Tuesday, 15 January 2013

sahaya aku



Sahaya aku

Tepi pantai kala senja
Nelayan menjaring siluet matahari
Dan mega di ujung lazuardi
Bersama mengukir ikar ; “hanya bapa raja diraja”
                                 
Sekali waktu
Insan terperangkap labirin
Resah
Galau
Pun dilema
Dari keheningan, alam berbisik;
“iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”

Di sini
Seorang diri meniti tasbih
Mengukir lafal atas sujud kultus
Luruh keangkuhan sluruh
Dengan segenap kekerdilan
Sahaya aku;
“hanya bapa tunggal yang esa”



Monday, 14 January 2013

pencitraan

dari timbunan file di leptop :)

Saya baru baca berita, (calon) Mantan Rektor saya, Imam Suprayogo, terpilih sebagai Cendekiawan Pluralis-Inklusif (gak ngerti dah apa artinya) dalam Manado Post Award 2012. Tak lama setelah saya tahu kalau Pak Imam sebelumnya menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepada Gubernur Sulut Dr Sinyo Harry Sarundajang. *baca britanya smbil geleng-geleng kepala.

Yang ada dalm bayangan saya, ibu-ibu bertemu dalam arisan, saling memuji sebagai basa-basi. "Baju kamu bagus deh, jeung" sambil gerak-gerakin tasnya.
"Ah, masa sih. Tas kamu juga keren banget. Nyewa di mana?"

Hei, pencitraan itu seperti pelacur tua yang susah payah membedaki wajah dan mengolesi gincu di bibir tebal-tebal serta menutupi tubuhnya dengan pakaian yang mengelabui umurnya. Sekilas, umur biologisnya mungkin terlihat lebih mudah, seperti remaja atau gadis awal 20-an. Tapi kita sama-sama tahu. Di balik bedak dan lipstik yang tebal terdapat kulit yang keriput. Dan di balik helaian pakaian yang menggoda, terdapat tulang rapuh binti keropos.  


#catatanmahasiswageje




Friday, 11 January 2013

firasat



Ia datang dengan bahasa yang
Tak kau kenali, tapi sangat
Kau pahami

Semacam pertanda yang kau sadari
Tapi tak kau ingini
Tak hendak kau percayai
Yang kau  sangkali
Dan kau tolak (kalau bisa)…

Firasatku mengatakan…
Kau…, 








Wednesday, 9 January 2013

10 besar






begini ni cara saya melewati liburan akhir tahun...
menghadiri pernikahan putri irma (puma) di Solo



*pernikahan teman sma itu berarti reuni keluarga besar Gravity Mutalazimaen

*mempelai pria bersama keluarga besan :)


puma and us :)

sekali lagi, yg di atas kan saya gak kliatan @,@
nah, jgn lihat pengantinnya yah (sudah ada yg py o_O)
apah angka 6 di vandel-nya terlihat jelas? itu berarti dia orang ke-6 dari sekian teman seangkatan saya yg sudah menikah...
gak tahu siapa yang punya ide kayak gini, kan aye malu kalo gak masuk peringkat 10 besar :)
secara 3 besar udah lewat, 5 besar juga udah... 


_______________
* yg bertanda bintang belongs to Husni Mubarok 









Thursday, 3 January 2013

#novel: aku lupa bahwa aku perempuan



Kata Orang Aku Bukan Perempuan




lama

Judul               : Aku Lupa bahwa Aku Perempuan

Penulis             : Ihsan Abdul Qudus

Penterjemah    : Syahid Widi Nugroho

Penerbit           : Alifia Books
Cetakan I        : Desember 2005
Tebal               : 248 halaman

Menghabiskan 10 bab dalam novel ini, pembaca diajak untuk menyelami kehidupan seorang perempuan yang berambisi besar menjadi politisi sukses. Suad, tokah utama dalam cerita ini, mulai berkenalan dengan dunia politik saat masih duduk di bangku SMA. Pada tahun 1935, ketika banyak gerakan nasionalis Mesir berunjuk rasa memerdekakan diri dari Inggris, ia mengkoordinir teman-teman sekolahnya untuk turut terlibat. Pertemuannya dengan salah seorang sepupu, mahasiswa dan pentolan gerakan nasioalisme Mesir, mengawalinya berkenal dengan politik lebih matang.
            
