Monday, 23 April 2012

cukup rawan

Roda sepeda motor yang saya kendarai berputar, terus melaju memasuki kecamatan Singosari, kabupaten Malang. Singosari, nama ini tercatat dalam buku-buku sejarah sebagai nama kerajaan. Nama yang mengingatkan saya pada Ken Arok, Kendedes, Ken Uma, dan Tunggul Ametung.

Ingatan akan sejarah masa lampau diperkuat dengan nama-nama jalan yang kami lalui seperti Tumapel, Kertanegara, dan Tunggul Ametung. Candi Singosari berdiri tegak di Jalan Kertanegara.

Sekitar 5 kilo meter ke arah utara. Ada candi lain selain Candi Singosari. Saya meneruskan perjalanan ke desa Toyomarto. Dari jalan beraspal berbelok masuk ke arah pepohonan. Jalan menyempit, susah dilewati sepeda motor.

Butuh berjalan kaki sekitar 400 meter sampai tiba di lokasi candi. Sisi kiri jalan sungai mengalir pelan, airnya jernih. Lumut dan bebatuan di dasar tampak jelas. Anak-anak bermain riang di sungai. Ada pula yang sibuk menyuci pakaian dan sepatu.

Di antara pepohonan, sungai dan telaga terdapat bebatuan tersusun rapi. Bagian dasar berbentuk persegi. Lapiknya berbentuk persegi dan segi delapan. Paling puncak, diasumsikan berbentuk seperti lonceng, atau cangkir terbalik. Namun bagian pucuknya hilang, belum ditemukan. Bagian hilang itu dinamakan stupa. Tempat penyimpanan relik dan benda-benda suci.

Sumberawan. Begitulah nama yang diberi untuk candi dan stupanya. Orang-orang desa menyebutnya Candi Rawan. Cukup Rawan saja.

Nur Yadi, juru pelihara candi, mengatakan bahwa ini satu-satunya stupa di Jawa Timur. Penganut Budha yang tidak merayakan waisak di Borobudur, biasanya merayakan di sini. Candi ini sudah ada sejak abad 14, sekitar tahun 1359. Candi dibangun pada masa Majapahit, pada pemerintahan Hayam Wuruk. Fungsinya sebagai tempat meditasi,  cocok  dengan suasana kaki bukit Arjuna.

Tahun 1845 pertama kali ditemukan oleh Belanda, kemudian direstorasi pada tahun 1973. Pemugaran dilakukan pada bagian kaki dan Batur.

Beberapa meter depan candi terdapat tempat berdoa. Dua batu berbentuk kursi ditata rapi di belakang meja batu kecil tempat dupa. Setanggi merah menyala menghias meja, masih menyisakan bau harum habis dibakar. Di kaki candi dan pemandian di bagian pojok areal candi juga ada dupa berisi setanggi.

 Untuk menikmati suasana di sini, pengunjung tidak dipungut biaya karcis. Nur Yadi membiarkan pengunjung masuk, dan membayar pastisipasi seikhlasnya saat keluar.

Pengunjung berdatangan, tidak banyak. Sekadar melihat-lihat, atau berwisata. Ada yang memanfaatkan pemandian  untuk menyegarkan badan. Hanya barang satu atau dua pengunjung terlihat khusuk berdoa.

Sunday, 22 April 2012

Thursday, 19 April 2012

Makassar #demo terus mi,


Demo di Makassar. Mahasiswa Makassar beraksi lagi

Setelah harus menunggu 30 menit delay dan perjalanan sekitar 40 menit di atas pesawat, akhirnya saya tiba juga di bandara Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan. Tepatnya di wilayah Maros. Di sana Ilham, LPPM Profesi, sudah siap menjemput. Dia ditemani sang ketua, Fadli. Selain saya, ada juga si Egi, Uli dan Dika -- kawan-kawan dari LPM Institut Jakarta.

Kami mengendarai mobil yang disetir Fadli. Ilham duduk di sampingnya, bertindak sebagai pemandu dadakan. Memberitahu nama-nama tempat yang kami lalui.

Di Maros, Ilham menunjukkan pabrik semen BOSOWA yang berada di samping kiri jalan. Semen ini lumayan terkenal di daerah timur Indonesia. Bapa dan mama saya biasa memesan semen Bosowa untuk keperluan bangun rumah.

Sampai fly over di pertigaan Jl. Urip Sumoharjo dan Jl. Pettarani, mobil melaju persis di bawahnya. Ini sudah masuk wilayah kota Makassar.  Ada coretan grafiti yang ditulis sekadarnya di kaki fly over. Turunkan BBM. BBM Naik, SBY TURUN.   

Selain identik dengan kota Coto Makassar, demo mahasiswa juga jadi bagian dari kota Makassar. Setiap ada kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, mahasiswa pasti turun lapangan meneriakkan protes. Entah di Jakarta, Malang, Medan, atau Surabaya. Tapi tak ada yang lebih getol dari Makassar. Fly over urip-pettarani jadi saksi bisu. Di bawah jembatan layang inilah mahasiswa Makassar kerap berdemo. 

Terakhir, tersiar kabar dari televisi mengenai demo kenaikan BBM. Tanggal 27 Maret, terjadi aksi penolakan besar-beasaran. Gerakan tolak kenaikan BBM.

Saya tidak ikut turun aksi, hanya menyimak depan layar kaca televisi (tivi). Semua stasiun tivi berlomba-lomba merekam dan menyiarkan langsung aksi-aksi tersebut. Saya memilih channel metro-tv.

Sejak pukul 14.00 WIB sampai sekitar 18.00 WIB, metro-tv masih memberitakan situasi demo dalam rangkaian  acara wide shot. Reporter melaporkan langsung dari Makassar, Riau, Malang, dan Jakarta. Tapi saya mencatat, Makassar yang lebih banyak porsinya.

Brutal dan anarkis. Banyak orang mengambil kesan serupa jika melihat aksi yang direkam si kameramen. Atau sekedar melihat judul-judul berita seperti berikut ini;
  • Aksi mahasiswa semakin memanas
  • Polisi tembak gas air mata
  • Aksi berujung bentrok
  • Mahasiswa lakukan perusakan

Mahasiswa Makassar diberitakan melakukan perusakan di di restoran cepat saji asal Amerika, menjarah minumannya. Di lain hari juga menjarah gas LPG.

Saya menyabar-nyabarkan diri agar betah menonton berita. Gregetan nontonnya. Bukan berita kenapa BBM mesti naik, kenapa mahasiswa menolak kenaikan BBM yang saya dapatkan, melainkan lagi-lagi mahasiswa anarkis yang dipertontonkan media ke khalayak umum. Sebagai mahasiswa saya juga tidak setuju pada tindakan anarkis. Tapi tingkah mahasiswa yang kemudian dilabeli anarkis itu juga tidak muncul dengan sendirinya jika tak ada yang menyulut.  

"Bagaimana kesannya tentang Makassar?" tanya Ilham tiba-tiba. Saat itu, kami bahkan belum sampai di tempat tujuan. Pertanyaan yang menurut saya terlalu dini. "Di Makassar sering demo yah?" ia kembali bertanya.

Saya tertawa. Pertanyaan terlalu dini? Tidak juga. Karena sebenarnya, sebelum ke Makassar, saya dan mungkin berjuta orang lain juga sudah lebih dulu membuat penilaian dini tentang Makassar. Beberapa waktu sebelum berangkat, teman-teman di kampus UIN Malang suka berseloroh; "Gak takut tah ke Makassar? Di sana sering demo." Atau, "Siap-siap bawa helm." Maksudnya buat jaga-jaga kalau ada aksi lempar batu.

