Sunday, 26 May 2013

Sudirman Cup


Lihat si Owi dan Butet nihh. Sama-sama machonya. Haha... kalo kata Ipeh, Owi tambah cakep dengan jenggotnya.

Saya sedang berbahagia sekaligus sedih…

Berbahagia karena akhirnya bisa nonton pertandingan bulutangkis setelah melewatkan beberapa perlombaan terakhir. Bukan nonton langsung di stadion sih, tapi lihat di tipi ajah. Itu juga cuma lihat satu partai pertama pertandingan Quartal Final Sudirman Cup. Indonesia melawan China; Owi-Liliyana vs Xu/Ma.

Indonesia ketemu China sebelum Final itu celaka 13! Saingan berat. Sudirman Cup pertama kali digelar di Jakarta tahun 1989, Indonesia keluar sebagai pemenangnya kala itu. Setelah itu Indonesia belum pernah memenangkan kembali tropi pada ajang yang diselenggarakan dua tahun sekali. Paling Banter jadi runner-up, sementara Chinasudah 8 kali jadi juara.

Waktu QF Sudirman Cup berlangsung, saya sedang mengantar mama saya ke pelabuhan, dan numpang nonton di salah satu warung. Gak enak kan nonton lama-lama padahal hanya pesan segelas es susu coklat… Demi melihat Owi dan Butet (Liliyana) menang, rasanya sudah lebih dari cukup.
Pertandingan sisanya, Ipeh, Mas Cecep dan Puput menontonkannya untuk saya. Mereka berbaik hati melaporkan setiap perekembangan lewat SMS, WA atau Facebook.
Kalau sedihnya, lebih karena Sudirman tidak bisa pulang ke Indonesia maning. Indonesia lagi-lagi kalah dari tim China, 3-2.

Kalau foto yang di bawahnya ini, aku dapat dari link yang dibagi mas Cecep... padahal ini media resmi loh, bisa-bisanya yah nulis Indonesia "INDONS"...


Saturday, 18 May 2013

menyesali


Aku ingin kamu tahu, karena kucinta kau, bahwa kau selalu menghadirkan sendu dan pilu atas ingatan dan kenangan tentangmu. Bukan kesedihan karena perpisahan. Melainkan hati yang mungkin menyesali diri -- pernah jatuh hati kepadamu.

Apa yang kaurasakan jika kautahu ini...?

Monday, 13 May 2013

i'm into you

sebenarnya hari ini, 11 Mei, sama saja bagi saya. tidak ada yang istimewa di hari wisuda. tapi bagi keluarga saya ini sangat istimewa. nilai skripsi, sudah tahu. ipk, cumlaude. saya sudah tahu jauh sebelum wisuda. yah saya anggap ini semacam resepsi saja.

justru, hari ini sedikit sendu. saya selalu mengingat bapa saya yang telah tiada. kelulusan ini, saya hadiahkan kepada bapa. saya tahu, dialah orang yang sangat berbahagia.

dia yang selalu menyiapkan sekolah saya. yang menyiapkan seragam saya selalu bersih, tersetrika rapi. yang selalu membersihkan sepatu saya. melebihkan uang jajan saya kalau sedang sekolah. yang paling rajin membelikan buku-buku pelajaran saya. dia, yang selalu berseri-seri saat menerima raport saya.

bapa, ufweknon li rek o, bap.

Friday, 3 May 2013

Buruh


balaikota Malang, 1 Mei 2012


Sekarang, saya mungkin bukan buruh. Buruh dalam arti sebenarnya (berarti ada arti yang gak sebenarnya). Tapi suatu ketika ada kemungkinan jadi buruh. Kecuali, saya berani memutuskan untuk bekerja yang bukan buruh. Melahirkan komoditas yang bisa menghasilkan uang. Dan dengan uang itu saya bisa memenuhi kebutuhan saya akan komoditas lain.

Mahasiswa semacam saya, sejak masuk sekolah dasar sampai bangku kuliah sudah digadang-gadang oleh orang tua dan kerabat agar kelak jadi buruh. "Nak, kalo sudah besar jadilah arsitek atau dokter." Anak-anak kecil, bahkan sudah diproyeksi kelak jadi apa. Kalo ditanya cita-cita-nya pasti pada bilang jadi polisi, pilot atau dokter dan guru. Jarang-jarang gitu yang mau jadi seniman dan penulis. 

