Showing posts with label ijazah. Show all posts
Showing posts with label ijazah. Show all posts

Saturday, 23 March 2013

foto ijazah "berjilbab"


Saya dan Winda, pada suatu siang, sedang sibuk menempelkan foto di atas lembar formulir pendaftaran skripsi. Sehari sebelumnya, kami berdua heboh narsis-narsisan di sekretariat si Ino. Kami berdua terlalu malu dan sangat tidak pede kalau harus ke studio foto, lalu merelakan diri didempul sana sini, pakai kebaya, hanya untuk ditempel di lembaran bernama ijazah.
Di sebelah kami mahasiswa lain juga sibuk mengisi berkas pendaftaran. Berkali-kali ia melirik foto kami. Kepada temannya ia bilang “Fotomu pake kerudung, gak? Aku gak loh. Males beli materai 6 ribu.”
Demi mendengar itu, saya tidak tahan untuk nyahut, “6 ribu doang juga.”
Aturan di kampus, untuk foto ijazah, mahasiswi harus berbusana nasional/kartinian. Bagi yang berkerudung, wajib melampirkan surat pernyataan bermaterai yang isinya “klaim” bertanggung jawab penuh atas segala kemungkinan buruk karena foto berkerudung pada ijazah.
Saya tidak tahu, bagian administrasi kampus saya dapat ide dari mana untuk bikin peraturan macam ini. Selama SMP-SMA, ijazah saya berkerudung, dan tidak harus menyertakan surat pernyataan segala.
Sering saya dengar sekolah melarang siswanya berkerudung saat foto ijazah. Dan setahu saya, kepala sekolah yang melarang, justru akan ditegur diknas. Bukankah tiap orang berhak melaksanakan perintah agamanya, termasuk berkerudung meski cuma di ijazah.  
Saya coba melacak ke belakang. Kepingan-kepingan prejudis terhadap perempuan berjilbab menyerbu, berdenging, menuding-nunding tepat depan hidung. 
           “gak punya kuping yah? Kok ditutupin.” 
          “cacat”
          “susah cari kerjaan loh...”
          “dapat jodoh susah...”
          Dan apalagi?
Mungkin ini yang melatarbelakangi adanya aturan foto berjilbab. Ketakutan dan kehawatiran berlebihan, serta prasangka yang sama sekali tidak berdasar. Dulu, instansi pemerintahan bahkan pernah mengeluarkan peraturan mengenai seragam sekolah, siswa tidak boleh berkerudung. Tapi itu dulu sekali. Entah sudah dihapus apa belum.
Kalau di zaman yang menjunjung kebebasan seperti sekarang ini, saya rasa sudah tidak berlaku lagi. Muslimah Indonesia dibebaskan untuk berjilbab. Lapangan kerja juga dibuka luas untuk siapa saja, termasuk yang berjilbab. Bagi perusahaan atau instansi yang tidak memperbolehkan atau melakukan diskriminasi terhadap perempuan berjilbab justru kena sanksi.
Jadi kenapa universitas masih mempertahankan peraturan seperti ini?  
Universitas saya termasuk PTAIN terkemuka, setiap mahasiswinya diwajibkan berjilbab. Setahun pertama digembleng di pondok dengan materi keislaman serta diwajibkan berpakaian laiknya muslimah yang solehah. Akhirnya malah paradoks, karena tidak bisa menjamin mahasiswanya untuk tetap berjilbab di foto ijazah. Universitas gagal menjamin kepada khalayak di luar universitas, bahwa berjilbab bukan berarti tidak normal dan tidak berprestasi. 
Bagi saya, ini bukan masalah materai Rp6000, apalagi cuma selembar foto. Ini masalah prinsip, ketika kamu memilih berkerudung. Soal foto ijazah ini, hanya ujian kecil saja...   




__________________________
akhirnya ujian (sidang) skripsi saya selesai sudah, tinggal menunggu hasil ^.^
*pict from here



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...