Monday, 6 February 2012

Jilbab Dalam Cermin


Berdiri mematut diri depan cermin. Menatap penuh selidik pada sosok yang menyerupaiku di seberang sana. Hei! Helo? Siapakah kau? Lihat, dari ujung kaki sampai naik ke ujung kepala kita benar-benar sama! Apakah kita kembar?

Hmm… oke. Aku harus memastikan siapa kau sebenarnya. Ada beberapa pertanyaan yang akan kuajukan. Tapi santai saja, ini bukan interogasi di kantor polisi. Silakan jujur sejujur-jujurnya jujur. Tak perlu takut salah. Karena tidak akan mengurangi nilai. Ah, ya. Tidak ada penilaian di sini.

Nah. Apa kau sudah siap? Apa? Oh, tentu. Kau pasti kaget, butuh waktu untuk mencerna sebentar. Dan butuh jeda untuk bernapas. Maaf, aku agak tergesa kalau sedang bicara.

Hmm, bagaimana? Kau siap? Oke. Kita mulai.

(+)catatan= a adalah aku
  b adalah beta



a: Aku akan mulai dari atas. Hm, jangan tersinggung. Apa itu yang menutupi kepalamu?
b: Oh. Tak apa. Ini kerudung.
a: Kau botak?
b: *menggeleng*
a: Gak punya kuping?
b: *menggeleng lagi*
a: Terus?
b: Sekarang sedang tren di kalangan perempuan di negriku.
a: Seperti itu rupanya. Haha. Lantas, apa kau memakainya karena mengikuti tren?
b: Hehe. Tidak seperti itu. Beta sudah memakainya sejak umur 10 tahun. Kelas 1 SMP.
a: Wow. Muda sekali. Kau nyaman? Aku saja yang melihatnya, merasa ribet dan..
b: Gerah?
a: Ya. Kau tahu… jadi, apa alasanmu menutupi kepala, rambutmu dengan sehelai kain seperti itu?
b: Orangtua memintaku memakainya. Sekolahku mewajibkannya. Semua perempuan dalam keluargaku mulai memakai kerudung saat beranjak remaja. 
a: Kenapa?
b: Agamaku, islam, memerintahkan perempuan islam agar menutup kepalanya, rambutnya, sampai ke dada. Inilah identitas perempuan muslim. Agar mereka merasa aman. Terlindungi dari pandangan -bahkan perbuatan yang tak sepantasnya.
a: Kau merasa aman dan nyaman?
b: Biasa saja. Tapi setidaknya beta bisa menyembunyikan rambut yang kusut. Hehe. Beta malas menyisir.
a: Sekarang kau sudah tak bersekolah di sana lagi. Orang tua juga tidak melihatmu. Kau di kota ini. Dan mereka di kota lain. Lalu?
b: Sampai SMA pun beta tetap memakainya, sekolahku lagi-lagi mewajibkan para siswi berjilbab. Kuliah juga begitu. Beta rasa, lama-lama beta terbiasa dengan dengan ini *membelai jilbab*
a: I see. Terbiasa.
b: Guruku bilang jilbab ini semacam remote tubuh. Yang jadi pengontrol.
a: Maksudnya?
b: Pengontrol diriku. Biar tidak berbuat di luar jalur. Gak nglakuin yang tidak-tidak. Jadi, kalo aku mau berbuat jahat, kayak mencuri, nyopet, berbohong, cabul, aku mawas diri. Masa orang jilbaban berbuat seperti itu? Apa pantas?
a: Aha.
b: Maaf, tadi kamu bilang boleh jujur, kan?
a: Ah, kau mau mengatakan sesuatu? Bicaralah. Aku mendengarkan.
b: Hufft.. Sebenarnya. Beta hanya terbiasa. Terbiasa. Beta tidak tahu apa beta berani melepas jilbab ini. Tapi untuk apa beta melepasnya. Namun, apa gunanya juga beta memakai ini. Beta…
a: Kau mau minum?
b: Tidak. Trims. Sebenarnya beta pikir, beta memakai jilbab ini karena beta ingin patuh pada orangtuaku.
a: anak manis…
b: Ibuku sangat keras masalah menutup aurat. Beta mencintainya. Dan beta akan melakukan apa yang dimintanya. Itu sepertinya alasan pertama.
a: Jadi ada yang lain kedua, ketiga dan alasan lainnya dong?
b: Beta sudah biasa dan tidak siap menerima tanggapan orang-orang melihatku berbeda. Bayangkan, sejak usia 10 tahun. Sekarang umurku 20 tahun. Separoh masa hidupku di dunia saat ini, beta terus memakai kain ini.
a: Bagaimana dengan perintah agamamu tadi?
b: Banyak orang yang aman dan nyaman tanpa kain ini. Itu sudah cukup jadi bukti untukku mempertanyakan perintah itu. Mempertanyakan diriku sendiri.
a: …
b: Menjadi seorang perempuan islam, haruskah memakai ini? Apakah identitas itu ditandai dengan hanya selembar kain ini? Identitas sama dengan jilbab. Jilbab sama dengan identitas.
a: Kain seperti itu, banyak di jual di pasar, toko, mall. Siapa saja bisa beli dan memilikinya. Memakainya
b: Hihi. Kau benar. Yang bukan islam juga bisa. Beta sering melihatnya di sinetron-sinetron. J-Lo, juga memakainya saat syuting videoklip I'm into You.
Beta merasa kehilangan arah, pegangan. Terombang-ambing dalam ketidakyakinanku. Beta belum menemukan jawaban atas soalku; kenapa perempuan islam berjilbab? Haruskah? Beta sedang merasa sebagai robot. Ada perintah, dan beta melaksanakan. Itu saja. Beta sedang tidak sungguh-sungguh dengan diriku.
a: *nyimak*
b: …
a: Ada apa?
b: Beta tak tahu harus berkata apa lagi. Beta akan terus mencari. Beta akan terus bertanya. Sampai Beta yakin. Beta bosan dalam ketidaktahuanku. Beta bosan melulu patuh.
a: Yup. Harus.
b: Umm. Trims.
a: Untuk apa?
b: Tidak menginterogasiku.
a: ...?
b: Kamu sudah membiarkan beta bercerita banyak. Mengeluarkan semua yang bercokol di kepala.
a: Ah, bukan apa-apa. Aku rasa sudah cukup. Kapan-kapan, aku mau tanya-tanya soal itu *menunjuk baju.*
b: *meraba-raba baju kaos panjang sepantat. Mencermati.* Apa ada noda?