Saya bilang disiapkan jadi buruh. Lah, apalagi coba namanya. Dalam dunia kerja sekarang, kan, hanya ada dua posisi pemilik modal-pemilik tenaga, majikan-buruh, atasan-bawahan.

Mungkin bukan sebagai buruh dalam artian harfiah. Misal tukang nglinting di pabrik rokok atau buruh bathil. Tapi bisa saja jadi buruh bagian HRD, supervisor, manajer, atau guru. Apa pun lah, yang masih di bawah bos posisinya.


Tidak ada maksud menyinggung. Jangan tersinggung kalau yang manajer disamakan dengan buruh kasaran. Sebab toh nyatanya memang begitu. Cuma beda kelas saja. Pengkelasan yang kadang bikin sesama pekerja merasa begitu jauh satu sama lain. Asing. Kalo katanya eyang Marx alienasi.

Bukan itu saja, buruh-buruh ini terasing dari diri mereka sendiri. Buruh manajer, menyunggi kepentingan majikan untuk terus meningkatkan pendapatan dan mengawasi buruh-buruh di bawahnya. Buruh di bagian produksi, menyunggi kepentingan majikan untuk terus bekerja dan bekerja. Bekerja untuk menambah pundi uang-majikan. (Susah juga sih yah jadi buruh kasaran ini. Kerja susah, dibayar dikit. Kalo mogok kerja, perut mau dikasih makan apa?)

Saya heran, kenapa tiap Hari Buruh yang demo mesti pekerja-pekerja bawahan dan mahasiswa saja yang merayakan (aksi). Menurut saya, saat Hari Buruh (1 Mei) kemarin, manajer-manajer, semua pekerja di mana saja mestinya turut berpartisipasi  (dalam aksi) juga dong . Meski mungkin tidak turut merayakan Hari Buruh, itung-itung tenggang rasa sesama buruh gitu… :D



Sunday, 28 April 2013

the cutest cat

meooow.....

this happy cat is 5 years old

i am a sleepy cat too. call me Buba!



Saturday, 20 April 2013

Teman…




Dengannya,
Kamu tak perlu menahan kentut hanya untuk menjaga harga dirimu.
Kamu tak pernah malu memesan porsi tambahan, karena takut gemuk.
Kamu tak malu menghabiskan makan, cuma buat jaga imej.

Dengannya,
Kamu pede bernyanyi, merusak pendengarannya dengan suara cemprengmu.
Kamu merasakan senyap yang damai, tanpa kata, sebab dia setia di sampingmu tanpa banyak tanya.
Kamu leluasa berbagi gemuruh ide-ide yang riuh di kepalamu, tanpa takut dibilang liar.

Dengannya,
Kamu merasa nyaman bergandeng tangan.
Kadang cukup gandengan jentik atau telunjuk saja, kamu sudah aman.

 ___________________
pict from here



 

Friday, 12 April 2013

percaya





Lo masih solat, kan?
Lo masih percaya tuhan kan?

Untuk pertanyaan pertama, saya masih bisa meraba-raba maksudnya; Magrib-magrib gini sms-an ama gue mulu, emang lu gak solat? Tapi kalo disusul dengan pertanyaan kedua itu, nunggu sejam ato dua jam kemudian baru saya balas.

Pertanyaannya sih gampang yah. Mungkin juga yang nanya sekadar iseng-iseng dan keceplosan saja. Tinggal bilang masih atau tidak aja, saya mikirnya lama banget. Penuh pertimbangan. Ekspresi muka saya mungkin macam anak gadis ditanya; masih pake bra (beha) gak?

Kalau kamu sendiri yang mengajukan pertanyaan "lo masih percaya tuhan, kan?" ke teman kamu, sebenarnya jawaban apa yang kamu ingin dengar. Atas maksud apa kamu bertanya seperti itu?

Apatah kamu akan berucap," alhamdulillah, puji tuhan," ketika dia jawab masih percaya. Lantas, akankah kamu menjauhi teman kamu jika dia bilang tidak. Mungkin kamu justru akan semakin mendekatinya, untuk menyerunya kembali di jalan yang benar…

Bagaimana caranya kita mengukur kepercayaan? Bilang "iya", apatah itu memang berarti saya percaya. Dan bilang "tidak",  apa itu mewakili ketidakpercayaan.

Teman saya yang nanya ini, mungkin akan sangat girang jika saya bilang, "ya iya, masihlah, boi.  percayaaa banget." Sayangnya saya tidak tega mengggembirakan dirinya  dengan kebohongan saya.

