Saturday, 26 March 2011
a pray for nen di
Seolah langit runtuh saat kabar kematianmu tiba. Beta kira itu mimpi. Tidur lagi. Berharap mimpi berlanjut, kita bertemu lagi. Sedang kabar yang datang pada beta keliru belaka. Sampai-sampai beta punya saraf-saraf lupa cara mengeluarkan air mata.
Seperti ada rongga, semakin melebar dalam hati. Mungkin rasa cemas, gelisah, khawatir. Tapi lebih seperti rasa kehilangan.
“Sudah seng mau makan, mata terpejam melulu. Badanyya sudah tinggal tulang dibungkus kulit.”
Sebenarnya beta tidak mau dengar berita itu. Tiidak mau percaya. Tidak mau bersangka-sangka.
“Doakan dia...”
Benarkah secepat ini? Masih ada kisah yang seharusnya kita tuntaskan. Tentang buku cin, batu badaun, dan beberapa kisah-kisah nabi. Kau tau? Beta selalu membayang buku cin itu adalah dirimu, si moy cina.
Oh, nen e... falbe? Nen mkai tawar, ufangnan lii rek o.
Semoga kau tenang di sana.
Wednesday, 23 March 2011
yang terbaik #3
Si gadis ingin segera menyudahi perang dingin yang melanda keluarganya. Ia sudah bosan melihat ulah laku kedua orang tuanya. Jika berpapasan, langsungsung membuang muka. Si gadis tahu, sekarang meski serumah, tapi sebenarnya mereka sudah lama pisah ranjang. Mami tetap tidur di kamar utama, sedang papi lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerja. Ada kasur lipat, berjejalan dengan kaleng-kaleng cat, palate, dan kuas-kuas yang berserakan.
“Mereka dulu dijodohkan. Masih saudara jauh.” Kata neneknya suatu hari. Oh, ceritanya biar merekatkan kembali kedua belah pihak keluarga besar. Kalo begitu saat aku lahir, harusnya mereka sudah boleh berpisah. Kan, sudah ada aku.
Saat si gadis masih berumur enam tahun, orang tuanya bertengkar hebat. Meski tidak memecahkan gelas, melempar panci, menendang kursi, atau meninju cermin di kamar mandi seperti biasanya, namun pertengkaran inilah yang terhebat. Akumulasi dari sekian banyak pertengkaran kecil-besar. Mereka berdua hanya mengucapkan satu kata bersamaan, “cerai!!!”
Yang dipanggil gadis kecil sebagai papi lalu meninggalkan rumah. membawa serta travel bag kecil. Ia mengantar sampai ke depan pintu.
“Papi, sukses, ya! Jangan lupa oleh-oleh. Da-da, Papi....” ia melambaikan, senyumnya semakin lebar. “I love you, Papi.” Ia sangat senang melepas keberangkatan ayahnya.
Tiga hari kemudian ia dikejutkan dengan kedatangan keluarga besar mami dan papinya. Mbak Susi, adik ibunya, diminta untuk mengantarkan si gadis ke hotel tempat ayahnya menginap. Ia semakin terkaget-kaget.
“Kalian ini....” Opa Josep memandang anaknya, papi, tajam. Lalu berganti manatap menantunya. “Anak masih kecil, ingusan, udah main ditinggal, saja.”
“Benar itu. Tidak baik untuk perkembangannya.” pasti yang dimaksud Kakek Lim itu aku, batin si gadis. Orang mengira gadis yang duduk di pangkuan mbak susi itu tidak mengerti apa-apa. Sesungguhnya, dialah yang paling mengerti, bukan mereka.
“Pikirkan lagi, jangan melulu kepentingan kalian yang di utamakan.” Kelak ketika di dalam kamar ia mendengar ibunya berkata; huh, aku menikah juga karena kepentingan kalian, kan? Brengsek!
“Mereka dulu dijodohkan. Masih saudara jauh.” Kata neneknya suatu hari. Oh, ceritanya biar merekatkan kembali kedua belah pihak keluarga besar. Kalo begitu saat aku lahir, harusnya mereka sudah boleh berpisah. Kan, sudah ada aku.
Saat si gadis masih berumur enam tahun, orang tuanya bertengkar hebat. Meski tidak memecahkan gelas, melempar panci, menendang kursi, atau meninju cermin di kamar mandi seperti biasanya, namun pertengkaran inilah yang terhebat. Akumulasi dari sekian banyak pertengkaran kecil-besar. Mereka berdua hanya mengucapkan satu kata bersamaan, “cerai!!!”
Yang dipanggil gadis kecil sebagai papi lalu meninggalkan rumah. membawa serta travel bag kecil. Ia mengantar sampai ke depan pintu.
“Papi, sukses, ya! Jangan lupa oleh-oleh. Da-da, Papi....” ia melambaikan, senyumnya semakin lebar. “I love you, Papi.” Ia sangat senang melepas keberangkatan ayahnya.
Tiga hari kemudian ia dikejutkan dengan kedatangan keluarga besar mami dan papinya. Mbak Susi, adik ibunya, diminta untuk mengantarkan si gadis ke hotel tempat ayahnya menginap. Ia semakin terkaget-kaget.
“Kalian ini....” Opa Josep memandang anaknya, papi, tajam. Lalu berganti manatap menantunya. “Anak masih kecil, ingusan, udah main ditinggal, saja.”
“Benar itu. Tidak baik untuk perkembangannya.” pasti yang dimaksud Kakek Lim itu aku, batin si gadis. Orang mengira gadis yang duduk di pangkuan mbak susi itu tidak mengerti apa-apa. Sesungguhnya, dialah yang paling mengerti, bukan mereka.
“Pikirkan lagi, jangan melulu kepentingan kalian yang di utamakan.” Kelak ketika di dalam kamar ia mendengar ibunya berkata; huh, aku menikah juga karena kepentingan kalian, kan? Brengsek!
Sunday, 20 March 2011
What is your decision?
Today, writing is not only a kind of hobbies anymore. There are many people out of there who study and start to write for some reasons. Some considered writing as a job. There are pencil-pushers write to fill the order. Others go on their own way; just because they are talented. Still others do it to share information, idea, and opinion, with an eye to create changes in the society.
Ayu Utami, Habiburrahman, and Andreas Harsono, write as if writing is their air to breath. Ayu write and challenge us to think critically over our life, thinking, spiritual, culture, and government. While Habiburrahman, it is a missionary endeavor way to bring people (esc. muslim) back to al Qur’an and sunnah. In the other hand, writing (journalism) is a belief/religion according to Andreas Harsono.
I am not a professional writer –paid for the works, nevertheless when I write I do it seriously. Not that I have an assignment to be submitted, but rather than that. For me writing not only means a medium to actualize our selves, but also a way to realize a mission of enlightenment.
In this world, many of the people just know what is white or black and forget that between these two colors there is a hollow space, grey. There always a mystery behind reality that they do not know –the grey hollow, so if you choose to be a writer, you should reveal it out. Take for example the separatist movement in West Papua. Indonesian might judge them as seditious band; in fact decades ago Indonesia forced them to be part of NKRI. Have you ever heard it before?
