Sunday, 19 August 2018

Baiklah,




Ah, jadi sekarang aku mengerti. Kamu bukan tipe orang yang akan mengabaikan seorang teman. Bukan pula tipe yang mudah berkata tidak. Tapi kamu sangat, sangat ahli dalam mengusir seseorang dari hidupmu.


Aku rasa kita mirip.


Friday, 3 August 2018

Titik nol



Lalu, setelah hari-hari yang manis, ketjup sebelum dan sesudah bangun tidur, serta percakapan hangat dan sekantong gombalan receh, kita kembali ke titik nol.

Kembali ke awal. Tiba-tiba saja aku enggan untuk menyapamu. Sedang kau sudah tentu, tak mungkin lebih dulu memulai.

Ah, sebenarnya bukan enggan. Hanya saja, aku tak tahu, dengan cara apa aku mesti menyapamu. Dengan alasan apa lagi? Alasan? Ah, kenapa mesti butuh alasan hanya untuk mengirim pesan padamu?

















__________________________
Pict from pinterest




Saturday, 19 May 2018

Mengalienasi




Mengapa dengan yang asing kita bisa berbagi hal-hal paling sakral dan intim.


Sementara yang dekat begitu beku dan kaku. 


Haruskah kita saling mengalienasikan diri agar lebih intim? 


Aku alien bagimu

Kau alien bagiku


Tuesday, 24 April 2018

Ini adalah hari-hari di mana, gak pengen marah, jutek dan judes bin ketus, tapi semua terjadi begitu saja. Ketika orang mengatakan hal sepele dan kamu nganggap lebih, over sensitif. Ketika kamu tahu, itu tidak bisa begitu, tapi kamu tak kuasa menahannya.


Ish😔, I need to run away somewhere to keep my sanity.




 









Friday, 13 April 2018

pernah




pernah sekali kuragu padamu
ketika diri lugu
terombang-ambing
pusing

pernah merasa begitu asing 
padahal begitu dekat 
tak berpaling
erat

















_________________________
pict from here

hanya supporter





Darah berdesir melihatmu di lapangan. Degup berlipat tiap raketmu menyentuh kok. Berdebar-debar, poin demi poin.

Perasaan bahagia, harapan dan cemas berbaur dalam jejingkrak, tepuk tangan, doa dan  yel-yel:
In-do-ne-sia
Prok prok prok
In-do-ne-sia
Prok prok prok

Tepat setelah poin kemenangan, 21, aku berlari ke arah lapangan. Kau sigap menghampiri.

Menghampiri dia yang sedari tadi kau pandangi. Poin demi poin.

Aku lupa,
Pagi ini aku terbangun hanya sebagai seorang supporter.











Thursday, 15 March 2018

Berjodoh




Bahwa jodoh tidak melulu tentang lelaki atau perempuan yang dipersatukan dalam akad. Bertemu orang baik pun adalah jodoh. Bukan kebetulan.

Banyak orang baik yang tlah kutemui. Ibu dan anak ini salah satunya. Pertama kali bertemu dengan ibunya ia berkisah tentang getir hidupnya: Susah payah bekerja di luar negeri, suami yang ditinggal malah foya-foya, main perempuan dan menelantarkan anak.

Sudah ia ikhlaskan jerih payahnya yang sia-sia. Pun suaminya, ia ikhlaskan untuk perempuan lain. Ia hanya tak habis pikir, untuk apa si mantan suami mencuci otak anaknya agar menjauhinya. 

Tak ada yg lebih sedih selain dijauhi anak sendiri. 

Ia percaya Tuhan tak kan membiarkannya sendiri, tak putus doa untuk sang anak.

Seperti sudah direncanakan, beberapa bulan kemudian, kami bertemu lagi. Kali ini ia mengenalkanku pada anaknya. Ah, betapa bahagianya. 

Kisah ini, bagimu, mungkin biasa saja. Banyak kejadian seperti ini. Atau mungkin aku tak begitu pandai menceritakannya. Apapun lah. Bagiku, kisah ini sangat berharga. 

Selama ini kupikir hanya drama indosiar saja yang dramatis. Nyatanya, hidup bisa lebih dramatis. Dan tak perlu kuceritakan dengan dramatis pula. 






