Sunday, 12 August 2012

merawat anak-anak(mu)


Aku berterimakasih akan hadirmu
Di sisiku saat ini
Kauberi aku kekuatan, kemuliaan
Mengandung anak-anak(mu)
Dan menyaksikan mereka tumbuh kembang tiap hari
: berlarian, menangis, terjatuh, tawa, bercanda, melakukan hal-hal konyol 
dalam ruang-ruang kepalaku
Anak-anak ini manis dan lucu sepertimu
Meski kadang juga bandel
Aku selalu bahagia merawat mereka untukmu 


Friday, 10 August 2012

the only one


Whatever you said, she or he
For the one, you worship,
Allah, Yhwh, Jesus
Or any other names

They will always be god.
Unchangeable, irreplaceable


Malang, 4 Agustus 2012

Wednesday, 8 August 2012

banshee, banci, dan perempuan

Banshee. Kata ini berasal dari sosok mitologi Irlandia mengenai peri pembawa berita kematian. Orang Irlandia menyebutnya bean sidhe, ben side dalam Irlandia kuno.

Konon, jika terdengar ratapan banshee di rumah seseorang, kemungkinan salah satu anggota keluarga di rumah tersebut akan meninggal. Semacam isyarat. Banshee ini kadang hanya terdengar raungannya saja. Namun tak jarang ia juga menampakkan diri. Kadang ia menyerupai gadis muda, ibu muda yang anggun, atau wanita buruk rupa yang sudah bau tanah. Ketiganya mewakili tiga aspek dewi perang Celtic; Badhbd, Macha dan Mor-Rioghain.

Di Skotlandia, banshee dikenal sebagai bean-nighe sebab kemunculannya menyerupai seorang perempuan yang sedang mencuci baju berlumur darah milik orang yang akan mati. Sedang di Leinster, mereka menemainya bean-chaointe, suara rintihan perempuan yang menyanyikan lagu kematian dari pekuburan. Kadang suaranya merdu. Kadang pula mengerikan.

Satu hal yang pasti tentang banshee, ia adalah hantu yang menyerupai perempuan. Perempuan jadi-jadian. Kalau bukan dalam wujud perempuan, ia muncul dalam bentuk hewan (yang diasosiasikan dekat dengan penyihir). Tidak pernah dalam wujud laki-laki.

Mungkin kata banshee ini pula yang mempengaruhi penggunaan kata banci dalam bahasa Indonesia. Banci di sini merujuk pada laki-laki yang menyerupai perempuan dalam hal berpakaian sampai tindak tanduknya. Seperti banci-banci yang biasa ngamen di jalanan. Atau yang pakai gaun mini, rambut palsu, dan riasan. Biasa mangkal di jalanan, dekat hotel-hotel dan sering jadi bulan-bulanan satpol PP. mungkin juga seorang yang kamu kira perempuan, melayanimu saat di salon-salon. 

Dalam karya sastra baik lisan maupun tulis, atau bahkan film dan animasi perempuan biasanya digambarkan dengan stereotype yang hampir seragam. Secara garis besar Juanita H. William membagi mitos tentang perempuan menjadi Woman as Mother Erath, Woman as Enchantress-Seductress, Women as necessary Evil, dan Women as Mistery. Contohnya masih bisa dilihat dari sinetron-sinetron Indonesia sekarang. Kalo tokohnya perempuannya baik, baik… banget. Sampai gak bisa bedain mana yang baik, lugu, dan (maaf) oon. Terus, kalo jahat, jahat banget. Sama sekali tidak manusiawi.

Perempuan, sejatinya manusia utuh sama halnya seperti laki-laki, masih kadang dianggap remeh, only the second sex. Bagaimana dengan  mereka yang hanya menyerupai perempuan?

Banshee, banci. Dua-duanya bukan perempuan. Tapi menyerupai perempuan. Baik hantu banshee maupun banci sama-sama dipandang negatif oleh masyarakat. Banshee ditakutin, banci dilecehin.  





underline_____________________


Sebenarnya beberapa minggu kemaren saya sedang asyik baca  The Years of Living Dangerously -nya Christhopher Koch. Informasi soal kata banci itu berasal dari banshee saya dapat dari novel ini. Setelah itu jadi penasaran dan menuntaskannya dengan menelusuri informasi seputar banshee.

Sampai sekarang novel itu belum juga selesai saya baca. Perhatian saya tersita ke novel  The Da Vinci Code milik Dan Brown. Kalo gak selesai baca ini novel, skripsi saya juga gak mulai-mulai…. :) pray for me ToT

Tuesday, 7 August 2012

haus karenamu...


Haus.
Dahaga sekali
Seolah ruang di dadaku hampa
Di antara dua belah dada
Hanya udara musim kemarau yang menyapu setiap jengkal rongga
Menyisakan kering dan dinding merekah

Segera kureguk habis air. Sat gelas dan dua
Tidak perlu bir.
Cukup air saja.
Mengisi penuh dadaku
Sampai penuh
Tumpah
Lalu mengalir mencari jalan keluar
Bawa sisa kenangan tentangmu serta

Aku terdiam sejenak
Aku pikir; sudah waktunya berhenti mengejarmu
Sebab semakin mengejarmu
Semakin haus kurasa…

Malang, 13 Juni 2012

Monday, 6 August 2012

always be our hero(ine)




Ini tim bulu tangkis Indonesia yang bertarung di Olimpiade London 2012. Tunggal putra ada Taufik Hidayat dan Simon Santoso, dua-duanya kandas di partai 16 besar. Firdasari mewakili tunggal putri juga kandas. ganda putri dan ganda putra bernasib sama. Grace/Jauhari didiskualifikasi sebab diduga terlibat politik gajah. sementara Bona/Ahsan kalah saat melawan ganda putra Korea Selatan. Hanya Liliyana/Tantowi, ganda campuran, yang bisa menembus babak semifinal. Praktis tinggal mereka berdua yang diandalkan untuk meneruskan tradisi emas bulu tangkis Indonesia di Olimpiade. Sejak awal mereka memang digadang-gadang mampu meraih medali. Tapi ceritanya lain. Langkah mereka untuk masuk final dihentikan oleh lawan dari China. Impian untuk merebut perunggu juga tak terkabulkan. Lagi-lagi harus menanggung kekalahan dari Denmark. 