Sadar atau tidak, selama ini tivi dan sebaran informasi di internet atau surat kabar harian yang jadi sumber rujukan saya tentang Makassar. Informasi yang saya dapat, sudah tentu berdasar perspektif orang yang merekonstruksi fakta dalam bentuk tulis, audio maupun video. Tapi bagaimana sebenarnya, saya juga tidak tahu. Yang pasti jangan tergesa-gesa percaya dengan kebenaran yang disampaikan media kejar tayang. 

Friday, 13 April 2012

Cantik = Penjajahan?


Coba perhatikan wajah-wajah di layar televisi anda akhir-akhir ini. Ada banyak sekali wajah-wajah putih bersih, tinggi semampai, berambut lurus. Cantik. Hadir dalam berbagai bentuk. Presenter, bintang film, aktris sinetron, model, penyanyi, bintang iklan. Mereka hadir setiap hari di berita, gosip, talkshow, pentas musik, sinetron, dan beragam acara lainnya. Selain cantik, posisi mereka sebagi selebritis membuat mereka populer. Selebritis; mungkin ini kata yang tepat untuk pekerja seni tersebut.
Belum pernah ada riset atau sensus mengenai hal ini, tapi perhatikan sekali lagi layar televisi Anda; kebanyakan selebritis tersebut berdarah campuran. Sebut saja Cinta Laura (Jerman-Indonesia), Yuki Kato (Jepang-Indonesia), Nabila Syakib (Arab) Sandra Dewi (Tionghoa ) dan beberapa nama lain seperti Dewi Sandra, Tamara Blezinsky, Marisa Nasution dan yang lainnya.
Lantas kenapa jika banyak wajah perempuan-perempuan berdarah campuran di televisi? Menurut Naomi Wolf, perempuan entah itu yang putih, hitam, atau sawo matang memiliki persepsi yang sama mengenai kriteria kecantikan. Prototipe kecantikan ini bisa ditemui di tubuh seorang model: tinggi, kurus, berambut lurus, wajah bebas jerawat –tanpa noda, dan tentu saja hidung mancung. Sangat eropasentris.
Kriteria cantik seperti ini jarang ditemukan dalam tubuh perempuan indonesia yang ayah ibunya orang melayu. Kecuali yang terlahir dari percampuran ras. Kecantikan mereka dianggap mewakili standar kecantikan eropasentris, sehingga kemudian yang kita temui hari ini adalah menjamurnya wajah-wajah ala luar negri di berbagai program televisi.
Keturunan Arab atau Tionghoa dalam hal ini, meskipun bukan Eropa, tapi kulit mereka yang lebih terang dari orang indonesia umumnya kemudian disejajarkan dengan kelompok keturunan Eropa. Yang bukan Indonesia, selalu lebih menarik.
Asumsi kecantikan ini tak bisa lepas dari sejarah penjajahan dan imperialisme di berbagai belahan dunia seperti Afrika, India, Malaysia dan Indonesia. Indonesia pernah dijajah belanda selama 350 tahun, buka waktu yang singkat. Belanda tidak hanya menjarah kekayaan alam dan memperbudak bangsa Indonesia, secara fisik, melainkan juga secara psikis.
Edward Said dengan berpijak pada teori Michel Foucault mengenai relasi kuasa/pengetahuan menganalis kerja orientalis. Orientalisme adalah kajian budaya, bahasa, dan lainnya. Beas nila da objektif. Nyatanya, pengetahuan ini kemudian digunakan eropa sebagai sarana melanggengkan kekuasaan. Menanamkan cengkramannya lebih dalam.
Eropa, penjajah lantas merasa superior, sedang yang dijajah inferior. Tidak berpendidikan, dekaden, dan tidak berbudaya. Sehingga mereka merasa perlu melakukan usaha balas budi yang diprakarsai lewat pendidikan, penanaman pengetahuan bahwa yang ala Eropa ini lah yang baik. Mitos kecantikan yang kita warisi saat ini, merupakan salah satu artefak sejarah; Eropa (masih)berkuasa di sini. Orang-orang kemudian berlomba-lomba menjadi seperti Eropa; merayakan mimikri, meniru false identity. Kita kemudian jadi asing dengan budaya kita sendiri.
Semasa penjajahan pernah ada pembagian masyarakat menurut hukum Belanda yang terdiri atas;
a. golongan Eropa;
b. golongan keturunan Eropa;
c. golongan Timur Asing;
d. golongan Bumiputera
Pembagian kelas jelas menunjukkan adanya diskriminasi ras, dimana yang kulit putih jauh lebih tinggi dari berwarna. Dampaknya bukan dalam persoalan hukum semata, tapi juga secara sosio-kultural. Tokoh Samsul Bahri dalam roman Siti Nurbaya contohnya, memilih menjadi opsir Belanda. Sebab bekerja pada Belanda lebih terhormat. Seolah-olah dirinya adalah Belanda itu sendiri.
Menyoal kecantikan, Hanafi yang diceritakan dalam Salah Asuhan karya Marah Rusli tergila-gila kepada noni Belanda, Corrie. Ia lebih mencintai Corrie yang putih, berbudaya dan terpelajar dibanding gadis pilihan ibunya. Rapiah. Gadis kampung yang tidak bisa menata rumah dan memasak ala orang Belanda.
Hari ini, ketika televisi kemudian marak menampilkan wajah-wajah keturunan, suatu indikasi bahwa pengaruh penjajahan masih menghegemoni bangsa ini. Persis seperti yang dikatakan Leela Gandhi, salah seorang tokoh poskolonial, bahwa relasi penjajah-dijajah adalah hubungan hegemonik. Prabosmoro dalam analisisnya atas iklan sabun yang dibintangi artis berdarah campuran mengungkapkan bahwa tubuh model-model tersebut telah dipakai sebagai representasi perempuan kulit putih.
Semakin sering wajah-wajah selebritis ini digembar-gemborkan, semakin terhegemonilah kita. Krisis identitas sedang berlangsung. kita semakin tercerabut dari akarnya. Sementara kita sama sekali tak sadar.
Program televisi yang persuasif menyebarkan standar kecantikan adalah iklan-iklan tubuh dan wajah. Iklan sabun, losion, facial foam, menjanjikan kulit putih mulus. Penggambarannya dengan seorang bintang iklan yang awalnya berkulit gelap, jadi putih selama memakai produk tertentu.
Jangan heran jika kelak Anda menemui orang-orang serupa bule di jalanan, pasar, stasiun, atau di mana saja. Anda mungkin terkejut, teman yang dulu hitam, sekarang lebih terang kulitnya. Krim pemutih sedang laris memang, salon dan dokter kecantikan pun begitu. Injeksi pemutih jika tak ingin repot.
Perempuan-perempuan di Bima pernah diberitakan gencar melakukan rebonding agar dapat memiliki rambut lurus. Sedang istilah buceri muncul sebagai penanda orang yang mengecat warna rambutnya menjadi pirang, blonde, merah. BUle Cat sEndiRI.
Suatu ketika, saya memergoki keponakan perempuan sedang bermain bedak. Bedak tersebut ditaburkan keseluruh tubuh. Di kaki, lengan. Penampilannya persis seperti tikus kecemplung tepung. “Ini biar putih, cantik...” jawab si kecil, saat itu masih TK, ketika ditanya. Anak kecilpun sudah terpengaruh. Cantik = Putih.
Lagi-lagi, seperti Hanafi dan Samsul, perempuan Indonesia terperangkap dalam mimikri. Hasilnya, mitos cantik adalah kulit putih tak sekadar diamini, sayangnya juga dihayati dalam laku.
Bukan bermaksud untuk menghakimi selebritis, toh mereka juga korban dari sistem yang membelenggu. Mereka korban, masyarakat juga korban. Sama-sama tidak menyadari kekuatan besar berupa belenggu ideologi kulit putih, Eropa. Satu hal yang pasti; penjajahan masih berlanjut.