Diceritakan, sejak kecil Suad adalah anak yang tomboy, berbeda dengan kakak perempuannya yang sejak kecil telah menyiapkan dirinya menjadi wanita tulen. Saat Suad menikmati permainan dengan teman-teman lelakinya, kakaknya asyik berlatih memasak, menjahit, mendekorasi rumah. Bahkan, tatkala beranjak dewasa, banyak teman lelaki datang menawarkan cinta padanya. Tapi tak satu pun diterimanya, ia memilikki konsep tersendiri mengenai cinta dan perkawinan.
            
“Mereka datang, tetapi aku selalu menolaknya karena dengan menerimanya aku masih menjadi manusia biasa. Aku menolak mereka juga mungkin karena mereka, laki-laki yang datang tidak ada yang mampu membawaku menjadi manusia luar biasa.”
            
Begitulah Suad, cerdas dan berambisi. Keaktifannya dalam politik diimbangi dengan prestasi yang memuaskan disekolah, pun ketika menjadi mahasiswa. Menjadi orator, menghadiri pertemuan-pertemuan politik, sebagai pelajar ia selalu duduk di peringkat pertama. Ketika akhirnya Suad jatuh cinta pada pria bernama Abdul Hamid, dari sinilah bermunculan peperangan antara ego poltisi dan ego perempuannya. Kiprahnya dalam berbagai organisasi politik maupun pergerakan perempuan menghanyutkanya dalam linkar elit politik. Berbanding terbalik dengan kehidupan pribadinya. Semakin dekat dunia politik dengannya, semakin ia jauh dari suaminya, perceraian pun tak terelakkan. Faizah anak semata wayangnya, memanggilnya dengan Suad. Padahal dalam hatinya ia begitu merindukan sebutan ibu untuk dirinya.

@@@             @@@             @@@

baru

Sejak dahulu wanita diidentikkan sebagai makhluk lemah. Meski pada kenyataanya, banyak wanita lebih cerdas dan kuat ketimbang laki-laki di luar sana. Sejatinya, wanita dan laki-laki terlahir berbeda, namun itu bukan alasan tepat untuk menciptakan pembedaan yang merugikan spesies tertentu. Toh yang berbeda hanya anatomi biologis saja. Ada sejuta Suad yang menyuarakan keadilan dan kemerdekaan untuk bangsangnya, juga untuk kaumnya. Kiprahnya sudah pasti diakui, namun belum tentu kenyataan bahwa ia seorang wanita diakui.
            
“Karena apa? Karena aku hamil? Begitu?”
            
Betapa kesalnya Suad saat para dosen dan mahasiswanya akan mengadakan pertemuan penting dengan perdana menteri terkait revolusi di negaranya, tapi ia tidak diajak. Padahal selama ini, Suadlah masterminder mereka. Dan alasan yang mereka kemukakan klise, mereka malu pertemuan dengan perdana menteri dihadiri wanita hamil.
          
Dalam kehidupan pernikahan, Suad pernah dua kali jatuh bangun. Hubungan wanita dan pria adalah hubungan kemitraan complementer, hubungan yang saling melengkapi. Bukannya hubungan antara majikan dan pelayan, dalam hal ini, acap kali wanita yang berperan sebagai pelayan. Mulai dari melayani suami, anak, hingga mengurusi segala tetek bengek keluarga. Hidup dengan laki-laki yang besar dalam budaya patriarki seperti Abdul Hamid dan Doktor Kamal, sulit baginya untuk mewujudkan konsep ini. Apalagi dengan kondisi sosial yang masih menjunjung tinggi budaya patriarki. Bagi mereka, dalam institusi pernikahan suami harus lebih dominan dari isteri. Alih-alih membangun keluarga yang harmonis, pernikahan malah menjadi tameng baginya. Jika ia bisa sukses dalam berkarir, ia juga ingin menunjukkan pada publik bahwa segudang aktivitasnya tidak menghabat keharmonisan keluarganya.
            
Meskipun begitu, upaya yang dilakukan Suad untuk membebaskan diri dari kekangan budayalah yang harus dicermati. Tatkala banyak wanita merasa nyaman menjadi “jenis kelamin kedua”, Suad tengah bergembira merayakan kebebasannya dari superioritas laki-laki. 
           
 Ihsan Abdul Qudus, penulis novel ini, amat piawai menuturkan kisah pergolakan kehidupan Suad. Ia dengan lugas menceritakan seorang perempuan yang memperjuangkan kesetaraan jender. Bagaimana Suad menghadapi keluarganya, saat dimana Suad berusaha menjaga eksistensi karir politiknya tanpa merusak hubungan dengan suaminya, utamanya kala Suad menyerukan pada rekan-rekannya, bahwa ia adalah wanita, dan itu bukan penghalang baginya untuk memantapkan langkah di dunia politik.
            