Bukan kabar gembira yah? Memang. Tim bulu tangkis jadi headline berita di koran-koran. Banyak yang menyesalkan. Yang mencibir juga banyak -bulu tangkis selalu di gadang-gadang dibanding cabang olahraga yang lain. 

Apapun hasilnya, saya tetap jadi fans berat bulu tangkis Indonesia :). Mereka, atlet-atlet olimpiade, adalah prajurit pembela negara. Mau menang, mau kalah; they will always be our hero(ine)s!!!
     

Sunday, 5 August 2012

mampukah waktu?


Sudah kuputuskan untuk melupakan semua tentangmu. Dan disinilah aku sekarang. Bermil-mil jauhnya dari tempat dulu kita pernah bersama. Huft… Apakah jarak mampu menghapus kenangan? Lantaran kau, perajam luka dan suka dalam hidupku, masih saja membayangi langkahku.

Jika bukan jarak, mampukah waktu melakukannya?

Malang, 4 Agustus 2012  

Saturday, 4 August 2012

Memintamu untuk memohon


Lihatlah dirimu
Kau paling sombong
Enggan mengangkat tangan
Seraya memohon kepadaku

Aku paham inginmu
Tapi aku mengabulkan hanya apa-apa yang kaupinta

Mohonlah
Mintalah
Sebab bahwasanya aku tak pernah tega
Membiarkan tanganmu menengadah hampa

Malang, 4 Agustus 2012

Wednesday, 1 August 2012

mengeja kebenaran


Atas nama tuhan
Kaubenarkan apa yang kauyakini.
Dengan rahmat tuhan; katamu
Aku dilahirkan dalam kebenaran.

Tapi, tak banyak pengetahuanku atas
Apa yang kaubilang kebenaran itu

Bila sekarang kaumelihatku menyimpang
Melakukan bidah
Dan berdosa menurutmu
Bilakah kau marah dan mengutuki?

Sesungguhnnya aku sedang belajar
Berusaha menguak kebenaran agung

Bagaimana bisa aku membenarkan jika tak pernah berbuat salah (?) 

Thursday, 26 July 2012

jarak


Dia begitu jauh di atas sana
Kamu di depan mata
Sementara aku…
Membaur dalam aliran darahku
Bermuara  di jantung, pikir, dan jiwaku
Erat ketat
Kuat rapat
Lebih dekat daripada urat nadi

Trimakasih Pak Dahlan Tamrin untuk kultum-nya :)

Malang, 25 Juni 2012

Tuesday, 24 July 2012

Mendendam cinta padamu, kasih


Zikir apa yang kaurapal
Hingga mampu membalik mantraku

Aku gamang
Cintaku tak bersambut

Kasih yang akupupuk
Beralih dendam

Satu dua balok es. Lama-lama jadi bukit.
Benciku menggunung,
Hanya menunggu waktu untuk meluluhlantakkanmu.

Maka matilah
Sebelum dendamku terbalaskan

Tolong,

Sunday, 22 July 2012

Sunday, 15 July 2012

maluku #2


Biar ale indonesianus
Beta indonesiyah

Maar katong dua ini indonesia: basodara to?
Pela-gandong sampai mati.

Wednesday, 27 June 2012

sentuhan pertama dengan flanel


Sejak lama aku merasa diriku dilahirkan tanpa bakat seni. Pengen banget bisa nyanyi kayak sepupu-sepupuku yang pada punya suara bagus. Atau sekreatif tanteku yang pintar buat macam-macam kue. Dan paling nggak mewarisi tangan ajaib ibuku. Bisa menjahit, masak, buat kreasi bunga, hiasan rumah, de-el-el. 

Aku masih ingat, pernah ada tugas prakarya dari sekolah. Aku mulai bingung. Bimbang. Galau. What should i do? Kreasi apa yang harus aku buat. Sampai malam sebelum pengumpulan keesokan harinya, belum ada ide yang muncul. Aku hanya diam memandangi kertas-kertas. Dan zzZZZ.... (sudah ke alam mimpi)

Saat bangun, ta-da! Satu pot bunga tulip sudah siap dipamerkan ke teman-teman kelas. Tulip made by my mom. Hoho

Mungkin sebab kekuranganku itu, aku selalu kagum sama orang-orang kreatif. Hasratku untuk mencoba-coba berkreasi juga gak padam. Meski jatuhnya jelek, berantakan, aku sudah puas. 

Saat awal kuliah (gak usah disebutin tahunnya, pokoknya sudah lama bgt^.^) aku pernah coba-coba berkreasi dengan flanel. Ceritanya, bersama dua teman sekamarku, Faiz dan Ichda, kami mulai coba-coba buat kreasi dari flanel. Sedang tenar di kampus kala itu. Dengan modal iuran Rp50.000, sudah bisa beli berlembar-lembar kain flanel plus benang, jarum, dan aksesoris lain yang di butuhkan. Aku sampai bela-belain beli buku cara berkreasi dengan flanel.

Rencana pertama, buat bros untuk krudung. Bentuknya yang kecil-kecil ajah, asal lucu. Ada bentuk awan, karakter senyum, bantal, waru, beruang, tulang anjing, banyak deh pokoknya. Yah meski sebenarnya yang paling sering buat itu si ichdaJ. Aku sama faiz lebih sering nontonin doang. Aku juga buat sampul buat buku, ini lumayan sederhana sih menurutku. Modal yang aku punya kan cuma menjahit. 


Aku juga buat sarung buat wadah brosku; waktu aku perlihatkan ke ibuku, dia pikir tempat tusuk gigi^,^... hufft. 