Tuesday, 31 January 2012

Celoteh Anak


Anak-anak tuh, yah… Ada aja celoteh-celoteh mereka yang buat kita takjub, gemas, dan tertawa. Setiap kali menjenguk kedua keponakankku, Nisa (6) dan Buba (4), tingkah-tingkah mereka sering menghiburku. Sambil menggeleng dan bergumam dalam hati "anak-anakku, kalian sudah besar yah, sekarang."

 Weekend disambung libur imlek kemarin (21-23 Jan), aku sengaja nginap di rumah mereka. Beberapa hari sebelumnya, aku kerap datang, tapi hanya untuk meminjam laptop. Tidak ada waktu untuk bermain dengan anak-anak. Nah, kali ini, dipuas-puasin deh… ^o^

Ceritanya, aku lagi nemenin mereka bobo. Susah banget buat mereka tertidur. Mulai main tenda-tendaan dalam kamar, matiin lampu, ceritain dongeng (dongeng waktu aku lagi nge-date).  Semuanya gak mempan.
"Aku puterkan lagu yah, lagu nina bobo." aku meraih hape dengan putus asa.  Usaha terakhir aku, memutar lagunya DEPAPE, Sakura Kaze. Ini lagu rekomendasi dari Aufa. Waktu aku perdengarkan untuk Ellik dan Winda, mereka bilang cocok buat pengantar tidur.

But guest what…

Setelah didengar beberapa kali, Nisa penasaran juga. "Ini lagu apa sih? Kok gak ada suaranya?" haha.., nak, tante lupa kasih tahu ya, ini musik instrumen.

"Lagunya gak romantis." cetusnya. Tueng, tueng. Dia bilang apa tadi? ROMANTIS?

"Wkakakakakaka." aku gak kuasa menahan tawa.

Sambil menahan senyum aku langsung mengirim pesan singkat ke Aufa; bilang ke dia kalo lagunya gak romantis menurut ponakanku. Juga curhat, dari mana ponakanku bisa mengeluarkan kata romantis. *tebakanku sih, korban sinetron. Mama dan tante-tantenya suka nonton tivi.

"hayo,,, Ma Novi sms cowoknya yah?" ledek Nisa.

"Gak kok."

"Habis senyum-senyum gitu." gantian Buba menggoda.  *ini sisa ngetawain kakak kamu, sayang..

"Ah.. Aku pusing deh. semua mama-mamaku (maksudnya tante) pada punya pacar." kok kamu yang pusing?, Nis "Ma Ica punya pacar, Ma Rika juga. Sekarang Ma Novi." Sok tahu deh,,,

"Kamu udah punya pacar, Kak?" tanyaku pada Nisa.

"Gak punya. Kata mama itu gak boleh." bener nak,,, kamu masih kecil buat pacar-pacaran. "kalo dedek tuh, pacaran. Sama mas Afif. Kalau ketemu mereka main berdua."

"Gak kok," tukas Buba yang sedari tadi sibuk denga hape. "udah ganti. Sekarang ama Morgan."

Hah? Aku semakin melongo. Jadi buba pacaran sama Morgan Sm*sh itu?

my baby, my baby,,, ada-ada saja. *ngelus dada*

ini Buba,




---------->>>
ini Morgan. pacarrrrnya???

Sunday, 22 January 2012

cerita putri duyung

dari sini nie


Langit di luar tidak mendung sayang, tak ada awan kelabu.

Tapi ini malam kelabu kesekian yang kau torehkan.

Kau berlalu meninggalkanku, yang hanya dapat menatap punggungmu. Menjauh.

Aku, sayang, seperti musik latar toko buku ini.
Musik instrumental. Aku.
Tanpa lirik. Tak bersuara. Ingin berteriak agar kau berhenti. Paling tidak menoleh saja.
Tak ada jeritan. Suaraku tercekat. Menderu, menggebu. Dalam dada saja. Banyak kata yang akhirnya tak tersampaikan. Yang harusnya kau dengar. Agar kau mengerti. Biar sadar.
Dan bayangmu, tinggal titik kecil di antara kerumunan di luar sana.

Musik instrumen. Aku. Terpaku di satu dimensi. Tenggelam dalam ribuan kata, amarah, sedih, cinta dan cacian. Semuanya, tak pernah mencapai hatimu.

Sayang, aku merasa seperti putri duyung yang didongengkan eyang Hans C. Andersen.
Kau ingat? Putri duyung itu menggadaikan suaranya pada si tukang sihir. Agar ia bisa bertemu pangerannya. Dia tak pernah bisa menyampaikan cinta pada sang pangeran. Pangeran tak pernah tahu.
Begitu juga aku, sayang. Tak pernah ada cukup kata untuk bilang aku sayang kamu. Juga tak pernah ada cukup kata untuk bilang aku benci kamu saat ini saja. Saat kau membiarkanku menatap punggungmu menjauh.

Air mata putri duyung sayang, bisa berubah jadi mutiara. Andaikan air mataku juga dapat berubah, aku pinta hanya satu; air mataku dapat membawamu kembali. Kembali.



                 Malam minggu kelabu di gramedia...

Tuesday, 10 January 2012

Arif Subiyanto

Kulit gelap, kacamata sedikit melorot di atas hidung. Kelopak mata seperti punya Habibi (mantan presiden itu tuh...) Suka senyum, ada gingsul yang menyembul di sana. Sosok itu mengenalkan diri, Arif Subiyanto. Cara ngomongnya berapi-api. Tapi suaranya tidak menggelegar keras. Sangat bagus untuk memulai pembekalan PKL untuk profesi penerjemah yang berlangsung pada 4 Januari 2012. Kata teman saya, Esa, ia merasakan energi baik yang di tularkan. Ada semangat yang ditransfer ke seluruh ruangan, ke sembilan mahasiswa, dan seorang moderator. Meski Irma, moderator, bilang tanggapan kami seperti orang yang kurang antusias.

