Showing posts with label kampus. Show all posts
Showing posts with label kampus. Show all posts

Saturday, 10 August 2013

#basi 1

Paling makan ati dah kalo berurusan sama birokrasi dan administrasi...

Beberapa bulan lalu saya menyambangi bagian administrasi pusat kampus, ijazah dan KTP dibawa serta. Saya hendak mengurus profil biodata saya yang keliru dan tidak sesuai antara identitas satu dengan yang lain. Misal tanggal lahir saya di transkrip nilai sementara tertulis; 30 Desember 1899. Serasa baru kelur dari lembaran buku sejarah :*

Alamat rumah saya juga keliru. Harusnya 5E ditulis S5. Saya tak habis pikir. Tulisan saya di form yang jelek atau pengentri data yang salah baca.

Sepeleh, tapi menurut saya penting. Siapa tahu suatu hari kelak akan berguna menyambung silaturahmi antara saya dengan teman-teman atau dengan fakultas dan universitas sendiri.

Kepada petugasnya saya bilang kalau mau memperbaiki data-data saya. Saya tunjukkan transkrip nilai saya yang keliru itu dan bilang kalau data profil saya di SIAKAD juga ada yang salah, sehingga mempengaruhi surat keterangan beasiswa juga. 'Jadi ini mau diganti semua, mbak?' Tanya si mas, kelihatannya masih muda, magang.

Mungkin dia tanya untuk memastikan saja. Tapi kuping saya geli dengarnya. Dalam hati saya mau jawab #1 'Gak, mas. Saya cuma kasih tahu aja.' #2 'Gak, mas. Ke sini mo ngecengin sampean ae og.'

Sebelum pulang saya bertanya lagi memastikan apa data bisa langsung diperbaiki, otomatis terperbarui dan terintegrasi. Saya benar-benar berharap kelak tidak ada kekeliruan lagi jika ada data pribadi saya yang dipublikasikan universitas.

Nyatanya, saya sedikit kecewa demi melihat SK yudisium, alamat rumahnya juga salah. Bukan apa-apa, tapi saya merasa sudah mengkonfirmasi, jadi semestinya kesalahan sepeleh seperti ini tidak perlu terulang...

Karena di buku wisuda juga salah, saya penasaran profil saya yang di siakad. Ternyata benar dugaan saya. Tidak ada perubahan.

Giliran ijazah dan transkrip sudah jadi, masih ada ajah insiden nilai c+ itu... Alhasil, saya harus mengurus lagi ke administrasi pusat. Saya menemui petugas berbeda kali ini. Dia meminta saya menunggu, paling tidak seminggu kemudian.

Menunggu, menurut teori relativitas, seminggu serasa setahun!

Saya kembali seminggu setelahnya, and guess what?? Petugasnya bilang belum jadi.

Katanya sieh transkrip saya masih di fakultas, masih menunggu tanda tangan pembantu dekan. Sepertinya selama hampir sebulan dibikin ribet sama alasan begini, saya berinisiatif mengurus sendiri. Saya langsung tancap gas ke fakultas. Alhamdulillah.... Transkrip saya ternyata sudah ditandatangani, sudah lama nongkrong di laci Pak Aidar~ bagian administrasi fakultas. Beliau memberikannya langsung kepada saya.

"Sudah saya beresin semuanya" ujar saya sambil maksa senyum manis ke petugas administrasi. Saya serahkan map transkrip dari Pak Aidar ke dia. Sembari senyum-ketawa kagok gak jelas dia tanya. "Kok, fakultas gak telpon saya?"

Halo, mas. Kalo kata lagu dangdut; fakultasku memang dekat, 5 langkah dari kantormu. Tak perlu kirim surat, sms juga gak usah...