In a rather simpler way, what you write is what you are. Since now on the decision is in your hand; you will write due to assignment, money, or enlightenment.
A Is not (only) A
“May I borrow your veil?” Romlah asked to her friend.
“Which one?”
”biru (blue),” Romlah pointed to the veil which lied on the bed.
“Oh, please. That is green. Are you color blind?”
This dialog is not kind of narrative fiction. It happened to Romlah, a student from Madura with her friend in Malang. In Indonesian language, blue is biru-just the same with Java, and green is hijau. If you pay attention to Romlah or other Madurees when they pointed blue color, you will hear a sound seem the word biru. Biru in Madura language means both blue and green. To differentiate blue and green they use some additional word such as, biru lange’ for blue such as the sky, and biru deun for green such as the leaf.
Listen at a glance those two words are not different. If you gave ear to it, however, you will hear that the phoneme b of biru in Madura language is aspirated, according to the phonetic transcription, it is written as bhiru.
The case in which some people use some words of their mother language or first language in a conversation using national/formal language might befall to most of Indonesian people. As we know that our country consists of various ethnics who have their own language. From Sabang to merauke, Talaud to Timor, there were more 500 ethnics. Therefore sometimes a conversation in Indonesian language permeated by first language.
It means, Romlah is not color blind, but she brought Madura’s concept to Indonesian language. For your information, human have a dictionary in their mind, it is called mental lexicon. All words are stored here. The more you use the word, the easier you retrieve it (Dardjowidjojo: 2008).
What I want to share is not the differences between biru and bhiru, or how a linguist observes it. Rather than that, when the majority people said “it is a” and you say “it is b”, they will claim that you are wrong or crazy. Even if what you belief is right.
We should remember that Indonesia is a multi-lingual society. A response like saying color blind is very not resourcefully. Prof. Henry, a cultural observer, said that we should apply pluralism not only in daily interaction, but also in daily conversation. Acknowledging the multi-lingual society is the first step, because every society has own agreement. The convention of language of Madura is different from Java, Ambon, or Indonesian itself.
As Indonesian, it is a must to know it. If we can tolerate someone to use a foreign language –English for instance-to replace a word in Indonesian language, why do not we tolerate the using of ethnical language? A society should not force others to have the same manner as us or the majority. Be tolerant and understand other is a wise step.
It reminds me to Ahmadiyah’s case. If most people have defined what Islam like, while others people have a different point of view, they will be categorized as pathological group. Ahmadiyah in Indonesia is a minority group; they have been discriminated due to the fact that they are different. Say that they are a part of people who have gone astray according to Islamic law in majority version. On the other hand, destruct their homes and mosques are not illegitimate. So far, Indonesian citizen known with their religious tolerance, for instance between Moslem live together with Christian or Buddhist. So, why cannot Moslems tolerate Ahmadiyah?
“Which one?”
”biru (blue),” Romlah pointed to the veil which lied on the bed.
“Oh, please. That is green. Are you color blind?”
This dialog is not kind of narrative fiction. It happened to Romlah, a student from Madura with her friend in Malang. In Indonesian language, blue is biru-just the same with Java, and green is hijau. If you pay attention to Romlah or other Madurees when they pointed blue color, you will hear a sound seem the word biru. Biru in Madura language means both blue and green. To differentiate blue and green they use some additional word such as, biru lange’ for blue such as the sky, and biru deun for green such as the leaf.
Listen at a glance those two words are not different. If you gave ear to it, however, you will hear that the phoneme b of biru in Madura language is aspirated, according to the phonetic transcription, it is written as bhiru.
The case in which some people use some words of their mother language or first language in a conversation using national/formal language might befall to most of Indonesian people. As we know that our country consists of various ethnics who have their own language. From Sabang to merauke, Talaud to Timor, there were more 500 ethnics. Therefore sometimes a conversation in Indonesian language permeated by first language.
It means, Romlah is not color blind, but she brought Madura’s concept to Indonesian language. For your information, human have a dictionary in their mind, it is called mental lexicon. All words are stored here. The more you use the word, the easier you retrieve it (Dardjowidjojo: 2008).
What I want to share is not the differences between biru and bhiru, or how a linguist observes it. Rather than that, when the majority people said “it is a” and you say “it is b”, they will claim that you are wrong or crazy. Even if what you belief is right.
We should remember that Indonesia is a multi-lingual society. A response like saying color blind is very not resourcefully. Prof. Henry, a cultural observer, said that we should apply pluralism not only in daily interaction, but also in daily conversation. Acknowledging the multi-lingual society is the first step, because every society has own agreement. The convention of language of Madura is different from Java, Ambon, or Indonesian itself.
As Indonesian, it is a must to know it. If we can tolerate someone to use a foreign language –English for instance-to replace a word in Indonesian language, why do not we tolerate the using of ethnical language? A society should not force others to have the same manner as us or the majority. Be tolerant and understand other is a wise step.
It reminds me to Ahmadiyah’s case. If most people have defined what Islam like, while others people have a different point of view, they will be categorized as pathological group. Ahmadiyah in Indonesia is a minority group; they have been discriminated due to the fact that they are different. Say that they are a part of people who have gone astray according to Islamic law in majority version. On the other hand, destruct their homes and mosques are not illegitimate. So far, Indonesian citizen known with their religious tolerance, for instance between Moslem live together with Christian or Buddhist. So, why cannot Moslems tolerate Ahmadiyah?
Tuesday, 22 February 2011
demi serapah
Inilah janjiku,
Untuk ibuku.
Suatu saat aku akan membunuh kalian semua
Kau, lelaki begundal, aku akan menikammu; dengan pisau yang setiap hari kuasah
Kumandikan dengan kembang tujuh rupa.
Niscaya kau akan mati sekali tebas
Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Aku ingan menusukmu, berkali-kali.
Di dada sebelah kanan
untuk hati ibuku yang kausakiti
kemudian sebelah kiri
sebagai terimakasihku, berkat mani yang menetes dalam darahku
Menusukmu, lagi, lagi, dan lagi.
Juga kau, lonte:
Cuih, merah gincumu membutakan si begundal itu.
Aku bersumpah demi garba ibuku.
Aku akan mengirimmu bersama iblis di akhirat sana.
Tenang, aku tidak akan, menjambak rambutmu, seperti di sinetron.
Atau mencekikmu bagai adegan bodoh dalam film-film hantu porno
Aku, akan...
Tunggu saja. karena ketika kau bangun di pagi hari
Rohmu tak legi menemukan wujudnya
Demi garba ibuku,
Demi airmata ibuku,
Dengarlah wahai alam raya
Aku memohon restumu, tuhan
Amin.
Untuk ibuku.
Suatu saat aku akan membunuh kalian semua
Kau, lelaki begundal, aku akan menikammu; dengan pisau yang setiap hari kuasah
Kumandikan dengan kembang tujuh rupa.