Sehari-hari ia mengajar di Sastra Inggris Universitas Negri Malang (UM), selain itu juga menerjemahkan untuk penerbit-penerbit besar. The Death and Life of Superman merupakan novel yang pertama ia terjemahkan. Diterbitkan Erlangga. 

Saat mengabsen, setiap peserta ditanyainya satu-satu; dari mana asalnya? Kelak apa yang dilakukan jika sudah lulus? Lalu menimpali dengan cerita atau pengalamannya sendiri.

"Rahantan is your last name, right?"

"Iya, Pak." Arif bertanya dari mana asalku, aku jawab dari Maluku. Banyak orang di pulau Jawa ini tidak tahu Tual, jadi aku bilang saja dari Maluku. Namun, yang satu ini pengecualian, Ia lalu bertanya lagi, dari pulau mana spesifiknya. Aku jawab dari pulau Kei. Ia bercerita tentang pengalamannya ke Dobo di Kepulauan Aru -perjalanan ke Dobo biasanya transit di Tual. Dalam kenangannya banyak rumah-rumah yang didirikan berbahan kayu besi, satu sak semen harganya berkali lipat daripada di Jawa. Di sana tidak ada genteng, orang-orang menutupi rumahnya dengan daun seng.Ia mengagumi hasil alam berupa mutiara yang banyak ditemui di sana. Pada musim-musim tertentu, ikan-ikan terdampar begitu saja di pantai, dan orang-orang berebutan menangkap. Betapa murahnya anugerah tuhan di sana, tak heran kalau penduduknya jadi sedikit pemalas.

Ia juga menyoal nama Puthu Akbar, peserta lainnya. Apa dari Bali? Dia dari malang. Orang Lowokwaru, rumahnya dekat hotel Santika. Tidak sekali ia ditanya seperti itu. Hampir semua dosen pernah mengajukan pertanyaan serupa. Puthu diambil dari bahasa jawa, artinya cucu. Baik dari keluarga ibu maupun ayahnya, puthu adalah cucu pertama, karenanya dinamai demikian. Ah, kakek-neneknya pastilah sangat bersukacita saat menyambut puthu pertama mereka.

Mulanya saya pikir Arif tipekal orang yang suka menjelajah. Jalan-jalan. Ia tahu seluk beluk Jepara, rumah Lita. Ia Juga tahu Kalimantan, tempat Keluarga Esa menetap. Nyatanya ia mengakui lebih senang di rumah dan menerjemahkan, dan hanya keluar jika benar-benar penting. Sehari ia bisa menerjemah sampai dua puluh halaman. Dulu, saat masih muda, bersemangat, dan produktif ia bisa menghasilkan empat puluh halaman.Ia terus bercerita, kami semua mendengarkan. Tak berniat memotong. Saat berbicara sekalipun, masih terlihat sepotong senyum bahkan tawa diantara kata-kata yang berhambur keluar.      

salah satu buku terjemahan Arif Subiyanto

  
Ia mulai menerjemah tahun '94, dan bercita-cita ingin menerjemah untuk Gramedia. Beruntung, Gramedia butuh penerjemah untuk novel baru. Ia menyebut Rina dan Tanti Lesmana, nama-nama yang dihubunginya saat mencari lowongan di Gramedia. Seperti yang diharapkan, ia menerjemahkan novel tersebut. Gramedia menghubunginya dan berterimakasih, sudah enam bulan mereka mencari penerjemah yang pas. Dan Arif yang tepat.

Sebagai dosen, tidak banyak riset ilmiah yang dilakukan. Karya terjemahannya seperti  Resurrection karya Tucker Malarkey dan State of Fear milik Michael Crichton, jika sudah diterbitkan sudah dianggap sebagi karya ilmiah. Selain itu, ia juga tidak suka yang ilmiah-ilmiah, ia mencintai sastra. Ketika menerjemahkan novel, ia sangat giat. Mood-nya dapat. Bisa selesai kurang dari satu bulan. Tapi kalau buku pelajaran atau fiksi lainnya, pengerjaan bisa molor sampai satu bulan lebih. 

"Menerjemahkan, kalau novel, satu halaman 45 ribu." ia menyebutkan nominal sekadar untuk menyemangati kami. Aih, tinggal kalikan saja berapa ratus halaman dalam satu novel. Sekarang ini, jasa penerjemah sangat dibutuhkan, apalagi oleh penerbit-penerbit besar. Biaya cetak buku-buku terjemahan lebih murah dan harga jualnya mahal. Bandingkan dengan menerbitkan buku-buku penulis Indonesia. Keuntungan harus dibagi dengan royalti penulis.

Menjadi penerjemah, selain menyalurkan kreatifitas dan kesenangan, ternyata lebih dari lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada 2002 silam, ia mendapatkan proyek menerjemahkan UU KDRT oleh DPR. Kontrak kerjanya senilai 15 juta. Namun karena beberapa kendala, Arif susah menyelesaikannya. Lima hari berturut-turut menjelang deadline, ia tidak tidur. Terus bekerja. Ketika tugas selesai, dan ia dibayar 22 juta. Rumah pertamanya, dibeli dari gaji tersebut, ditambah hasil menabung saat nyambi kerja di Australia sebagai office boy selama 13 bulan.

Meski sudah lama jadi penerjemah, tetap saja semuanya tidak selalu mudah. Bagian sulit saat menerjemah baginya adalah judul dan kalimat awal. Dua hal yang akan sangat mempengaruhi impresi pembaca. Kesan apa yang akan kita berikan saat memilih judul? Bagaimana pembaca diajak mengikuti cerita sejak dari kalimat pertamanya? Ya, jangan sampai salah langkah.

Oya, ada satu lagi yang saya catat. Selain murah senyum, ia humoris juga (satu paket kali yah...) Waktu kami sedang mengerjakan tugas darinya, ia bertanya "Harm artinya apa?" Berbahaya, anak sd sekarang mungkin juga tahu. "Kalo harmful?" sangat berbahaya. "Kalo harmless?" ya tidak berbahaya. "Kalo sangat berbahaya dan menakutkan?" nah loh? Gak tahu kan... "Ha(r)mbali," terduga teroris. "Kalo tidak berbahaya dan menyenangkan?" apalagi ini? "Ha(r)mster," grrr, hahaha. Cukup mikir dan cukup tiga detik tertawa. 