Nah, kalo yang paling sederhana, yah ini:


Tas serbaguna. Bisa buat isi apa ajah. Kadang buat tas kosmetik dan peralatan mandi. Kadang juga buat isi pakaian dalam. Hehe.. gak ada bagus-bagusnya sieh.. tapi ingat aku sendiri yang jahit, seneng dibawa ke mana-mana.  

Barang-barang ini juga akan selalu mengingatkan aku akan Ichda dan Faiz...


"Postingan ini adalah bagian dari Giveaway Re-open yang disponsori oleh Airin Handicrabby.

  



Tuesday, 19 June 2012

Sutina ulang tahun


Langit terlihat cerah. Matahari pukul 10 (1/5) tidaklah menyengat. Di bawah rerimbunan pohon seputaran DPRD dan Balai Kota Malang beberapa pedagang menjajakan barang. Jalanan lengang. Kendaraan dialihkan ke arah berlawanan, melewati jalan depan Aula Skodam. Jalur depan Balai Kota sengaja disterilkan. Kawat duri terpasang sepanjang gerbang depan Balai. Beberapa polisi dan polwan (polisi wanita) sudah siap berjaga-jaga.

Rencanya akan ada aksi May Day. Tiap tanggal 1 Mei, selalu ada aksi para buruh. Sunantin dan Siti Fatimah menyanggah sebutan demo, aksi atau pun sinonim lainnya untuk agenda hari itu. “Merayakan ulang tahun buruh,” jelas kedua pabrik Banyubiru tersebut.

Sebuah truk kuning meluncur diiringi sekerumun orang. Para buruh dan mahasiswa yang baru saja di kantor Bupati depan alun-alun. Terdengar gerutu ibu-ibu menyesali kantor yang dipagari kawat duri.

Pedagang langsung di serbu para buruh. Beberapa lain memilih istirahat di pinggir jalan. Berjejal di antara pedagang. Sutina salah satunya.

Umurnya 52 tahun saat ini, dan masih bekerja untuk makan sehari-hari. Sudah 15 tahun bekerja di pabrik rokok yang sama, PT Utama Mama, mengepak rokok dalam kemasan. Ia memulai kerja tiap pukul 05.00 WIB dan selesai pukul 08.30 WIB.

Dengan jam kerja seperti itu, tidak banyak upah yang diperoleh. Tiap mengepak 1 bal rokok berisi 1o batang, ia dihargai 10 ribu. Kalau isinya 12, dihargai 12 ribu. Kini di usianya yang menua dan tenaga melemah, ia tidak dapat bekerja lebih cepat. Tiap bayaran mingguan rata-rata 70-an ribu yang bisa dibawa pulang. Ia berharap bisa punya waktu lebih, biar penghasilan bisa bertambah.

Ada tiga perkumpulan buruh di tempatnya bekerja; paguyuban buruh, SBSI, dan SPBI. Sutina ikut SPBI. Ia tidak seberapa paham, yang penting bergabung. " Ya ikut ajah. Teman-teman semuanya ikut."

Dalam aksi kali itu, orasi persatuan SBSI, Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI), dan Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Rakyat Bersatu menuntut beberapa hal. Seperti penghapusan sistem kerja dan outsourcing, mewujudkan upah buruh sesuai Kebutuhan Layak Hidup (KLH), mewujudkan pengawasan dan perlindungan hukum terhadap Buruh Migran dan Pekerja Rumah Tangga, mewujudkan jaminan sosial bagi rakyat tanpa syarat, menuntut keadilan hukum bagi para pemberi kerja yang melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan, menolak sistem Kerja Rumahan, menolak penentuan hukum Upah minimum Kota/Kabupaten (UMK) dua tahun sekali, menuntut pembubaran PPHI (pengadilan Perselisihan Hubungan Idustrial), serta menolak praktil pemberangusan serikat buruh/pekerja.  

Dari sekian itu, tak satu pun dimengerti Sutina. Yang ia tahu, ini momen yang tepat untuk mengajukan tuntutan haknya sebagai buruh. "Siapa tahu bisa minta apa gitu, Mbak. Minta gaji dinaikan lagi," ujarnya. Ia hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR) dan tidak punya keahlian lain. Belasan tahun bekerja, ia tidak pernah berniat pindah kerja meski upah rendah dan tak pernah diangkat jadi buruh tetap.

Thursday, 31 May 2012

kamu (eksotis) cantik!


Aku menunggumu, diam
Melihatmu berdandan
Oles ini, sapu itu, tabur yang lain

Diam-diam aku memandang pantulan dirimu di cermin
Hm, coba kita lihat.
Rambut hitam berkilat
Panjang, jatuh di kulit bahu coklatmu
Ikal, hampir keriting.
-kau bersusah payah menyembunyikannya dengan catok dan smoothing berkali-kali.

Sebaris bulu lebat menyemut di atas mata bulat, coklat, lebih gelap
Dari kulitmu
Aku suka alismu yang tebal dan rapi seolah sering kaucukur
Hidungmu bangir,
Bibirmu melengkungkan senyum manis
Tak kuasa menutupi deretan gigi putih meruncing
Ah, nona!

Kau tahu,
Tak peduli tubuhmu kurus,
Atau sedang naik berat badan.
Juga tak peduli badanmu pendek,
Tak setinggi model di majalah.
Peduli apa kalau tubuhmu seperti tiang listrik.

Peduli setan, nona, jika kaubilang
Aku hitam :(

Bagiku, nona.
Kamu eksotis cantik!

Kau harus tahu, itu.

Wednesday, 30 May 2012

Dari takbir hingga salam


*Takbir
Rukuk sujud
Lalu salam

Pagi siang sore
Sampai malam, Tuhan

Sehari lima kali
Lebih banyak dari
jadwal minum obat
Waktu kunjung pacar
Dan jadwal makan


*Takbir
Rukuk sujud
Lalu salam

Tak pernah putus
Satu waktu pun
--ya, kecuali kalau memang lagi liburan, Tuhan

*Takbir
Rukuk sujud
Lalu salam

Tuhan,
Apakah kau agung dikarenakan rukukku?
Apakah kau bertambah agung karena sujudku?