Lalu Ihsan menghadirkan pergolakan batin Suad sebagai pembanding. Ia mengisahkan bahwa bagaimanapun, Suad tetap membutuhkan kehadiran lelaki dalam hidupnya. Meski pada akhirnya ia selalu menuai perceraian. Kemudian Ia bertutur tentang Suad yang begitu terpukul mengetahui anaknya lebih dekat dengan ibu tirinya, Samirah. Faizah lebih dekat dan terbuka dengan Samirah, daripada dengan dirinya, ibu kandungnAya.
           
 Aku Lupa bahwa Aku Perempuan, adalah judul yang diberikan untuk novel terjemahan Bahasa Arab ini. Sayang sekali Syahid Widi Nugroho, penterjemah, tidak menyertakan judul aslinnya. Dengan judul novel seperti itu, jelas pembaca akan salah menginterpretasi isi novel ini. Penulis novel hanya bermaksud menguraikan ambisi seorang wanita memperjuangkan haknya, dibumbui kehidupan yang berbenturan dengan budaya. Budaya yang menggambarkan seolah-olah ia menjadi wanita yang gagal. Penulisnya, sama sekali tidak menghakimi suatu apapun. 




underline__________
ini buku sudah lama banget belinya, jaman masih sma. kalo resensinya dibuat waktu awal-awal kuliah. jadi maklum ajah kalo bahasanya geje gitu :p... oya, ini sudah pernah saya posting di multiply, tapi saya sudah tidak pernah buka multiply lAgi. mungkin sekarang sudah tutup. saya jadi tertarik posting ini lagi, gara-gara Pipit, teman saya, bilang kalo dia sedang ingin baca novel ini. ini barang pertama yang akan dia beli kalo gaji perdananya sudah keluar :D (jok lali traktir aku yo, mak ^.^)





Friday, 28 December 2012

#gambar idoep: Luther


Cerdas Beragama





Cerita bermula dari Luther yang pada suatu malam gelap, hujan lebat di luar. Gemuruh petir menyambar. Dalam keadaan kuyup dan ketakutan, Luther bernazar, ia akan jadi BIARAWAN jika TUHAN menyelamatkan hidupnya. Maka jadilah anak penambang ini seorang Biarawan.

Suatu ketika, setelah jadi biarawan, ia diutus mengantar surat ke Roma. Meski termasuk pendeta baru, ia berpendidikan tinggi, seorang sarjana hukum, karena itu di anatara sekian biarawan, Luther yang diutus ke Roma.

Masuk gerbang kota, ia dikagetkan dengan kehadiran pelacur, pengemis, dan selusin orang-orang miskin. Pendeta bebas menyalurkan hasrat dengan pelacur, serta santo-santo digadaikan dalam jimat yang dijual bebas.  

Ia menyaksikan sendiri, di Roma ini, orang-orang harus mengeluarkan uang setiap kali berdoa. Untuk dapat berdoa di depan tengkorak Yohanes, ia harus membayar terlebih dulu, sudah begitu, tidak bisa berlama-lama dan berkhusuk-khusuk ria. Pendeta yang menjaga akan segera menyeret keluar jemaah yang terlalu lama berdoa. Di belakang, masih ada ratusan orang mengantri.

Lain waktu ia mengikuti ritual penebusan dosa. Dengan membeli indulgensia, berdoa Bapa Kami setiap anak tangga dari paling bawah sampai puncak, ia akan membebaskan orang yang didoakannya, sang kakek Hendrik Luther dari apu penyucian menuju gerbang surga. Satu perak untuk satu indulgensia. Kalau ditambah barang dua tiga perak, ia mungkin bisa membebaskan keluarganya yang lain juga. 

Sepulang dari Roma, ia mulai merasakan ketidakberesan dalam Katolik Roma. Luther, oleh gurunya, kemudian dikirm untuk menuntaskan keinginantahuannya yang dalam akan kasih Tuhan yang sebenarnya untuk belajar teologi di Wittenberg.

Sama halnya seperti di Roma. Di sini pun, Luther masih menemukan kenyataan yang berlawanan dengan akal sehat serta hati nuraninya. Setiap pendeta baru datang, berarti beban bagi warga Wittenberg. Membayar sedekah untuk menanggung hidup si pendeta. Sementara mereka sendiri harus melarat.

Ia melihat bagaimaan Pendeta berkhotbah di hadapan kerumunan rakyat miskin bin melarat, para tukang, kuli, pelacur, peminta-minta, seperti layaknya sales mengobral indulgensia. Dengan memberikan efek dramatis, seperti visualisasi neraka. Mereka yang berdosa, akan dibakar dalam bara api.