Friday, 30 December 2011

kau/aku

 



kalau berpapasan denganku saat di jalan, perpus, toko buku, atau di taman; 'please, jangan palingin muka kamu. apalagi tidak menyapa.' ah.. senyum saja kau enggan.

kamu mau tahu pendapatku? 'norak. kekanak-kanakan.' aku tidak sakit hati. tidak. hanya merasa sangat-sangat konyol.

lebih baik kita pura-pura saling tidak mengenal. kembali saat sebelum saling mengenal. kau tak perlu acuh kehadiranku, aku akan melakukan hal yang sama. kau/aku. sama seperti jutaan orang yang kita temui setiap hari. tidak kenal. tak menyapa. berlalu begitu saja.

Wednesday, 28 December 2011

(bukan) punya kita



Ini tanah punya kita
Di sini kita di jajah

Ini laut punya kita
Di sini kita dirompak

Ini hutan punya kita
Di sini kita dijerat

Ini udara punya kita
Di sini kita dibekap

Ini rumah punya kita
Di sini kita membabu

Ini tubuh punya kita
Di sini kita dihina

Ini kita
Bukan kita orang punya lagi





Tuesday, 27 December 2011

Ngopi--paste

Analisis "ngopi" di kalangan mahasiswa.

Kira-kira seperti itu judul analisis yang dipresentasikan oleh teman saya di kelas Pop Culture. Siang, 21 des 2011, pukul 11.30 seharusnya sudah mulai. Tapi karena gangguan teknis LCD, kelas jadi molor. Agak ngantuk sebenarnya kalau kuliah di siang bolong sperti itu, tapi judul yang satu ini, buat mata jadi agak segar. Lebih sedikit bergairah. Aku sedang menebak arah analisisnya nanti. Pasti tentang budaya ngopi, nih. Minum secangkir di kopi hangat. Bisa di warung pinggir jalan, angkringan, starbucks, atau kafe manalah. Tapi dasar usil, saya malah nyelutuk "ngopi-paste yah? Atau ngopi film, lagu?"
Gerrr. Sekelas pada tertawa. *guys, ng(c)opi-paste memang sudah mengakut.

 Ketika sma saya pernah membaca tentang seorang mahasiswa Yogyakarta, yang suka berdiskusi hingga larut malam, bahkan sampai dini hari, sambil ngopi di jalanan. Mereka berdiskusi banyak, tidak sekedar ngobrol ngalor-ngidul. Hasilnya, jadi esai, opini yang dikirimkan ke koran. Dibukukan juga. Teman-temannya cuma bisa misuh sambil senyum-senyum. 'loh, ini kan yang kita diskusikan semalam.'

Kisah ini, entah datang dari siapa *terimakasih ^_^, telah menanamkan arti dan kesan tentang 'ngopi.'

Pertama kali dikenalkan aktifitas ngopi di tahun pertama perkuliahan.2008-2009.  Mas Junk, ketua uapm inovasi, dia yang paling getol ngajak ngopi. Beruntung, seperti yang saya bayangkan, aktivitas ngopi kemudian jadi diskusi liputan *meski gak pernah jalan liputannya, jadi ajang brainstorming, dan pengkaderan. 'kenapa orang islam itu dijanjikan pahala kalau berbuat baik? ', 'kamu tau gak kenapa org mati syahid dijanjikan 72 bidadari?'. Mas Junk biasa melontarkan pertanyaan yang mendorong saya untuk kembali bertanya-tanya dan mempertanyakan.

Dari semester satu sampai tujuh. Dari satu warung ke warung lain. Minimal, ngopi seminggu sekali lah.

Dan siang itu, saya tercengang mendengar presentasi Sholeh. Jauh dari bayangan saya. Yang dia bahas, sejarah biji kopi, positive and negative effect of coffe. Kebiasaan nyeteh -melukis rokok dengan ampas kopi. Dengan Rp2000 percangkir kopi, bisa berjam-jam ngobrol, dan nyeteh, tentu saja. kebiasaan ngopi, yang menurut dia, membuat mahasiswa terlena, berjam-jam ngopi gada juntrungan sampai-sampai melalaikan tugas2 akademik. That's all.

Dhueng!!! Buyar deh semua impresi saya ttg ngopi. Ngopi, berakar dari bahasa jawa. Ngopi, merujuk pada aktivitas meminum kopi *ini menurut saya loh yah, nanti saya verify ke org jawa juga. Bukan sekedar ngombe kopi. Ngopi, sudah menjadi sebuah kebiasaan, aktivitas, atau budaya. Ke sebuah tempat yang meyediakan minuman, mungkin juga makanan, tempat anda bisa mengeksplor apa yang tidak anda pelajari di rumah, surau, sekolah, bangku kuliah. Ada proses dialektika disana. Ngopi tidak selalu beramai-amai, bisa juga sendirian. *Kalo minum kopi di rupah, bisa disebut ngopi gak yah?

Bersama teman-teman uapm inovasi, kami sering janjian ngopi, entah di warung, atau di pinggir jalan. Sering juga di pujasera. Ngomongnya sih 'ngopi, yuk', eh, waktu kumpul minuman yang disajikan pelayan di atas meja malah susu, es teh, jeruk angat, soda gembira dan berbagai jenis minuman bukan kopi.

Jadi, term ngopi, bukan cuma (lagi) milik kata kopi. Sudah menjadi istilah yang bisa diartikan lebih oleh siapa saja, termasuk anda. *noleh kamana? Ya kamu, yang baca ;-).

Presentasi Sholeh memberi saya informasi yang lain. Makna ngopi, jadi berbeda di masing-masing orang atau kelompok. Jika akhirnya dia sampai pada simpulan, berjam-jam ngopi sebaiknya dikurangi, dialokasikan untuk kegiatan akademik misalnya, bisa jadi karena aktivitas ngopi yang dijalaninya tidak berkontribusi positif.