Referensi
            Ashcroft, Bill, etc.2003. Menelanjangi Kuasa Bahasa: teori dan Praktik Sastra Kolonial. Yogyakarta: Qalam
            Gandhi, Leela. 2001.Teori Poskolonial: Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat. Yogyakarta: Qalam.
            Prabosmoro, Aquarini Prayitna. 2003. Becoming White: Representasi Ras, kelas, Feminitas dan Globalitas dalam iklan Sabun. Bandung: Jalasutra
            Sardar, Ziauddin and Borin Van Loon. 2005. Seri Mengenal dan Memahami Cultural Studies. Jakarta: Scientific Press
Wolf, Naomi. 2004. Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan. Yogyakarta: Niagara.

teka-teki

selalu ada jawaban untuk setiap teka-teki hidup

Thursday, 5 April 2012

makassar #Gate 6


Makassar. Kalau pulang ke rumah saya di Tual sana, baik naik kapal atau pesawat, selalu transit di Makassar. Naik pesawat sih, tidak pernah lama. Dan tidak bisa ke mana-mana. Jika naik kapal, transit bisa sampai 2-3 jam. Lumayan buat jalan-jalan keliling Makassar. Tapi yang ini beda. Nah hari ini, alhmadulillah ada kesempatan berkunjung. Lumayan lama, tanggal 4-8 April 2012.

Sesuai jadwal, penerbangan saya dengan SJ564, Sriwijaya Air, semestinya berangkat pukul 13.05. Ternyata ditunda. Di papan display tertera sampai 13.45. Alasannya sedang pergantian pilot atau kapten. Padahal sebelumnya saya sudah tiba di bandara juanda, Surabaya, lebih awal. Pukul 12.25. Takut ketinggalan pesawat.

Saya membunuh kebosanan saya di ruang tunggu gate 6 dengan diam. Sambil sesekali melirik orang disekeliling saya. Empat petugas bandara yang menjaga loket sibuk bercerita. Suara mereka terdenga cukup jelas. Berbicara diselingi tawa berderai. Beberapa kali terlihat ada penumpang datang menghampiri.

Ada lelaki, saya taksir umurnya 35-40an, datang menanyakan apatah maasih sempat untuk menunaikan salat dhuhur. Petugas mempersilakannya. Ia lalu menghampiri seorang teman, mengajaknya keluar ruang tunggu. Mungkin ke mushola.

Sementara itu, jauh di seberang meja petugas, terdengar suara bayi menangis. Sangat kencang. Saya melengok kanan-kiri. Mencari asal suara. Sedikit bergeser dari tempat duduk, agar dapat melihat si bayi. Padangan saya terhalangi meja petugas. Dan saya mendapati gadis kecil dalam balutan baju warna pink, muka merah, dan tangisan kencang. Itu dia. Duduk dipangkuan sang ibu. Duduk manis sambil menangis.

Tak lama berselang setelah lelakki yang ijin salat. Seorang wanita 60an menghampiri petugas. Dengan menggunakan bahasa inggris ia bertanya kenapa pesawatnya ditunda. Dia sampai sudah kelaparan gara-gara menunggu. Petugasnya menjawab terbata-bata. Bahasa inggrisnya mungkin kurang lancar.

Suara si bayi sudah tidak terdengar lagi. Rupanya ia tenang setelah digendong sang ibu. Sambil menyusu pula. Ah, mungkin bayi pink itu juga lapar gara-gara menungggu.

Sedang lelaki tua di pojok ruangan, tiga kursi dari tempat saya duduk, sudah tertidur pulas. Ia mengenakan baju light cyan dan celana coklat terang. Kepalanya bersandar di kursi, wajah menengadah, dan mulut terbuka. Entah lapar, entah capek. 

Beruntung, penumpang sudah diperbolehkan naik pesawat 15 menit lebih awal dari jadwal tertunda. Mungkin bakal banyak lagi orang-orang lapar, tertidur, atau diam karena bosan.

Ayo, cepat, cepat. Jangan tunda-tunda lagi. Sudah tidak sabar menginjakkan kaki di tanah Ayam Jago dari Timur.

Saturday, 31 March 2012

Informasi, Antara UU Intelijen dan Pers


Jimmy Carter, mantan presiden AS, pernah ditanya soal fungsi informasi bagi politisi dan wartawan. Ia menjawab, “Ketika Anda memiliki kekuasaan, Anda akan menggunakan informasi untuk membuat orang mengikuti kepemimpinan Anda. Namun kalau Anda wartawan, Anda menggunakan informasi untuk membantu orang mengambil sikap mereka sendiri.”



Begitulah bunyi sms yang dikirim seorang kawan sekitar satu atau dua tahun lalu. Tapi saya masih ingat betul. Saya juga menyadari betul kebenaran kata-kata Carter. Informasi bagi politisi bisa jadi wadah untuk menggaet orang banyak agar melanggengkan kekuasaannya. Apalagi kalau politisi tersebut menguasai informasi. Wah, bahaya. Seperti rezim orde baru, TVRI dan RRI sebagai aset Negara, sebagai media publik malah jadi corong pemerintah. Media-media yang tidak sejalan, tinggal bredel saja. 

 UU Intelijen yang disahkan pada 2011 lalu, dinilai banyak orang terlalu premature dan tidak jelas. Pada januari 2012, Tim ADvokasi yang terdiri dari perwakilan berbagai elemen seperti IMPARSIAL, ELSAM, AJI, dan lainnya mengajukan permohonan pengujian UU Intelijen ini . Bagi saya, UU ini semacam kegelisahan politisi-politisi di atas sana, yang duduk asyik di DPR. Meski degan mengatasnamakan keamanan nasional, saya tidak yakin, ini lebih tepat jika disebut sebagai upaya untuk melanggengkan kekuasaan.

Dengan lahirnya UU Intelijen, gaya pemerintahan orde baru berpretensi muncul kembali. Orde baru yang represif, sampa-sampai banyak kejadian penghilangan orang secara paksa. Bagaimana tidak, dalam pasal 31 disebutkan bahwa Badan Intelijen Negara memiliki wewenang untuk melakukan penyadapan, pemeriksaan aliran dana, dan penggalian informasi atas kegiatan-kegiatan yang diduga mengganggu stabilitas keamanan nasional, termasuk ideologi politik, budaya, bahkan pendidikan. Juga kegiatan yang diduga terkait terorisme, sparatis atau spionase. Tidak jelas kegiatan yang dimaaksud di atas seperti apa, apa itu terorisme, siapa yang disebut sparatis. Semuanya adalah hasil tafsiran pemerintah atau khususnya badan inetlijen. Informasi yang diperoleh intelijen akan sangat mempengaruhi nasib perorangan atau serikat tertentu yang telah dicurigai.