Wednesday, 7 March 2018

#tukangojek1: ya sudah

sebab tidak punya kendaraan dan gak bisa nyetir, kemana-mana praktis saya naik ojek ataupun angkutan kota. berhubung tidak ada lyn angkot ke arah rumah, saya lebih sering naik ojek. 

banyak pengalaman yang saya alami. manis maupun traumatis. beberapa kali saya dan kang ojek ngobrol ini itu, lebih seringnya saya menikmati perjalanan, duduk diam menatap rumah-rumah, anak-anak, dan pepohonan dan semak-semak yang segera berlalu, tenggelam dalam lamunan-lamunan riuh. 

lewat tulisan dengan label #tukangojek ini saya ingin berbagi cerita saya bersama kang ojek (duh, betapa mesranya kami :D)



Saya         : Om, minta helmnya, om. 
Kang ojek : Gak usah.
Saya         : Ya sudah .... (langsung meninggalkan kang ojek)
Kang ojek : loh, mo kemana, mbak? gak ada sweeping kok. ayo
saya         : @%$^^$%@@


tak sedikitpun acuh, sudah kadung ngambek. orang saya nyetopin belio karena helmnya. saya gak mau naik ojek yang gak sediain helm buat penumpangnya. kecuai kepepet dan terpaksa.  




 












__________________
pict from here

Tuesday, 6 March 2018

I hate it



I hate it when I love you, but I deny to admit it
I hate it when I love you, but I can't say it
I hate it when I love you, but I am not brave enough to say it
I hate it when I love you, but I have no confidence to say it

When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will lose your chance
To make your dreams come true...

This song stuck in my head








________________
pict taken randomly from google 

Wednesday, 7 February 2018

asin(g)



"Kamu berbeda." Tuduhmu.

Hanya karena tak kau jumpai ombak di kepalaku.

Kemarilah, cecap bibirku yang garam. Agar kau ingat rupa laut tempatmu melabuh sauh.

Bagaimana rasanya?

"Asin(g)!"


Malang, 26 Januari 2018 
















Monday, 5 February 2018

Di tempat yang kau sebut wisata lumpur


Di tempat yang kau sebut wisata lumpur
Kehidupan hakiki pernah mengada

Di sini,
Manusia pernah beranak
Ternak pernah berkembang biak, dan
Tanaman pernah bertumbuh

Di tempat yang kau sebut lumpur wisata
Masa lalu hakiki pernah mengada

Lihatlah,
Di bawah pohon mana, dulu, Susi dan Joni kencan kali pertama
Di jalan mana Tanti dan Nita menuntun sepeda menjemput emak pulang dari sawah
Di halaman mana anak—anak riuh bermain gundu dan dadu

Lihatlah,
Tak lagi kukenali
Jalan setapak ke sawah Pak Turno
Tak lagi kukenali
Di warung mana para buruh mengaso
Tak lagi kukenali
Rumahku sendiri
Tempat ibu bapak memadu kasih
Tempat kami, anak-anaknya, dilahirkan
Tempat kami berbagi kehangatan lewat obrolan, gurauan dan pertengkaran-pertengkaran kecil

Di tempat yang kau sebut wisata lumpur
Kenangan hakiki pernah mengada

Namun kau lihat sendiri
Kenangan ini,
Kemana ia mencari jalan pulang
Kenangan ini,
Kenangan tak berumah

Di tempat yang kau sebut wisata lumpur
Kerakusan hakiki pernah mengada

Ingatlah ini,
Tangan-tangan kuasa menjamah
Dengan bor mereka memperkosa kami
Merebut kehidupan
Merenggut kenangan
Dikubur dalam genangan
L U M P U R    L A P I N D O

Di tempat yang kau sebut wisata lumpur





Malang, 23 Januari 2018 


















Pict by dekisugik

Saturday, 3 February 2018

Gerimis kasih


Gerimis 
Kasih bigamis
Air mata genang
Kisah kita tinggal kenang

Perempuan mana yang senang
Akad bukan layang-layang
Hati teriris
Miris

Ironis
Habis manis
Kulepas kau, bang
Larung di air pasang

Bebaskan aku jangan gamang
Bahagialah tanpa alang
Renjana kalis
Kikis 


Bau-bau, 20 Januari 2018 
















_______________
Patidusa lagi.
Pict by monika-es from devianart


Thursday, 1 February 2018

Zarah kita satu





Hai, anakku
Anak yang tak pernah susah payah kurejan
Zarah, nak, ia jua mempertemukan kita
Engkau dengan ceriamu dikirim Tuhan
Luapi gurun hatiku penuh kebahagiaan

Memang tiada meroyan demi kau
Untukmu, ketahuilah, doadoa kurapal
Zarah, nak, ia jua mempertemukan kita
Nasab memang berlainan, namun
Ibu ingin kau ingat; ibu selalu mengibukkan diri padamu 

