Showing posts with label tual. Show all posts
Showing posts with label tual. Show all posts

Friday, 5 May 2017

Broken

Wajah-wajah Tual masa kini


"Bu Guru, panggil beta Broken saja." Seorang siswa sma kelas XII memperkenalkan dirinya. Kala itu saya baru lulus kuliah dan mengajar di salah satu SMA di Kabupaten Maluku Tenggara

Dalam hati saya pengen ngakak sekaligus ngedumel. Sebagai guru Bahasa Inggris, saya tau betul arti kata broken. Rusak. 

Saya pengen sekali menceramahi dia. Dasar anak ini, apa dia kira dia punya nama kaco-kaco itu bagus. huh... Tidak tahu dia kalau nama aslinya lebih keren dan mahal. Sebab dia muslim, untuk mengesahkan namanya ia perlu diaqiqah, dengan memotong kambing yang sudah cukup umur, sehat dan tidak cacat. 

Namun, saya memilih menahan diri. "Kok, Broken?"
"Iya, Bu. Biar keren to."
"Kamu tahu arti broken?"
"Ada artinya, Bu?"
"Coba, deh, buka kamus."
"Rusak," jawab seseorang.
"Wi... masa rusak tuh?" ujarnya tak percaya.
"Ibu, tapi di Ambon sana, semua orang punya nama Broken.," timpal yang lain. "Biasa satu panggil satu deng Broken."

Maksudnya, anak-anak muda di Ambon kerap menyapa sesama temannya dengan istilah broken. Seperti menyapa seseorang dengan "Boy", "Saudara", atau "Kawan". 

Sampai beberapa lamanya, hal tersebut masih mengusik pikiran saya. Saya sempat curiga, mungkinkah sapaan Broken tersebut sengaja dipakai untuk menunjukkan karakter dan pribadi orang ambon (baca: Maluku umumnya) sebagaimana prejudice umum tentang orang Ambon. Hitam, sangar dan keras. Bikin par orang tau skali... 

Hatta, suatu ketika saya bertemu dengan Onco Nisma dan Onco Gaya di Tk Hang Tuah Tual. Kala itu saya sudah tak lagi mengajar di SMA. Karena mereka anak bongso (bungsu), disematkanlah kata Onco (bentuk imut, manis, dan sayang dari kata bongso) di depan namanya. Onco Nis, Onco Gaya. Namum, dalam keseharian baik teman-teman guru maupun keduanya, kerap menyebut atau menyapa mereka dengan nama "Coken" saja. Terdengar lebih segar, gaul dan keren. 

Di sinilah, samar-samar saya mulai mengerti makna Broken yang sesungguhnya. Di Tual, dan mungkin juga di Ambon, orang-orang kerap meambahkan akhiran '-ken' pada nama mereka agar berkesan segar, gaul dan keren. Nama kaco-kaco istilahnya.

Misalnya, Nama + ken
Onco jadi Coken
Ali jadi Liken
Aco jadi Coken
Usna jadi Naken
Mohamad jadi Moken

Akhirnya, terpecahkan sudah makna "Broken" yang sesungguhnya. Broken memang diambil dari Bahasa Inggris, tapi artinya bukan rusak. Ia diambil dari kata bro(ther) + ken. Jadilah broken. Panggilan akrab untuk saudara atau teman. 

Pemahaman baru ini sekaligus menyentil kesadaran saya. Betapa saya sudah khilaf dan picik memahami anak-anak ini. Bagaimana bisa saya tidak tau istilah-istilah seperti ini. Bagaimana bisa saya seperti alien di rumah sendiri. 

Ada pepatah bilang, when in Rome, do as the Romans do. Seandainya saya bukan orang Maluku, seharusnya saya memahami anak-anak ini dengan kacama mata budaya setempat. Jadi bagaimana bisa saya orang Maluku, tinggal di Tual, tapi memahami budaya di sini dengan kepala seseorang yang asing. Berjarak.    

Haha. Saya sedang menertawai diri sendiri
    

  

Friday, 25 September 2015

Apa kabar?