Saya memang percaya.
Selalu percaya.
Tapi, selalunya itu tidak selalu pake banget. Kadarnya berbeda tiap detik, menit, hari. Waktu. Kadang ia begitu kuat, kadang lindap. Yang saya yakini, kepercayaan itu selalu ada di antara reruang hati. Dan saya (akan) selalu berusaha menjaganya agar baranya terus menyala menerangi hidup saya.  







Thursday, 4 April 2013

merasai hidup


Di tepi ketinggian ini, ada nama yang bukan takut. Menjalar dari jari-jari,
berhenti di lutut. Lalu debur-debur kecil menyapu dadamu, sebelum kau 
rasakan satu hentakan di ulu hati.

Kau menghalau kupu-kupu, beterbangan dalam perutmu, setiap kali kau 
lihat ujung kakimu. Serta yang jauh di bawahnya.

Kau, mungkin ngeri. Kakimu bergeser sesenti ke belakang.
Bukan mundur, tapi bersiap untuk maju. Mendaki lagi.

Ketinggian tak menggentarkanmu. Semakin tinggi, 
semakin kau tentang dan tantang.

Di ketinggian ini, pada nama yang bukan takut; kau membebaskan diri dari 
kotak yang mengerangkengmu dalam kenyamanan, untuk merasai hidup.


pict from visualize





Saturday, 30 March 2013

rasakanlah...




Kebahagian, tiap kali kau mengingatku
Suka cita, saat kau memikirkanku

Rasakanlah…

luapan cinta, ketika kau merindukanku


___________________

pict from walcoo.com

Saturday, 23 March 2013

foto ijazah "berjilbab"


Saya dan Winda, pada suatu siang, sedang sibuk menempelkan foto di atas lembar formulir pendaftaran skripsi. Sehari sebelumnya, kami berdua heboh narsis-narsisan di sekretariat si Ino. Kami berdua terlalu malu dan sangat tidak pede kalau harus ke studio foto, lalu merelakan diri didempul sana sini, pakai kebaya, hanya untuk ditempel di lembaran bernama ijazah.
Di sebelah kami mahasiswa lain juga sibuk mengisi berkas pendaftaran. Berkali-kali ia melirik foto kami. Kepada temannya ia bilang “Fotomu pake kerudung, gak? Aku gak loh. Males beli materai 6 ribu.”
Demi mendengar itu, saya tidak tahan untuk nyahut, “6 ribu doang juga.”
Aturan di kampus, untuk foto ijazah, mahasiswi harus berbusana nasional/kartinian. Bagi yang berkerudung, wajib melampirkan surat pernyataan bermaterai yang isinya “klaim” bertanggung jawab penuh atas segala kemungkinan buruk karena foto berkerudung pada ijazah.
Saya tidak tahu, bagian administrasi kampus saya dapat ide dari mana untuk bikin peraturan macam ini. Selama SMP-SMA, ijazah saya berkerudung, dan tidak harus menyertakan surat pernyataan segala.
Sering saya dengar sekolah melarang siswanya berkerudung saat foto ijazah. Dan setahu saya, kepala sekolah yang melarang, justru akan ditegur diknas. Bukankah tiap orang berhak melaksanakan perintah agamanya, termasuk berkerudung meski cuma di ijazah.  
Saya coba melacak ke belakang. Kepingan-kepingan prejudis terhadap perempuan berjilbab menyerbu, berdenging, menuding-nunding tepat depan hidung. 
           “gak punya kuping yah? Kok ditutupin.” 
          “cacat”
          “susah cari kerjaan loh...”
          “dapat jodoh susah...”
          Dan apalagi?
Mungkin ini yang melatarbelakangi adanya aturan foto berjilbab. Ketakutan dan kehawatiran berlebihan, serta prasangka yang sama sekali tidak berdasar. Dulu, instansi pemerintahan bahkan pernah mengeluarkan peraturan mengenai seragam sekolah, siswa tidak boleh berkerudung. Tapi itu dulu sekali. Entah sudah dihapus apa belum.
Kalau di zaman yang menjunjung kebebasan seperti sekarang ini, saya rasa sudah tidak berlaku lagi. Muslimah Indonesia dibebaskan untuk berjilbab. Lapangan kerja juga dibuka luas untuk siapa saja, termasuk yang berjilbab. Bagi perusahaan atau instansi yang tidak memperbolehkan atau melakukan diskriminasi terhadap perempuan berjilbab justru kena sanksi.
Jadi kenapa universitas masih mempertahankan peraturan seperti ini?  
Universitas saya termasuk PTAIN terkemuka, setiap mahasiswinya diwajibkan berjilbab. Setahun pertama digembleng di pondok dengan materi keislaman serta diwajibkan berpakaian laiknya muslimah yang solehah. Akhirnya malah paradoks, karena tidak bisa menjamin mahasiswanya untuk tetap berjilbab di foto ijazah. Universitas gagal menjamin kepada khalayak di luar universitas, bahwa berjilbab bukan berarti tidak normal dan tidak berprestasi. 
Bagi saya, ini bukan masalah materai Rp6000, apalagi cuma selembar foto. Ini masalah prinsip, ketika kamu memilih berkerudung. Soal foto ijazah ini, hanya ujian kecil saja...   