Saya kemudian menarik ingatan pada tempat-tempat ngopi yang pernah saya kunjungi. Di depan meja kami ada lelaki dan perempuan, yang entah kenapa saya sangat yakin mereka adalah sepasang kekasih. Hm, berpacaran. Di sebelah kami, ada gerombol remaja, bermain poker dan ngobrol dengan suara sangat keras. Terdengar juga beberapa orang yang berbicara begitu serius, berapi-api. Rupanya aktivis ekstra kampus. Ada pula suara pelan, lemah dan berjarak seolah sedang berpikir, berkeluh kesah tentang unit kegiatan kampus (UKM). Ditengah keramaian, gerombolan, terselip sosok-sosok dalam kesendirian atau yang menarik diri dari lingkaran. Ditemani minum, lagu, buku, hp, atau laptop. Semuanya, menikmati ngopi dengan cara masing-masing.

Jenuh


Inilah yang aku rasakan setelah kuliah 3,5 tahun. Sekarang udah semester 7. jenuh. Kebosanan yang sudah sampai titik puncak.

Sejak awal, sebenarnya aku sudah agak sadar, kuliahku udah macam ritual saja. berangkat-masuk-duduk-diam-pulang. Begitu setiap hari. Senin-sabtu. Senin-jum'at.

Pokoknya kudu masuk. 75 %-80% kehadiran sangat mempengaruhi nilai. Minimal, kalo hadir selalu, sudah bisa ngantongin nilai B. Absen lebih dari ketentuan di atas, gak bisa ikut ujian; UTS dan UAS. Siap2 dpt potongan nilai. * huffft, kalo potongan belanja sih, gue mau.

Kalo di kelas, sesekali aku pura2 memperhatikan. Mata menatap penuh atensi sama dosen. Padahal sedang berpikir keras; tar makan malam enaknya makan apa yah? Hmmm, weekend ke BNS apa ke JTP? Liburan nanti ke gunung atau pantai?

Kadangkala juga pura2 bertanya. Meski gak penting bgt. 'Bisa jelasin yg slide pertama tadi lagi?' atau 'arketipe tadi apa artinya?'

Hmmm, gue juga suka komen, kalo mood-nya lagi baik. meski komennya juga gak penting. 'good job,'  'i like it.' yang seriusan dikit; 'marx itu bla....bla.... Dia gak blaaa...., bla..... Dan juga bla...., bla... Jadi blaaa, bla..., deh. '

Ah, membosankan sekali. Aku merasa terperangkap. Terperangkap sks, nilai, kelas, presentasi, ceramah, kuliah, kelas, kampus. Sumpah, lama-lama bisa gila. Udah pragmatis dan sangat-sangat futuristik. Teman2 diperkuliahan, aku rasa tipe orang-orang seperti itu sangat banyak. Mata kuliah itu harus erat kaitannya dan jelas fungsinya bagi mahasiswa. Anak sastra contohnya nieh, ngapain belajar statistics kalo gada kaitannya dengan skripsi? Nah loh? Ngapain juga belajar marxism, kalo skripsinya pake teori feminism? Matakuliah dari semester 1 ampe akhir, tujuannya cuma bagaimana buat skripsi yang baik dan benar sehingga mahasiswa bisa cepat lulus dan semoga mendapat pekerjaan cepat juga.

That's not what i try to find now. Aku perempuan yang sedang haus, mungkin juga rakus. Aku ingin meneguk sebanyak-bnyaknya air, biar tersedak sekalipun. Asal melepas dahaga akan belajar. Yeah, belajar. Bukan cuma masalah mencari selembar ijazah.

Aku merindukan teman yang bisa diajak duduk, ngobrol, berdiskusi, bukan cuma show off di kelas. Aku merindukan dosen sebagai teman diskusi juga, bukan sekadar evaluator.

Sempat berpikir buat nyuratin kepala jurusan juga. *wadah,,, ekstra jenuh. Ato main ke kantor beliau, pengen curhat.  Hopefully, kesempatan itu mendatangai aku. Diundang sebagai peserta di penelitian yang diadain jurusan. Penelitinya kajur, beserta sekretari jurusan, sekjur, juga dua dosen lain. narative inquiry, mengubah pengalaman menjadi sesuatu yg berharga. Jadi, pesertanya, entah dosen atau mahasiswa diminta buat nyeritain pengalamannya selama proses belajar-mengajar. Eh, malahan jadi ajang curhat dan evaluasi jurusan. Aku gak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Aku ceritain semua. Nyaris sama dengan yang aku tulis di atas. Si Lita, yang duduk di samping aku cuma bilang, ceritanya sedih sekali.

Setelah ini, aku jadi pikir-pikir lagi buat mau lanjutin kuliah (s2). Kalo gak nemu tempat yang asik, mending cukup di sini saja. Sering-sering sekolah/kuliah bakal buat otak jadi lebih tumpul. *hahaha



Friday, 9 December 2011

generasi gunung kawi

bocah2 kawi,,,,
di hari satu suro...
gadis-gadis kecil







kalo yang ini emaknya...





lautan

link
aku tak ingin
menjadi dermaga tempatmu berlabuh
lalu pergi






kasih,
akulah laut; tempatmu menuju




kasih,
akulah laut; tempatmu kembali



malang, 14 Des '11

Friday, 18 November 2011

krisis percaya diri

ni gambar dari sini nie.. [link]


Bersembunyi di bawah selimut yg lembut..


Pura-pura membaca, buku, majalah, atau koran.

Menutupi wajah dengan kedua tangan

Apa saja biar tak ada yang lihat wajahku.

Hufttt, melingkar di rahim ibu sepertinya nyaman sekali.

Kaki ini, tak kuasa menahan beban tubuh. Bergetar didera takut, malu, cela.

Sepertinya ujung sepatu yang sobek jadi objek pandang paling menarik.

Sunday, 13 November 2011

hepi together

 
haha,,, tetap bersama dan hepi-hepi,,, walau majalah gak terbit2
semangat!!!!