Assalamu'alaikum, bloggers budiman.
Apa kabar? Sudah lama saya ingin menyapa anda. Tapi ada saja kendalanya. Misal; sinyal internet jelek, paketan habis, tidak sempat ngeblog.
Tapi sebenarnya, semua itu cuma alasan. sebenarnya saya kehabisan kata-kata. Umpama seorang penyihir yang lupa akan mantranya. Dan itu menyiksa sekali.
Akhirnya, saya alihkan dengan memotret. Jangan dibayangkan saya pakai kamera digital macam photographer~photographer itu. Apa saja saya abadikan; anak~anak, senja, matahari terbit, dan tentu saja wajah narsis saya sendiri. Semuanya bisa diakses di akun instagram saya @novi_rahantan
Okeh, abaikan curhatan saya. Mumpung masih bau sapi dan kambing, saya ucapkan "Selamat Hari Hari Raya Idul Adha 1436 H"
Jangan lupa follow ig saya @novi_rahantan. Mari berjejaring!

Friday, 23 August 2013

perjalanan ke timur


langit dan laut, setiap hari



Perjalanan pulang kali ini saya anggap perjalanan wisata. Dengan KM Tidar saya berlayar ke Tual. Kapal ini milik PT. Pelni. Ia murah dan merakyat. Cukup Rp500 ribu, saya sudah bisa dapat tiket ekonomi tujuan Tual. Penumpang senantiasa padat. Kalau tidak cepat, kadang-kadang tidak dapat tempat tidur yang sudah disediakan. Banyak yang akhirnya bersyukur bisa tidur di depan ruang informasi, sekitar mushala, bahkan di tangga-tangga dek. Bagi penumpang yang menginginkan perjalanannya lebih aman, nymana dan sedikit mewah, bisa membeli tiket kelas 3, 2, 1 atau VIP.   
port of makassar

KM Tidar bertolak dari Tanjung Perak, Surabaya, melewati Makassar, Bau-bau, Ambon, Banda Naira, hingga akhirnya tiba di pelabuhan Yos Sudarso-Tual. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Ia akan singgah di masing0masing  pelabuhan sekitar 2-3 jam lamanya. Tergantung jumlah muatan dan penumang tiap pelabuhan. Semakin banyak, semakin lama.  
masih di pelabuhan makassar



Itulah yang saya tunggu~tunggu selama perjalanan. Saya akan menyempatkan diri berjalan~jalan sebentar sekitar pelabuhan. Pertama~tama dicari, tentu saja rumah makan. Pedagang kaki lima pun jadi. Selama di laut, saya benar~benar tidak pernah menyentuh jatah makanan yang disediakan kapal --tahu lah macam apa makanan yang dimasak untuk sekian ribu orang. Paling hanya buah dan sedikit makanan kafetaria untuk mengganjal perut.   

lama-lama jadi suka foto laut-langit...

Di Makassar, bisa menikmati kuliner khas seperti Coto Makassar yang terkenal itu. Kalau saya paling ngiler saat tiba di Bau~bau. Sangkola alias suami, dibuat dari olahan ketela singkong, bentuknya kayak gunung. Enak dimakan selagi hangat, sebagai pengganti nasi. Jangan lupa pesan ikan bakar yah ;) 

 
meninggalkan bau-bau yang mendung

Semakin ke timur, wisata kuliner ikannya semakin beragam. Kebetulan ketika sampai Ambon, sudah banyak rumah makan yang tutup. Biasanya warung-warung ini selalu sedia ikan bakar.
 
Terakhir, sebelum masuk Tual, ada satu pulau lagi yang disinggahi kapal. Pulau Banda Naira. Di sini, bukan perut saja yang bisa dipuasin. Kalau kamu termasuk pencinta sejarah, Banda tempatnya. Keluar pelabuhan langsung disambut museum dan masjid untuk mengenang Bung Hatta dan Bung Syahrir. Keduanya dulu pernah diasingkan di pulau Banda. Semakin masuk, semakin banyak tempat yang ditemui, salah seperti rumah bekas pengasingan Hatta-Syahrir, rumah budaya dan beberapa bangunan kuno yang masih dilestarikan. Puncaknya, benteng Belgica yang bisa ditempuh dengan ojek, becak, atau jalan kaki kalau kuat :)

 
meninggalkan gunung banda

Laut banda juga indah, ia terkenal dengan lautnya yang dalam. Mau nyelam atau renang sepertinya juga bisa, tapi belum pernah lihat penumpang nekat berenang @.@


Jangan heran yah liat foto-fotomya... Namanya juga di kapal. Kalau di dalam dek, kanan-kiri muka-belakang yang tampak depan mata adalah manusia dan beraneka barang bawaan. Keluar dek, sepanjang mata memandang hanya laut menghampar dan langit memayung. Jadi, jangan sampai kamu ketiduran saat kapal sedang berlabuh…. 

meninggalkan banda, menuju tual..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...