__________________________
akhirnya ujian (sidang) skripsi saya selesai sudah, tinggal menunggu hasil ^.^
*pict from here



Sunday, 17 March 2013

formalitas akademik


Kuliah, semakin ke sini, semakin banyak formalitas-formalitasnya. Awal bulan lalu, saya mengikuti ujian komprehensif, kompre. Yang diujikan semua mata kuliah yang sudah diikuti sejak semeter awal. Ujian dibagi dua, ujian keagamaan untuk semua mata kuliah agama, dan ujian kesusastraan.

Jauh sebelum ujian dimulai, saya sudah bisa menebak-nebak nilai yang akan saya dapat. Saya bukan peramal loh, hanya saja saya sering baca nilai pengumuman ujian kompre dan ujian skripsi di fakultas. Nilai kisaran A, B+ dan B. Jarang ada yang dapat C-E.

Sederhana saja analisis saya. Kalau kamu menilai dirimu kamu cukup pintar, kamu berhak dapat nilai A. Apalagi kalau dosen penguji juga mengenal kamu dengan baik, dalam artian dia tahu seberapa kapabilitas kamu selama perkuliahan.

Sampai tiba hari-H ujian, saya tidak mempersiapkan diri sama sekali. Saking banyak mata kuliah yang akan diujikan, saya malah bingung mau belajar yang mana dulu dan mulai dari mana.

Pasrah deh pokoknya… sedari awal, saya yakin banget gak bakal dapat nilai C. Jadi, mau belajar atau tidak, bisa jawab dengan baik atau tidak, sepertinya juga gak ngaruh. Karena menurut saya cuma formalitas, gak papa lah yah sedikit mengentengkan.

Anggapan saya semakin diperkuat saat ujian kesusastraan tiba. Kebetulan, dari lima peserta ujian, 3 orang mahasiswa kebahasaan, sementara yang kesusastraan ada saya dan 1 orang lagi. Kami berlima dijadwalkan untuk ujian di ruang dan penguji yang sama. Kedua pengujinya dosen kebahasaan. Materi yang diujikan, semuanya tentang bahasa. Mulai dari phonology, morphology, syntax, yang dulu pernah saya pelajari dalam mata kuliah dasar. Lalu ada lagi beberapa mata kuliah yang asing bagi saya, semacam psycholinguistic, discourse analysis, pragmatic, dan lain-lain.

Saya hanya melongo melihat soal ujian yang dibagikan Mr. Right . Gampang sih sebenarnya; 1)berikan penjelasan singkat dari istilah-istilah di bawah ini. 2) jelaskan satu teori kebahasaan yang sudah kamu pelajari, siapa tokohnya, dan bagai mana teorinya.

Buat anak bahasa yang kayak begini sambil merem juga bisa, lah yang sastra kaya saya ini? Cuma bisa nebak-nebak aja. Udah kaya lelakon OVJ lagi belajar bahassa inggris. Psycholinguistic, psyicho itu psikologi, linguistik itu bahasa.

Waktu teman-teman protes malah dijawab; kalo kamu maunya soal susastra, ya, ke Bu M saja. Susul orangnya di Australi sana.

Diengggg.

Ih, segitunya, pak. Si Wafiq malah (me)ngakak-ngakak(i) nasib saya, " belum-belum, udah didiskriminasi begini," katanya. Untungnya beliau berbaik hati, soal kedua, buat anak sastra dipersilakan menejelaskan teori sastra. 

Saya maklum, dosen-dosen sastra, musim perkuliahan ini, banyak yang sedang tidak bisa mengajar lantaran sedang meneruskan kuliah. Tapi kan tidak semuanya. Masih ada beberapa dosen, meskipun dosen muda yang bisa diperbantukan sebagai penguji. Atau, paling gak, dari jurusan menyediakan soal khusus, dan tidak diserahkan semua ke penguji. Benar-benar menegaskan posisi kompre sebagai agenda formalitas.