Masyarakat awam bisa saja jadi korban salah satu yang dianggap intelijen akan menganggu keamanan. Santri-saantri Abu Bakar Ba’asyir contohnya, mereka yang di Solo sana mungkin disadap kegiatannya lantaran ustadz mereka tersangka teroris, dan mereka diduga juga belajar menjadi mujahid di pesantren tersebut. Atau, orang-orang di Papua sana. Bias saja setiap rumah ada intel yang menyusup, karena Negara takut separatis menjamur di Papua.

Kalau begini, jelas, pemerintah dalam hal ini, bukan sedang ingin menjaga stabilitas Negara, tapi sedang ingin mengontrol rakyatnya. Ideologi apa yang kita pegang teguh, agama mana yang kita yakini, atau di mana kita berserikat, sejatinya adalah hak individu tiap warga Negara. Hak asasi. Pemerintah tidak berhak untuk melarang warganya, tapi memata-matai, menyadap, dan kegiatan pencurian informasi lainnya yang dinamakan kegiatan intelijen itu juga tidak tepat dan bijak.

Lain halnya dengan pers. Seorang wartawan seperti yang disebutkan Carter di awal, informasi yang disuguhkan dari masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat banyak. Informasi disebarluaskan guna membantu masyarakat menentukan sikap.

Wartawan selalu ingin tahu apa saja, dan ingin memuaskan hasrat orang banyak, tapi wartawan memiliki kode etik yang jelas. Wartawan, dalam tugasnya menghargai hak asasi dan privasi orang. Wartawan harus memisahkan, antara publik atau privasi. Mana urusan publik yang perlu diberitakan, mana urusan privasi yang tidak perlu diberitakan.

Contoh kasus, SBY dan ibu Ani misalnya, pers berhak untuk memberitakan kegiatan kenegaraan mereka, seperti melawat ke negri ini, mengunjungi daerah, itu, atau meresmikan kegiatan anu, segala yang terkait dengan Negara. Tapi, pers tidak berhak dan tidak etis mengusik kehidupan pribadi mereka seperti yang sempat santer beberapa tahun lalu. Dimana SBY dan Ani dikabarkan telaah menikah sejak SBY masih perwira. Yah, mereka berdua memang bapak dan ibu Negara saat ini, tapi apa hubungannya masa lalu pernikahan mereka dengan Negara ini?

Begitulah kiranya wartawan dan politisi. Sekiranya informasi ada di tangan Anda, pilih mau jadi apa, wartawan atau politisi?

Thursday, 29 March 2012

toome velo

Apatah itu kamu atau aku. Selalu ada yang memulai percakapan
Ringan-ringan saja. Kadang Cuma bilang 'hai'. Yah sekadar basa-basi. Teman lama.
Lama teman.



Percakapan kita selalu berjalan ngalor-ngidul. Sangat tak jelas. Juga tidak nyambung.

Sampai berhenti pada satu titik waktu. Diam. Tak ingin mengakhiri, tapi susah dilanjutkan.



Aku pilih diam saja. Kamu apa juga begitu? Aku tidak suka meneruskan pembicaraan garing kering.

Lebih baik diam saja.


hening

tak ada suara cicak
 lalu..



Ve, deg lo

Lo deg, ve

Ve lo deg

Deg lo ve

Deg, deg, deg

Ve lo ve lo ve lo ve lo

you



Aku nyaris tertawa mendengarnya? Hei, apa itu bunyi jantung ku? Biasanya,

Ye ye, la la…

La la, ye ye



Aneh. Aku berhenti tertawa. Menyimak lebih seksama.

Tidak ada siapa-siapa di kamar, kecuali  aku dan kamu. Aku di kamarku, dan kau mungkin juga di kamarmu. Menatap bisu pada layar monitor.



Kau tahu apa…
velovelovelo... sepertinya bunyi itu bersumber dari laptop-ku. Getaran pelan terkirim dari kilometer jauhnya tempatmu. Butuh hanya sepersekian detik untuk sampai di sini. Lama aku terpaku menatap percakapan kita di facebook. Memastikan.



Benar, itu kamu. Itu nyanyian jantungmu!



Kuhela napas perlahan. Satu… dua… masuk lewat hidung keluar lewat mulut. Sedang berkonsentrasi.

Sisir rambut, pakai bedak tipis, lip gloss, dan sempr…  eh, eit. O ow. Apa-apaan ini? Kamu kan tidak melihatku.



segera kubalas pesanmu: irama jantung anak kecil kegirangan

Toometoometoometoometoometoometoometoometoo


 



Tuesday, 27 March 2012

menebus diri




"Kamu itu perempuan", mama menyisir rambutku, agak kasar.  Mungkin sudah hampir seminggu tidak disisir.
"Belajar yang benar", rambutku menjerit. Sakit.
"Harus berpendidikan".  Aroma santan tercium dari sela-sela rambut.
"Biar tidak seperti bibimu, kerjanya Cuma di dapur. Mau ini itu, susah. Minta sama suami dulu". Iya kalau dikasih.
"Perempuan berpendidikan itu lebih dihargai". Mama melanjutkan menyisir.
Aku dibesarkan perempuan ini. Ia seorang guru. Kemana ia pergi, orang-orang menatapnya takzim. Anak-anak kecil berebutan mencium tangannya. Dan ibu-ibu di pasar menyisihkan sayur dan buah barang sedikit untuknya jika bertemu. Alasannya sebagai tanda terima kasih telah mengajari nona dan nyong. Anak-anak pada pintar membaca dan menghitung.
"Satu lagi", serasa lebih mudah setelah dikasih santan. "habis kuliah, jangan keburu nikah".
Aku tidak tahan untuk memutar badan menatap mama.
"Kok begitu?" pacarku Si Boy pasti tidak mau menunggu lama.
"Cari kerja dulu. Biar nanti bisa bantu adik-adikmu sekolah," mama merapikan poniku. "Atau paling tidak bermanfaat untuk kamu sendiri".
"Daripada nanti ijazah kamu cuma buat pajangan di lemari. Lihat Halik Min tuh. Habis kuliah langsung nikah. Sekarang apa?"  semua orang di kampung tahu, dia cuma jadi ibu rumah tangga. Beruntung jadi nyonya kepala desa.
 "Percayalah. Kau tahu orang-orang di sini seperti apa". Mama menggengam tanganku.
Aku menunduk dalam. Ada sesuatu yang dingin menjalar di kulit kepala. Mengalir turun ke pelipis, putih.  Aku membiarkan santan merayap turun ke pipi, berbelok di sudut bibir.
Aneh, rasanya bercampur asin.
"Itulah harga yang harus  ditebus seorang perempuan".
 Di sini kita bukan apa-apa, apalagi siapa. Tidak bisakah aku menjadi ada cukup dengan keperempuananku saja? 



ditulis 6 mei 2011

Monday, 19 March 2012

rahasia saja


Deburan halus terasa menerpa dadaku, tiap kali menerima  pesan masuk darimu. Tidak ada yang spesial sebenarnya. Hanya sms ringan, sekedar menyapa, menanyakan nomor teman, atau berbagi kata mutiara dan lirik lagu.

Aku suka lirik-lirik lagu yang kau kirimkan untukku. Untukku? Ah, mungkin saja kau juga mengirimkannya ke beberapa kontak yang ada di phonebook-mu. Namun entah kenapa aku selalu yakin dan bahagia.

Aku sangat menikmati saat-saat kita berbalas-balasan pesan. Saling bertukar lirik lagu. Menebak-nebak siapa penyanyinya, apa judulnya.