Thursday, 10 November 2011

terlelap





o, tidak
sepertinya aku sedang tidur -tidur panjang
udara yang kuhirup, tangan yang ku genggam,
nyata atau hanya mimpi
tak bisa kubedakan lagi
tapi juga tak tahu apakah nyata dan mimpi benar-benar sama
tolong, bangunkan aku!

Tuesday, 8 November 2011

SUMBANGAN INTELEKTUAL

 
 

Judul               : Khazanah Intelektual slam   
Penerjemah      : Nurcholish Madjid
Editor              : Nurcholish Madjid
Penerbit           : Bulan Bintang
Cetakan           : 1984
Tebal               : VII, 384 halaman


           
Islam di bangun di atas sejarah panjang. Peradaban islam bukan ka’bah, sejarah islama bukan masjid nabawi. Islam sublim dalam ruhnya, yang dipegang teguh oleh umat islam. Dialektika dalam islam, setuju atau tidak, telah berpengaruh besar dalam sejarah islam. Begitu mewarnai intelektual islam. Di sini, saya menemukan bahwa, sejarah dan peradaban islam bukan saja kebudayaan, artefak, artefak, atau politik, tapi juga warisan pemikiran sarjana-sarjana muslim. Untuk itu, khazanah Intelektual Islam menjadi laik untuk dihadirkan di hadapan anda.
Buku ini merupakan terjemahan karya-karya sepuluh sarjana besar islam. Ada Alkindi, Al-Asy’ari, Al-Farabi, Ibn sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Taimiyah, Ibn Khaldun, Al-Afghani, dan terakhir Muhammad Abduh. Jangan pernah membayangkan riwayat hidup mereka dalam buku ini, sebab ini adalah riwayat pemikiran yang hidup dalam karya-karya.
Kita patut berterimakasih pada cendekiawan Nurcholish Madjid atas upayanya dalam menerjemahkan karya-karya intelektual islam, sehingga pemikiran mereka sampai kepada kita saat ini.
Terhitung sejak meninggalanya nabi, perebutan kekuasaan sudah mulai kembali mewujud. Kesukuan atau syu’biah juga bermunculan. Masalah semakin mengerucut dan rumit pasca naiknya Ali sebagai khalifah ke-empat. Perselisihan paham antar sahabat nabi sebenarnya juga sangat jelas terlihat. Bilal contohnya, perna memprotes kebijakan Umar. Bilal menuduh Umar telah menyimpang dari Al-Qur’an dan sunnah, sebab tanah yanng baru saja dibebaskan di Iran tidak dibagikan kepada tentara muslim, tapi malah diberikan kepada para petani-petani kecil yang bukan muslim. Menurut Al-Qur’an harta rampasan perang sejatinya dibagikan kepada muslim, tappi umar dengan jiwa sosial yang tinggi, memiliki pemikiran beda, yang tidak dipahami para sahabat lain.
Setelah Ali, muncul aliran-aliran dialektika atau dalam islam dikenal sebagai ilmu kalam. Mulanya berdebat mengenai kedudukan Ali dan Mu’awiyah dalam perebutan kekuasaan mereka. Namun, paham-paham tersebut ternyata terus memengaruhi tindak laku yang lain, bahakan perpolitikan kekuasan khalifah-khalifah selanjutnya.
Khawarij, Murjia’ah, Jabbariah, Qadariyyah, dan Mu’tazilah, merupakan aliran-aliran besar yang muncul pada saat itu. Aliran terakhir, Mu’tazilah sedikit banyak dipengaruhi filsafat Yunani yang dibangun atas kebebasan rasio. Dari sinilah muncul perumusan ­ushul fiqh oleh Imam Syafi’e dan ushul al-din oleh kaum Mu’tazilah.
Setelah mu’tazilah, lahir para pemikir islam yang di sebeut sebagai al falasifah, mereka adalah para skolastik islam yang menekuni filsafat Yunani. Aristoteles yang mengakaji logika formal (al manthiq), bilogi, ilmu bumi matemaris, dan masih banyak lagi, merupakan filsuf Yunani yang pemikirannya banyak dadopsi oleh para skolastik di atas.
Abu Ya’qub ibn Ishaq Al Kindi (wafata sekitar 257 H/870 M) adalah orang pertama yang menjadikan filsafat Yunani terkenal dalam islam.
Dalam anatologi ini,  pemikiran Alkindi dapat diketahui daru kedua risalah yang ditulisnya. Pertama, Risalah tentang Kemahaesaan Tuhan dan Keterhinggaan Massa Alam. Ia berbicara mengenai keesaan tuhan, menegaskan ajaran tauhid yang dibawa turun-temurun oleh para nabi, dan juga mengenai kebadaian alam yang ternya terbatasi, terhingga. Semacam kritik pada filsafat Aristoteles. Risalah keduanya adalah Risalah tentang Akal. Risalah ini seperti meringkas ulang dengan rasa penuh kebanggaan kepada filsafat ajaran Aristoteles mengenai akal. Al Kindi mengajak kaum muslimin untuk memanfaatkan mata akal secara radikal, menurutnya hal ini akan mengantarkan muslim menuju ma’rifat yang luas.
Selanjutnya adalah Al Asy’ari (wafat 300 H/913 M.) ia adalh pengukuh fondasi kaum Sunni. Nama  lengkapnya, Abu al Hasan al-Asy’ari.  Meski seorang Sunni, ia mulanya adalah penganut faham Mu’tazilah. Metode filsafat kerap terlihat dalam penulisannya mengenai teologia dan pemikiran intelektual lainnya. Meminjam metode berfikir mu’tazilah, Al-Asy’ari tercata sebagai orang yang bisa mengkritik tepat ajaran Mu’tazilah pada sasaran.
Buku ini memperkenalkan kita pada Al-Asy’ari, bersentuhan langsung dengan pemikirannya lewat tulisan. Pembelaan bagi Pengkajian Ilmu Kalam menegaskan pandangannya terhadap ilmu kalam. Semacam argumentasi menguatkan kedudukan kalam di hadapan orang-orang yang alergi terhadap ilmu kalam (filsafat retorika). Ia menohok langsung dengan  mengambil imam-imam mazhab besar dalam islam. Menurutnya, nabi Muhammad tidak pernah membincangkan nazar, wasiat, apalagi pembebasan budak yang kemudian ditulisnya dalam kitab. Tidak, nabi tidak pernah menulis buku, tapi itu dilakukan oleh para pewarisnya seperti Malik, Al Syafi’i, dan Abu Hanifah. Bukankah itu bid’ah? Dan bukankah secara sadar kita mengikuti ajaran imam-imam tersebut?
Selanjutnya adalah adalah Muhammad Abu Nash al-Farabi (wafat 340 H/950 M). Atau yang lebih kita kenal sebagai al-Farabi, guru kedua dalam falsafah islam setelah Aristoteles. Filsuf muslim kedua setelah al-Kindi, meskipun begitu banyak yang mengakui bahwa kapasitas keilmuan al-Farabi lebih unggul.
Di dalam karangan berjudul Perincian Ilmu Pengetahuan, ia menjabarkan ilmu ketuhanan yang terdiri dari tiga bagian; pertama yang membahas semua wujud, kedua yang membahas prinsip-prinsip burhan dalam ilmu-ilmu teori partikular, dan terakhir ilmu yang mebahas semua wujud yang bukan berupa benda atau yang berada dalam benda.
Selain itu ada juga ilmu politik yang menerutnya mempelajari tingkah laku, watak-watak manusia agar dapat mengetahui bagaimana manusia dapat diatur, dikuasai, serta bagaimana melanggengkan kekuasaan tersebut.