Apakah aku menjadikanmu hina bila sekali waktu saja
Aku tak datang menyembahmu?
Ataukah aku yang menjadi hina bila sekali waktu saja
Aku tak datang menyembahmu?

*Takbir
Rukuk sujud
Lalu salam

Tuhan, kemuliaanmulah yang menjadikanku tunduk padamu
Atau kerendahankulah yang memuliakanmu?

Takbirku
Rukukku
Sujudku, dan
Salamku

Tuhan,
Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan pahala yang kau janjikan
Sungai mengalir indah di bawah rindang pohon
Di negriku, tuhan, banyak
Bidadari cantik?
Ah, aku tidak suka sesama jenis

(kalau boleh jujur)
Aku takut
Mungkin aku hanya jatuh bangun
Menggugurkan kewajiban
Mungkin juga keterbiasaan
Dan yang paling mungkin, Tuhan
: Aku hanya takut nerakamu

--aku terbiasa hidup di dunia,
Sulit membayangkan api kebinasaan
Melahap tubuh sampai lebur
Kembali utuh, lebur lagi
Kembali utuh, lebur lagi
Kembali utuh, lebur lagi
Kembali utuh, lebur lagi
Kembali utuh, lebur lagi
Seperti yang turun temurun didongengkan leluhurku
Atau seperti cerita bergambar dalam buku cerita keagamaan
Yang dijajakan di bus, kereta, di jalanan

*Takbir
Rukuk sujud
Lalu salam

Apa pun niatnya,
Kumohon terimalah
--mungkin butuh waktu untuk memujamu tanpa pamrih dan takut

Malang, 27  Mei 2012
Bakda menunaikan salat isya

Thursday, 10 May 2012

sintren; aku, kamu, dia dan budaya

Rabu malam, 14 Maret 2012, seusai berdiskusi ringan dengan teman-teman yang baru saja saya temui di kedai sinau, saya pulang membawa gelisah. Ada satu topik menarik yang disuguhkan salah seorang teman. Ia bercerita tentang novel bertemakan sintren. Sudah lama sebenarnya ia membaca novel tersebut, meski begitu kesannya masih membekas.

Sintren, salah satu budaya Indonesia yang penyebarannya luas ditemui di daerah pantura (pantai utara). Tokoh utama tarian ini seorang perempuan, gadis. Saat menarikan tarian, tubuh sang penari seolah menyatu dengan ruh lain, titisan penari yang menjadikannya begitu piawai menari. Kata teman saya ‘kerasukan’.

Seorang sintren disyaratkan masih gadis dan perawan, serta dalam keadaan tidak datang bulan. Sebelumnya juga melakukan laku ritual seperti puasa selama 40 hari atau minimal tiga hari, atau mati geni (puasa sehari semalam). Awalnya, si penari dibacakan mantra-mantra oleh pawang, kemudian dimasukkan dalam kurungan, setelah beberapa saat, sintren keluar dengan busana baru, siap menari. Kadang-kadang juga melakukan gerakan akrobatik.

Menyoal sintren, saya jadi ingat ronggeng. Seni tari dari daerah Banyumas. Pernah dinovelkan juga oleh Ahmad Tohari dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk. Di Jawa Timur dikenal juga tradisi tayub. Sebagian kita mungkin tidak mengenal budaya-budaya tersebut secara langsung, namun justru tahu dari karya-karya sastra yang ada, ya seperti dari novel-novel tadi.

Sebagai seni, bukan berarti sintren dan ronggeng bisa bertahan sampai sekarang tanpa aral melintang. Teman saya contohnya, dari novel yang dia baca tersebut, dia kemudian menarik kesimpulan, sintren itu memang budaya kita yang perlu dilestarikan. Tapi di sisi lain, bagaimana dengan nasib para ibu-ibu yang suaminya berhasil mendapatkan sang penari? Bukankah para penari itu mendatangkan petaka bagi kehidupan perempuan-perempuan yang sudah berumah tangga?

Belum lagi keadaan penari yang dibisiki mantra-mantra hingga kesurupan. Orang beragama bilang itu syirik. Haram. Tak heran jika ada berita mengenai istri gubernur jawa barat melarang seni sintren karena menganggapnya tidak sesuai syariat islam.

Saya pikir, tidak hanya sintren atau ronggeng saja, budaya Indonesia memang kental dengan apa yang disebut ‘magis’. Reog Ponorogo, kepang jaran, bambu gila, dan masih banyak lagi contoh lainyya. Budaya Indonesia merupakan perpaduan harmoni alam raya yang wujud ini, sublim, dengan alam raya yang tak bisa kita wujudkan, meski kita yakini ia wujud.

Manusia modern mencari identitas

Kini, kita tengah mengalami gempuran maha dahsyat budaya-budaya populer yang menyebar luas melalui media informasi seperti televisi atau pun internet, kita perlahan-lahan sadar bahwa budaya kita sudah semakin terlupakan. Budaya luar malah lebih dekat. Korea contohnya, salah satu negara yang berhasil menghegemoni Indonesia saat ini. Sejak drama televisi, musik, fashion, makanan, sampai gaya hidup. Benar-benar dilanda demam Korea.

Sikap orang terhadap budaya berbeda-beda.  Ada yang merasa nyaman dengan hegemoni budaya luar, ada juga yang menaruh simpati pada kebudayaan negeri kita. Muncullah pertanyaan-pertanyan pada diri sendiri atas nasib bangsa ini. Ini kah kita? Indonesia dengan baju korea? Indonesia dengan baju barat? Dimana baju kita sendiri? Bagaimana dengan seni asli Indonesia? Bukankah kita kaya akan budaya yang menghampar dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai Talaud(?).

Aduh, apa perlu ditampar untuk sadar? Seperti tahun-tahun kemaren,negara tetangga mengklaim lagu daerah kita, rasa sayange.

