Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Wednesday, 10 January 2018

tak ada puisi hari ini




tak ada puisi hari ini
yang ada hanya kata
yang berima
tanpa seni

tak ada puisi hari ini
yang ada hanya hati
yang kosong 
melompong

tak ada puisi hari ini
yang ada hanya raga
tanpa jiwa
zombi

tak ada puisi hari ini
yang ada hanya penyair
yang tlah mati
tak bersyair


Tual, 9 Desember 2017














___________________
*menulis puisi setelah sekian lama. setelah bergabung dengan Rumah Puisi. 
rasanya seperti baru belajar. sudah lebih dulu di-posting di lebah kuning itu. iya, itu aku :)

Saturday, 9 March 2013

catatan, wiji thukul


Apa yang kamu pikirikan sesaat setelah membaca sebuah puisi? Mungkin di antara kita ada yang dibikin bingung; ini puisi maksudnya apa sih,, gelap banget. Mungkin juga ada yang senyum-senyum mencerna romantis di dalamnya, atau berdecak kagum akan keindahan rangkaian kata-katanya. Ada juga yang habis baca puisi, semangatnya makin membara.

Dari semua yang pernah saya baca, ada satu yang bikin saya terenyuh, sampai menangis. Meski berkali-kali dibaca, selalu menyisakan sendu. Catatan, sebuah puisi dari Wiji Thukul. Mungkin gara-gara sebelumnya membaca tulisan Menunggu Bima Pulang, yang pernah dipublikasikan di Majalah Inovasi, dan juga riwayat singkat Wiji Thukul yang ditulis Linda Christanti.

Catatan, ia seolah mewakili suara mereka -yang diambil paksa dari rumah dan tak pernah kembali….

Catatan
Wiji Thukul


Gerimis menderas tengah malam ini
Dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-sendi
Dalam sunyi hati menggigit lagi
Ingat
Saat pergi
Cuma pelukan
Dan pipi kiri kananmu
Kucium
Tak sempat mencium anak-anak
Khawatir
Membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak)
Bertanya apa mereka saat terjaga
Aku tak asa (seminggu sesudah itu
Sebulan sesudah itu
Dan ternyata lebih panjang dari yang kalian harapkan!)
Dada mengepal perasaan
Waktu itu
Cuma berbisik beberapa patah kata
Di depan pintu
Kau lepas aku
Meski matamu tak terima
Karena waktu sempit
Aku harus gesit
Genap 1/2 tahun aku pergi
Aku masih bisa merasakan
Bergegasnya pukulan jantung
Dan langkahku
Karena penguasa fasis
Yang gelap mata
Aku pasti pulang
Mungkin tengah malam ini
Mungkin subuh hari
Pasti
Dan mungkin
Tapi jangan
Kau tunggu
Aku pasti pulang dan pasti pergi lagi
Karena hak telah dikoyak-koyak
Tidak di kampus
Tidak di pabrik
Tidak di pengadilan
Bahkan rumah pun
Mereka masuki
Muka kita sudah diinjak!
Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
Dan aku jarang pulang
Katakan
Ayahmu tak ingin jadi pahlawan
Tapi dipaksa menjadi penjahat
Oleh penguasa
Yang sewenang-wenang
Kalau mereka bertanya
"Apa yang dicari?"
jawab dan katakan
dia pergi untuk merampok haknya
yang dirampas dan dicuri



"dia pergi untuk merampok haknya, yang dirampas dan dicuri." Kata-kata ini sangat berkesan bagi saya. Hak kita, ia tidak jatuh ke pangkuat kita begitu saja. Untuk mendapat hak kita, ia bahkan harus direbut paksa, dirampok…. Wiji Thukul, menyadari benar itu. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...