Sementara yang dimaksud ilmu fiqih ialah ilmu yang memberi hak untuk menyimpulkan hukum-hukum tentang hal-hal yang tidak dijelaskan secara rinci. Ketentuan hukum mengacu pada nas dengan mempertimbangkan alasan tujuan atas agama yang diturunkan pada umat.
Terakhit ia menjelaskan ilmu kalam. Ilmu kalam adalah kemampuan berargumentasi untuk mempertahankan dan membenarkan ide-ide serta perbuatan-perbuatan. Tentu tetap berdasar pada dalil-dalil serta bertujuan membela islam.
Pemegang estafet falsafat islam Al-Kindi dan Al-farabi adalah Abu ‘Ali Al-Husayn ibn ‘Abdullah ibn Sina (wafat 428 H/1037 M.) Karangannya berjudul Risalah tentang Peneguhan kenabian dan tafsir akan Simbul-simbul serta Lambang Para Nabi, berusaha mengukuhkan kedudukan para nabi, sama halnya dengan para filsuf sebelumnya. Mengenai nabi ia menulis (141):
            Inilah yang disebut Nabi, yang padanya terdapat puncak tingkat-tingkat keunggulan dalam lingkungan bbentuk-bentuk material. Karena yang unggul berdiri di atas yang rendah serta menguasainya, maka Nabi  berdiri di atas semua wujud yang diunggulinya serta menguasai mereka.
Al-Ghazali yang bernama asli Abu Hamid ib Muhammad al-Ghazali (wafat 505 H/1111 M) merupakan filsuf selanjutanya yang muncul setelah Ibn Sina. Pemikir orisinal yang tampil hebat dengan mengkritik filsafat al-Farabi dan Ibn Sina.
Jika al-Asy’ari meminjam metode Mu’tazilah untuk mengkritis Mu’tazilah, sama halnya dengan al-Ghazali yang kali ini meminjam metode ilmu kalam dan filsafat guna membela agama dan kembali mengaktifkan kajian keagamaan. Karya-karyanya terkenal adalah Ihya ‘Ulum al-Din dan Tahafut Falasifah. Menurutnya, kedkatan hamba dengan tuhan dapat dihayati dalam kehidupan zuhud seperti yang dilakukan para sufi.  
Penjelasan yang Menentukan, merupakan tulisannya yang tersitematisasi dalam tigabelas pasal. Ia mendedahkan dengan rinci tantang hakikat ada, kafir, pengkafiran, mengambil hukum tentang fakir. Semuanya dalam bahasa yang sangat filsafat.
Ahli Fiqih yang juga seorang filsuf adalah Ibn Rusyd, Abu al-Walid ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Ahmad ibn Rusyd (wafat 594 H/1198 M). Di dunia filsafat, ia merupakan filsuf yang sukses menerjemahkan filsafat Aristoteles. Tidak hanya terkenal di Arab, ia juga dikenal di Eropa.
Ibn Rusyd lahir dari keluarga hakim yang sangat dekat dengan tradisi ilmu keislaman, fiqih. Ia sendiri  sangat menguasainya, Bidayatul Mujtahid merupakan contoh karya nyata yang dekat dengan fiqih.
Ia coba mencari jalan damai antara filsafat dan Syariat, tulisannya yang kemudia diterjemahkan menjadi Makalah Penentu tentang Hubungan antara filsafat dan Syariat menjelaskan lebih detai mengenai hal tersebut. Ia menulis makalahnya dengan tujuan mencari pembenaran, adakah filsafat diperbolehkan untuk dipelajari dalam hukum syara’. Ia tiba pada kesimpulan bahwa filsafat sangat erat kaitannya dengan syara’. Kekacauan filsafat, bisa berakibat kekrusakan pada syara’ juga. Untuk amannya, setiap orang hendaknya berilmu, paling tidak tidak taqlid pada syara’, juga tidak menjadi bagian dari kegilaan para filsuf.
Pembaharu selanjutnya adalah Taqi al-din Ahmad ibn Timiyyah, atau Ibn Taimiyyah (wafat 728 H/1328 M). Tulisannya berjudul Tangga Pencapaian mengkritik para filsuf terdahulu seperti Ibn Sina dan Ibnu Rusyd. Menurutnya, para filsuf terdahulu lewat analisis mereka telah mengklaim bahwasanya nabi telah melakukan kebohongan mengenai nubuwat demi sebuah kebaikan.
Ibn Taimiyyah menyangkal tuduhan para filsuf tentang para nabi yang disebut tidak memahami esensi kenabian, ketuhanan, dan universala. Hakikat hanya diketahui oleh ahli filsafat. Ia sangat radikal dan kritis terhadap pokok ajaran yang sudah diwariskan dalam islam, baginya Al-Qur’an dan Sunnah memiliki tempat tinggi yang tak tergantikan.
Setelah Ibn Taimiyyah adalah ‘Abd al-Rahman ibn Khaldun yang lebih populer sebagi ibn Khaldun (808 h/1406 M). Ia menulis tentang Ilmu Pengetahuan dan Berbagai Jenisnya, tentang pengajaran serta Metode-metode dan Aspek-aspeknya, dan Tentang Berbagai Hal yang Bersangkutan dengan itu Semua.
Poin yang dapat ditarik dari tulisan ini adalah, sejatinya ilmu pengetahuan dan pengajaran merupakan hal yang alami dalam peradaban manusia. Ilmu pengetahuan mekar hanya bila peradaban tumbuh serta kebudayaan berkembang. Ia juga berpendapat bahwasanya ilmu penegtahuan terbagi menjadi dua bagian besar, yang pertama ilmu-ilmu hikmah dan filsafat, sedangkan yang kedua adalah ilmu-ilmu tradisional dan konvensional.
Ia juga membahas ilmu kalam, ilmu –ilmu rasional dan bagian-bagiannya, lalu ia membantah falsafah, dan terakhir mengenai cara yang benar dalam mengajarkan ilmu pengetahuan dan metode penggunaannya.
Salah seorang lagi pembesar isalm kali ini dalam kancah modern adalah Jamal al-Din al-Afghani (1255-1315 H/1839-1897 M). Inilah al-Afghani, pembaharu islam modern. Tulisannya dalam bung rampai ini berjudul Masa lalu Umata dan Masa Kininya, serta Pengobatan bagi Penyakit-penyakitnya, menyiratkan pemikirannya yang sangat jelas akan islam saat ini. Ada kekhawatiran di sana.
Ia melihat umat islam sedang berdiam dibawah kemunduran terus-menerus, sehingga perlu kiat tertentu untuk mengembalikan kejayaan tersebut. Ia menuntut umat islam untuk berfikir seradikal-radikalnya, sebebas-bebasnya. Tapi tentu saja, tetap dalam semangat menjalankan kemurnian islam.
Intelektual selanjutnya adalah Muhammad ‘Abduh (1261-1323 H/1845-1905 M). ‘Abduh merupakan murid al-Afghani, keduanya pernah menerbitkan majalah dalam bahasa Arab di Perancis,al-Urwah al-Wutsqa. Ia banayak belajar ilmu logika, ilmu kalam, astronomi, metafisika, dan sufisme isyraqiyyah dari sang guru.
Ia menulis sebuah Mukaddimah (Tentang Ilmu Tauhid). Ilmu yang mempelajari keesaan tuhan. Sejak wujud, sifat-sifatnya yang wajib, jaiz, maupun mustahil. Ia juga meringkassejarah dealektika ilmu kalam dalam tulisannya ini.
Akhirnya, buku ini menjadi bacaan wajib bagi anda untuk lebih memahami pergolakan pemikiran dalam islam. Sangat bermanfaat bagi nutrisi kognisi khazanah keislaman. Ia menyentuh dengan pemikiran, bukan sekadar kebanggan pada ketokohan.