Nila A dan B+ yang tertera dalam surat tanda lulus ujian kompre tidak punya makna apa-apa, bagi saya, kecuali sebagai prasyarat ujian skripsi.

Haish, pengen cepat-cepat lulus! 
dan terbebas dari belenggu formalitas akademik...





Saturday, 9 March 2013

catatan, wiji thukul


Apa yang kamu pikirikan sesaat setelah membaca sebuah puisi? Mungkin di antara kita ada yang dibikin bingung; ini puisi maksudnya apa sih,, gelap banget. Mungkin juga ada yang senyum-senyum mencerna romantis di dalamnya, atau berdecak kagum akan keindahan rangkaian kata-katanya. Ada juga yang habis baca puisi, semangatnya makin membara.

Dari semua yang pernah saya baca, ada satu yang bikin saya terenyuh, sampai menangis. Meski berkali-kali dibaca, selalu menyisakan sendu. Catatan, sebuah puisi dari Wiji Thukul. Mungkin gara-gara sebelumnya membaca tulisan Menunggu Bima Pulang, yang pernah dipublikasikan di Majalah Inovasi, dan juga riwayat singkat Wiji Thukul yang ditulis Linda Christanti.

Catatan, ia seolah mewakili suara mereka -yang diambil paksa dari rumah dan tak pernah kembali….

Catatan
Wiji Thukul


Gerimis menderas tengah malam ini
Dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-sendi
Dalam sunyi hati menggigit lagi
Ingat
Saat pergi
Cuma pelukan
Dan pipi kiri kananmu
Kucium
Tak sempat mencium anak-anak
Khawatir
Membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak)
Bertanya apa mereka saat terjaga
Aku tak asa (seminggu sesudah itu
Sebulan sesudah itu
Dan ternyata lebih panjang dari yang kalian harapkan!)
Dada mengepal perasaan
Waktu itu
Cuma berbisik beberapa patah kata
Di depan pintu
Kau lepas aku
Meski matamu tak terima
Karena waktu sempit
Aku harus gesit
Genap 1/2 tahun aku pergi
Aku masih bisa merasakan
Bergegasnya pukulan jantung
Dan langkahku
Karena penguasa fasis
Yang gelap mata
Aku pasti pulang
Mungkin tengah malam ini
Mungkin subuh hari
Pasti
Dan mungkin
Tapi jangan
Kau tunggu
Aku pasti pulang dan pasti pergi lagi
Karena hak telah dikoyak-koyak
Tidak di kampus
Tidak di pabrik
Tidak di pengadilan
Bahkan rumah pun
Mereka masuki
Muka kita sudah diinjak!
Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
Dan aku jarang pulang
Katakan
Ayahmu tak ingin jadi pahlawan
Tapi dipaksa menjadi penjahat
Oleh penguasa
Yang sewenang-wenang
Kalau mereka bertanya
"Apa yang dicari?"
jawab dan katakan
dia pergi untuk merampok haknya
yang dirampas dan dicuri



"dia pergi untuk merampok haknya, yang dirampas dan dicuri." Kata-kata ini sangat berkesan bagi saya. Hak kita, ia tidak jatuh ke pangkuat kita begitu saja. Untuk mendapat hak kita, ia bahkan harus direbut paksa, dirampok…. Wiji Thukul, menyadari benar itu. 

Friday, 1 March 2013

merebut takdir




Takdir, ia telah digoreskan. Tapi kita berhak memilihnya, atau tidak. 
Persiapkanlah dirimu untuk menerima kesatuan rasa-rasanya.

Seperti menyantap sepiring rujak. 
Ada kecut mangga, pedas cabai, manis pepaya, renyah kacang, khas asam, dan macam.

Bahagia takkan menghampiri kita sebagai entitas asing. 
Ia galaksi rasa-rasa dalam sepiring rujak.

Rebutlah bahagiamu;
Menulis duka yang tak habis
Mencerita nelangsa pada malam-malam
Mengurai tangis di atas pusara-pusara
: sebab mencecap bahagia adalah membedakannya dengan kecewa

Jangan bilang takut atau trauma untuk perih. 
Sesungguhnya ia mengajari kita menikmati suka cita. 



from wallcoo.com





Saturday, 23 February 2013

sepaket kamu

                    


                      Aku ingin mengenalmu
                                        Kamu yang diri
                                     Kamu yang liyan 

                      Aku ingin menerimamu
                            Kamu yang kamu  [k]
                            Kamu yang aksen [k'] 

                        Aku ingin mencintamu
Kamu, serta sepaket kekamuanmu


Tuesday, 19 February 2013

sekarang cantik itu Korea..


