Wednesday, 7 February 2018
Monday, 5 February 2018
Di tempat yang kau sebut wisata lumpur
Di tempat yang kau sebut wisata lumpur
Kehidupan hakiki pernah mengada
Di sini,
Manusia pernah beranak
Ternak pernah berkembang biak, dan
Tanaman pernah bertumbuh
Di tempat yang kau sebut lumpur wisata
Masa lalu hakiki pernah mengada
Lihatlah,
Di bawah pohon mana, dulu, Susi dan Joni kencan kali pertama
Di jalan mana Tanti dan Nita menuntun sepeda menjemput emak pulang dari sawah
Di halaman mana anak—anak riuh bermain gundu dan dadu
Lihatlah,
Tak lagi kukenali
Jalan setapak ke sawah Pak Turno
Tak lagi kukenali
Di warung mana para buruh mengaso
Tak lagi kukenali
Rumahku sendiri
Tempat ibu bapak memadu kasih
Tempat kami, anak-anaknya, dilahirkan
Tempat kami berbagi kehangatan lewat obrolan, gurauan dan pertengkaran-pertengkaran kecil
Di tempat yang kau sebut wisata lumpur
Kenangan hakiki pernah mengada
Namun kau lihat sendiri
Kenangan ini,
Kemana ia mencari jalan pulang
Kenangan ini,
Kenangan tak berumah
Di tempat yang kau sebut wisata lumpur
Kerakusan hakiki pernah mengada
Ingatlah ini,
Tangan-tangan kuasa menjamah
Dengan bor mereka memperkosa kami
Merebut kehidupan
Merenggut kenangan
Dikubur dalam genangan
L U M P U R L A P I N D O
Di tempat yang kau sebut wisata lumpur
Malang, 23 Januari 2018
Pict by dekisugik
Saturday, 3 February 2018
Gerimis kasih
Gerimis
Kasih bigamis
Air mata genang
Kisah kita tinggal kenang
Perempuan mana yang senang
Akad bukan layang-layang
Hati teriris
Miris
Ironis
Habis manis
Kulepas kau, bang
Larung di air pasang
Bebaskan aku jangan gamang
Bahagialah tanpa alang
Renjana kalis
Kikis
Bau-bau, 20 Januari 2018
_______________
Patidusa lagi.
Pict by monika-es from devianart
Thursday, 1 February 2018
Zarah kita satu
Hai, anakku
Anak yang tak pernah susah payah kurejan
Zarah, nak, ia jua mempertemukan kita
Engkau dengan ceriamu dikirim Tuhan
Luapi gurun hatiku penuh kebahagiaan
Memang tiada meroyan demi kau
Untukmu, ketahuilah, doadoa kurapal
Zarah, nak, ia jua mempertemukan kita
Nasab memang berlainan, namun
Ibu ingin kau ingat; ibu selalu mengibukkan diri padamu
Monday, 29 January 2018
desah resah
fajar temukanku telah terkulai
di atas seprai
yang masai
abai
tubuh
penuh peluh
juga erang keluh
dan hati yang rusuh
Kemana lenyap gebu gairah
yang memeluk desah
jadi kesah
resah
pergi
kekasih lari
tanpa kecup dahi
tinggallah risau koyak hati
Tual, 17 Desember 2017
__________________________
Patidusa pertama. Udah sesuai kaidah belum? 😬
Pict by @ionabondlopez PicsArt
Wednesday, 10 January 2018
tak ada puisi hari ini
tak ada puisi hari ini
yang ada hanya kata
yang berima
tanpa seni
tak ada puisi hari ini
yang ada hanya hati
yang kosong
melompong
tak ada puisi hari ini
yang ada hanya raga
tanpa jiwa
zombi
tak ada puisi hari ini
yang ada hanya penyair
yang tlah mati
tak bersyair
Tual, 9 Desember 2017
___________________
*menulis puisi setelah sekian lama. setelah bergabung dengan Rumah Puisi.
rasanya seperti baru belajar. sudah lebih dulu di-posting di lebah kuning itu. iya, itu aku :)
Sunday, 31 December 2017
reading challange 2017
Sebab sudah bertekad ingin baca lebih banyak buku di tahun 2017, untuk itulah sticky post ini sengaja dibuat, yah, paling tidak, menampung foto buku-buku yang sudah saya baca. Pengen sih bikin review juga, meski mungkin gak semua yang saya baca bakal diulas...
daftar belanja bacaan nona novi tahun 2017
#1: Si Janggut Mengencingi Herucakra
Kumpulan Cerita karya A.S. Laksana
review bisa dilihat di sini
Tuesday, 19 September 2017
catatan september
![]() |
| pict from here |
Dunia makin aneh, atau kita sudah terlalu lama hidup? semua bergerak maju, cuma kita yang masih gagal move on dari "Piye, masih enak jamanku, toh?"