Dibayangi ketakutan seperti itu, jemaah berbondong-bondong membeli indulgensia. Tidak tega rasanya membayangkan sanak keluarga mereka kelak dilahap  api neraka. Indulgensia, seolah rakit yang akan melarung mereka menuju keselamatan tuhan. Surga.

Luther jelas marah. Tuhan Maha Pengasih, baginya. Dialah yang karena cinta kepada umatnya, rela memikul salib. Tapi tuhan, telah dihadapkan kepada umatnya sangat menakutkan, menyiksa, menyeramkan, dan pamrih.

Indulgensia, hanya selembar kertas yang bisa dikeluarkan oleh setiap Uskup. Tapi lembar kertas ini, bisa ditukar dengan kepingan uang yang konon dapat menyelamatkan manusia dari api neraka. Luther menyangkalnya. 



Ia lantas menulis surat yang berbunyi;

Kepada Albert di Mainz.
Bapa dalam Kristus dan pangeran yang termasyhur.

Maafkan atas kelancanganku menulis surat padamu. Aku memberanikan diri sebab itu tugasku untuk melayanimu dan memperingatimu akan praktik tidak benar dari mereka yang mengaku meakili Anda. Kristus tidak memerintahkan penyebaran indulgensia. Tapi penyebaran injil.
 
Orang Kristen harus diajarkan kalau orang memberi pada yang miskin, atau meminjamkan pada yang membutuhkan, melakukan hal yang lebih baik daripada yang membeli indulgensia. Kalau Paus bisa mengosongkan api penyucian, mengapa dia tidak melakukannya demi kasih namun demi uang?

Surat itu kemudian sampai ke Roma, kedua murid Luther di sekolah teologia mencetaknya makin banyak dan menyebarluaskannya ke semua warga. Dan tebak, bagaimana reaksi masyarakat kelas bawah dan para penguasa negara dan pemuka gereja.

Hidup Luther mulai berbuah ketika ia memutuskan untuk mengikuti hati nurani dan melawan ketidakadilan. Ia mulai terseret dalam kelindan penguasa dan gereja. Antara Jerman dan Roma. Ia mengahadapi berbagai kemelut dalam hidupnya. Ia berjuang keras untuk itu. Satu prestasi terbesarnya adalah menerjemahkan Injil dari bahasa Yunani ke bahasa Jerman. Sejak itu pula, gereja Jerman memisahkan diri dari Roma. Ini yang kemudian kita kenal sebagai peristiwa reformasi gereja.

Gereja, pada masa itu, begitu hegemonik. Bagaimana tidak, sumber pengetahuan agama adalah Injil, tapi injil ini berbahasa Yunani sementara berjuta umatnya bukan orang Yunani saja. Jadi, siapa yang punya sumber otoritas penyebaran Injil selain mereka yang bisa berbahasa Yunani dan belajar Theologia. Orang miskin hanya punya sedikit kemungkinan. Untuk bisa sekolah, biaya yang dibutuhkan tidak sedikit.

Baik penguasa negara maupun gereja, dalam hal ini, melestarikan hegemoni mereka atas khalayaknya dengan tetap membiarkan mereka bodoh, menjauhkan mereka dari pengetahuan. Agama juga mereka gunakan sebagai sarana. Lewat agama, mereka mengeruk kekayaan untuk penguasa. Ambil contoh indulgensia tadi. Lewat agama, orang diajarkan untuk patuh seutuhnya pada penguasa, meski selalim apa pun orangnya. Agama mengajarkan orang untuk bersabar atas segala keterpurukan, kebodohan, kemiskinan yang mereka alami. Seolah seperti itulah mereka maksud penciptaan mereka, bukan karena penguasa yang tidak becus mengurus rakyatnya.

Agama bagai candu bagi masyarakat ini (mengutip eyang Marx). Candu yang membuat mereka lupa akan segala bentuk kemiskinan dan derita, sebab satu pengetahuan telah mengelabui mereka; surga dijanjikan bagi mereka yang bersabar dan taat. Jadi, semakin seseorang beragama tanpa kecurigaan, maka semakin ia tak berdaya untuk melawan. 






Wednesday, 19 December 2012

tentang ingatan

from here



Ingatan saya cukup baik. Masih jelas menghadirkan potongan-potongan kisah yang berkesan bagi saya. Bahkan visualisasi bisa lebih jelas saat momen-momen tertentu.

Saya bersyukur untuk itu. Tapi tidak untuk beberapa kasus.