*pict from visualize

Saturday, 23 March 2013

foto ijazah "berjilbab"


Saya dan Winda, pada suatu siang, sedang sibuk menempelkan foto di atas lembar formulir pendaftaran skripsi. Sehari sebelumnya, kami berdua heboh narsis-narsisan di sekretariat si Ino. Kami berdua terlalu malu dan sangat tidak pede kalau harus ke studio foto, lalu merelakan diri didempul sana sini, pakai kebaya, hanya untuk ditempel di lembaran bernama ijazah.
Di sebelah kami mahasiswa lain juga sibuk mengisi berkas pendaftaran. Berkali-kali ia melirik foto kami. Kepada temannya ia bilang “Fotomu pake kerudung, gak? Aku gak loh. Males beli materai 6 ribu.”
Demi mendengar itu, saya tidak tahan untuk nyahut, “6 ribu doang juga.”
Aturan di kampus, untuk foto ijazah, mahasiswi harus berbusana nasional/kartinian. Bagi yang berkerudung, wajib melampirkan surat pernyataan bermaterai yang isinya “klaim” bertanggung jawab penuh atas segala kemungkinan buruk karena foto berkerudung pada ijazah.
Saya tidak tahu, bagian administrasi kampus saya dapat ide dari mana untuk bikin peraturan macam ini. Selama SMP-SMA, ijazah saya berkerudung, dan tidak harus menyertakan surat pernyataan segala.
Sering saya dengar sekolah melarang siswanya berkerudung saat foto ijazah. Dan setahu saya, kepala sekolah yang melarang, justru akan ditegur diknas. Bukankah tiap orang berhak melaksanakan perintah agamanya, termasuk berkerudung meski cuma di ijazah.  
Saya coba melacak ke belakang. Kepingan-kepingan prejudis terhadap perempuan berjilbab menyerbu, berdenging, menuding-nunding tepat depan hidung. 
           “gak punya kuping yah? Kok ditutupin.” 
          “cacat”
          “susah cari kerjaan loh...”
          “dapat jodoh susah...”
          Dan apalagi?
Mungkin ini yang melatarbelakangi adanya aturan foto berjilbab. Ketakutan dan kehawatiran berlebihan, serta prasangka yang sama sekali tidak berdasar. Dulu, instansi pemerintahan bahkan pernah mengeluarkan peraturan mengenai seragam sekolah, siswa tidak boleh berkerudung. Tapi itu dulu sekali. Entah sudah dihapus apa belum.
Kalau di zaman yang menjunjung kebebasan seperti sekarang ini, saya rasa sudah tidak berlaku lagi. Muslimah Indonesia dibebaskan untuk berjilbab. Lapangan kerja juga dibuka luas untuk siapa saja, termasuk yang berjilbab. Bagi perusahaan atau instansi yang tidak memperbolehkan atau melakukan diskriminasi terhadap perempuan berjilbab justru kena sanksi.
Jadi kenapa universitas masih mempertahankan peraturan seperti ini?  
Universitas saya termasuk PTAIN terkemuka, setiap mahasiswinya diwajibkan berjilbab. Setahun pertama digembleng di pondok dengan materi keislaman serta diwajibkan berpakaian laiknya muslimah yang solehah. Akhirnya malah paradoks, karena tidak bisa menjamin mahasiswanya untuk tetap berjilbab di foto ijazah. Universitas gagal menjamin kepada khalayak di luar universitas, bahwa berjilbab bukan berarti tidak normal dan tidak berprestasi. 
Bagi saya, ini bukan masalah materai Rp6000, apalagi cuma selembar foto. Ini masalah prinsip, ketika kamu memilih berkerudung. Soal foto ijazah ini, hanya ujian kecil saja...   




__________________________
akhirnya ujian (sidang) skripsi saya selesai sudah, tinggal menunggu hasil ^.^
*pict from here



Monday, 17 December 2012

(calon) Rektor Baru...


Sebentar lagi kampus saya akan punya rektor baru. Setelah sekian tahun rektor kampus saya satu orang itu saja. Mulai jaman nama kampusnya masih UIIS, Stain, sampai jadi UIN kayak sekarang. Kira-kira lebih dari 12 tahun lah…

Ini pasti kabar gembira bagi hadirin setia acara-acara besar kampus yang mewajibkan rektor ceramah sambutan. Sebab mereka tidak akan mendengar satu album kaset yang diputar terus-terus. Kampus ini sudah begini, berprestasi begitu, dan punya mahasiswa internasional dari negara sana-sini, punya program unggulan blah-blah-blah, dan bayak mencontohnya….. Kira-kira begitulah kalau calon mantan rektor saya ngasih sambutan di setiap kesempatan. Saya pernah bertemu seorang ibu, waktu tahu saya anak UIN, si ibu langsung tanya, rektornya masih yang lama? Sudah tua yah, kuk belum ada penggantinya yang muda? Kalau sambutan suka ngulang-ngulang yah… mungkin sudah tua kali, ya, mbak. Saya mesam-mesem menanggapi.