Takut kecolongan, negara reaktif ini buru-buru menginventarisasi semua budaya-seni-tradisi. Batik buru-buru dipatenkan sebelum dicaplok lagi. Hari Sabtu dijadikan batik nasional. Tiap-tiap daerah menghidupkan kembali seni khasnya. Seni lokalitas digelar dalam bentuk festival-festival atau ajang pariwisata. Menarik sekali, karena bisa menyemarakkan pariwisata yang ujung-ujungnya mendatangkan manfaat ekonomi. Sementara dibelakang diam-diam kembali abai. 
 
Seperti orang yang sedang krisis identitas, kita mencari-cari mukjizat penyelamat. Kita lalu menelusur ke belakang, kembali pada tradisi kebudayaan yang dibangun oleh nenek moyang. Dan di sinilah kita, berkoar-koar untuk melestarikan seni asli Indonesia. Untuk menunjukkan bahwa kita juga berkarakter. Jadi siapa sebenarnya yang perlu simpati?
Seperti orang yang sedang krisis identitas, kita mencari-cari mukjizat penyelamat. Kita lalu menelusur ke belakang, kembali pada tradisi kebudayaan yang dibangun oleh nenek moyang. Dan di sinilah kita, berkoar-koar untuk melestarikan seni asli Indonesia. Untuk menunjukkan bahwa kita juga berkarakter. Jadi siapa sebenarnya yang perlu simpati?

Generasi orang-orang yang lahir setelah pengaruh agama dan ilmu pengetahuan mendera Indonesia melihat sintren, ronggeng, reog, bantengan menggunakan kacamata berbeda. Tak heran bila kita menggunakan kata ‘kesurupan’ untuk merujuk kondisi penari saat tubuhnya menyatu dengan roh-roh leluhur.

Kita melihatnya hanya sekadar seni. Seni, bagi kita hanya atribut keindahan, mengandung nilai estetika, serta menghibur. Sudah. Sintren, ronggeng, reog, sama saja dengan sinetron dan lagu yang diputar tiap hari di ayar kaca.
Agama malah membuat kita menimbang-nimbang ulang seni budaya kita. Semisal sintren tadi; haram apa halal? sirik apa tidak? Bid’ah apa tidak? Porno apa tidak? Sesuai syariat apa tidak? Yang ada malah jadinya melarang perkembangan seni leluhur kita. 

Kita lupa ruhnya . Kita lupa filosofisnya. Kita amnesia bahwa, tradisi itu tidak serta merta hadir. Ia merupakan bentuk perwujudan luhur dari nilai-nilai filosofi kehidupan nenek moyang kita dahulu. Semacam keyakinan, nasehat-nasehat, hikmah yang disampaikan dalam bahasa seni.

Sintren contohnya, konon, menurut cerita yang berkembang di cirebon, sintren berawal dari legenda kisah cinta Dewi Rantamsari atau Dewi Sulasih dengan Bahurekso. Cinta mereka tidak direstui, Bahurekso diperintahkan untuk bertapa, sementara Sulasih di suruh menari dari desa ke desa dalam acara bersih desa sebagai syarat untuk bertemu dengan Bahurekso. Setiap malam bulan purnama, Sulasih akan menari di acara resik desa, Bahurekso dengan diam-diam akan turun dari pertapaannya ke pagelaran acara. Ia akan melemparkan sapu tangan pemberian ibunya ke Sulasih, saat terkena sapu tangan, dia akan pingsan tak sadarkan diri dan roh halus masuk ke dalamnya. Dengan ilmu yang dimiliki Bahurekso, Sulasih berhasil dibawa lari . Mereka kemudian hidup berdua selamanya.

Monday, 7 May 2012

cerita buba

hasil belajar Buba


Melihat si kakak, Nisa, sibuk mengetik cerita Buba juga tidak mau kalah. gambar di atas adalah cerita yang berhasil ditulis Buba. "Ma Novi, lihat sini," ia memintaku memeriksa ceritanya. "Wah pintar! Ini apa ceritanya sayang?" Sumpah, aku gak mudeng baca tulisannya. And see what she said?

"Waktu aku ke Bali aku liat pantai. Serrru banget."
  

Wednesday, 2 May 2012

menunggu senyum di persimpangan

Senyummu manis
meski malumalu.
Menyambutku pagi hari ini.

Trims,
Hari ini aku lebih bergairah bekerja.

Senyumlah untukku
Lagi,
Waktu berjumpa
Tepat saat ayam berkokok- suhu udara berganti
Di persimpangan mimpi, aku menunggumu.

Monday, 23 April 2012

cukup rawan

Roda sepeda motor yang saya kendarai berputar, terus melaju memasuki kecamatan Singosari, kabupaten Malang. Singosari, nama ini tercatat dalam buku-buku sejarah sebagai nama kerajaan. Nama yang mengingatkan saya pada Ken Arok, Kendedes, Ken Uma, dan Tunggul Ametung.

Ingatan akan sejarah masa lampau diperkuat dengan nama-nama jalan yang kami lalui seperti Tumapel, Kertanegara, dan Tunggul Ametung. Candi Singosari berdiri tegak di Jalan Kertanegara.

Sekitar 5 kilo meter ke arah utara. Ada candi lain selain Candi Singosari. Saya meneruskan perjalanan ke desa Toyomarto. Dari jalan beraspal berbelok masuk ke arah pepohonan. Jalan menyempit, susah dilewati sepeda motor.

Butuh berjalan kaki sekitar 400 meter sampai tiba di lokasi candi. Sisi kiri jalan sungai mengalir pelan, airnya jernih. Lumut dan bebatuan di dasar tampak jelas. Anak-anak bermain riang di sungai. Ada pula yang sibuk menyuci pakaian dan sepatu.

Di antara pepohonan, sungai dan telaga terdapat bebatuan tersusun rapi. Bagian dasar berbentuk persegi. Lapiknya berbentuk persegi dan segi delapan. Paling puncak, diasumsikan berbentuk seperti lonceng, atau cangkir terbalik. Namun bagian pucuknya hilang, belum ditemukan. Bagian hilang itu dinamakan stupa. Tempat penyimpanan relik dan benda-benda suci.