Saya bukan tipe orang terbuka. Juga bukan orang yang dengan mudah percaya dan mempercayakan hati pada orang lain. Mungkin ini warisan dari leluhur saya, libra. Penakar untuk menimbang-nimbang segala sesuatu, bahkan pada hal-hal yang mungkin tidak perlu ditimbang juga. Karena itu, ketika saya sudah memutuskan, saya berharap itu yang terbaik dan abadi. Saya tidak pernah menyiapkan diri mengahadapi kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi di awal, tengah atau akhir perjalanan.

Dan ketika kemungkinan itu menampakkan diri dalam kenyataan, saya limbung.

Kerapuhan menggrogoti saya perlahan-lahan. Tapi kamu tidak pernah tahu, kan?

Ia, ingatan saya, sama kurang ajarnya dengan rindu. Datang tanpa diminta. Mendudukkan saya di depan layar memutarkan film yang sama sekali tidak ingin saya tonton. Ia bisa saja melakukan itu sekarang, besok, atau sepuluh tahun lagi. Tak peduli saya di mana. Bergandeng dengan siapa, sedang mencium siapa. 





Monday, 17 December 2012

(calon) Rektor Baru...


Sebentar lagi kampus saya akan punya rektor baru. Setelah sekian tahun rektor kampus saya satu orang itu saja. Mulai jaman nama kampusnya masih UIIS, Stain, sampai jadi UIN kayak sekarang. Kira-kira lebih dari 12 tahun lah…

Ini pasti kabar gembira bagi hadirin setia acara-acara besar kampus yang mewajibkan rektor ceramah sambutan. Sebab mereka tidak akan mendengar satu album kaset yang diputar terus-terus. Kampus ini sudah begini, berprestasi begitu, dan punya mahasiswa internasional dari negara sana-sini, punya program unggulan blah-blah-blah, dan bayak mencontohnya….. Kira-kira begitulah kalau calon mantan rektor saya ngasih sambutan di setiap kesempatan. Saya pernah bertemu seorang ibu, waktu tahu saya anak UIN, si ibu langsung tanya, rektornya masih yang lama? Sudah tua yah, kuk belum ada penggantinya yang muda? Kalau sambutan suka ngulang-ngulang yah… mungkin sudah tua kali, ya, mbak. Saya mesam-mesem menanggapi.

Kabar burung yang beredar (gak tahu deh burung dari mana), dari 4 bakal calon sebenarnya yang dijagokan cuma satu. Yang lainnya sebagai pelengkap gitu. Dan mungkin itu sedikit benar. Beberapa hari lalu waktu penyampaian visi-mis calon rektor, hanya 1 yang yang terlihat bersemangat dan yakin akan terpilih. Sisanya seperti presentasi biasa di kelas. Malah ada 1 calon tidak hadir. Sakit katanya.

Saya jadi teringat masa sma dulu. Waktu pemilihan ketua OPPK Putri (semacam OSIS gitu) saya dan teman-teman satu angkatan sudah sepakat memilih Aan sebagai ketua, Naila jadi wakil, saya jadi sekretaris, dan Leli jadi Bendahara. Sampai struktur-struktur kecilnya sudah kami siapkan semua.

Tapi OPPK Demisioner punya aturan sendiri yang harus kami taati soal regenerasi. Katanya kami perlu belajar menjalankan pesta demokraasi yang baik dan benar. Menurut aturan, jabatan ketua diisi oleh calon dengan suara pemilih terbanyak, jabatan sekretaris dan bendahara diisi oleh calon-calon sisanya. Ini berarti, biar saya atau Leli dan Naila tidak ingin jadi ketua, mau gak mau harus ikut serangkain acara pemilihan agar struktur yang sudah kami sepakati sebelumnya tidak berubah.

Mula-mula dibentuk kelompok (partai) untuk tiap calon. Anggota-anggotanya ini yang akan mensosialisaikan dan mengampanyekan calon ketua ke semua siswa. Lalu ada malam jajak pendapat, kampanye monologis, kampanye dialogis, psikotes (kayak mau lamar kerja ajah :D), sampai malam ploncoan khusus sama pengurus demisioner. Ploncoan, habisnya ini mengingatkan saya pada malam MOS. Jam 12 belas dibangunkan, dan di suruh ke sekolah, dan masuk ruangan untuk diinterogasi dan suruh macam-macam.

Untuk menyiasati biar massa tidak terkecoh selama masa kampanye, kami menugaskan mata-mata untuk menyebarluaskan propoganda ke adik-adik kelas: Dek, ingat! Jangan lupa yang dipilih itu mbak Aan yah…

Semuanya saya lewati dengan perasaan enteng. Tanpa beban sama sekali. Saya menikmati ini sebagai permainan drama. Kecuali saat harus berbicara depan umum. Saya suka grogi dan mules.
 
