3

“Kacang, mbak.” Tawarnya sambil tersenyum. Hm..., manis. Saya membayangkan gigitan gulo kacang, gula merah bercampur air liur. Luber di lidah. Tak sadar saya menjilat-jilat bibir. Benar-benar manis! Lagi-lagi saya menghampiri pak tua dan gerobaknya. Sialan. Padahal beberapa hari ini sedang diet kacang. Saya termakan mitos yang dikasih tahu teman beberapa hari lalu; konsumsi kacang dapat menyebabkan jerawat. Dahi dan pipi saya sudah sesak dengan bintik-bintik merah dan noda-noda hitam bekas jerawat.

Beruntung, duit sepuluh ribu yang dikantong bukan milikku. Titipan teman saya. Waktu saya cerita tentang pak tua dan gula kacangnya, dia bilang saya mirip ayahnya. Sama-sama suka gulo kacang. Tak apa tidak turut mencicipi, beli saja saya sudah senang.

Ketika kutawari daganganku, kulihat dia menjilat-jilat bibir sambil memejamkan mata. Apakah dia sedang membayangkan nikmatnya kacang dan gula merah bercampur air liur? Terasa sekali manisnya saat luber di lidah. Kesekian kali dia menghampiri gerobakku. Aku tidak tahu kenapa dia masih suka makan gulo kacang, padahal aku lihat jerawat di pipnya banyak jerawat dan noda-noda hitam. Kan, kata orang sering-sering makan kacang nanti timbul jerawat.

Kali ini dia beli sepuluh ribu. Biasanya Cuma satu. Aku jadi sedikit curiga, jangan-jang titipan seseorang yang mirip dengannya. Sama-sama suka gulo kacang. Tak apalah kalau bukan uangnya, ada yang beli saja sudah senang. Apalagi sebanyak ini.
Lagi, dia menghampiri pak tua saat ditawari kacang. Bagaimana bisa menolak? Bayangan gulo kacang bercampur liur dan luber di lidah begitu menggodanya. Alangkah manisnya. Sampai mejilat-jilat bibir segala. “banyok konsumsi kacang, bisa menyebabkan jerawat, loh” aku mengingatkannya. Jerawat sudah memadati dahi dan pipinya. Mana, meninggalkan bekas kehitam-hitaman juga.

Lihat dari caranya berkisah, aku tahu dia lwbih menikmati beli gulo kacang daripada rasanya. Aku teringat ayah yang juga suka gulo kacang. Duit sepuluh ribu kuberikan padanya. Aku sendiri tidak terlalu suka. Yang penting dia senang, ayah senang. Tak apa tidak turut mencicipi.

*** *** ***

Tuesday, 4 January 2011

pak tua dan gulo kacang #2

Ujung jalan, di emper toko Cik Mei. Dari belokan gang, Saya selalu melihat dia duduk bertumpu di atas kaki, kedua tangan bersilangan memeluk lutut erat-erat. Membunuh angin malam. Entah kenapa langkah kaki menuntun saya ke emper toko Cik Mei. Dia gegas berdiri saat saya hampiri, badannya sedikit oleng mau jatuh. “kacang, nduk?” senyumnya memperlihatkan deretan gigi, tidak utuh. “Gulo kacang, pak, setunggal mawon.” Matanya mengerjap-ngerjap memantulkan spektrum orange dari lampu minyak. Caranya menyambut saya seperti berlebihan. Jangan-jangan saya pelanggan pertama hari ini.

Emper toko Cik Mei tempatku mangkal, dekat ujung jalan. Aku sedang duduk sambil memeluk lutut dengan erat, terlihat dia muncul dari belokan gang itu lagi. Kupererat pelukan, mencoba membunuh angin malam. Biasanya dia hanya lewat, kali ini dia berjalan ke arah toko. Aku tergesa-gesa berdiri saat dia datang, badanku sedikit oleng. Otot-otot pipi dan bibirku ku tertarik menampilkan deretan gigi yang sudah tanggal. “kacang, nduk?” mata tuaku mengerjap-ngerjap menangkap bayangannya lewat sinar lampu minyak. “gulo kacang, pak, setunggal mawon.” Mungkin caraku menyambutnya sedikit berlebihan. Dia pelanggan pertama hari ini.

Di ujung jalan memang banyak yang berjualan, kalau di emper toko Cik Mei, ada yang jualan kacang, ujarnya. Dari kejauhan, belokan gang, dia sedang duduk memeluk lutut erat-erta. Membunuh angin malam. Mungkin angin juga yang menuntunnya ke arah toko Cik Mei. “dia bergegas berdiri, sampai oleng mau jatuh” dia menceritakan adegan saat penjual itu dihampiri. Penjual itu menanyainya apa dia akan membeli kacang. “gulo kacang, pak, setunggal mawon.” Katanya dia menjawab seperti itu. Mata penjual itu mengerja-ngerjap ditimpa cahaya orange. Menurutku terlalu berlebihan cara pennjual itu menyambutnya. Mungkin dia pelanggan pertama.

Monday, 20 December 2010

pak tua dan gulo kacang

Garis-garis lengkung ke bawah, menghiasi pipi, kerutan di dahi menggambarkan bahwa sang empu sudah tak lagi muda. Pancaran matanya hampir redup, tapi menyimpan banyak harap untuk bisa bertahan. Badannya terlihat ringkih dari balik pakainnya yang selalu terlihat kebesaran. Kakinya kurus sekali. sulit membanyang kaki-kaki kecilnya menyusuri jalan, menuntun gerobak jualan.

Kacang. kacang kulit, gulo kacang. Gulo kacang, kacang kulit. Setiap hari.

Garis-garis lengkung ke bawah, menghiasi pipiku, kerutan di dahi menggambarkan aku sudah tua. Pancaran mataku mungkin mulai redup, tapi masih menyimpan banyak harap untuk terus bertahan. Badanku sudah ringkih di balik pakaian yang kebesaran. Kakiku kurus sekali. Namun tidak sulit bagi kaki-kaki kecilku menyusuri jalan, menuntun gerobak jualan.

Kacang, kacang kulit, gulo kacang. Gulo kacang, kacang kulit. Setiap hari.

Garis-garis lengkung ke bawah, menghiasi pipi, kerutan di dahi menggambarkan sang empunya sudah tua, ceritanya. Pancaran matanya hampir redup, tapi menyimpan banyak harap untuk bisa bertahan, itu yang menarik hatinya. Dia bilang badannya ringkih, dilapisi baju yang selalu terlihat kebesaran. Dan kakinya kurus. Aku juga sulit membayangkan kaki-kaki kecilnya menyusuri jalan, menuntun gerobak jualan.

Kacang. Kacang kulit, gulo kacang. Gulo kacang, kacang kulit. Setiap hari
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...