Monday, 29 January 2018

desah resah




fajar temukanku telah terkulai
di atas seprai
yang masai
abai
tubuh
penuh peluh
juga erang keluh
dan hati yang rusuh
Kemana lenyap gebu gairah
yang memeluk desah
jadi kesah
resah
pergi
kekasih lari
tanpa kecup dahi
tinggallah risau koyak hati 



Tual, 17 Desember 2017 













__________________________
Patidusa pertama. Udah sesuai kaidah belum? 😬

Pict by @ionabondlopez PicsArt 


Wednesday, 10 January 2018

tak ada puisi hari ini




tak ada puisi hari ini
yang ada hanya kata
yang berima
tanpa seni

tak ada puisi hari ini
yang ada hanya hati
yang kosong 
melompong

tak ada puisi hari ini
yang ada hanya raga
tanpa jiwa
zombi

tak ada puisi hari ini
yang ada hanya penyair
yang tlah mati
tak bersyair


Tual, 9 Desember 2017














___________________
*menulis puisi setelah sekian lama. setelah bergabung dengan Rumah Puisi. 
rasanya seperti baru belajar. sudah lebih dulu di-posting di lebah kuning itu. iya, itu aku :)

Sunday, 31 December 2017

reading challange 2017

Sebab sudah bertekad ingin baca lebih banyak buku di tahun 2017, untuk itulah sticky post ini sengaja dibuat, yah, paling tidak, menampung foto buku-buku yang sudah saya baca. Pengen sih bikin review juga, meski mungkin gak semua yang saya baca bakal diulas... 


daftar belanja bacaan nona novi tahun 2017

#1: Si Janggut Mengencingi Herucakra 
Kumpulan Cerita karya A.S. Laksana 
review bisa dilihat di sini



Tuesday, 19 September 2017

catatan september

pict from here


Dunia makin aneh, atau kita sudah terlalu lama hidup? semua bergerak maju, cuma kita yang masih gagal move on dari "Piye, masih enak jamanku, toh?"

Di negeri ini September tak selalu ceria, ia juga bisa lebih seram dari Oktober dengan halloween-nya. Pada bulan ini hantu PKI dibangkitkan. 

Lain waktu, buku-buku dibakar, pajak (penulis) buku naik, diskusi dibubarkan, sementara tingkat minat baca masyarakat makin nyungsep. 

Berserikat dilarang, aktivis dilenyapkan, dan koruptor malah dibela. Situ waras? Atau saya yang gila? 

Lalu dimana hak untuk merdeka? Dimana letak demokrasi?

Sepertinya yang dibilang demokrasi itu hanya momen sesaat ketika masuk bilik suara saat pemilu, begitu keluar kelingking ungu bertebaran di linimasa sosial media. Sudah, itu saja. Selebihnya disimpan dalam lemari bagian kanan paling bawah. tertumpuk baju-baju yang sudah tidak terpakai.  








 

Wednesday, 5 July 2017

sariawan, santriwan & rohaniwan



foto dari sini


"Sariawan... Sariawati... ?!?!"

Ceritanya, saat ramadan kemaren, sayup-sayup, di dalam kamar mandi sekolah, terdengar sapaan yang ganjil dari kelas pesantren kilat di ruang sebelah.

Lepas dari kamar mandi, saya simak lagi baik-baik. Masa iya toh, santri-santri peskil disapa sariawan/wati.

"Santriawan... Santriawati.... ?!?!" Lagi-lagi, dari pengeras suara, terdengar mentor menyapa santri-santri.

Oh, ternyata santriawan/wati.... Tapi kok masih tetap ganjil di kuping yah. Diucapkan juga kurang pas di lidah.

Lebih ganjil lagi sebab yang ngucapin guru-guru madrasah. Nyapa santri ajah keliru (Eit, guru juga manusia kali.)

Besoknya, saat mendampingi seorang mentor peskil, lagi-lagi santri-santri disapa dengan panggilan santriawan/wati, yang dikuping saya jadinya sariawan/wati.

Dari pada kuping keri terus-terusan, akhirnya saya menegur belio dengan halus. Saya bilang ke belio bahwa bukan santriawan/awati, melainkan santriwan/wati.

Kata santriwan/wati berasal dari kata santri. Arti kata santri menurut KBBI Online bisa dilihat di bawah ini.

santri/san·tri/ n 1 orang yang mendalami agama Islam; 2 orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh;
Jadi,
kata santriwan berasal dari kata santri + imbuhan -wan, untuk menunjukkan Jenis kelamin laki-laki.
kata santriwati berasal dari kata santri + imbuhan -wati, untuk menunjukkan jenis kelamin perempuan.