Well, saya harap pemilihan rektor bisa lebih demokratis dan dewasa :)

Semoga rektor baru bisa memberi perubahan. Sebab sepertinya yang namanya rektor itu jauh dari mahasiswa. Gak merakyat. Tersembunyi di balik menara gading gedung rektorat. Rektor cuma bisa ditemui saat pembukaan OSPEK, seminar-seminar yang mendatangkan menteri anu, gubernur itu, dan dirjen ini. Atau minta tanda tangan proposal kegiatan, itu juga jarang-jarang.

Saya sangat ingin melihat adik-adik tingkat saya bisa hidup bebas di bawah kebijakan yang memang bijaksana. Saya tidak ingin melihat mereka harus terkungkung satu tahun di asrama yang buka sampai pukul 09.00 malam. Mereka tidak harus wajib mengikuti kuliah bahasa Arab dari pukul 14.00-20.00 selama dua semester penuh, tiap Senin-Jumat (ngalah-ngalahin anak pesantren.) Mereka-mereka ini kelak tidak boleh jadi korban pencitraan kampus. 

Semestinya mereka bisa punya banyak waktu luang untuk belajar lain-lain yang juga penting, misal mengembangkan bakat-minat di unit aktivitas mahasiswa, menyalurkan hasrat berorganisasi, ikut club-club debat, atau sekadar baca buku di perpustakaan. 

 Hopefully…





Wednesday, 12 December 2012

tak bernama


pict from eyang google


ombak kesedihan menerpa sesuatu tak bernama di dadaku
suatu tempat perasaan bermuara
bergulung-gulung
desak-mendesak.

apa ini...
air mata bahkan tak mampu menerjemahkannya
bukan,
bukan bimbang,
gamang
apalagi galau
atau saraf sedang galat

yang kutahu, hanya wajahmu terus membayang




Friday, 7 December 2012

my fave boy



what do you think?

November kemarin saya menemani teman saya, Si Ariph, menemui Mas Alfan di sekretariat Dewan Kesenian Malang (DKM). Mas Alfan tinggal di situ sama keluarga kecilnya. Mas Alfan ini pelukis. Nah, yang di atas itu lukisan dia juga. Waktu pertama masuk galeri kerjanya, mata saya gak bisa lepas dari this lil boy. Langsung jatuh cinta :)






Tuesday, 4 December 2012

#novel: The Expected One




Kalau ada yang bilang The Da Vinci Code-nya Dan Brown kontroversial lantaran mengisahkan Yesus seperti manusia biasa yang juga bisa menikah. Lebih gila lagi, menikah dan memiliki anak dengan perempuan yang dalam gereja dianggap sebagai pelacur, Maria Magdalena. Novel Kathleen McGowan ini lebih kontroversial lagi.

Maria Magdalena, dalam novel ini, berasal dari keluarga bangsawan Yahudi. Sejak kecil, dia dekat dengan Easha, nama kecil Yesus. Namun ketika dewasa, ia terpaksa dinikahkan dengan Yohanes Sang Pembaptis. Pernikahan ini sarat intrik politik kekuasaan dan agama. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, Yohanes-Yusuf

Bagaimanapun, takdir akhirnya menyerah pada kekuatan cinta. Yohanes mati dipenggal, dan Maria menjanda. Takdir pula yang mempersatukan kembali Yesus dan Maria. Yesus menerima Maria apa adanya, meski Ia tahu Maria janda beranak satu. Mereka memiliki sepasang anak, Sarah-Tamar dan Yeshua-Daud

Itu baru soal percintaan. Belum soal politik dalam kehidupan Yesus-Maria-Yohanes yang mengantarkan mereka pada ajal dan pengasingan. Yohanes mati dipenggal oleh penguasa Herodes, Yesus mati disalib, sementara Maria harus menyelamatkan keturunan Yohanes dan Yesus dari kejaran para penguasa. Anak Yohanes akhirnya diselamatkan para pengikut setia bapaknya, sementara maria dan anak-anak Yesus meneruskan perjalanan ke dataran Eropa. Di sanalah mereka meneruskan hidup dengan menyembunyikan identitas, agar bisa hidup tenang dan selamat.