Terkadang aku berpikir untuk mengirim lirik lagu milik cherrybell yang sedang terkenal.
Baby I love you, love you so much..
Dan berharap kau akan membalasnya
Lagunya CB kan?
Lalu aku akan menjawab
bukan. ini nyanyian dari hatiku untukmu..
Hoho. Alay sekali. Sepertinya sudah terpengaruh raja gombal di tipi-tipi.

Terkadang, aku menulis pesan menanyakan sedang apa, dimana (?). Sudah makan (?) jangan lupa mandi. Blah, blah, blah… Oh, ya ampun! Ibumu saja mungkin tidak secerewet itu. Jadi aku hapus  saja pesanku. Urung kukirimkan.

Aku hampir-hampir tak bernapas, bila kau menyapa lewat chat di facebook. Meski lagi-lagi kau Cuma bilang: "komenin statusku, dong." Dan maaf, karena setiap 3 x sehari, diam-diam mengintip linimasa facebookmu. Sekadar melihat-lihat status, foto, dan pesan-pesan di dinding. Astaga..?! Apa aku terlihat seperti seorang stalker?

Kuakui, kau seperti seorang bintang dan akulah penggemarmu. Menyukai semua tentangmu, dan ingin tahu semua tentangmu. Semacam pengagum rahasia. Dan aku akan tetap menjaga perasaan ini sebagai rahasiaku. Bukannya aku tak ingin mengungkapkannya padamu, bukan. Hanya saja, aku tak ingin kau tahu. Aku juga bukannya tidak mau mengakui atau jaga imej. Hanya saja, kisah ini lebih indah menjadi rahasia untuk dikenang.

Seperti makan coklat. Digigit sedikit, dan membiarkannya lebur, lumer bersama liur di lidah. Mmm, tidak perlu terburu-buru di telan. Kau tidak bisa merasakan pahit-manisnya kalau sudah turun ke perut.



Sunday, 4 March 2012

baju kuasa



Diberinya baju pada perempuan dan laki-laki
Baju yang indah
Baju sopan santun yang membuat mereka menawan
Baju tata krama: mereka terlihat elegan sekali.
Baju pengetahuan: semakin cendekiawan.
Baju itu sempurna, jatuhnya pas di badan
Yang perempuan tambah cantik
Yang laki makin tampan

Tak hanya baju.
Ia sangat kaya, (asal kalian tahu)
Dilimpahkannya semua kebagusan dan keindahan pada kedua laki-perempuan itu.
Makan, minum, perhiasan, pengetahuan, segala yang di dunianya.

Kecuali; buah itu.

Laki dan perempuan itu, makhluk paling maha di antara yang lainnya.
Di antara jibril dan sesamanya.
Di anatara ifrit dan sesamanya.

Tapi, keduanya mendekati pohon
Tidak itu saja. Buah terlarang lenyap ke dalam perut mereka.
Mereka tidak bodoh, mereka bukannya tak patuh.

Telah dilimpahkannya angurah yang maha kepada keduanya; akal
Akal itulah yang menuntun keduanya mendekati pohon

Sebelumnya, diperingatinya mereka berdua; kepunyaan kalian semua yang ada di sni. Hanya satu yang tidak; pohon itu, buah itu. Jangan dekati, janga dimakan. Atau bajumu aku tanggalkan. Atau nikmatku tercerabut.

Buah sudah di dalam perut,
Dan bajunya telah tanggal

: mereka telanjang!
Mereka menari, bersorak, telanjang!

kau tahu kenapa lelaki dan perempuan di surga memakan buah yang dilarang itu?
karena baju. baju.
Kenapa mereka bersuka cita?
 jika mereka makan buah itu, baju mereka seketika tanggal.

mereka menanggalkan baju kuasa.

Puji syukur;
Baju kuasa telah tanggal...
Keduanya bersujud

Sunday, 26 February 2012

Hapus make up-mu!

trims cada, gambarnya aku pinjam


Bedak putih tebal
Sedikit blush on merah di sekitar tulang pipi
Untuk lipstiknya, pink saja.
Biar terlihat natural
Tak lupa pakai maskara;
Hm, aku baru tahu kalo itu bulu
Mata dikeriting
Wajahmu  cantik, sayang

:Sempurna dengan segala  make up

Aku penasaran,
Seperti apatah rona kulit di sebalik topengmu, sayang

Tuesday, 21 February 2012

cerita yang sekarat


Cerita kita terlalu sekarat, kasih

Kisah ini slalu susah payah kau hapus alurnya.

Tak bisakah kau mengenangnya?

Kau boleh meniadakan aku
Tapi tolong, jangan cerita ini

Tahayad Panggil Pulang


Ingin ke mana?

Kalau sedang diam di tempatmu, kamu mungkin ingin pergi ke suatu tempat yang mungkin belum pernah kau lihat, kunjungi. Mungkin juga ke suatu tempat yang mungkin pernah kau kunjungi. Dan kau ingin mengulang kenangan.

Tapi bagaimana kalau kau sedang pergi, berjarak dari tempatmu? Apakah kau ingin terus pergi lagi?

Ingin ke mana?

Aku tidak ingin pulang saat ini. Tapi aku ingin kembali, mengunjungi tempat yang selalu jadi rumah untukku. Rumahku adalah Tahayad, orang-orang kadang menyebutnya Tayando.  Tempat leluhurku dilahirkan.

Kepulauan kecil jauh di timur sana. Termasuk dalam teritorial Kota Tual, Maluku. Aku tidak dilahirkan di Tahayad, juga tidak di besarkan di sana. Aku lahir dan besar di Tual, beberapa jam perjalanan laut dari Tahayad. Sejak berumur 10 tahun bersekolah di pulau Jawa.

Meskipun begitu, tubuhku mengalir pasir dan laut tanah Tahayad.

Tahayad, ada tiga kampung; Yamru, El, dan Yamtel. Yamru dan El bertetangga dalam satu pulau, sedang Yamtel di pulau terpisah. Ayahku berasal dari Yamru, sedang mama dari Yamtel. Kami sekeluarga, jarang pulang kampung. Seingatku, hanya beberapa kali kami pulang. Saat liburan panjang waktu TK dan Kerusuhan Maluku tahun 98-99. aku masih duduk di bangku kelas dua SD.

Tahun 98, peperangan melanda Maluku. Peperangn atas nama agama. Mulanya hanya di Ambon, tapi merambat ke daerah-daerah seberang, Tual salah satunya.

Saat-saat genting seperti itu, kamu akhirnya mengungsi, oh bukan, kami akhirnya pulang ke Tahayad. Rumah leluhur yang selalu terbuka. Rumah yang selalu memberi keteduhan saat kamu merasa resah, tak nyaman. Di sini, semua penduduk asli beragama islam, begitu pula pendatang yang hanya seberapa. Aku bebas bermain di luar rumah tiap hari. Tanpa perlu takut diserang tiba-tiba. Setiap malam aku bisa tidur nyenyak. Tanpa harus menyelipkan pisau di bawah kasur atau bantal; khawatir jika ada musuh yang datang. Peperangan yang tak jelas sebabnya, berhasil membuat orang jadi paranoid kala itu.

Tahayad, di atas pasir putih yang membentang, di sela-sela pepohonan kelapa, di bawah sengat sinar mentari, dan belaian angin pantai, aku mendengar ombak membisikkan pesan damai.