Di negeri ini September tak selalu ceria, ia juga bisa lebih seram dari Oktober dengan halloween-nya. Pada bulan ini hantu PKI dibangkitkan.
Lain waktu, buku-buku dibakar, pajak (penulis) buku naik, diskusi dibubarkan, sementara tingkat minat baca masyarakat makin nyungsep.
Berserikat dilarang, aktivis dilenyapkan, dan koruptor malah dibela. Situ waras? Atau saya yang gila?
Lalu dimana hak untuk merdeka? Dimana letak demokrasi?
Sepertinya yang dibilang demokrasi itu hanya momen sesaat ketika masuk bilik suara saat pemilu, begitu keluar kelingking ungu bertebaran di linimasa sosial media. Sudah, itu saja. Selebihnya disimpan dalam lemari bagian kanan paling bawah. tertumpuk baju-baju yang sudah tidak terpakai.
Wednesday, 5 July 2017
sariawan, santriwan & rohaniwan
![]() |
| foto dari sini |
"Sariawan... Sariawati... ?!?!"
Ceritanya, saat ramadan kemaren, sayup-sayup, di dalam kamar mandi sekolah, terdengar sapaan yang ganjil dari kelas pesantren kilat di ruang sebelah.
Lepas dari kamar mandi, saya simak lagi baik-baik. Masa iya toh, santri-santri peskil disapa sariawan/wati.
"Santriawan... Santriawati.... ?!?!" Lagi-lagi, dari pengeras suara, terdengar mentor menyapa santri-santri.
Oh, ternyata santriawan/wati.... Tapi kok masih tetap ganjil di kuping yah. Diucapkan juga kurang pas di lidah.
Lebih ganjil lagi sebab yang ngucapin guru-guru madrasah. Nyapa santri ajah keliru (Eit, guru juga manusia kali.)
Besoknya, saat mendampingi seorang mentor peskil, lagi-lagi santri-santri disapa dengan panggilan santriawan/wati, yang dikuping saya jadinya sariawan/wati.
Dari pada kuping keri terus-terusan, akhirnya saya menegur belio dengan halus. Saya bilang ke belio bahwa bukan santriawan/awati, melainkan santriwan/wati.
Kata santriwan/wati berasal dari kata santri. Arti kata santri menurut KBBI Online bisa dilihat di bawah ini.
Jadi,santri/san·tri/ n 1 orang yang mendalami agama Islam; 2 orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh;
kata santriwan berasal dari kata santri + imbuhan -wan, untuk menunjukkan Jenis kelamin laki-laki.
kata santriwati berasal dari kata santri + imbuhan -wati, untuk menunjukkan jenis kelamin perempuan.
Bukan,
Santri + imbuhan -awan = Santriawan
Santri + imbuhan -awati = Santriawati
Sambil tulis ini, sebenarnya saya juga agak mikir gini, kok, orang yang ahli dalam hal kerohanian, sebutannya rohaniawan, bukan rohaniwan???
Apa jangan-jangan kata yang berakhiran huruf "i" harus diimbuhi -awan/awati, bukan -wan/wati. Jadi Ucapan yang benar adalah memang rohaniawan/wati dan santriawan/santriawati.
Untuk membuktikan mana yang benar saya googling sana-sini, dan akhirnya nemu juga. Bahwa yang benar memang santriwan/wati. Sementara itu menurut wikipedia, orang Indonesia selama ini banyak yang salah eja rohaniwan jadi rohaniawan. Setelah saya cek di KBBI Online pun, tidak ada lema rohaniawan, yang ada adalah rohaniwan.