Saya melihat ada kesamaan antara The Da Vinci Code dan The Expected One dalam menceritakan Maria Magdalena. Maria Magdalena tidak pernah dihadirkan sebagai karakter utama dan cerita yang berdiri sendiri. Kisah Maria, seperti bingkai dalam bingkai. Jika dalam The Da Vinci Code, Sophie dan Robert menyibak misteri Maria dari kode yang mereka pecahkan, dalam The Expected One ini Maria tampil di atas catatan yang ditulisnya sendiri yang di kemudian hari ditemukan oleh Maureen. Catatan itu dikenal sebagai Injil Arques Maria Magdalena, Kitab Para Murid.

Eniwei, saya menghatamkan novel ini selagi lampu di kamar mati minta diganti. Tiga malam ditemani lilin, dan pintu yang dibuka lebar, biar cahaya dari luar kamar bisa nyelinap masuk. Dan Christina Perri berulang-ulang menyanyikan A Thousand Years. Kayaknya lebih pas jadi soundtrack novel ini ketimbang jadi OST Breaking Dawn :)


Wednesday, 28 November 2012

perihal kenangan


Tahukah kau, di mana orang mati sekarang?
Kenangan

Lalu di mana waktu kita yang telah berlalu?
Kenangan

Akan ke mana waktu kita sekarang?
Kenangan

Dan, waktu yang akan datang pun
Kemudian hari bakal jadi
kenangan

Tapi kenangan yang mana dan bagaimana?
Tak tahulah...
Kita terjebak, di entah kenangan siapa


Tuesday, 27 November 2012

ganjil vs genap


Ganjil.
Bukan perasaanku.
Tapi situasi sekarang.
Dulu kita genap.
Lalu tanpamu...

Iya, dulu empat.
Genap. Sekarang tiga.
Bukankah itu angka ganjil…

Jadi,
Kadangkadang, untuk menggenapkan
Aku memintamu berkunjung,
Ke dunia di mana kita bisa tak lagi ganjil
Kenangan… 




Wednesday, 14 November 2012

Menziarahi perempuan


Perempuan, inilah aku -anakmu perempuan
Berjalan jauh menyusuri gundukan tanah basah kuburan baru
Membaui hadirmu di antara makam berkijing dan tidak
Berusaha menemukan namamu pada nisan lamat-lamat

Sungguh perjalanan panjang
Menziarahi guna berlutut di depan belulangmu
Sembari menaburkan kembang dan meletakkan sebuket mawar- persis di bawah namamu

Terberkatilah kau perempuan,
Untuk memberikan apel kepada lelakimu; telah kau bukakan pikirannya
Untuk keberanianmu telanjang; upaya mendapatkan kunci menuju bumi
Bumi tempat kau dan lelakimu memadu kasih
Beranak pinak
Bumi tempatmu menemukan arti

Terberkatilah kau perempuan,
Pada luruh darahmu kehidupan bermula; lalu kau dinistakan karenanya
Dari rahimmulah manusia -anak-anakmu
Dan dari dada ranummu pula manusia menyusu kehidupan
Hisap habis menyisakan puting besar sarat jejak gigitan kemarahan

Kau perempuan terbuang
Anak-anakmu, bibir mencium pipi,
Tapi tangan yang memeluk punggungmu berbelati
Menusukmu sebagai ganti kehidupan yang kauberikan
Demi iri atas alam yang tak sempat mereka cicipi
Demi dunia tempatmu terusir dan menyingkir
Demi alam yang dinantikan
            Firdausi, bukan Bumi

Aku berdoa untukmu perempuan
Di akhir pertemuan
Sebelum melafal kata terukir di nisan 
H  A  W  A

Pada rahimmu aku berhutang kehidupan

Malang, 12 Agustus 2012





Wednesday, 7 November 2012

I'm Ok, Himmah :)


Suatu hari, setelah sekian lama, saya memutuskan untuk ke perpustakaan pusat kampus. Nyaris satu semester ini saya tidak pernah berkunjung ke perpus lagi. Di antara kami, saya dan perpus, seolah sudah tidak ada yang dapat dipertahankan (heh?). Tidak ada alasan bagi saya untuk mengunjunginya.

Ya, memang sudah mulai menyicil skrips(h)i(t), tapi tidak ngoyo, lagipula koleksi referensi milik perpus fakultas dan SAC lumayan lengkap. Saya juga lebih suka cari buku di Pasar Buku Wilis yang murah meriah, atau ke Togamas yang diskonnya gila-gilaan. 

Tapi hari itu saya memang harus ke perpus pusat. Saya perlu membaca banyak referensi. Tulisan untuk si ino harus segera diselesaikan.