Kabar burung yang beredar (gak tahu deh burung dari mana), dari 4 bakal calon sebenarnya yang dijagokan cuma satu. Yang lainnya sebagai pelengkap gitu. Dan mungkin itu sedikit benar. Beberapa hari lalu waktu penyampaian visi-mis calon rektor, hanya 1 yang yang terlihat bersemangat dan yakin akan terpilih. Sisanya seperti presentasi biasa di kelas. Malah ada 1 calon tidak hadir. Sakit katanya.

Saya jadi teringat masa sma dulu. Waktu pemilihan ketua OPPK Putri (semacam OSIS gitu) saya dan teman-teman satu angkatan sudah sepakat memilih Aan sebagai ketua, Naila jadi wakil, saya jadi sekretaris, dan Leli jadi Bendahara. Sampai struktur-struktur kecilnya sudah kami siapkan semua.

Tapi OPPK Demisioner punya aturan sendiri yang harus kami taati soal regenerasi. Katanya kami perlu belajar menjalankan pesta demokraasi yang baik dan benar. Menurut aturan, jabatan ketua diisi oleh calon dengan suara pemilih terbanyak, jabatan sekretaris dan bendahara diisi oleh calon-calon sisanya. Ini berarti, biar saya atau Leli dan Naila tidak ingin jadi ketua, mau gak mau harus ikut serangkain acara pemilihan agar struktur yang sudah kami sepakati sebelumnya tidak berubah.

Mula-mula dibentuk kelompok (partai) untuk tiap calon. Anggota-anggotanya ini yang akan mensosialisaikan dan mengampanyekan calon ketua ke semua siswa. Lalu ada malam jajak pendapat, kampanye monologis, kampanye dialogis, psikotes (kayak mau lamar kerja ajah :D), sampai malam ploncoan khusus sama pengurus demisioner. Ploncoan, habisnya ini mengingatkan saya pada malam MOS. Jam 12 belas dibangunkan, dan di suruh ke sekolah, dan masuk ruangan untuk diinterogasi dan suruh macam-macam.

Untuk menyiasati biar massa tidak terkecoh selama masa kampanye, kami menugaskan mata-mata untuk menyebarluaskan propoganda ke adik-adik kelas: Dek, ingat! Jangan lupa yang dipilih itu mbak Aan yah…

Semuanya saya lewati dengan perasaan enteng. Tanpa beban sama sekali. Saya menikmati ini sebagai permainan drama. Kecuali saat harus berbicara depan umum. Saya suka grogi dan mules.
 
Well, saya harap pemilihan rektor bisa lebih demokratis dan dewasa :)

Semoga rektor baru bisa memberi perubahan. Sebab sepertinya yang namanya rektor itu jauh dari mahasiswa. Gak merakyat. Tersembunyi di balik menara gading gedung rektorat. Rektor cuma bisa ditemui saat pembukaan OSPEK, seminar-seminar yang mendatangkan menteri anu, gubernur itu, dan dirjen ini. Atau minta tanda tangan proposal kegiatan, itu juga jarang-jarang.

Saya sangat ingin melihat adik-adik tingkat saya bisa hidup bebas di bawah kebijakan yang memang bijaksana. Saya tidak ingin melihat mereka harus terkungkung satu tahun di asrama yang buka sampai pukul 09.00 malam. Mereka tidak harus wajib mengikuti kuliah bahasa Arab dari pukul 14.00-20.00 selama dua semester penuh, tiap Senin-Jumat (ngalah-ngalahin anak pesantren.) Mereka-mereka ini kelak tidak boleh jadi korban pencitraan kampus. 

Semestinya mereka bisa punya banyak waktu luang untuk belajar lain-lain yang juga penting, misal mengembangkan bakat-minat di unit aktivitas mahasiswa, menyalurkan hasrat berorganisasi, ikut club-club debat, atau sekadar baca buku di perpustakaan. 

 Hopefully…





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...