Nah seperti itu..., teman. Setelah ini, biasakan mengeja santriawan/wati dan rohaniwan/wati. Keliru dan khilafnya jangan dipelihara :)
_________________________
NB: tulisan ini tidak bermaksud nyinyir atau menggurui. Ini hanya catatan seseorang yang gemar belajar bahasa.
Saturday, 1 July 2017
Selamat Hari Raya Idul Fitri,
![]() |
| randomly taken from google |
halo, teman
apa kabar?
Selamat Hari Raya Idul Fitri,
Mohon maaf yah, saya jarang nyapa teman-teman di blog. lagi gak dapat mood buat nulis. tapi untungnya nafsu bacanya masih gedeee.
eh, ternyata ada bagusnya bikin reading challange. jadi termotivasi buat banyak baca, meskipun sampai saat ini baru 9 buku yang dibaca, haha. bagi saya yang pemalas ini, itu udah bagus banget. suka merinding kalo blogwalking ke blogger-blogger buku. bacaannya banyak banget, mana tebal-tebal lagi bukunya.
Stok buku saya tinggal Mual karya Sartre dan Arsitek Hujan-nya Afrizal Malna. Ada juga kumpulan puisi Wiji Thukul, Nyanyian Akar Rumput yang menunggu dibaca.
Teman-teman punya rekomendasi buku menarik?
Friday, 12 May 2017
berisik
![]() |
| gambar dari sini |
Hari-hari makin sibuk dan berisik. Lebih-lebih media massa dan linimasa. Penuh dengan berita dan drama yang itu-itu juga. Tentang aksi 1234567890, persidangan Ahok, karangan bunga, orkestra ini itu, dan hal-hal lain yang terkait.
Media massa memusatkan perhatian pada satu orang, Ahok, seolah inilah hal penting dan laten saat ini. Seakan-akan persentasi toleransi antar umat beragama atau antar etnis di Indonesia sedang merosot hingga ke titik terendah. Seolah-olah NKRI hendak tercerai berai hanya karena Ahok dipenjara.
Apa yang ada di media massa, yang terjadi di Jakarta sana, kemudian merembet hingga ke pelosok daerah. Orang-orang ikut berisik. Media massa menyihir mereka hingga lupa bahwa di sekitar mereka masih banyak hal yang lebih penting dan laten.
Misal, pacar tak pernah telpon, sedangkan mantan mengirim pesan bertubi-tubi. Susu dan popok anak sudah habis, sedang uang makin tipis. Anak-anak SD dipungut sekian ratus ribu untuk biaya makan selama ujian nasional. Seorang siswa SD dilarang masuk kelas lantaran tidak membawa makanan yang sudah dipesan wali kelasnya saat ujian sekolah. Seorang gadis sudah empat bulan kabur bersama kekasih tomboinya. Juga curhatan guru-guru honorer Kementerian Agama Kota Tual yang sudah lima bulan belum terima honor.
Kasus Kendeng, Noval Baswedan, Pembubaran diskusi buku, pembubaran pameran seni, Munir, Wiji Thukul, aktivis pers mahasiswa ditangkap, berita tentang mereka sudah tiarap dan tenggelam. Tuntutan buruh, demonstrasi mahasiswa, jeritan orang sakit dan tangisan anak-anak kelaparan hanya angin lalu.
Kenapa media massa lebih memilih memborbardir kita dengan berita tentang Ahok daripada berita yang lain?
Kenapa?
kenapa?
Friday, 5 May 2017
Broken
![]() |
| Wajah-wajah Tual masa kini |
"Bu Guru, panggil beta Broken saja." Seorang siswa sma kelas XII memperkenalkan dirinya. Kala itu saya baru lulus kuliah dan mengajar di salah satu SMA di Kabupaten Maluku Tenggara
Dalam hati saya pengen ngakak sekaligus ngedumel. Sebagai guru Bahasa Inggris, saya tau betul arti kata broken. Rusak.
Saya pengen sekali menceramahi dia. Dasar anak ini, apa dia kira dia punya nama kaco-kaco itu bagus. huh... Tidak tahu dia kalau nama aslinya lebih keren dan mahal. Sebab dia muslim, untuk mengesahkan namanya ia perlu diaqiqah, dengan memotong kambing yang sudah cukup umur, sehat dan tidak cacat.