Bulan dan Bintang

Dalam kenangan masa kecilku, Tahayad pulau yang lumayan luas. Akan tetapi, pemukiman hanya dibangun di tepi pantai, di atas pepasiran putih. Dengan rumah-rumah menghadap laut. Para lelaki tiap malam pergi melaut, menjaring ikan. Sedang perempuan di rumah menyiapkan ambal babuhuk -makanan pokok dari olahan singkong- yang masih hangat. Nantinya dimakan dengan ikan yang baru saja ditangkap. Aku selalu yakin dan bangga menyanyikan: nenek moyangku seorang pelaut…

Tidak banyak kenangan yang aku punya, kecuali masa kerusuhan itu. Ada hikmahnya juga, setidaknya aku bisa sedikit lebih lama menetap di Tahayad.

Seingatku, jangkauan PLN belum mencapai kampung. Rumah-rumah hanya diterangi lampu minyak atau lampu gas. Hanya saudagar atau orang-orang bugis pedagang yang punya listrik di rumahnya. Aku ingat, di depan rumah tete --kakek-- di Yamtel ada rumah keluarga bugis, almarhum Haji Halim. Di rumahnya ada lampu menyala, ada televisi dilengkapi parabola yang selalu dinyalakan tiap malam. Biasanya dibawa ke teras toko mereka, orang-orang kampung sering nonton bareng di jalan antara rumah mereka dan rumah tete. Oh ya, di kampung, tidak ada rumah berpagar, apalagi pagar tinggi dari beton atau besi seperti rumah-rumah di kota.

Meski tak ada listrik, bukan berarti kampung jadi gelap gulita. Aku tahu, karena pasir yang aku pijak masih berwarna putih, memantulkan sinar bulan dan bintang di atas langit sana. Ya, bulan dan bintang. Begitu dekat, begitu terang. Sesuatu yang sudah lama terlupa. Saat sendirian dalam gelap, di jalan depan kos waktu mati lampu bergilir, aku kembali melihat bulan begitu dekat. Dan aku merasa seperti terbawa kembali ke sebuah dimensi ruang dan waktu; Tahayad.

Arisan Anak

Tak ada listrik, tak ada saluran telepon, dan juga tak ada toilet!

Haha, tapi itu bukan masalah, sus. Karena bagiku yang saat itu masih kecil, semuanya selalu menyenangkan. Acara buang hajat bisa jadi arisan yang menyenangkan. 

Pernah ngobrol sama teman waktu lagi -maaf- pup? Dulu sih sering. Seusai subuh, para sepupuku biasanya datang mengetuk jendela kamar dan membangunkanku agar ke pantai bersama. Mengajak pergi melakukan hajat besar yang sudah ditahan sejak semalam. Saat pagi, air laut masih surut, dan kami, gerombolan anak-anak kecil berjalan mencari ceruk-ceruk air di tengah laut yang sedang surut. Duduk melingkar dan hmmm, buang hajat sambil gantian menceritakan mimpi tadi malam. Kadang-kadang juga mengatur rencana strategi permainan di siang hari nanti. Seru dah.

Seusai buang hajat, biasanya kami tidak langsung pulang, tapi bermain-main dulu. Mencari ubur-ubur dan bia atau kut yau -kerang- untuk main masak-masakan.

Kalau laut sedang pasang, lebih gampang lagi kalau mau buang hajat. Dulu, keramba omku ada yang sengaja dipasang hanya beberapa meter dari pantai, airnya tidak seberapa tinggi. Kami, ponakan-ponakan usil, sering duduk di tepiannya. Tentu saja sedang buang hajat. Sambil mengamati ikan-ikan pada berebutan kotoran kami, lantas tertawa terbahak-bahak. Senang rasanya bisa mengerjai ikan-ikan itu. Lalu saat makan siang, kami mungkin saja tidak tahu, kalau ikan bakar di atas nasi kami diambil dari keramba milik om.

Love you, Nene

Nene -nenek-, hanya ada dalam kenanganku. Sebab sejak pasca kerusuhan aku selalu tidak punya kesempatan untuk bertemu nene Kam, ibu ayahku, hingga akhir hayatnya. Waktu dan jarak memisahkan. Dan kematian memperjelasnya. Aku tidak sempat melihat untuk terakhir kali. Aku tidak pernah bilang aku sayang nene. Aku belum bisa membelikan tembakau untuk nyirih. Aku belum bisa membelikannya kebaya baru. Namun, aku selalu mengingatnya, sebagai nene tersayang. Al Fatihah buat nene…

Dari Yamtel, aku dipindahkan ke Yamru. Dijemput ayah dan diantarkan sepupu-sepupuku. Kami naik sampan bersama-sama.

Di Yamru, aku tinggal berdua dengan nene. Suasana di Tual mulai membaik. Mama, adik, dan Ayah sudah lebih dulu ke Tual. Sementara aku dititipkan pada nene. 

Nene sudah tua sekali. Untuk keperluan sehari-hari, ia menjual kopi tumbuk yang diolah dari biji kopi di ladang. Nenek punya banyak pohon kelapa. Buahnya yang jatuh dan tua, dipungut nene untuk dibawa pulang. Terkadang bapa pulang kampung, memanjat kelapa, buahnya kemudian dijadikan kopra untuk bahan minyak goreng atau mentega. Kalau kopra sudah banyak, diangkut ke tual dan dijual ke tengkulak.

Kadang, dari kelapa yang terkumpul, nene menyuruhku membawa kelapa-kelapa tersebut ke warung-warung untuk ditukarkan dengan jajan atau mainan. Tak ada uang, barter pun jadi.

Nene selalu ingin membuatku senang dan betah di kampung. Kalau adik ayahku tidak sempat mengirim hasil tangkapan ikan kerumah, nene mengajakku ke pantai saat air pasang. Menggali-gali pasir mencari bia-bia kecil yang tersembunyi. Aku suka menggali-gali pasir. Aku suka bia yang direbus nene. Meski cuma digarami dan diberi sedikit bawang merah dan bawang putih, bia-nya lezat sekali. Apa lagi dimakan dengan nasi yang masih hangat, Hmmm, slurrrp.


Entah kapan aku bisa kembali…

Saturday, 18 February 2012

Laskar hijau lagi







cat: makasih ya mas Hendri, udah mau jadi juru foto selama perjalanan...

(akhirnya bisa muncul juga. mau unggah foto ajah susah banget, galat mulu)

i know



cat: yg py gambar ini,,, trims dan maaf, gambarnya saya tambahin kata2 gak jelas. hehe

Tuesday, 14 February 2012

(ingin) Mengarang takdir


Apa ini yang disebut takdir?
Inikah nasib?

Detik ini ia mempertemukan kita
Membuat kita bersitatap penuh mesra
Senyum merekah di balik bibir. Malu-
Malu

Lalu detik berikutnya kita memunggungi satu
Sama lain
Berjauhan.

Hah,,
Aku (ingin) tidak percaya

Tak bisakah takdir berdamai dengan mimpi kita
Mengarang alur nasib yang sama
Menciptakan cerita serupa putri salju,
Cinderella (bagian sedihnya kita coret saja)
Mari kita buat ending yang…

Happily ever after!
Bahagia selamanya!