Niscaya kau akan mati sekali tebas
Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Aku ingan menusukmu, berkali-kali.
Di dada sebelah kanan
untuk hati ibuku yang kausakiti
kemudian sebelah kiri
sebagai terimakasihku, berkat mani yang menetes dalam darahku
Menusukmu, lagi, lagi, dan lagi.
Juga kau, lonte:
Cuih, merah gincumu membutakan si begundal itu.
Aku bersumpah demi garba ibuku.
Aku akan mengirimmu bersama iblis di akhirat sana.
Tenang, aku tidak akan, menjambak rambutmu, seperti di sinetron.
Atau mencekikmu bagai adegan bodoh dalam film-film hantu porno
Aku, akan...
Tunggu saja. karena ketika kau bangun di pagi hari
Rohmu tak legi menemukan wujudnya
Demi garba ibuku,
Demi airmata ibuku,
Dengarlah wahai alam raya
Aku memohon restumu, tuhan
Amin.
Monday, 7 February 2011
gadis kecil
Gadis kecil rambut keriting, berkulit terbakar matahari. Duduk terdiam di atas karang, memandang lurus pada laut lepas. Ia baru sadar, ujung laut rupanya tersambung dengan ujung langit.
Gadis kecil rambut keriting, berkulit terbakar matahari. Pagi-pagi sekali, berlari ke tepi pantai. Menanti perahu-perahu nelayan kembali. Menanti kepulangan datuk-datuk. Datuknya seorang pelaut.
Gadis kecil rambut keriting. Rambutnya bergerak-gerak lucu, tertiup angin laut. Berkulit terbakar matahari. sudah tak sabar menanti kedatangan datuk. Ia ingin bertanya; benarkah ia bayi yang keluar dari kelapa muda yang di belah datuk?
Gadis kecil rambut keriting, berkulit terbakar matahari. Nenenya bilang, jangan sering-sering berenang, mandi air masin. Sinar matahari saja sudah membakar kulit. Tapi ia tak peduli. Ia bukan mandi air masin. Ia menyongsong datuk.
*** **** ****
Gadis kecil rambut keriting, berkulit terbakar matahari. Pagi-pagi sekali, berlari ke tepi pantai. Menanti perahu-perahu nelayan kembali. Menanti kepulangan datuk-datuk. Datuknya seorang pelaut.
Gadis kecil rambut keriting. Rambutnya bergerak-gerak lucu, tertiup angin laut. Berkulit terbakar matahari. sudah tak sabar menanti kedatangan datuk. Ia ingin bertanya; benarkah ia bayi yang keluar dari kelapa muda yang di belah datuk?
Gadis kecil rambut keriting, berkulit terbakar matahari. Nenenya bilang, jangan sering-sering berenang, mandi air masin. Sinar matahari saja sudah membakar kulit. Tapi ia tak peduli. Ia bukan mandi air masin. Ia menyongsong datuk.
*** **** ****
Friday, 28 January 2011
Klise
Katanya oleh putih yang suci
Hari ini terpercik abu-abu
Katanya untuk putih yang suci
Besok tentulah hitam
Katanya demi putih yang suci
Tidak!
Tak ada hitam untuk putih
Tidak ada putih karena hitam
Paham?
Malang, 200209
yang terbaik #2
Halaman rumah
Anak kecil seumuran tiga atau empat tahun duduk di atas sepeda mini roda empat. Mengayuh sepeda pelan-pelan diikuti si ayah di sampingnya. Oh, rupanya sedang belajar. Sedang si ibu berdiri menonton dari pojok teras, dan terus mewanti-wanti agar tidak bermain di jalan. Takut keserempet kendaraan.
Masuk ke ruang tamu
Si kecil sekarang sudah masuk sd. Selesai sekolah selalu saja ada pr. Biasanya si ayah yang selalu sabar mendampingi belajar. Duduk berdua di lantai. Lebih nyaman buat si kecil dibanding duduk di sofa. Si ayah tahu, putri kecilnya dianugrahi kecerdasan luar biasa. Itu yang membuatnya matanya selalu berbinar-binar selagi menemani putrinya belajar.
Dapur
Tempat paling favorit bagi si kecil yang sudah beranjak remaja. Biasanya ia datang menawarkan bantuan pada si ibu. Niatnya sih, pengen belajar memasak. Tapi si ibu tidak pernah membolehkan. Takut porselen-porselennya pecah kesenggol si kecil. Emang si kecil agak ceroboh. Belum terbiasa memegang pisau. Nanti malah teriris sendiri. selama ini si kecil lebih sering bergumul dengan si ayah di bengkel lukisnya. Jangan heran, selain jago megang pena, ia juga lihai megang kuas. Jika si ibu tidak membolehkan memasak, ia betah saja duduk memandangi si ibu masak sambil melukis wajahnya.
Sebenarnya si kecil mau protes, begini-begini dia kana juga cewek. Boleh dong belajar masak. “justru karna kamu, perempuan. Nggak belajar masak pun nanti juga tau sendiri.” nah, sejak itu si kecil baru sadar, selai jago masak, ibunya juga jago berdiplomasi (sebenarnya sih jago ngeles, tapi kalo bilang begitu takut kualat.)
Ruang makan
Kalo ini tempat favorit semuanya. Ibu, ayah, dan putri mereka selalu berkumpul di sini. Tiga kali sehari (bukan untuk minum obat loh ya...) saling bertukar cerita, bercanda. Si ayah dan si ibu malah suka bermesraan sendiri. lupa kalo ada si kecil yang sudah saatnya di panggil si besar.
***
Itu semua hanya potongan-potongan kenangan yang entah kenapa bermunculan begitu saja. seperti screen saver di layar laptop. Si gadis merutuki dirinya. Ia pasti sedang melamun, blank, atau tak sadar. Buktinya slide-slide tersebut bisa lolos dari sensor keamanan yang jelas-jelas memasukkan mereka dalam daftar black list.
Anak kecil seumuran tiga atau empat tahun duduk di atas sepeda mini roda empat. Mengayuh sepeda pelan-pelan diikuti si ayah di sampingnya. Oh, rupanya sedang belajar. Sedang si ibu berdiri menonton dari pojok teras, dan terus mewanti-wanti agar tidak bermain di jalan. Takut keserempet kendaraan.
Masuk ke ruang tamu
Si kecil sekarang sudah masuk sd. Selesai sekolah selalu saja ada pr. Biasanya si ayah yang selalu sabar mendampingi belajar. Duduk berdua di lantai. Lebih nyaman buat si kecil dibanding duduk di sofa. Si ayah tahu, putri kecilnya dianugrahi kecerdasan luar biasa. Itu yang membuatnya matanya selalu berbinar-binar selagi menemani putrinya belajar.