Tuesday, 25 October 2011

Major Characters in Othello

taken from http://students.cis.uab.edu/black790/Othello.html

Othello 

Othello is a black –Moor, and is a Christian. He is the general of the armies of Venice. Although he is a black, people respected him due to his eloquent and powerful profile. People recognized him as a strength man and a clever general.
However, he is not a forcefully man. He possesses a psychological disorder or syndrome like that. When Iago told him about Desdemona and Casssio, the depiction of the story appears in his mind which makes him hurt and sick. Iago made the best use of this condition to separate him with Desdemona, and take over his authority. He is really in jealous till he kill Desdemona. 

Desdemona  
She is a gentle woman. She secretly married to Othello, the moor, because she knew that her father and might some white people do not like it. His father was Venetian senator, Brabanzio.
Desdemona really love Othello, and won’t be poles apart from him. She does not contemn Othello like others because of racial issue. She also a faithful wife who wants always getting on together with Othello. When Othello appointed to do his duty as a general in Turkey, Desdemona begs to follow him.
Desdemona for those who know him, such as Cassio and Emily, is e benevolent woman. That is why Cassio asked Desdemona to help him clarifying his problem with Othello.
Otherwise she is a true lover; her heart was not blinded by love. She still uses her smart mind. She realized that Othello has been provoked; she challenged Othello to find proofs that Desdemona was adultery. Desdemona finally killed by Othello because of his silly jealous. 

Iago
Iago is one of Othello ensigns, anoter is Cassio. He is a racist. I said so because he actually does not agree the marriage between Othello and Desdemona, white-black. He help Roderigo to win Desdemona heart, beside of racism, I think the highest motivation of it is money. He has been paid for help Rodrigo.
And when he helped Cassio, it is actually just an intrigue. In fact, he keened on Cassio’s position. He wanted to be lieutenant. He construct the situation that make Cassio in bad side, he made Cassio drunk then fight with a man from Cyprus. Then he testified before Othello as if he on Cassio side. He is good at manipulation.
He also created a story about Desdemona and Cassio for Othello. He told and showed him scenes as if Cassio and Desdemona were in love. He asked her wife, Emilia, to bring him Desdemona’s kerchief, the he inserted it to Cassio’s room. Othello were mad to now that Desdemona’s kerchief has been found in Cassio’s room. He was absolutely success to break up that couple.  
He is a big fat villain.

Emilia
Emilia is Iago’s wife. He really knew what his husband is. He knew that Iago is not an honest man. She works as Desdemona’s attendant and is attached to her. At first, she did not realize that the conflict between Othello and Desdemona was set up by Iago. However, she finally know it, the clue is how can Desdemona’s kerchief she stole for Iago is founded in Cassio’s room.
The time she found Desdemona lied dying on her bed, she tried to tell Othello that it all were Iago’s intrigues. She told her distrustful of her husband to Othello. She died in Iago’s hand; Iago killed her because her witness that Desdemona does not fault but Iago the villain.    

Thursday, 13 October 2011

gelisah

ini gelisah bermuara dua

lari atau maju

diam atau bergerak

ini gelisah datang, saat kau sadar akan bodoh
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...