Sumberawan. Begitulah nama yang diberi untuk candi dan stupanya. Orang-orang desa menyebutnya Candi Rawan. Cukup Rawan saja.

Nur Yadi, juru pelihara candi, mengatakan bahwa ini satu-satunya stupa di Jawa Timur. Penganut Budha yang tidak merayakan waisak di Borobudur, biasanya merayakan di sini. Candi ini sudah ada sejak abad 14, sekitar tahun 1359. Candi dibangun pada masa Majapahit, pada pemerintahan Hayam Wuruk. Fungsinya sebagai tempat meditasi,  cocok  dengan suasana kaki bukit Arjuna.

Tahun 1845 pertama kali ditemukan oleh Belanda, kemudian direstorasi pada tahun 1973. Pemugaran dilakukan pada bagian kaki dan Batur.

Beberapa meter depan candi terdapat tempat berdoa. Dua batu berbentuk kursi ditata rapi di belakang meja batu kecil tempat dupa. Setanggi merah menyala menghias meja, masih menyisakan bau harum habis dibakar. Di kaki candi dan pemandian di bagian pojok areal candi juga ada dupa berisi setanggi.

 Untuk menikmati suasana di sini, pengunjung tidak dipungut biaya karcis. Nur Yadi membiarkan pengunjung masuk, dan membayar pastisipasi seikhlasnya saat keluar.

Pengunjung berdatangan, tidak banyak. Sekadar melihat-lihat, atau berwisata. Ada yang memanfaatkan pemandian  untuk menyegarkan badan. Hanya barang satu atau dua pengunjung terlihat khusuk berdoa.

Sunday, 22 April 2012

Thursday, 19 April 2012

Makassar #demo terus mi,


Demo di Makassar. Mahasiswa Makassar beraksi lagi

Setelah harus menunggu 30 menit delay dan perjalanan sekitar 40 menit di atas pesawat, akhirnya saya tiba juga di bandara Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan. Tepatnya di wilayah Maros. Di sana Ilham, LPPM Profesi, sudah siap menjemput. Dia ditemani sang ketua, Fadli. Selain saya, ada juga si Egi, Uli dan Dika -- kawan-kawan dari LPM Institut Jakarta.

Kami mengendarai mobil yang disetir Fadli. Ilham duduk di sampingnya, bertindak sebagai pemandu dadakan. Memberitahu nama-nama tempat yang kami lalui.

Di Maros, Ilham menunjukkan pabrik semen BOSOWA yang berada di samping kiri jalan. Semen ini lumayan terkenal di daerah timur Indonesia. Bapa dan mama saya biasa memesan semen Bosowa untuk keperluan bangun rumah.

Sampai fly over di pertigaan Jl. Urip Sumoharjo dan Jl. Pettarani, mobil melaju persis di bawahnya. Ini sudah masuk wilayah kota Makassar.  Ada coretan grafiti yang ditulis sekadarnya di kaki fly over. Turunkan BBM. BBM Naik, SBY TURUN.   

Selain identik dengan kota Coto Makassar, demo mahasiswa juga jadi bagian dari kota Makassar. Setiap ada kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, mahasiswa pasti turun lapangan meneriakkan protes. Entah di Jakarta, Malang, Medan, atau Surabaya. Tapi tak ada yang lebih getol dari Makassar. Fly over urip-pettarani jadi saksi bisu. Di bawah jembatan layang inilah mahasiswa Makassar kerap berdemo. 

Terakhir, tersiar kabar dari televisi mengenai demo kenaikan BBM. Tanggal 27 Maret, terjadi aksi penolakan besar-beasaran. Gerakan tolak kenaikan BBM.

Saya tidak ikut turun aksi, hanya menyimak depan layar kaca televisi (tivi). Semua stasiun tivi berlomba-lomba merekam dan menyiarkan langsung aksi-aksi tersebut. Saya memilih channel metro-tv.

Sejak pukul 14.00 WIB sampai sekitar 18.00 WIB, metro-tv masih memberitakan situasi demo dalam rangkaian  acara wide shot. Reporter melaporkan langsung dari Makassar, Riau, Malang, dan Jakarta. Tapi saya mencatat, Makassar yang lebih banyak porsinya.

Brutal dan anarkis. Banyak orang mengambil kesan serupa jika melihat aksi yang direkam si kameramen. Atau sekedar melihat judul-judul berita seperti berikut ini;
  • Aksi mahasiswa semakin memanas
  • Polisi tembak gas air mata
  • Aksi berujung bentrok
  • Mahasiswa lakukan perusakan

Mahasiswa Makassar diberitakan melakukan perusakan di di restoran cepat saji asal Amerika, menjarah minumannya. Di lain hari juga menjarah gas LPG.

Saya menyabar-nyabarkan diri agar betah menonton berita. Gregetan nontonnya. Bukan berita kenapa BBM mesti naik, kenapa mahasiswa menolak kenaikan BBM yang saya dapatkan, melainkan lagi-lagi mahasiswa anarkis yang dipertontonkan media ke khalayak umum. Sebagai mahasiswa saya juga tidak setuju pada tindakan anarkis. Tapi tingkah mahasiswa yang kemudian dilabeli anarkis itu juga tidak muncul dengan sendirinya jika tak ada yang menyulut.  

"Bagaimana kesannya tentang Makassar?" tanya Ilham tiba-tiba. Saat itu, kami bahkan belum sampai di tempat tujuan. Pertanyaan yang menurut saya terlalu dini. "Di Makassar sering demo yah?" ia kembali bertanya.

Saya tertawa. Pertanyaan terlalu dini? Tidak juga. Karena sebenarnya, sebelum ke Makassar, saya dan mungkin berjuta orang lain juga sudah lebih dulu membuat penilaian dini tentang Makassar. Beberapa waktu sebelum berangkat, teman-teman di kampus UIN Malang suka berseloroh; "Gak takut tah ke Makassar? Di sana sering demo." Atau, "Siap-siap bawa helm." Maksudnya buat jaga-jaga kalau ada aksi lempar batu.