Dapur
Tempat paling favorit bagi si kecil yang sudah beranjak remaja. Biasanya ia datang menawarkan bantuan pada si ibu. Niatnya sih, pengen belajar memasak. Tapi si ibu tidak pernah membolehkan. Takut porselen-porselennya pecah kesenggol si kecil. Emang si kecil agak ceroboh. Belum terbiasa memegang pisau. Nanti malah teriris sendiri. selama ini si kecil lebih sering bergumul dengan si ayah di bengkel lukisnya. Jangan heran, selain jago megang pena, ia juga lihai megang kuas. Jika si ibu tidak membolehkan memasak, ia betah saja duduk memandangi si ibu masak sambil melukis wajahnya.
Sebenarnya si kecil mau protes, begini-begini dia kana juga cewek. Boleh dong belajar masak. “justru karna kamu, perempuan. Nggak belajar masak pun nanti juga tau sendiri.” nah, sejak itu si kecil baru sadar, selai jago masak, ibunya juga jago berdiplomasi (sebenarnya sih jago ngeles, tapi kalo bilang begitu takut kualat.)
Ruang makan
Kalo ini tempat favorit semuanya. Ibu, ayah, dan putri mereka selalu berkumpul di sini. Tiga kali sehari (bukan untuk minum obat loh ya...) saling bertukar cerita, bercanda. Si ayah dan si ibu malah suka bermesraan sendiri. lupa kalo ada si kecil yang sudah saatnya di panggil si besar.
***
Itu semua hanya potongan-potongan kenangan yang entah kenapa bermunculan begitu saja. seperti screen saver di layar laptop. Si gadis merutuki dirinya. Ia pasti sedang melamun, blank, atau tak sadar. Buktinya slide-slide tersebut bisa lolos dari sensor keamanan yang jelas-jelas memasukkan mereka dalam daftar black list.
Thursday, 27 January 2011
yang terbaik
Semua orang mengeluh, menyayangkan, beberapa mungkin bosan dengan berita perceraian selebritis yang hampir tiap hari muncul di layar telivisi.
Klik.
Si gadis lebih memilih mematikan tv. Memejamkan mata. Dan seandainya aku bisa mengenyahkan slide-slide yang terus menghantui. Wajah-wajah orang yang sangat dikasihi datang silih berganti. Ia ingin mengenyahkannya juga. Seandainya saja semudah menekan tombol power pada remote.
Tuh, kan. Mereka datang lagi! (someone, help!)
Mami selalu tampak cemas. Aku gak suka melihat bibirnya yang terus menerus melengkung ke bawah. Setiap pagi dengan mata bengkak dan cuping hidung kemereh-merehan, ia memasak nasi goreng untuk sarapan. Tolong jangan tularkan kesedihanmu. Si gadis menelan suapan nasi goreng cepat-cepat. Tidak ingin merasakan haru dalam rasanya.
Papi. Wajah yang selalu sangar, bahkan saat tersenyum sekalipun. Lihatlah matanya, tatapannya seperti puscuk pistol yang ditodongkan tepat di keningmmu. Membunuh. Amunisinya selalu penuh. Bisa membunuh mami dan si gadis kapan saja. aku tak pernah berani menantang matanya secara langsung. Aneh, dia papiku. Kenapa dia ingin membunuhku. Aneh, mami adalah istrinya. Kenapa ingin membunuhnya. Si gadis melahap sarapanku lebih cepat lagi. Ingin menghilang dari tatapan papi.
Setiap hari, si gadis sudah bangun pagi-pagi sekali. Melahap sarapan secepat kilat. Lalu pergi kemana saja. asalkan tidak terperangkap di rumah. pulang saat semua sudah tidur. Ia tak pernah betah di rumah. terlalu banyak hal yang tak ingin dilihat, didengar, dan dikenang.
Klik.
Si gadis lebih memilih mematikan tv. Memejamkan mata. Dan seandainya aku bisa mengenyahkan slide-slide yang terus menghantui. Wajah-wajah orang yang sangat dikasihi datang silih berganti. Ia ingin mengenyahkannya juga. Seandainya saja semudah menekan tombol power pada remote.
Tuh, kan. Mereka datang lagi! (someone, help!)
Mami selalu tampak cemas. Aku gak suka melihat bibirnya yang terus menerus melengkung ke bawah. Setiap pagi dengan mata bengkak dan cuping hidung kemereh-merehan, ia memasak nasi goreng untuk sarapan. Tolong jangan tularkan kesedihanmu. Si gadis menelan suapan nasi goreng cepat-cepat. Tidak ingin merasakan haru dalam rasanya.
Papi. Wajah yang selalu sangar, bahkan saat tersenyum sekalipun. Lihatlah matanya, tatapannya seperti puscuk pistol yang ditodongkan tepat di keningmmu. Membunuh. Amunisinya selalu penuh. Bisa membunuh mami dan si gadis kapan saja. aku tak pernah berani menantang matanya secara langsung. Aneh, dia papiku. Kenapa dia ingin membunuhku. Aneh, mami adalah istrinya. Kenapa ingin membunuhnya. Si gadis melahap sarapanku lebih cepat lagi. Ingin menghilang dari tatapan papi.
Setiap hari, si gadis sudah bangun pagi-pagi sekali. Melahap sarapan secepat kilat. Lalu pergi kemana saja. asalkan tidak terperangkap di rumah. pulang saat semua sudah tidur. Ia tak pernah betah di rumah. terlalu banyak hal yang tak ingin dilihat, didengar, dan dikenang.
Thursday, 20 January 2011
Entah sepiku
Saat, bersama:
Entah menjauhEntah menyendiri
Entah menghindar
Entah enggan
Saat, sepi sendiri:
Entah tersingkir
Entah terkucil,
Entah...
Atau,
Tak pernah diharapkan?
Aarrgghh...!!!
Biar tetap begini
Biar tetap sepi
Biarkan saja
Aku berdua
Dengan entahku
(puisi jaman ba)
Ini lara!