Bukan,
Santri + imbuhan -awan = Santriawan
Santri + imbuhan -awati = Santriawati

Sambil tulis ini, sebenarnya saya juga agak mikir gini, kok, orang yang ahli dalam hal kerohanian, sebutannya rohaniawan, bukan rohaniwan???

Apa jangan-jangan kata yang berakhiran huruf "i" harus diimbuhi -awan/awati, bukan -wan/wati. Jadi Ucapan yang benar adalah memang rohaniawan/wati dan santriawan/santriawati.

Untuk membuktikan mana yang benar saya googling sana-sini, dan akhirnya nemu juga. Bahwa yang benar memang santriwan/wati. Sementara itu menurut wikipedia, orang Indonesia selama ini banyak yang salah eja rohaniwan jadi rohaniawan. Setelah saya cek di KBBI Online pun, tidak ada lema rohaniawan, yang ada adalah rohaniwan.

Nah seperti itu..., teman. Setelah ini, biasakan mengeja santriawan/wati dan rohaniwan/wati. Keliru dan khilafnya jangan dipelihara :)




_________________________
NB: tulisan ini tidak bermaksud nyinyir atau menggurui. Ini hanya catatan seseorang yang gemar belajar bahasa.










  

Saturday, 1 July 2017

Selamat Hari Raya Idul Fitri,

randomly taken from google


halo, teman 
apa kabar?

Selamat Hari Raya Idul Fitri, 

Mohon maaf yah, saya jarang nyapa teman-teman di blog. lagi gak dapat mood buat nulis. tapi untungnya nafsu bacanya masih gedeee.

eh, ternyata ada bagusnya bikin reading challange. jadi termotivasi buat banyak baca, meskipun sampai saat ini baru 9 buku yang dibaca, haha. bagi saya yang pemalas ini, itu udah bagus banget. suka merinding kalo blogwalking ke blogger-blogger buku. bacaannya banyak banget, mana tebal-tebal lagi bukunya.

Stok buku saya tinggal Mual karya Sartre dan Arsitek Hujan-nya Afrizal Malna. Ada juga kumpulan puisi Wiji Thukul, Nyanyian Akar Rumput yang menunggu dibaca. 

Teman-teman punya rekomendasi buku menarik? 





 

Friday, 12 May 2017

berisik

gambar dari sini


Hari-hari makin sibuk dan berisik. Lebih-lebih media massa dan linimasa. Penuh dengan berita dan drama yang itu-itu juga. Tentang aksi 1234567890, persidangan Ahok, karangan bunga, orkestra ini itu, dan hal-hal lain yang terkait. 

Media massa memusatkan perhatian pada satu orang, Ahok, seolah inilah hal penting dan laten saat ini. Seakan-akan persentasi toleransi antar umat beragama atau antar etnis di Indonesia sedang merosot hingga ke titik terendah. Seolah-olah NKRI hendak tercerai berai hanya karena Ahok dipenjara. 

Apa yang ada di media massa, yang terjadi di Jakarta sana, kemudian merembet hingga ke pelosok daerah. Orang-orang ikut berisik. Media massa menyihir mereka hingga lupa bahwa di sekitar mereka masih banyak hal yang lebih penting dan laten. 

Misal, pacar tak pernah telpon, sedangkan mantan mengirim pesan bertubi-tubi. Susu dan popok anak sudah habis, sedang uang makin tipis. Anak-anak SD dipungut sekian ratus ribu untuk biaya makan selama ujian nasional. Seorang siswa SD dilarang masuk kelas lantaran tidak membawa makanan yang sudah dipesan wali kelasnya saat ujian sekolah. Seorang gadis sudah empat bulan kabur bersama kekasih tomboinya. Juga curhatan guru-guru honorer Kementerian Agama Kota Tual yang sudah lima bulan belum terima honor. 

Kasus Kendeng, Noval Baswedan, Pembubaran diskusi buku, pembubaran pameran seni, Munir, Wiji Thukul, aktivis pers mahasiswa ditangkap, berita tentang mereka sudah tiarap dan tenggelam. Tuntutan buruh, demonstrasi mahasiswa, jeritan orang sakit dan tangisan anak-anak kelaparan hanya angin lalu. 

Kenapa media massa lebih memilih memborbardir kita dengan berita tentang Ahok daripada berita yang lain? 

Kenapa?

kenapa?









Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...