Sadar atau tidak, selama ini tivi dan sebaran informasi di internet atau surat kabar harian yang jadi sumber rujukan saya tentang Makassar. Informasi yang saya dapat, sudah tentu berdasar perspektif orang yang merekonstruksi fakta dalam bentuk tulis, audio maupun video. Tapi bagaimana sebenarnya, saya juga tidak tahu. Yang pasti jangan tergesa-gesa percaya dengan kebenaran yang disampaikan media kejar tayang. 

Friday, 13 April 2012

Cantik = Penjajahan?


Coba perhatikan wajah-wajah di layar televisi anda akhir-akhir ini. Ada banyak sekali wajah-wajah putih bersih, tinggi semampai, berambut lurus. Cantik. Hadir dalam berbagai bentuk. Presenter, bintang film, aktris sinetron, model, penyanyi, bintang iklan. Mereka hadir setiap hari di berita, gosip, talkshow, pentas musik, sinetron, dan beragam acara lainnya. Selain cantik, posisi mereka sebagi selebritis membuat mereka populer. Selebritis; mungkin ini kata yang tepat untuk pekerja seni tersebut.
Belum pernah ada riset atau sensus mengenai hal ini, tapi perhatikan sekali lagi layar televisi Anda; kebanyakan selebritis tersebut berdarah campuran. Sebut saja Cinta Laura (Jerman-Indonesia), Yuki Kato (Jepang-Indonesia), Nabila Syakib (Arab) Sandra Dewi (Tionghoa ) dan beberapa nama lain seperti Dewi Sandra, Tamara Blezinsky, Marisa Nasution dan yang lainnya.
Lantas kenapa jika banyak wajah perempuan-perempuan berdarah campuran di televisi? Menurut Naomi Wolf, perempuan entah itu yang putih, hitam, atau sawo matang memiliki persepsi yang sama mengenai kriteria kecantikan. Prototipe kecantikan ini bisa ditemui di tubuh seorang model: tinggi, kurus, berambut lurus, wajah bebas jerawat –tanpa noda, dan tentu saja hidung mancung. Sangat eropasentris.
Kriteria cantik seperti ini jarang ditemukan dalam tubuh perempuan indonesia yang ayah ibunya orang melayu. Kecuali yang terlahir dari percampuran ras. Kecantikan mereka dianggap mewakili standar kecantikan eropasentris, sehingga kemudian yang kita temui hari ini adalah menjamurnya wajah-wajah ala luar negri di berbagai program televisi.
Keturunan Arab atau Tionghoa dalam hal ini, meskipun bukan Eropa, tapi kulit mereka yang lebih terang dari orang indonesia umumnya kemudian disejajarkan dengan kelompok keturunan Eropa. Yang bukan Indonesia, selalu lebih menarik.
Asumsi kecantikan ini tak bisa lepas dari sejarah penjajahan dan imperialisme di berbagai belahan dunia seperti Afrika, India, Malaysia dan Indonesia. Indonesia pernah dijajah belanda selama 350 tahun, buka waktu yang singkat. Belanda tidak hanya menjarah kekayaan alam dan memperbudak bangsa Indonesia, secara fisik, melainkan juga secara psikis.
Edward Said dengan berpijak pada teori Michel Foucault mengenai relasi kuasa/pengetahuan menganalis kerja orientalis. Orientalisme adalah kajian budaya, bahasa, dan lainnya. Beas nila da objektif. Nyatanya, pengetahuan ini kemudian digunakan eropa sebagai sarana melanggengkan kekuasaan. Menanamkan cengkramannya lebih dalam.
Eropa, penjajah lantas merasa superior, sedang yang dijajah inferior. Tidak berpendidikan, dekaden, dan tidak berbudaya. Sehingga mereka merasa perlu melakukan usaha balas budi yang diprakarsai lewat pendidikan, penanaman pengetahuan bahwa yang ala Eropa ini lah yang baik. Mitos kecantikan yang kita warisi saat ini, merupakan salah satu artefak sejarah; Eropa (masih)berkuasa di sini. Orang-orang kemudian berlomba-lomba menjadi seperti Eropa; merayakan mimikri, meniru false identity. Kita kemudian jadi asing dengan budaya kita sendiri.
Semasa penjajahan pernah ada pembagian masyarakat menurut hukum Belanda yang terdiri atas;
a. golongan Eropa;
b. golongan keturunan Eropa;
c. golongan Timur Asing;
d. golongan Bumiputera
Pembagian kelas jelas menunjukkan adanya diskriminasi ras, dimana yang kulit putih jauh lebih tinggi dari berwarna. Dampaknya bukan dalam persoalan hukum semata, tapi juga secara sosio-kultural. Tokoh Samsul Bahri dalam roman Siti Nurbaya contohnya, memilih menjadi opsir Belanda. Sebab bekerja pada Belanda lebih terhormat. Seolah-olah dirinya adalah Belanda itu sendiri.
Menyoal kecantikan, Hanafi yang diceritakan dalam Salah Asuhan karya Marah Rusli tergila-gila kepada noni Belanda, Corrie. Ia lebih mencintai Corrie yang putih, berbudaya dan terpelajar dibanding gadis pilihan ibunya. Rapiah. Gadis kampung yang tidak bisa menata rumah dan memasak ala orang Belanda.
Hari ini, ketika televisi kemudian marak menampilkan wajah-wajah keturunan, suatu indikasi bahwa pengaruh penjajahan masih menghegemoni bangsa ini. Persis seperti yang dikatakan Leela Gandhi, salah seorang tokoh poskolonial, bahwa relasi penjajah-dijajah adalah hubungan hegemonik. Prabosmoro dalam analisisnya atas iklan sabun yang dibintangi artis berdarah campuran mengungkapkan bahwa tubuh model-model tersebut telah dipakai sebagai representasi perempuan kulit putih.
Semakin sering wajah-wajah selebritis ini digembar-gemborkan, semakin terhegemonilah kita. Krisis identitas sedang berlangsung. kita semakin tercerabut dari akarnya. Sementara kita sama sekali tak sadar.
Program televisi yang persuasif menyebarkan standar kecantikan adalah iklan-iklan tubuh dan wajah. Iklan sabun, losion, facial foam, menjanjikan kulit putih mulus. Penggambarannya dengan seorang bintang iklan yang awalnya berkulit gelap, jadi putih selama memakai produk tertentu.
Jangan heran jika kelak Anda menemui orang-orang serupa bule di jalanan, pasar, stasiun, atau di mana saja. Anda mungkin terkejut, teman yang dulu hitam, sekarang lebih terang kulitnya. Krim pemutih sedang laris memang, salon dan dokter kecantikan pun begitu. Injeksi pemutih jika tak ingin repot.
Perempuan-perempuan di Bima pernah diberitakan gencar melakukan rebonding agar dapat memiliki rambut lurus. Sedang istilah buceri muncul sebagai penanda orang yang mengecat warna rambutnya menjadi pirang, blonde, merah. BUle Cat sEndiRI.
Suatu ketika, saya memergoki keponakan perempuan sedang bermain bedak. Bedak tersebut ditaburkan keseluruh tubuh. Di kaki, lengan. Penampilannya persis seperti tikus kecemplung tepung. “Ini biar putih, cantik...” jawab si kecil, saat itu masih TK, ketika ditanya. Anak kecilpun sudah terpengaruh. Cantik = Putih.
Lagi-lagi, seperti Hanafi dan Samsul, perempuan Indonesia terperangkap dalam mimikri. Hasilnya, mitos cantik adalah kulit putih tak sekadar diamini, sayangnya juga dihayati dalam laku.
Bukan bermaksud untuk menghakimi selebritis, toh mereka juga korban dari sistem yang membelenggu. Mereka korban, masyarakat juga korban. Sama-sama tidak menyadari kekuatan besar berupa belenggu ideologi kulit putih, Eropa. Satu hal yang pasti; penjajahan masih berlanjut.