Seperti inikah luka
Kita bergandeng sumpah
Memasung lara dengan mimpi
Lalu kaku berlari
Sedang aku tertatih, limbung
Hitam, pekat
Putri tirta bersenandung sendu
Kang bayu bersiul sumbang
Dan bianglala tersenyum jalang
Lihat,
Aura dunia berpendar jengah
Kalian
Usah acuh perih
Tak perlu petuah
Tahu apa tentang duka
Ku tak kan mati diracun madu
Surakartahadiningrat, 120308
Kita bergandeng sumpah
Memasung lara dengan mimpi
Lalu kaku berlari
Sedang aku tertatih, limbung
Hitam, pekat
Putri tirta bersenandung sendu
Kang bayu bersiul sumbang
Dan bianglala tersenyum jalang
Lihat,
Aura dunia berpendar jengah
Kalian
Usah acuh perih
Tak perlu petuah
Tahu apa tentang duka
Ku tak kan mati diracun madu
Surakartahadiningrat, 120308
ritual pemujaan
Malam kala pertiga
Aku terjaga
Menyusuri cinta
Di balik teduh wajahnya
Ranum kasihnya; hangat
Membelai mesra nafasku
Kupeluk erat tiap sembahku
Mengeja namanya penuh hasrat
Malam kala pertiga
Lagi, aku terjaga
Mengecup doanya segera
Biar dzikir jadi candu
Biar rahmat dalam laku
Biar rindu tak lagi sendu
Pabila esok
Ada malam kala pertiga
Beta hanya pinta; terjaga
Surakartahadiningrat, Maret 08
Aku terjaga
Menyusuri cinta
Di balik teduh wajahnya
Ranum kasihnya; hangat
Membelai mesra nafasku
Kupeluk erat tiap sembahku
Mengeja namanya penuh hasrat
Malam kala pertiga
Lagi, aku terjaga
Mengecup doanya segera
Biar dzikir jadi candu
Biar rahmat dalam laku
Biar rindu tak lagi sendu
Pabila esok
Ada malam kala pertiga
Beta hanya pinta; terjaga
Surakartahadiningrat, Maret 08
risalahku
Kepada angin jasadmu kutanya
Kepada samudra kumengadu rimbamu
Kepada tuhan gugat cerita
Kepada siapa kuberkabar dirimu
Dalam malam kutulis sajak
Bai-bait cinta kita
Surat rindu untukmu
Tak terasa tiga belas
Purnama tlah terlewati
Kepada angin daku bertanya
Kepada samudra daku bersoal
Kemanakah risalahku
Kualamatkan
Dalam malam kutulis
Risalah cinta
Puluh purnama terlewati
Tak tahu kemana
Risalahku kualamatkan
(puisi jaman alif)
Kepada samudra kumengadu rimbamu
Kepada tuhan gugat cerita
Kepada siapa kuberkabar dirimu
Dalam malam kutulis sajak
Bai-bait cinta kita
Surat rindu untukmu
Tak terasa tiga belas
Purnama tlah terlewati
Kepada angin daku bertanya
Kepada samudra daku bersoal
Kemanakah risalahku
Kualamatkan
Dalam malam kutulis
Risalah cinta
Puluh purnama terlewati
Tak tahu kemana
Risalahku kualamatkan
(puisi jaman alif)
Wednesday, 19 January 2011
Ia lahir dari
Rahim yang telah mati
; membusuk,
Orang bilang ia juga sama
Matinya
; membangkai.
Ia besar dan hidup
Dalam kubang seperti yang kau
Bayangkan; ulat, menyengat, jijik
Ia lalu kau kenal
Sebagai aroma
Dibuatnya kau mati
Mendambanya, hingga dama
Menyandunya, hingga candu
Menggilaianya, hingga gila
Ia lalu mati
Jangan kira dalam nista
Lihat dirimu; busuk, bangkai, ulat dan sengat
Dan ia menyedot sempurna
Aromamu.
Batu, 15-1-11
Rahim yang telah mati
; membusuk,
Orang bilang ia juga sama
Matinya
; membangkai.
Ia besar dan hidup
Dalam kubang seperti yang kau
Bayangkan; ulat, menyengat, jijik
Ia lalu kau kenal
Sebagai aroma
Dibuatnya kau mati
Mendambanya, hingga dama
Menyandunya, hingga candu
Menggilaianya, hingga gila
Ia lalu mati
Jangan kira dalam nista
Lihat dirimu; busuk, bangkai, ulat dan sengat
Dan ia menyedot sempurna
Aromamu.
Batu, 15-1-11
Tuesday, 18 January 2011
perempuanku #3
“Kenapa?”
“Karena kau adalah perempuanku.”
“Lantas?”
“Aku hanya ingin kau jadi milikku; aku. Saja.”
“Aku tidak mengerti.”
“Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. Apa kau pernah mendengar kisah ini.”
“Haha....”
“....”
“Jadi karena itu, kau harus tahu; hanya karena aku perempuan, hawanya adam, bukan berarti aku milikmu. Menurutimu, melayanimu. Jadi budakmu. Aku tidak pernah berharap diciptakan dari tulang rusukmu, mencurinya. Ambil saja hidupku, jika kau tidak setuju pendapatku.”
“Sombong sekali.”
“Sombong. Angkuh, angkuh sekali.”
Ya, seperti ibu. Aku melihatmu, bu. Sosok didepanku ini, apakah dirimu?
“Cincin ini aku kembalikan.”
“Itu aku berikan padamu. Tolong jangan kembalikan.”
“Aku tak ingin diikat.”
“Itu hadiah, bukan pengikat.”
“Kau yakin?”
“Ya, aku..., aku..., aku..., aaarrrgh”
“Oke. Aku percaya.”
“Kau tahu, aku hanya ingin melindungi.”
“Burung, tidak pernah mengharap hidup dalam sangkar emas.”
Ibu, kau benar-benar hadir di sini. “Maafkan aku. Terbanglah bebas, jelajahi alammu, burung mungil.”
“Jangan takut. Burung tidak pernah lupa arah pulang ke sarangnya.”
“Karena kau adalah perempuanku.”
“Lantas?”
“Aku hanya ingin kau jadi milikku; aku. Saja.”
“Aku tidak mengerti.”
“Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. Apa kau pernah mendengar kisah ini.”
“Haha....”
“....”
“Jadi karena itu, kau harus tahu; hanya karena aku perempuan, hawanya adam, bukan berarti aku milikmu. Menurutimu, melayanimu. Jadi budakmu. Aku tidak pernah berharap diciptakan dari tulang rusukmu, mencurinya. Ambil saja hidupku, jika kau tidak setuju pendapatku.”
“Sombong sekali.”
“Sombong. Angkuh, angkuh sekali.”
Ya, seperti ibu. Aku melihatmu, bu. Sosok didepanku ini, apakah dirimu?
“Cincin ini aku kembalikan.”
“Itu aku berikan padamu. Tolong jangan kembalikan.”
“Aku tak ingin diikat.”
“Itu hadiah, bukan pengikat.”
“Kau yakin?”
“Ya, aku..., aku..., aku..., aaarrrgh”
“Oke. Aku percaya.”
“Kau tahu, aku hanya ingin melindungi.”
“Burung, tidak pernah mengharap hidup dalam sangkar emas.”
Ibu, kau benar-benar hadir di sini. “Maafkan aku. Terbanglah bebas, jelajahi alammu, burung mungil.”
“Jangan takut. Burung tidak pernah lupa arah pulang ke sarangnya.”
Wednesday, 12 January 2011
nadin,
“Nadin, di sini saja ya? Main sama tante.”
Nadin hanya menggeleng
“Tapi nadin tidak boleh masuk,” Nadin menatap wanita itu sejenak. Baju putihnya rapi, didisipkan kedalam rok hitam. Tangan kanannya memegang blazer hitam, dan tangan kirinya tak berhenti membelai kepala Nadin penampilannya sedikit mirip guru di sekolah.
“Pokoknya, tante, Nadin mau..... ” entah kenapa jantungnya berdetak kencang sekali. Sakit. Ia berpegang pada sandaran bangku taman, “mami-papi cerai saja”. Seolah ada bongkahan batu yang menggelundung bebas dari ringga dadanya. Ia buru-buru duduk sebelum akhirnya roboh.