Namun, saya memilih menahan diri. "Kok, Broken?"
"Iya, Bu. Biar keren to."
"Kamu tahu arti broken?"
"Ada artinya, Bu?"
"Coba, deh, buka kamus."
"Rusak," jawab seseorang.
"Wi... masa rusak tuh?" ujarnya tak percaya.
"Ibu, tapi di Ambon sana, semua orang punya nama Broken.," timpal yang lain. "Biasa satu panggil satu deng Broken."
Maksudnya, anak-anak muda di Ambon kerap menyapa sesama temannya dengan istilah broken. Seperti menyapa seseorang dengan "Boy", "Saudara", atau "Kawan".
Sampai beberapa lamanya, hal tersebut masih mengusik pikiran saya. Saya sempat curiga, mungkinkah sapaan Broken tersebut sengaja dipakai untuk menunjukkan karakter dan pribadi orang ambon (baca: Maluku umumnya) sebagaimana prejudice umum tentang orang Ambon. Hitam, sangar dan keras. Bikin par orang tau skali...
Hatta, suatu ketika saya bertemu dengan Onco Nisma dan Onco Gaya di Tk Hang Tuah Tual. Kala itu saya sudah tak lagi mengajar di SMA. Karena mereka anak bongso (bungsu), disematkanlah kata Onco (bentuk imut, manis, dan sayang dari kata bongso) di depan namanya. Onco Nis, Onco Gaya. Namum, dalam keseharian baik teman-teman guru maupun keduanya, kerap menyebut atau menyapa mereka dengan nama "Coken" saja. Terdengar lebih segar, gaul dan keren.
Di sinilah, samar-samar saya mulai mengerti makna Broken yang sesungguhnya. Di Tual, dan mungkin juga di Ambon, orang-orang kerap meambahkan akhiran '-ken' pada nama mereka agar berkesan segar, gaul dan keren. Nama kaco-kaco istilahnya.
Misalnya, Nama + ken
Onco jadi Coken
Ali jadi Liken
Aco jadi Coken
Usna jadi Naken
Mohamad jadi Moken
Akhirnya, terpecahkan sudah makna "Broken" yang sesungguhnya. Broken memang diambil dari Bahasa Inggris, tapi artinya bukan rusak. Ia diambil dari kata bro(ther) + ken. Jadilah broken. Panggilan akrab untuk saudara atau teman.
Pemahaman baru ini sekaligus menyentil kesadaran saya. Betapa saya sudah khilaf dan picik memahami anak-anak ini. Bagaimana bisa saya tidak tau istilah-istilah seperti ini. Bagaimana bisa saya seperti alien di rumah sendiri.
Ada pepatah bilang, when in Rome, do as the Romans do. Seandainya saya bukan orang Maluku, seharusnya saya memahami anak-anak ini dengan kacama mata budaya setempat. Jadi bagaimana bisa saya orang Maluku, tinggal di Tual, tapi memahami budaya di sini dengan kepala seseorang yang asing. Berjarak.
Haha. Saya sedang menertawai diri sendiri.
Monday, 10 April 2017
trip to dieng #1
Jauh-jauh hari udah janjian mau jalan-jalan bareng sama Pipit dan Mita, teman semasa aliyah di Solo. Kita sudah beberapa kali agendain main bareng begini sejak kuliah. Saya di Malang, Pipit di Solo, dan Mita di Jogja. Pernah ke Prambanan, Sekatenan di Solo, main ke Noknik di Semarang, dan terakhir ngacir dari Solo ke Jogja setalah acara Reuni Akbar MAPK 2015. Kami tidak bertiga saja, biasanya juga ngajak teman-teman. Kali ini Ichda konfirmasi bisa ikut.