Referensi
            Ashcroft, Bill, etc.2003. Menelanjangi Kuasa Bahasa: teori dan Praktik Sastra Kolonial. Yogyakarta: Qalam
            Gandhi, Leela. 2001.Teori Poskolonial: Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat. Yogyakarta: Qalam.
            Prabosmoro, Aquarini Prayitna. 2003. Becoming White: Representasi Ras, kelas, Feminitas dan Globalitas dalam iklan Sabun. Bandung: Jalasutra
            Sardar, Ziauddin and Borin Van Loon. 2005. Seri Mengenal dan Memahami Cultural Studies. Jakarta: Scientific Press
Wolf, Naomi. 2004. Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan. Yogyakarta: Niagara.

teka-teki

selalu ada jawaban untuk setiap teka-teki hidup

Thursday, 5 April 2012

makassar #Gate 6


Makassar. Kalau pulang ke rumah saya di Tual sana, baik naik kapal atau pesawat, selalu transit di Makassar. Naik pesawat sih, tidak pernah lama. Dan tidak bisa ke mana-mana. Jika naik kapal, transit bisa sampai 2-3 jam. Lumayan buat jalan-jalan keliling Makassar. Tapi yang ini beda. Nah hari ini, alhmadulillah ada kesempatan berkunjung. Lumayan lama, tanggal 4-8 April 2012.

Sesuai jadwal, penerbangan saya dengan SJ564, Sriwijaya Air, semestinya berangkat pukul 13.05. Ternyata ditunda. Di papan display tertera sampai 13.45. Alasannya sedang pergantian pilot atau kapten. Padahal sebelumnya saya sudah tiba di bandara juanda, Surabaya, lebih awal. Pukul 12.25. Takut ketinggalan pesawat.

Saya membunuh kebosanan saya di ruang tunggu gate 6 dengan diam. Sambil sesekali melirik orang disekeliling saya. Empat petugas bandara yang menjaga loket sibuk bercerita. Suara mereka terdenga cukup jelas. Berbicara diselingi tawa berderai. Beberapa kali terlihat ada penumpang datang menghampiri.

Ada lelaki, saya taksir umurnya 35-40an, datang menanyakan apatah maasih sempat untuk menunaikan salat dhuhur. Petugas mempersilakannya. Ia lalu menghampiri seorang teman, mengajaknya keluar ruang tunggu. Mungkin ke mushola.

Sementara itu, jauh di seberang meja petugas, terdengar suara bayi menangis. Sangat kencang. Saya melengok kanan-kiri. Mencari asal suara. Sedikit bergeser dari tempat duduk, agar dapat melihat si bayi. Padangan saya terhalangi meja petugas. Dan saya mendapati gadis kecil dalam balutan baju warna pink, muka merah, dan tangisan kencang. Itu dia. Duduk dipangkuan sang ibu. Duduk manis sambil menangis.

Tak lama berselang setelah lelakki yang ijin salat. Seorang wanita 60an menghampiri petugas. Dengan menggunakan bahasa inggris ia bertanya kenapa pesawatnya ditunda. Dia sampai sudah kelaparan gara-gara menunggu. Petugasnya menjawab terbata-bata. Bahasa inggrisnya mungkin kurang lancar.

Suara si bayi sudah tidak terdengar lagi. Rupanya ia tenang setelah digendong sang ibu. Sambil menyusu pula. Ah, mungkin bayi pink itu juga lapar gara-gara menungggu.

Sedang lelaki tua di pojok ruangan, tiga kursi dari tempat saya duduk, sudah tertidur pulas. Ia mengenakan baju light cyan dan celana coklat terang. Kepalanya bersandar di kursi, wajah menengadah, dan mulut terbuka. Entah lapar, entah capek. 

Beruntung, penumpang sudah diperbolehkan naik pesawat 15 menit lebih awal dari jadwal tertunda. Mungkin bakal banyak lagi orang-orang lapar, tertidur, atau diam karena bosan.

Ayo, cepat, cepat. Jangan tunda-tunda lagi. Sudah tidak sabar menginjakkan kaki di tanah Ayam Jago dari Timur.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...