Wanita mirip bu guru menaikkan kacamatanya yang tiba-tiba melorot, lalu menghampir Nadin. Duduk berdampingan.
“Nadin, tahu cerai itu apa?” Dia ragu dengan perkataan anak kelas 2 sd tersebut.
“Sesuatu yang sangat diinginkan mami-papi.”
“Kalo mami-papi cerai, artinya mereka tidak hidup bersama lagi. Mami akan tinggal di rumah mami sendiri. begitu juga dengan papi. Kalian akan.....”
”bagus dong”
“Hidup terpisah”
“Jadi nadin dan dede punya dua rumah”
“Kalian akan jarang bertemu, tidak seperti dulu lagi.”
“Nadin mau kasih tau teman-teman. Kalo Nadin punya dua rumah”
“Tidak bisa tidur dengan mami-papi, bermain berempat”
“Nanti kalo papi beli rumah lagi, aku mau punya kamar yangg lebih besar.”
“Nadin.” Ia memegang pundak si gadis kecil
“Kalo ada PR bahasa, nadin ke rumah papi. Papi jago buat pusi. Makanya dulu mami jatuh cinta. Kalo sains, nadin tinggal pulang ke rumah mami. Mami kan dokter, pasti hebat. Papi bilang, kalo mami pake jas lab, mirip bidadari.”
Dia melirik si gadis kecil. Nadin, tatapannya lurus kedepan. Mengoceh dari tadi, seperti ingin meneriakkan kekesalannya. Apa dia frustasi dengan hubungan orangtuanya? Kadang, anak-anak juga sudah bisa stress. Ia melirik sekali lagi. Gadis ini, tak sedikitpun mengeluarkan air mata.
“Jika akhirnya mereka bercerai, mamimu mungkin akan menikah lagi, papi sekarang malah sudah punya.”
“Aku senang Om Adi jadi papaku nanti. Aku juga sayang sama Mama Sandra. Dia cantik, seperti barbieku.”
“Kenapa?” anak-anak seharusnya menjadi penaut hati kedua orang tua.
“Dalam doa, pertengkaran, pergulatan, pergumulan mami-papi. Cerai-cerai-cerai. Nadin mendengarnya, Tante.”
Dia meraih gadis kecil kedalam pelukannya. Dibalas pelukan, erat, erat sekali. Nafas memburu. tak ada tetesan yang membasahi bajunya. Tak ada sesenggukan yang terdengar.
Ah, gadis kecil. Nadin....
Nadin hanya menggeleng
“Tapi nadin tidak boleh masuk,” Nadin menatap wanita itu sejenak. Baju putihnya rapi, didisipkan kedalam rok hitam. Tangan kanannya memegang blazer hitam, dan tangan kirinya tak berhenti membelai kepala Nadin penampilannya sedikit mirip guru di sekolah.
“Pokoknya, tante, Nadin mau..... ” entah kenapa jantungnya berdetak kencang sekali. Sakit. Ia berpegang pada sandaran bangku taman, “mami-papi cerai saja”. Seolah ada bongkahan batu yang menggelundung bebas dari ringga dadanya. Ia buru-buru duduk sebelum akhirnya roboh.
Wanita mirip bu guru menaikkan kacamatanya yang tiba-tiba melorot, lalu menghampir Nadin. Duduk berdampingan.
“Nadin, tahu cerai itu apa?” Dia ragu dengan perkataan anak kelas 2 sd tersebut.
“Sesuatu yang sangat diinginkan mami-papi.”
“Kalo mami-papi cerai, artinya mereka tidak hidup bersama lagi. Mami akan tinggal di rumah mami sendiri. begitu juga dengan papi. Kalian akan.....”
”bagus dong”
“Hidup terpisah”
“Jadi nadin dan dede punya dua rumah”
“Kalian akan jarang bertemu, tidak seperti dulu lagi.”
“Nadin mau kasih tau teman-teman. Kalo Nadin punya dua rumah”
“Tidak bisa tidur dengan mami-papi, bermain berempat”
“Nanti kalo papi beli rumah lagi, aku mau punya kamar yangg lebih besar.”
“Nadin.” Ia memegang pundak si gadis kecil
“Kalo ada PR bahasa, nadin ke rumah papi. Papi jago buat pusi. Makanya dulu mami jatuh cinta. Kalo sains, nadin tinggal pulang ke rumah mami. Mami kan dokter, pasti hebat. Papi bilang, kalo mami pake jas lab, mirip bidadari.”
Dia melirik si gadis kecil. Nadin, tatapannya lurus kedepan. Mengoceh dari tadi, seperti ingin meneriakkan kekesalannya. Apa dia frustasi dengan hubungan orangtuanya? Kadang, anak-anak juga sudah bisa stress. Ia melirik sekali lagi. Gadis ini, tak sedikitpun mengeluarkan air mata.
“Jika akhirnya mereka bercerai, mamimu mungkin akan menikah lagi, papi sekarang malah sudah punya.”
“Aku senang Om Adi jadi papaku nanti. Aku juga sayang sama Mama Sandra. Dia cantik, seperti barbieku.”
“Kenapa?” anak-anak seharusnya menjadi penaut hati kedua orang tua.
“Dalam doa, pertengkaran, pergulatan, pergumulan mami-papi. Cerai-cerai-cerai. Nadin mendengarnya, Tante.”
Dia meraih gadis kecil kedalam pelukannya. Dibalas pelukan, erat, erat sekali. Nafas memburu. tak ada tetesan yang membasahi bajunya. Tak ada sesenggukan yang terdengar.
Ah, gadis kecil. Nadin....
Terbang Jauh
Dengan hati-hati aku melepas rantai
Burung beo dan merpati
Melesat terbang jauh, sama sekali
Tidak menyia-nyiakan kesempatan bebas
Satu pintu sangkar kubuka lagi
Perkutut, camar, kasuari
Seribu sangkar masih menanti
Langkahku semakin gegas
Punya siapa, aku tak peduli
Dicaci, siapa peduli
Dimaki pun sudi
Asal burung-burung mengangkasa
Kicau yang kaunikmati
Sayap yang kaukagumi
Semuanya boleh kaumiliki
Tapi biarkan kepak sayapnya menari di udara.
Malang, 12 Januari 2011
*Cintamu, tak perlu kau genggam. Biarkan ia bebas. Kita sama-sama tahu kemana ia akhirnya kan kembali.
Burung beo dan merpati
Melesat terbang jauh, sama sekali
Tidak menyia-nyiakan kesempatan bebas
Satu pintu sangkar kubuka lagi
Perkutut, camar, kasuari
Seribu sangkar masih menanti
Langkahku semakin gegas
Punya siapa, aku tak peduli
Dicaci, siapa peduli
Dimaki pun sudi
Asal burung-burung mengangkasa
Kicau yang kaunikmati
Sayap yang kaukagumi
Semuanya boleh kaumiliki
Tapi biarkan kepak sayapnya menari di udara.