Tadinya pengen akhir tahun bisa ketemu mereka, nyatanya baru bisa nyuri-nyuri waktu libur di bulan Februari. Saya maunya muncak, gak mau ke pantai. Soalnya kalo di Tual, refreshing-nya ke pantai terus. Beruntung punya teman-teman yang pengertian, pada nurutin ngidamnya
Thursday, 6 April 2017
lelaki tua dan senja
![]() |
| gambar dari sini |
lelaki tua seorang diri
duduk termenung
bersama kail
dan umpan yang dimakan kenangan
lelaki tua seorang diri
mengail rindu
pada masa yang tak kan kembali
kecuali pagi, kecuali senja
yang terus berulang
tapi tak pernah sama
lelaki tua seorang diri
temannya adalah kail
temannya adalah rindu
temannya adalah sepi
temannya adalah senja
Monday, 3 April 2017
dalam hidup,
![]() |
| gambar dari sini |
Jalan hidup bisa sangat rumit. Semisal labirin. Kamu terjebak dan tersesat. Jalan pulang, kamu tak tahu. Mimpimu, sudah lama kamu lupakan. Ah, bukan lupa tepatnya. Bermimpipun kamu tak tahu caranya.
Kemana kau menuju ketika terus berjalan? Apa yang kamu kejar ketika terus berlari?
Kamu seperti bukan kamu. Kamu berubah. Apakah hidup begitu keras dan rumit? Ataukah kamu yang lemah dan rapuh?
Monday, 23 January 2017
kebaikan yang memuakkan
seperti menemukan kembali
mainan yang lama hilang
kau memperlakukanku dengan
sangat, sangat baik
bagai seorang ibu kecil terhadap bonekanya
dimandikan, dipilihkan baju
didandani, dan blah... blah... blah...
siapa pun, tak menolak diperlakukan baik
siapa pun, akan tetapi, menolak dibonekakan
kebaikanmu memuakkan
bagaimanapun, terima kasih.
Monday, 9 January 2017
#kumcer: Si Janggut Mengencingi Herucakra
![]() |
| foto pribadi, buku pepustakaan :) |
Ini buku pertama yang saya khatamkan di 2017. Suka sekali dengan ke-12 cerita di dalamnya. Ke kantor saya bawa, nongkrong sama teman sampai ke kondangan pun saya masih sempat nyuri-nyuri baca.
Karena ini kumcer, bebas dong mau baca yang mana dulu dan mana yang belakangan. Si Janggut justru paling terakhir.
Yang pertama saya baca, Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya. Judulnya ajah udah baper kan, gaes. Ceritanya tentang istri yang sangat mencintai suaminya, bahkan ketika dia meminta cerai pun, dia masih mencintai suaminya. Hanya saja, dia merasa suaminya tak lagi mencintainya.
Benarkah sang suami tak mencintainya? Ketika dia berkata, lebih baik rumah beserta perabotannya dijual, bila perlu beserta kenangannya, tentu kita tahu bagaimana perasaan sang suami.
"Kalau bisa sekalian dengan seluruh kenangan di dalamnya. Kau tidak membutuhkannya lagi, aku juga tidak membutuhkannya. "Kisah berikut yang menarik perhatian saya adalah Rashida Chairani, perempuan korban pemerkosaan yang dikorbankan hukum. Tiga pemuda dari keluarga tepandang memperkosanya, ia dikeluarkan dari sekolah, diusir dari kos dan tak mendapatkan keadilan di kantor polisi. Siapa peduli dengan gadis muda dari keluarga miskin dengan perut buncit.
Lelaki ketiga di Malam Hari, saya menikmatinya. Pesannya hampir sama dengan Perpisahan Baik-Baik (PBB)dan Tentang Maulana dan Upaya Memperindah Purnama (TM). Bahwa cinta sejati adalah merelakan orang yang kita cintai berbahagia dengan apa yang dapat membuatnya bahagia. Cinta tak harus memiliki.
Meski berdiri sebagai cerita yang terpisah, cerita PBB dan TM sepertinya masih nyambung. PBB bercerita tentang perpisahan Ratri dan Robi, sementara alasan Ratri melepaskan Robi bisa dibaca di TM.
Eh, kesannya kok ini kumcer kayak roman picisan, bikin baper mulu. Tidak juga, sih, saya saja yang agak lebai. Biarpun isinya tentang cinta dengan segala jenisnya, A. S. Laksana tetap menuliskannya dengan kritis. Ia sangat piawai meramu kegiatan sehari-hari dan kisah orang sederhana seperti Maulana, Seto, Santoso, Trinil dan Nita jadi menarik dan memukau.