Untuk bisa masuk perpus dan bebas meminjam buku, saya diwajibkan memperpanjang masa aktif KTM saya dan membayar Rp= 5.000 sebagai ganti biaya administrasi. KTM di kampus saya berlaku hanya sampai 8 semester perkuliahan, lebih dari itu harus memperpanjang.

Pencarian buku pun dimulai di lantai 3 perpustakaan. Berawal dengan mengitari satu demi satu rak-rak yang berjejer di sebelah utara. Karena buku yang saya cari bertema agama, saya yakin sekali pasti nyelip di antara rak sebelah sini. Mulai timur sampai barat, depan belakang, akirnya ketemu juga di rak kedua paling barat. Syiah-Sunni, ada diantara daftar yang tertera di rak.

Mata dan tangan saya mulai menyisir buku-buku. Dari atas kebawah, bawah ke atas lagi.  Nihil. Saya lantas berpaling ke rak sebelahnya, rak paling ujung. Mungkin petugasnya salah taruh.

Mulai lagi, dari kanan ke kiri. Atas-bawah, jungkir-balik. Perasaan sedikit putus asa bikin saya jadi lemas dan lapar. Setelah beberapa saat, akhirnya saya menemukan dua buku. Tuh, kan, apa saya bilang. Buku-buku Syiah-Sunni dipindah ke rak ini. Ada di pojok paling bawah. Buku-buku-nya tidak banyak. Dari lima buku yang saya butuhkan, hanya ada dua, sisanya mungkin lagi dipinjam.

Saya santai sejenak. Sudah tidak kuat rasanya berdiri, apalagi harus memiringkan kepala biar bisa baca judul buku di rak. Sembari selonjoran dan bersandar ke rak, saya membuka halaman-halaman buku. Membaca. Peduli amat dengan pengunjung lain. Lapar saya sudah naik sampai ke ubun-ubun.

Saya merasa perempuan di sebelahku menatap saya. Lama sekali. Sampai akhirnya saya balas menatapnya. "Navis?" sapa perempuan tadi keheranan, teman-teman di kampus memanggil saya Navis. Ia pindah posisi, ikutan duduk di depan saya. Saya cengengesan saja, sambil menatap wajahnya, saya coba ingat-ingat siapa namanya. Yang saya ingat pasti dia teman saya di PKPBA waktu semester satu-dua dulu. "Himmah…," akhirnya saya bisa nyebut nama dia.

Himmah yang di belakang itu, serius bgt blajar PKPBA


Ia mulai menyanyai saya. Kami sudah lama tidak bertemu. Dari tatapannya, saya merasa dikasihani. Mungkin tampang saya seperti orang depresi. "Kamu nyari buku buat apa? Masih ada kuliah? Atau buat Skripsi?" saya hanya menggeleng. Saya jelaskan kalau saya sedang tidak mencari buku untuk urusan kuliah. "Skripsi kamu belum selesai, yah? Teman-teman kita yang belum lulus siapa saja?" Ia terus menanyai saya. Menyinggung-nyinggung skripsi. Saya kasih tahu lagi, saya sudah proposal, dan skripsinya masih saya simpan dulu di loker, belum saya otak-atik lagi. Teman-teman kami jaman PKPBA dulu juga ada yang belum lulus, terutama anak sastra inggris, yang sejurusan dengan saya.

Teman saya ini belum juga berhenti menatap saya. Masih dengan tatapan aduh-vis-kamu-kok-kurus-kaya-orang-mikir-skripsi-yang-gak-selesaiselesai. Saya melengkungkan senyum lebar, dan berhenti menunjukkan raut orang kelaparan. Ekspresi wajahnya sedikit berubah.

Kami mulai bercerita yang asik-asik. Saya masih dengan posisi selonjoran, himmah di depan saya. Lorong antar dua rak ini jadi milik kami berdua. Himmah lulus semester 7, bulan mei lalu. Sekarang sedang melanjutkan S2 di pasca-sarjana di Batu. Sesekali terdengar, "Ayo, semangat. Selesaikan skripsimu, vis. " Ia terus-terusan menyemangati saya.

Beberapa saat kemudian saya memutuskan untuk keluar lebih dulu. Saya berlalu. Cacing dalam perut kegirangan. Tahu ajah kalo mau dikasih makan. Ketika hendak menuruni tangga, Himmah memanggil saya, tangannya mengacungkan buku yang tadi saya tinggalkan. Saya menggeleng, "Gak jadi. " sambil menunjukkan dua buku yang sudah saya pilih. Ia mengangguk, "Semangat ya!"

Saya tersenyum. Trims, sudah perhatian sama saya :)
Malang, 5 November 2012
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...