Monday, 13 February 2012

menjadi bintang




Televisi, sadar atau tidak, telah menyatu dengan kehidupan kita sehari-hari. Lengkap dengan kehidupan para bintang yang gencar dipertontonkan. Entah karena kebutuhan akan keinginantahuan penonton, atau niat baik pengusaha infotainment untuk memenuhi pasar. Jangan-jangan malah karena penonton yang tidak punya pilihan selain menonton apa yang ada.
Menjadi bintang, tampil di layar kaca, dan terkenal seperti para bintang sudah menjadi cita-cita. Sejak anak masih kecil sampai orang dewasa. Pencarian bakat gaya baru lewat ajang talent show kemudian menjamur, peserta membludak. Rupanya sangat banyak yang ingin terkenal. Beberapa memilih mengunggah lewat situs sepert Youtube sebagai batu loncatan. Udin sedunia contohnya, atau eks Briptu Norman.
Iklan-iklan saat ini pun banyak menggunakan selebriti (selebrity endorser). iklan sampo Pantene, misalnya, memakai Anggun C. Sasmi sebagai model, Atiqah Hasiholan untuk sabun LUX, dan Dain sastro untuk L’Oreal.
Dalam pengamatan penulis, ada hal yang berbeda dengan iklan susu untuk balita seperti Dancow, SGM, dan Bebelac. Dancow dan Bebelac memiliki pola yang hampir sama, sama-sama menggambarkan masa depan bintang cilik  yang cerah di atas panggung hiburan. Sedangkan SGM memilih memakai artis terkenal seperti Mira Lesmana dan Sarah Sehan, iklan dikembangkan dengan teknik menceritakan masa kecil artis biasa-biasa saja, hingga menjadi luar biasa setelah  ibu si artis memberinya susu SGM. Satu poin yang saya tangkap: para ibu sebaiknya membelikan susu tersebut untuk si buah hati, kelak anak anda juga akan menjadi bintang seperti mereka. 
Tanda-tanda dalam Iklan

Menggunakan model analisis tanda yang diperkenakan oleh Charles Sanders Pierce yaitu ikon, indeks, dan simbol, penulis menganalisis dua iklan serial Bebestar yaitu iklan coming soon dan t-shirt prom dari Bebelac:everyone is a star.

Ikon adalah penanda yang serupa dengan bentuk obyeknya, indeks adalah penanda yang mengisyaratkan jejak petandanya, dan simbol adalah penanda yang lazim digunakan dalam konvensi masyarakat.



Iklan Bebestar T-Shirt Promo

Seorang lelaki bertubuh gempal naik ketas panggung yang masih sepi, merendahkan tiang mic yang tinggi untuk ukuran dewas menjada lebih pendek sehingga lebih pas untuk dipakai anak-anak. Setelah itu ia meninggalkan panggung. Dari tengah panggung, banner berwarna orange bertuliskan; Bebestar  dengan tagline everyone is a star turun perlahan-lahan dari  langit-langit panggung. Satu per satu anak naik menepati posisi drummer, vokalis, basis lalu gitaris, yang sepertinya kesusahan naik sehingga lelaki dewasa tadi kembali naik panggunng dari arah berlawanan lalu menaikkannya.



Iklan Coming Soon.

Para bintang turun dari mobil kuning; berstiker bebestar besar sehingga bisa dibaca dari jauh sekalipun. Bintang-bintang cilik tersebut lantas berjalan di atas karpet merah ke atas panggung. Terdengar suara penonton mengelu-elukan, tangan terulur hendak meraih sang bintang.

Bintang cilik perempuan dengan bandana berbentuk pita besar di atas kepalanya, lantas membalas sapaan para fans dengan balik memberikan cium jauh; jemari kedua tangan menyentuh bibir yang mencucu seperti ekspresi orang hendak mencium lalu tangan melebar, seperti menebar ciuman pada penonton.

Selain itu juga ada anak lelaki mengenakan jas dan bertopi lebar, berjalan dengan kedua tangan memeragakan simbol metal; menunjukkan jari ibu, telunjuk, dan kelingking, sementara jari tengah dan manis ditekuk.

Bocah lelaki lainnya memakai jacket hitam dipadi kaos putih dan topi hitam yang di balik ke belakang, bergaya santai ala rapper. Ia berjingkat-jingkat mengayun tangan ke atas menyapa penggemar.

Sementara itu, anak lelaki berambut keriting, baju ungu dan syal bulu ungu muda menghampiri penonton dan memberikan tanda tangan. Sedangkan bocah perempuan keriting, bergaun putih, sedang melayani wartawati yang mewawancarainya sambil berjongkok.

Kedua iklan ini merepresentasikan makna berbeda, tapi masih dalam payung yang sama.  Tentang menjadi bintang. Iklan t-shirt promo menunjukkan bahwa, mejadi bintang televisi bukan dominasi orang dewasa saja. ini ditunjukkan dengan simbol tiang mik yang dipendekkan. Anak-anak juga bisa menjadi bintang dengan sedikit dorongan dan bantuan orang dewasa. Terlihat dari orang dewasa yang memperbaiki mik serta membantu seorang personil band untuk naik ke atas panggung.

Tata panggung yang minimalis, tidak banyak hiasan dan berlatar belakang gelap, menjadikan para model dan peralatan band mereka sebagai titik fokus, didukung dengan pencahayaan yang tepat menyorot keempat model tersebut.

Iklan ini mempertontonkan bagaimana seorang bintang menikmati pekerjaanya di atas panggung. Melompat-lompat kegirangan saat bernyanyi, bahagia dengan pekerjaan yang sedang dilakoni.

Sedangkan iklan coming soon, lebih memperlihatkan kebahagian yang datang dari hasil kerja keras sebagai bintang yaitu pemujaan fans. Disorot kamera, berjalan di atas panggung yang terang benderang karena penataan cahaya yang wah dan glamour. Menikmati kedekatan dengan fans yang meminta tandatangan, atau diliput media massa. Wajah para bintang cilik yang tersenyum lebar, menandakan kepuasan akan jerih payah.

Masih di iklan coming soon, ikon panggung merupakan simbol penjelas identitas bintang dan penggemar. Ada batas tegas. Yang di atas panggung kedudukannya lebih tinggi, memiliki kuasa panggung pertujukkan, sedangkan mereka yang dibawah menonton adalah orang-orang bawah yang dengan eluan mereka menjadikan bintang semakin bintang.




TV, Iklan, dan Bintang

Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi khusus dalam strategi pemasaran, iklan tidak sekedar memberikan informasi produk tapi juga harus mampu membujuk khalayak umum untuk membeli. Namun, iklan saat ini tidak sekedar menjual produk, iklan dikemas begitu rupa sehingga lebih menonjolkan pencitraan.

Bisa dikatakan iklan sama sekali tidak bebas nilai; apa hubungannya menjadi bintang dengan minum susu? Bukankah susu merupakan minuman pendamping untuk penyempurnaan gizi? Apa dengan minum susu lantas anak-anak tersebut langsung menjadi bintang? Lantas kenapa menjadi bintang yang diangkat Bebelac sebagai tema? Selanjutnya penulis memadukan analisis kode-kode televisi Jhon Fiske untuk memahami iklan Bebestar. Teori Fiske memasukkan kode-kode sosial dalam tiga level; reality, representasi, dan ideologi.

Level reality dapat dilihat dari anak-anak dengan kostum ala bintang, ada panggung, pencahayaan, serta penggemar.

Level representasi ditandai dengan pencahayaan yang terang benderang di iklan coming soon, suara penggemar yang mengelu-elukan, serta penataan panggung yang mempertegas identitas kebintangan.