Friday, 6 January 2017
2017
![]() |
| selamat tahu baru |
Saya bukan tipe orang yang detail. Memikirkan, menuliskan, dan melakukan hal-hal apa yang perlu dicapai dan digapai. Bukan bearti saya tidak punya mimpi, cita-cita dan keinginan begini-begitu.
Dua atau tiga tahun lalu, saya kerap lewat depan TK H*ng Tu*h. Melihat bangunan dan mainan warna-warni, dalam hati, saya mau jadi guru. Asalkan guru TK. Tak lama, tahu-tahu saya sudah mengajar di situ.
Semasa kuliah, saya kerap memimpikan kerja yang nyaman seperti di Perpustakaan. Bekerja sembari memuaskan hasrat membaca sepuasnya dengan gratis. Sekarang, pekerjaan itu datang sendiri, dan saya harus melepas aktivitas di TK.
Wah, mungkin ini yang namanya di mana ada kemauan di situ ada jalan. Apa yang saya inginkan, impikan, mewujud satu per satu.
Lalu, apa yang harus saya impikan tahun ini? Kali ajah, mantranya masih berlaku.
Beberapa hari lalu ketika sahabat saya, si mommy wanna be, Winda, bertanya apa saya ada resolusi 2017 ini, apa sudah ingin menikah? Saya hanya mengamininya 33x.
Lalu Ellik juga bilang, "Kamu ke Malang gak cuma mau main doang, kan? ada tujuan khusus apa gitu..." Sepertinya dia sedang membayangkan rencana saya berlibur di Malang nanti akan dipenuhi dengan agenda nyebar undangan pernikahan ke teman-teman.
Lihatlah, teman-temanmu begitu perhatian dan berharap. Jadi, apakah sudah waktunya saya juga ikut membayangkan undangan pernikahan, malam pacar, dan duduk pelaminan?
Tapi saya juga pengen nuntut ilmu lagi. Sudah lama bermain-main. Sepertinya isi kepala dan hati perlu di charge lagi. Lagipula emak sudah punya menantu dan cucu. Jadi sementara ini bebas dari segala macam tuntutan.
Duh kah, galaunya udah kayak iklan f*ir and lovely. Nikah dulu atau s2 dulu?
Entah lah...
Yang pasti saya berharap bisa menamatkan banyak buku dan drama korea, lebih rajin ngeblog dan punya kaos Tan Malaka. Sudah. Itu dulu... lain-lainnya menyusul.
Sekali lagi, selamat tahun baru!
Monday, 26 December 2016
tentang lupa
![]() |
| aku gak bermaksud melupakanmu |
Sampai saat ini saya masih merasa tidak enak hati, pada beberapa kenalan, kolega atau pun kerabat. Pasalnya sifat
Bagaimana perasaanmu kalau dengan begitu antusias menyapa/memanggil seseorang di jalan, tapi yang dipanggil hanya menatap bingung, dahi berkerut dan terpaksa nyengir???
Kalau lupa bawa pena, dompet, payung, ato hape saat bepergian, mungkin masih wajar. Pun lupa beli belanjaan emak meski udah diingatkan berkali-kali. Lupa nama-nama tokoh novel/komik/film juga masih taraf wajar.
Tarohlah itu bukan sesuatu yang begitu penting untuk diingat-ingat. Dan lagi, mereka gak bakal bilang "Masa gak ingat aku?" "Kok bisa sih lupa sama teman sendiri?" Pokoknya gak bakal dikira sombonglah sama itu-itu benda.
Beda lagi masalahnya kalau berhadapan dengan manusia yang punya hati dan perasaan. Hal pertama yang paling menohok perasaan saya terjadi sekitar setahun lalu. Saat reuni aliyah.
Saya ingat semua teman-teman yang hadir. Bahkan yang bertahun-tahun tidak bertemu, seperti Aan, Vahrul, dan beberapa yang kuliah di Mesir. Dari jauhpun saya yakin, saya masih mengenali mereka. Ada satu yang tidak saya kenali, meski berkali-kali saya bongkar file-file dalam memori, tetap tidak ditemukan.
Tak tahan, saya bertanya ke dia "Kamu angkatannya siapa yah?" gerrr. Sontak teman-teman sekelas geger. Aan di sebelah saya bertanya "Kamu nanya beneran apa guyon?"