Kalo ada lagunya lee chul seung, geu sarang, di playlist hape saya, itu karena saya ketularan ponakan saya yang masih kelas 2 SD, Nisa.
Kalau saya suka nonton Dream High dan iseng-iseng ngapalin soundtracknya, itu karena ketularan Nisa juga.
Kalo saya berulang-ulang nyanyiin reff lagunya Cherrybel, itu juga karena Nisa sering banget nyanyi lagu-lagu mereka. (emang Cherrybel girlband Korea?)

Ternyata bukan cuma remaja ke atas penggemarnya, anak-anak pun sudah pada melek Korea. Kalau sebatas suka lagu, drama, dan film, saya pikir ini masih dalam tahap wajar demam gelombang korea. Tapi kalau sampai mau jadi tkw pun harus di Korea, kuliah harus di Korea? Cantik harus Korea? Entahlah…

Gelombang besar demam Korea sedang bergulung-gulung menghantam kita saat ini. Saya kira kita sama-sama tahu, tapi saya ingin merekamnya -meski tak banyak- untuk kita kenang kelak.

Sekarang dunia hiburan sampai bacaan pun seolah condong berkiblat ke Korea. Fenomena boyband dan girlbind macam Sm*sh, Hitz, atau 7icon adalah sekian dari perayaan mimikri total panggung hiburan Korea. Saya rasa bukan itu saja, beberapa sinetron Indonesia pun pernah mengadaptasi drama Korea, yang paling saya ingat Benci Bilang Cinta meniru Princess Hours.

Bukan di panggung televisi saja yang sedang terhegemoni Korea. Saya sempat terkaget-kaget waktu ke toko buku. Teenlit dan novel-novel sekarang juga mimikri Korea juga. Judul dan isinya pada Oppa-oppa dan saranghae-saranghae gitu.

Kalau yang dewasa saja menganggap itu sebagai sesuatu yang lazim, saya khawatir dengan anak-anak yang sedang tumbuh kembang. Bagaimana mereka akan memaknai pertarungan wacana ini.

Pernah suatu kali saya memergoki Nisa sedang menaburi tubuhnya penuh bedak tebal. Dari wajah sampai kaki. "Biar putih, Ma Novi." ujar nisa polos. Diam-diam saya berdoa, semoga dia tidak tahu kalo Bayclin di kamar mandi itu produk pemutih (pakaian).

Di lain waktu, di bilang gini ke mamanya, "Mami, aku pengen punya mata kayak begini,"  kedua tangannya menarik kulit sekitar ekor matanya sedikit ke belakang. Saya dan mamanya hanya saling memandang penuh arti sambil menahan tawa. See, dia pengen punya mata sipit! Dia belum tahu, gadis-gadis korea justru pengen punya mata lebar kayak punya dia.

Aduh, miris. Setiap kali kita menonton artis-artis korea depan layar kaca, sepertinya kita tidak sekadar menikmati lagu, drama, dan tariannya. Rupa-rupanya kita juga mengonsumsi ras, fetis, dan ideologi serta.

Setiap hari, kita diserbu pelbagai macam tanda. Tanda-tanda berhamburan menghampiri kebermaknaanya dalam diri kita. Wacana Korea menggempur tanpa ampun. Dominasi, bukan lagi soal siapa menjajah siapa. Sekarang berbalik jadi siapa menghegemoni siapa. Kita dikepung pertarungan ideologis, yang menurut Stuart Hall, setidaknya ada tiga sikap yang akan muncul; menerima, bernegosiasi, atau melawan. Mari melihat ke dalam diri kita sendiri, seperti apa sikap kita.

 






Monday, 11 February 2013

cowok perokok




...dengan segala keburukan...

Bila cowok, sebaik apapun orangnya, kalau dia merokok justru akan menampakkan sifat-sifat buruk. Setidaknya dalam perspektif dan pengalaman saya pribadi :)

"Mbak, maaf kalau menganggu, gak papa kan yah saya merokok?" biasanya kalau mau merokok dan kebetulan ada cewek, cowok akan dengan sopan dan ramah meminta izin terlebih dahulu. Lah kalau cowoknya sopan begitu, ditambah orangnya cakep, cewek hanya ngangguk-ngangguk setuju. Meski sebenarnya ogah banget menghirup asap rokok.