Sementara ideologi, iklan Bebelac sedang menjual ideologi kelas selebriti, bintang. Kehidupan mapan, ketenaran, selebriti digadang-gadang sebagai cita-cita yang harus ditanamkan kepada anak sejak usia dini. Perlu diingat, peserta bebestar berumur 3-6 tahun.

Sekilas, penononton seperti terbius dengan visualisasi iklan yang sama sekali tidak menunjukkan kegiatan anak kecil mengonsumsi susu, tapi pencitraan iklan sebenarnya erat kaitannya dengan meminum produk susu yang diiklankan. Jelas sekali, bintang ciliki mengonsumsi Bebelac. Jika ingin terkenal seperti para bintang cilik, ikutilah ajang bebestar dan minumlah susu Bebelac.

Bebestar 2011 merupakan ajang pencarian bakat anak usia 3-6 tahun meliputi kemampuan bernyanyi, menari, bermain musik, atau gabungan ketiganya. Audisi dilakukan di 25 kota besar di Indonesia, seperti, Manado, Makassar, Lampung, dan lainnya, para semifinalis akan diberi kesempatan untuk kembali tampil di tigabelas kota, sedangkan final acara ini sendiri akan diselenggarakan di Jakarta pada akhir tahun 2011 kelak.

Bebestar bukan ajang pencarian bakat pertama yang ada di Indonesia, sebelumnya pernah ada Akademi Fantasi Indonesia (AFI), ajang pencarian bakat bernyanyi yang di tayangkan di Indosiar. Indonesian Idol, di RCTI, dan Kontes Dangdut Indonesia (AFI) di TPI keduanya jjuga merupakana ajang bakat bernyanyi. Sementara program Indonesia Mencari Bakat (IMB) yang disiarkan di Tans TV pada 2010 lalu merupakan talent show pertama yang mewadahi lebih dari sekedar bakat bernyanyi. Di sini peserta bisa memamerkan bakat berupa bernyanyi, bermusik, menari, atau gabungan ketiganya. Berbeda dari  ketiga ajang sebelumnya membatasi umur peserta, hanya untuk remaja dan dewasa awal, IMB lebih fleksibel, anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia pun boleh bertarung disini. Mau berkelompok atau individu pun sah-sah saja.

Ada beragam bakat yang dimiliki manusia, namun dari sekian pencarian bakat di atas, semuanya menginginkan bakat yang dapat dipertontonkan serta dinikmati semua kalangan. Bernyanyi, menari, dan bermain musik. Bakat yang bisa menghibur orang lain. talenta menjual lewat layar televisi.

Televisi sebagai salah satu media komunikasi massa berbasis elektronik menjalankan fungsi komunikasi berupa menginformasikan, mendidik, menghibur, serta memengaruhi. Televisi juga mengusung tujuan komunikasi yaitu mengubah sikap, opini, perilaku, dan masyarakat (El Karimah dan Uud, 2010:34)

Berdasarkan survei Komisi Penyiaran Indonesia, tayangan televis 70% menjalankan tugas menghibur dibanding mendidik dan menginformasi masyarakat (http://www.kpi.go.id). Setiap hari masyarkat disuguhi tayangan seperti sinetron, film, italk show, berita infotainment, realityshow, kuis, komedi, dan tak ketinggalan iklan.

Konsekuensi logis dari jumlah tayangan hiburan yang beragam adalah melibatkan artis/penyanyi/selebritis yang kemudian dalam tulisan ini dipahami sebaga bintang (hiburan). Bintang-bintang ini hadir setiap saat di layar kaca lewat karakter yang diperankan dalam film atau sinetron, menjual kisah hidup di infotainment yang jam tayangnya nyaris seperti orang minum obat, tiga kali sehari; pagi, siang, dan sore. Para bintang saat ini juga marak terkenal sebagai bintang iklan (endorser). Akhirnya, para bintang tidak hanya sekedar pekerja hiburan, tapi juga menjadi public figure bagi masyarakat.

Danesi (2010) berpendapat penokohan selebriti yang diciptakan televisi merupakan efek mitologisasi. Selebriti, merupakan mitos, tapi kehidupan mereka begitu dekat dengan penonton. Begitu nyata melampaui kenyataan.

Bagaimana tidak, kehidupan bintang disorot sedemikian rupa, sejak bangun tidur,berangkat syuting, hingga kembali ke rumah. Cerita asmara, rumah tangga, hobi, gaya hidup, serta seabrek aktivitas di luar keartisan menjadi layak untuk diberitakan. Ruang privat sudah tak lagi tabu dipertontonkan kepada khalayak.

Hal yang sangat mengahawatirkan adalah pencitraan bintang sukses ditandai dengan kepemilikan barang mewah yang berlimpah. Mobil, rumah atau minimal apartmen, baju bermerk, aksesoris mahal, hobi mengoleksi barang mewah seperti mobil, motor, parfum, karakter animasi, dan masih banyak lagi. Anugrah menjadi bintang lebih menjadi lebih menarik, mungkin juga diam-diam menjadi hal yang dicita-citakan ketimbang usaha sang bintang mencapai popularitas.

Masyarakat yang menonton tayangan-tayangan tersebut mungkin akan menerima semua informasi yang diterimanya sebagai sebuah pengetahuan tentang kehidupan bintang; hidup bergelimang kemewahan, kemudahan, dupuja fans. Masayrakat gagap literacy televisi mungkin tidak tahu jika tayangan yang ditontonnya hanyalah apa yang disebut Baudrilard sebagai simulacrum. Penampilan selebriti depan layar kaca mengandung pencitraan, bagaiman ia ingin atau dituntut menjadi figur tertentu.

Contoh nyata terligat saat bulan ramadahan, semua artis berlomba tampil lewat publisitas amal merek. Menyantuni anak yatim, buka bersama anak jalanan, mengikuti pengajian. Yang paling tren sepertinya berbusana “islami”. Perempuan mengenakan kerudung atau pakaian tertutup. Entah itu sebagai presenter, menyanyi, atau keseharian di rumah. Sinetron juga tak kalah latah mengikuti euforia ramadaha dengan menyajikan sinetro-sinetron yang mereka sebut religi. Setalah lebaran, semua atribut kesaalehan ditanggalkan dan kembali lagi seperti semula.

 Mengikuti gaya  atau tren selebriti menjadi sebuah pertanyaan besar, sebab yang ditiru bukanlah yang “asli”. Lalu disebut apa peniruan yang dilakukan para penoton atau fans?

Inilah yang sedang ditanamkan kepada anak-anak lewat propoganda “Bebelac: everyone is a star.” Kita sedang dibombardir televisi dengan beragam informasi dalam simpul makna dan tanda yang berkelindan yang terus bergerak seolah tak memberi kita ruang untuk memprosesnya dalam otak, seolah tak ada pilihan. Tapi tentu saja sebagai penonton, kita juga punya pilihan. Dan pilihannya, menurut Baudrillard (2007: 283) “penolakan pada makna adalah satu-satunya resistensi yang mungkin di masyarakat kita yang menderita karena melimpah ruahnya informasi.”

Khalayak harus melek media (media literacy), sebab media, menurut Safrina Noorman (Prabasmoro, 2003: 22) merupakan konstruksi atas ideologi dan kepentingan tertentu, dan yang jelas media dibuat untuk kepentingan berupa memperoleh keuntungan atau kekuasaan tertentu. Bebelac lewat iklannya sedang mempryokesikan masa depan anak, mengarahkannya pada ideologi kehidupan glamor kebintangan.

Jadi, pikirkan kembali untuk menyalakan TV anda!




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...