Malang, 12 Januari 2011
*Cintamu, tak perlu kau genggam. Biarkan ia bebas. Kita sama-sama tahu kemana ia akhirnya kan kembali.
Monday, 10 January 2011
pak tua dan gulo kacang #3
“Kacang, mbak.” Tawarnya sambil tersenyum. Hm..., manis. Saya membayangkan gigitan gulo kacang, gula merah bercampur air liur. Luber di lidah. Tak sadar saya menjilat-jilat bibir. Benar-benar manis! Lagi-lagi saya menghampiri pak tua dan gerobaknya. Sialan. Padahal beberapa hari ini sedang diet kacang. Saya termakan mitos yang dikasih tahu teman beberapa hari lalu; konsumsi kacang dapat menyebabkan jerawat. Dahi dan pipi saya sudah sesak dengan bintik-bintik merah dan noda-noda hitam bekas jerawat.
Beruntung, duit sepuluh ribu yang dikantong bukan milikku. Titipan teman saya. Waktu saya cerita tentang pak tua dan gula kacangnya, dia bilang saya mirip ayahnya. Sama-sama suka gulo kacang. Tak apa tidak turut mencicipi, beli saja saya sudah senang.
Ketika kutawari daganganku, kulihat dia menjilat-jilat bibir sambil memejamkan mata. Apakah dia sedang membayangkan nikmatnya kacang dan gula merah bercampur air liur? Terasa sekali manisnya saat luber di lidah. Kesekian kali dia menghampiri gerobakku. Aku tidak tahu kenapa dia masih suka makan gulo kacang, padahal aku lihat jerawat di pipnya banyak jerawat dan noda-noda hitam. Kan, kata orang sering-sering makan kacang nanti timbul jerawat.
Kali ini dia beli sepuluh ribu. Biasanya Cuma satu. Aku jadi sedikit curiga, jangan-jang titipan seseorang yang mirip dengannya. Sama-sama suka gulo kacang. Tak apalah kalau bukan uangnya, ada yang beli saja sudah senang. Apalagi sebanyak ini.
Lagi, dia menghampiri pak tua saat ditawari kacang. Bagaimana bisa menolak? Bayangan gulo kacang bercampur liur dan luber di lidah begitu menggodanya. Alangkah manisnya. Sampai mejilat-jilat bibir segala. “banyok konsumsi kacang, bisa menyebabkan jerawat, loh” aku mengingatkannya. Jerawat sudah memadati dahi dan pipinya. Mana, meninggalkan bekas kehitam-hitaman juga.
Lihat dari caranya berkisah, aku tahu dia lwbih menikmati beli gulo kacang daripada rasanya. Aku teringat ayah yang juga suka gulo kacang. Duit sepuluh ribu kuberikan padanya. Aku sendiri tidak terlalu suka. Yang penting dia senang, ayah senang. Tak apa tidak turut mencicipi.
*** *** ***
Beruntung, duit sepuluh ribu yang dikantong bukan milikku. Titipan teman saya. Waktu saya cerita tentang pak tua dan gula kacangnya, dia bilang saya mirip ayahnya. Sama-sama suka gulo kacang. Tak apa tidak turut mencicipi, beli saja saya sudah senang.
Ketika kutawari daganganku, kulihat dia menjilat-jilat bibir sambil memejamkan mata. Apakah dia sedang membayangkan nikmatnya kacang dan gula merah bercampur air liur? Terasa sekali manisnya saat luber di lidah. Kesekian kali dia menghampiri gerobakku. Aku tidak tahu kenapa dia masih suka makan gulo kacang, padahal aku lihat jerawat di pipnya banyak jerawat dan noda-noda hitam. Kan, kata orang sering-sering makan kacang nanti timbul jerawat.
Kali ini dia beli sepuluh ribu. Biasanya Cuma satu. Aku jadi sedikit curiga, jangan-jang titipan seseorang yang mirip dengannya. Sama-sama suka gulo kacang. Tak apalah kalau bukan uangnya, ada yang beli saja sudah senang. Apalagi sebanyak ini.
Lagi, dia menghampiri pak tua saat ditawari kacang. Bagaimana bisa menolak? Bayangan gulo kacang bercampur liur dan luber di lidah begitu menggodanya. Alangkah manisnya. Sampai mejilat-jilat bibir segala. “banyok konsumsi kacang, bisa menyebabkan jerawat, loh” aku mengingatkannya. Jerawat sudah memadati dahi dan pipinya. Mana, meninggalkan bekas kehitam-hitaman juga.
Lihat dari caranya berkisah, aku tahu dia lwbih menikmati beli gulo kacang daripada rasanya. Aku teringat ayah yang juga suka gulo kacang. Duit sepuluh ribu kuberikan padanya. Aku sendiri tidak terlalu suka. Yang penting dia senang, ayah senang. Tak apa tidak turut mencicipi.
*** *** ***
Friday, 7 January 2011
Hanisah, Muslim from Pattani
Have you ever heard about Thailand? The one first comes to your mind might be Buddhism. It is true that the major religion in Thailand is Buddha. However, what I will tell to you here is quite different. I have interviewed with a Thai, and she is a Muslim.
Family
Her name is Hanisah Khareng from Jala, Pattani, South Thailand. She lives with her nuclear family, his mom named Aminah, Hariran- big brothers, Fatihah, Asri, Matayudin, Bahri. Most of Muslims in Pattani use Arabic name rather than Thailand name such as, Bonsak, Panana, and others.
It is not a strange for Islam is the highest percentage of religion in this province. Thai was not their native language, even they are Thai. Their native language is Jawi (Malay)- a malay language written in Arabic alphabet.
In their tradition, a house only for a nuclear family, when a child gets married, they may stay for a while in their parent house (usually at man’s parent house). Then they have to move to their own house.
Just as most Malay, she call her father whose name is Khareng as “ayah”, her mom “mama”, and her big brother as “abang”. To someone younger they only call their name. While a big sister “kakak”. Ayah, mama, abang, and kakak will not be found in Thailand vocabulary but we will found it in Indonesian language or Malay.
Food
Hanisah is close to her mother and is open. She used to share her secrets with her mother. She told me that she really loves her mother and misses her cook. They are not accustomed to have breakfast together, but they usually have lunch and dinner together. Usually her mom cooks tomyam, padpid, and nasi goreng pataya.
Socio-Culture
The environment she lived in is densely populated. The distance between one house and other is not short. The citizens are welcome and cooperativeness like Malay. If someone held a big ceremonial feast, the family or neighbor will come to help them. They are a community self-helped.
As she told me, in fact, they do not have a certain tradition, most ritual or ceremonial are just the same in Islamic tradition. For instance, ritual on aqiqah, marrieage, death, open house at Ied day, and etc.
Economy
Hanisah’s father has passed away, he was a farmer. As the consequence her mother works outside as a seller in the traditional market to make ends meet.
Most of people there work as farmer at their own rubber plantation or as farmhand. Not many people work at government institution, it is difficult to penetrate. Pattani people have been discriminated due to their religion, language, and culture is different from the majority of Thailand.