Mungkin si cowok sebenarnya tahu itu menganggu, tapi mau bagaimana lagi, ngerokok udah kayak kentut yang tidak bisa ditahan. Ngepul jalan terus. Coba kalau si cewek bilang, 'gak boleh," beberapa mungkin akan berusaha negosiasi ini itu biar tetap ngerokok. Call him egotistical

Itu baru satu jeleknya. Cowok perokok, kalau sama cewek juga mendadak jadi pelit. Soalnya dia gak nawarin "Mbak, mau rokok juga?" seperti yang akan dia lakukan ke sesama pria.

acak dr eyang google 

Tuh, kan. Ternyata yang pelit ini juga bisa dibilang bias gender. Mentang-mentang sama cewek, apalagi yang berjilbab, terus dikira gak (boleh) ngerokok, jadi si cowok urung berbagi. #loh?

Thus, dia rada bego dikit. Mungkin kecurigaan saya satu ini yang sedikit lebih tepat. Cowok tadi bisa saja bukannya pelit atau bias gender, hanya saja dia tahu merokok itu bukan amalan sehat, dan dia tidak niat mengajak orang, utamanya cewek, untuk tercebur dalam kejelekan. 

Cowok ini mestinya sadar akan bahaya merokok dan tahu niat baik dia itu tidak sama baiknya. Banyak penelitian yang bilang bahwa resiko sebagai perokok pasif lebih berbahaya dibanding jadi perokok aktif. Dengan tidak menawari si cewek rokok, atas nama kesopanan dan segala norma yang dianutnya, dia berandil besar dalam membunuh si cewek secara perlahan tapi pasti. Padahal cuma kebagian asapnya doang.

Saya bukan perokok yang aktif-aktif banget sih, tapi saya menolak untuk jadi perokok pasif. Saran saya buat para cowok perokok, merokoklah yang baik dan benar secara sehat dan cerdas atau tidak sama sekali ;)




Tuesday, 5 February 2013

Wednesday, 30 January 2013

(belajar) masak




Dibanding teman-teman kos saya, sepertinya saya doang yang jarang masak. Padahal ikut urunan bayar gas. "Gak eman tah, mbak." kata si adik kos saya.

Emang sih, saya hampir gak pernah masak lauk-lauk gitu, tapi saya juga orang yang sadar untuk memanfaatkan kompor kos dengan baik. Dulu, kalau saya butuh ngerebus air buat susu, mi atau raup, tinggal nyolokin heater atau rice cooker. Sekarang tidak. Semuanya saya museumkan di kolong ranjang. Sekarang yah, rebusnya di kompor aja.

Mungkin karena sering liat saya cuma masak mi, adik kos saya rajin banget ngajakin saya masak-masak. "Mbak navis, gak masak tah? Ayo belajar masak sama aku." Tentu saja tanpa pikir panjang aku jawab, "gak, terima kasih." Terus disahut, "lah nanti suaminya dikasih makan apa?" #makjleb

Dalam hati saya bergumam, dia tidak tahu, aku cuma mau kawin sama cowok yang bisa masak (masalahnya ada gak yah juru masak yang rela sama aku??).

Kalau orang bilang masak itu kodrat wanita, maka saya akan belajar untuk tidak mengamini apa yang dibilang orang kodrat. Tapi saya percaya, dan sesekali berangan-angan, betapa indah dan bahagianya jika suatu ketika bisa memasakkan hidangan enak untuk orang-orang yang kita sayangi, cintai, dan kasih. Suami misalnya :)

Karena itu, sekarang saya sering banget mengajak Ellik ke kos saya buat masak-masak bareng (les masak terselubung). Beberapa kali masak, ada ajah yang dikomentarin Ellik.

"Nov, kamu tahu gak, kenapa dibilang numis?"
"Soalnya gak ada kuahnya." jawab saya asal, dan pas lihat sayur di mangkok, omigod, sawinya lagi berenang bebas! Buru-buru saya bilang "tapi aku emang suka yang banyak kuahnya"

Di lain waktu, ceritanya Ellik sudah mulai ngulek bawang buat sambal, karena sepertinya kesusahan jadi  bumbu-bumbu lainnya saya goreng. Katanya Ellik, "baru kali ini aku nyambel bumbunya yang satu gak di goreng yang satu di goreng."
"Udahlah, Lik. Namanya juga main masak-masakan"
"Heh? aku tuh kalo masak selalu serius. Cuma sama kamu ajah main-main begini."