Duh, gak cuma malu-maluin, tapi udah bikin malu orang juga. Hanya gegera dia pakai kacamata, saya tidak bisa mengenalinya.
Tak lama setelah itu, kejadian-kejadian yang hampir sama terulang. Saya bertemu teman sekamarnya Yessi saat di asrama, saya ingat mukanya, tapi tidak ingat namanya. Saya ingat betul Senyuman dan suara khas Radin saat memanggil "Ibu Guru," tapi saya sulit memanggil balik, karena tidak ingat namanya.
Saya tidak mengenali Bibi Linda, hanya karenanya perutnyi buncit sedang hamil. Saya tidak dapat mengenali Bapaknya adit, hanya karena dia tidak pakai seragam anggota Brimob. Saya tidak mengenali mamanya Raffa hanya karena dia pakai behel. Dan masih banyak lagi...
Apakah itu semacam penyakit? atau kebiasaan yang dipelihara? should i see a doctor?
Thursday, 8 December 2016
theme song
![]() |
| lagi, dari google |
I'll fly away tomorrowTo far awayI'll admit a clichéThings won't be the same without you
I need to know what's on your mind
These coffee cups are getting cold
Mind the people passing by
They don't know I'll be leaving soon
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm
I need to know what's on your mind
These coffee cups are getting cold
Mind the people passing by
They don't know I'll be leaving soon
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.ht
These coffee cups are getting cold
Mind the people passing by
They don't know I'll be leaving soon
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.ht
kamu bilang ingin berhenti kerja
kenapa?
I'll fly away tomorrow
To far away
I'll admit a cliché
Things won't be the same without you
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm
To far away
I'll admit a cliché
Things won't be the same without you
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm
I'll fly away tomorrow
To far away
I'll admit a cliché
Things won't be the same without you
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm
kamu ingin pergi. pergi jauh. To far away
I'll admit a cliché
Things won't be the same without you
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm
apa karena itu kau terus memutar Adelaide Sky - Adhitia Sofyan. semacam theme song, lagu yang sesuai dengan suasana hatimu saat ini. atau justru ingin pergi karena terus-terusan mendengarkan lagu ini. terbawa perasaan.
kemana?
mungkin ke luar Indonesia. mungkin saja ke tempat yang tak seaman dan senyaman sekarang, katamu.
I've been meaning to call you soonBut we're in different times
you'll be leaving soon.
kamu tahu, aku juga kerap berpikir sepertimu. ingin pergi jauh, kabur, lari dari kenyataan saat ini. tapi aku tak pernah bisa. seolah ada yang merantai hatiku, tuk tidak meninggalkan kampung halaman.
seandainya suatu ketika aku pergi, aku akan pergi untuk kembali.
untuk apa?
mengejar cita-cita. impian. kebahagiaan.
ah, kamu ...I'll be hearing my own foot steps under Adelaide skyWould you be kind enough to remember me
impian apa yang hendak kau wujudkan. kebahagiaan seperti apa yang kau cari. apa kamu sedang menghukum dirimu sendiri?
Tan Malaka -yang kerap diasingkan ke luar negeri- pernah bilang; salah satu hukuman terberat selain hukuman mati, yaitu meninggalkan tempat kelahiran, masyarakat, pekerjaan, para teman yang dicintai, dan mengembara tak berketentuan di negeri asing.
won't be back if you could.
aku terdiam. seketika hatiku kosong. tak tahu mengatakan apa. hanya senyum.
won't be back if you could.
Muhammad, kamu tahu, dengan berat hati hijrah ke Madinah. bukan untuk menetap di sana. ia hanya mengatur strategi,untuk merebut kembali kota Mekah.
you wish you could tell me earlier. katamu lagi.
I'll let you know what's on my mindI wish they've made you portableThen i'll carry you around and roundI bet you'll look good on me
Persis setelah Adhitia selesai bernyanyi, Megan Trainor menyahut,
so, i'm gonna love you, like I'm gonna loose youi'm gonna hold you, like i'm saying goodbye
aku ingin menahanmu, tapi
jadi,
aku akan mencintaimu, seolah akan kehilanganmu
aku akan mendekapmu, seolah akan berpisah.
Subscribe to:
Comments (Atom)