Indonesia
After graduating from madrasah (Islamic school) students will be send to study abroad. Thus far, they study in Islamic country such as Saudi Arabia, Egypt, Iran, and Indonesia. The subject they take also concerning in Islamic value.
Hanisah is one of the students studying in Indonesia. She took Pendidikan Bahasa Arab course. She was glad to study in Malang, Indonesia. She admits that she is not accustomed with the food yet. However, people of Indonesia (especially at UIN Maliki Malang) are nice, kind, and hospitality, makes her feels like home. It really helps her to adapt with the new environment.
Family
Her name is Hanisah Khareng from Jala, Pattani, South Thailand. She lives with her nuclear family, his mom named Aminah, Hariran- big brothers, Fatihah, Asri, Matayudin, Bahri. Most of Muslims in Pattani use Arabic name rather than Thailand name such as, Bonsak, Panana, and others.
It is not a strange for Islam is the highest percentage of religion in this province. Thai was not their native language, even they are Thai. Their native language is Jawi (Malay)- a malay language written in Arabic alphabet.
In their tradition, a house only for a nuclear family, when a child gets married, they may stay for a while in their parent house (usually at man’s parent house). Then they have to move to their own house.
Just as most Malay, she call her father whose name is Khareng as “ayah”, her mom “mama”, and her big brother as “abang”. To someone younger they only call their name. While a big sister “kakak”. Ayah, mama, abang, and kakak will not be found in Thailand vocabulary but we will found it in Indonesian language or Malay.
Food
Hanisah is close to her mother and is open. She used to share her secrets with her mother. She told me that she really loves her mother and misses her cook. They are not accustomed to have breakfast together, but they usually have lunch and dinner together. Usually her mom cooks tomyam, padpid, and nasi goreng pataya.
Socio-Culture
The environment she lived in is densely populated. The distance between one house and other is not short. The citizens are welcome and cooperativeness like Malay. If someone held a big ceremonial feast, the family or neighbor will come to help them. They are a community self-helped.
As she told me, in fact, they do not have a certain tradition, most ritual or ceremonial are just the same in Islamic tradition. For instance, ritual on aqiqah, marrieage, death, open house at Ied day, and etc.
Economy
Hanisah’s father has passed away, he was a farmer. As the consequence her mother works outside as a seller in the traditional market to make ends meet.
Most of people there work as farmer at their own rubber plantation or as farmhand. Not many people work at government institution, it is difficult to penetrate. Pattani people have been discriminated due to their religion, language, and culture is different from the majority of Thailand.
Indonesia
After graduating from madrasah (Islamic school) students will be send to study abroad. Thus far, they study in Islamic country such as Saudi Arabia, Egypt, Iran, and Indonesia. The subject they take also concerning in Islamic value.
Hanisah is one of the students studying in Indonesia. She took Pendidikan Bahasa Arab course. She was glad to study in Malang, Indonesia. She admits that she is not accustomed with the food yet. However, people of Indonesia (especially at UIN Maliki Malang) are nice, kind, and hospitality, makes her feels like home. It really helps her to adapt with the new environment.
Tuesday, 4 January 2011
pak tua dan gulo kacang #2
Ujung jalan, di emper toko Cik Mei. Dari belokan gang, Saya selalu melihat dia duduk bertumpu di atas kaki, kedua tangan bersilangan memeluk lutut erat-erat. Membunuh angin malam. Entah kenapa langkah kaki menuntun saya ke emper toko Cik Mei. Dia gegas berdiri saat saya hampiri, badannya sedikit oleng mau jatuh. “kacang, nduk?” senyumnya memperlihatkan deretan gigi, tidak utuh. “Gulo kacang, pak, setunggal mawon.” Matanya mengerjap-ngerjap memantulkan spektrum orange dari lampu minyak. Caranya menyambut saya seperti berlebihan. Jangan-jangan saya pelanggan pertama hari ini.
Emper toko Cik Mei tempatku mangkal, dekat ujung jalan. Aku sedang duduk sambil memeluk lutut dengan erat, terlihat dia muncul dari belokan gang itu lagi. Kupererat pelukan, mencoba membunuh angin malam. Biasanya dia hanya lewat, kali ini dia berjalan ke arah toko. Aku tergesa-gesa berdiri saat dia datang, badanku sedikit oleng. Otot-otot pipi dan bibirku ku tertarik menampilkan deretan gigi yang sudah tanggal. “kacang, nduk?” mata tuaku mengerjap-ngerjap menangkap bayangannya lewat sinar lampu minyak. “gulo kacang, pak, setunggal mawon.” Mungkin caraku menyambutnya sedikit berlebihan. Dia pelanggan pertama hari ini.
Di ujung jalan memang banyak yang berjualan, kalau di emper toko Cik Mei, ada yang jualan kacang, ujarnya. Dari kejauhan, belokan gang, dia sedang duduk memeluk lutut erat-erta. Membunuh angin malam. Mungkin angin juga yang menuntunnya ke arah toko Cik Mei. “dia bergegas berdiri, sampai oleng mau jatuh” dia menceritakan adegan saat penjual itu dihampiri. Penjual itu menanyainya apa dia akan membeli kacang. “gulo kacang, pak, setunggal mawon.” Katanya dia menjawab seperti itu. Mata penjual itu mengerja-ngerjap ditimpa cahaya orange. Menurutku terlalu berlebihan cara pennjual itu menyambutnya. Mungkin dia pelanggan pertama.
Emper toko Cik Mei tempatku mangkal, dekat ujung jalan. Aku sedang duduk sambil memeluk lutut dengan erat, terlihat dia muncul dari belokan gang itu lagi. Kupererat pelukan, mencoba membunuh angin malam. Biasanya dia hanya lewat, kali ini dia berjalan ke arah toko. Aku tergesa-gesa berdiri saat dia datang, badanku sedikit oleng. Otot-otot pipi dan bibirku ku tertarik menampilkan deretan gigi yang sudah tanggal. “kacang, nduk?” mata tuaku mengerjap-ngerjap menangkap bayangannya lewat sinar lampu minyak. “gulo kacang, pak, setunggal mawon.” Mungkin caraku menyambutnya sedikit berlebihan. Dia pelanggan pertama hari ini.
Di ujung jalan memang banyak yang berjualan, kalau di emper toko Cik Mei, ada yang jualan kacang, ujarnya. Dari kejauhan, belokan gang, dia sedang duduk memeluk lutut erat-erta. Membunuh angin malam. Mungkin angin juga yang menuntunnya ke arah toko Cik Mei. “dia bergegas berdiri, sampai oleng mau jatuh” dia menceritakan adegan saat penjual itu dihampiri. Penjual itu menanyainya apa dia akan membeli kacang. “gulo kacang, pak, setunggal mawon.” Katanya dia menjawab seperti itu. Mata penjual itu mengerja-ngerjap ditimpa cahaya orange. Menurutku terlalu berlebihan cara pennjual itu menyambutnya. Mungkin dia pelanggan pertama.
Subscribe to:
Posts (Atom)