Ih, tsom-tse dia.. Lihat saja, suatu saat saya akan menaklukan dapur. Dan bikin dia keracunan kecanduan masakan saya. Ahak-ahak...

Ellik langganan belanja di lapak emak ini :)  







Sunday, 27 January 2013

hujan


Ia akan selalu mengingatkan saya pada bapa yang mengasihi saya


Saya seperti umumnya anak-anak, setiap kali hujan turun, langsung berlari kegirangan keluar rumah. Hujan-hujanan di bawah pancuran langit.

Kalau pulang ke rumah, sudah pasti saya dimarahin. Bukan ibu saya yang marah-marah, tapi bapa saya.

Dulu, saya akan berpikir bapa saya tukang marah. Galak. Gak suka lihat anak-anaknya menikmati masa bermain. Gak suka lihat anaknya bahagia. Main sama anak-anak cowok, gak boleh. Main jauh-jauh dari rumah, gak boleh. Dan sekarang hujan-hujanan juga gak dibolehin.

Tapi itu dulu. Sekarang, sudah sebesar ini saya baru paham. Pikiran saya berubah. Saya tahu, bapa pasti khawatir kalau-kalau hujan bikin saya sakit.

Jika saya sakit urusannya panjang. Saya pasti tidak bisa masuk sekolah. Padahal, di dunia ini, hal yang paling bikin bapa saya bahagia adalah mengantarkan anak-anaknya ke sekolah.

Saya pasti juga tidak bisa bermain dengan teman-teman selama saya sakit. Itu bisa berhari-hari.

Ibu saya bakal libur kerja, atau minimal bolak-balik rumah kantor setiap ada kesempata buat nemenin saya di rumah. Sementara bapak saya di tempat kerjanya terus-terusan digelayuti perasaan masygul. Mungkin juga akan sedih karena tidak bisa menemani anaknya yang sedang sakit.

Januari ini, hujan lebih sering turun. Hampir tiap hari. Dan saya bahagia karena ia membawa kenangan saya bersama bapa serta.

Kalau hujan tidak turun, saya akan berdoa



Langit,
Curahkanlah hujanmu untuk merahmatinya
Utuslah mereka untuk menyampaikan cinta saya kepadanya, bapa


pict from visualizeus







Monday, 21 January 2013

Aktivitas atau aktifitas?




Tulisan ini, semacam ikhtiar untuk belajar menulis bahasa Indonesia. Biar kata menulis yang tidak resmi atau baku, asal sedikit baik dan benar, cukuplah...
Ada teman saya yang bertanya, ejaan mana yang benar, aktifitas atau aktivitas? Saya bilang, aktifitas. Yang pake ef "f". Dia sangsi. Saya sendiri sebenarnya juga ragu-ragu.
Dicari di KBBI luring (luar jaringan), aktiv tidak ada. Yang ada aktif, keaktifan, mengaktifkan, pengaktif, dan pengaktifan. aktifitas tidak ada. Jadi saya berkesimpulan, pake 'f' yang benar. Padahal kalau mau sedikit berusaha mencari kata aktivitas, pasti ketemu di KBBI. 
Sedikit heran pertamanya, kenapa aktif ditulis memakai huruf "f", tapi aktivitas pakai "v". Saya lantas teringat kata-kata seorang senior, kalau itu kata serapan, maka kita harus memerhatikan bahasa asalnya. Dalam kasus ini, kata-kata banyak diadopsi dari bahasa Inggris.
Setelah bolak-balik memelototi KBBI luring, saya akhirnya mengambil kesimpulan
·         Ditulis dengan huruf "f" untuk imbuhan, dan
·         Ditulis dengan huruf "v" untuk bentuk kata dasar, tetap sebagaimana dalam bahasa Inggris.
Contoh:
active
act + ive
aktif
activity
active + ity
aktivitas
productive
product + ive
produktif
productivity
productive + ity
produktivitas
negative
negate + ive
Negatif
Kalau dari kata dasarnya memang memakai huruf "v", maka dalam penulisan bahasa Indonesia pun tetap dengan huruf "v".
Contoh:

provocation
provokasi
innovation
inovasi
inversion
inversi


Karena saya bukan linguist, hanya mahasiswa iseng, silakan dikoreksi jika ada kekurangan atau kesalahan :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...