Showing posts with label puasa. Show all posts
Showing posts with label puasa. Show all posts

Wednesday, 15 August 2012

Mitos-mitos Ramadan



Subhanallah, betapa waktu ternyata berjalan sangat cepat. Sepertinya baru beberapa malam kemaren harap-harap cemas (H2C) menunggu sidang isbat; kapan awal Ramadan. Lah kuk sekarang sudah masuk sepuluh terakhir Ramadan. Mungkin sebentar lagi masyarakat indonesia akan dibuat H2C menunggu isbat awal syawal.

Malam ini pikiran saya mengembara melewati kira-kira sepuluh tahun Ramadan belakang. Sejak saya mulai bersekolah SMP. Saya merasakan masa-masa melawan mitos Ramadan. Menurut saya ada beberapa mitos seputar Ramadan, dan kadang diimani dan diamini. Jatuh-jatuhnya Ramadan malah dikapitalisasi, jadi semacam komoditas. Meskipun tak bisa dibohongi, Ramadan juga memberi berkah bagi sebagian orang dalam mencari nafkah.

Menahan lapar, menahan nafsu
Seingat saya, saya mulai belajar berpuasa saat masih duduk di bangku TK O kecil --sekarang TK A kali yah. Tidak puasa penuh. Cuma puasa bedug; kata mama kalau jarum jam sudah jatuh di angka 12 belas, saya baru boleh buka.

Usai mandi pagi, saya berdiri mematung di bawah jam yang menggantung di dinding. Menatap jarum-jarum berdetik. Ada tiga buah jarum; yang paling panjang, warna merah dan geraknya cepat sekali. Yang ukuran sedang dan lebih pendek berwarna hitam. Mata saya hanya tertuju pada yang berwaarna merah, sudah hampir menunjuk angka 12!! Jadi saya berteriak-teriak pada mama saya yang sedang di dapur. "Ma, udah mau jam 12," "Ma, jam 12 udah lewat!" dan "Ma, udah mau 12 lagi!" saya bertanya apa saya boleh makan? Dan mama saya hanya tertawa. Masa dalam sehari tiga kali jam 12? Bertahun-tahun kemudian, saya baru sadar; omigod! Itu kan jarum penunju detik.

Berpuasa saat masih TK dan SD, mungkin hanya sekadar ikut-ikut. Karena orang-orang semua berpuasa, atau karena disuruh guru agama di sekolah. Belajar menahan lapar. Namun, saya mulai belajar memaknai puasa lebih dari sekadar itu. Puasa bukan lagi sekadar menahan lapar, tapi belajar memaknai menahan lapar. Kalau kata BIMBO; lapar mengajarmu rendah hati selalu. Belajar menahan nafsu, berusaha melawan diri sendiri.  

Menu berbuka, atau sering disebut takjil. Iklan-iklan baik di televisi maupun media lain berlomba-lomba menarik konsumen lewat konten atau materi iklan yang mempersuasi masyarakat untuk menggunakan produk mereka saat berbuka. Belum lagi pasar-pasar dadakan menjelang buka.

Alhasil, waktu berbuka kadang jadi ajang balas dendam memenuhi hasrat perut juga hasrat konsumtif. Makanan apa ajah dibeli, disiapkan, padahal belum tentu kuat dihabisin dan malah dibuang. Mubadzir toh…
sibuk nyiapin kue berbuka dan lebaran 

 Baju baru, Alhamdulillah...
Selain makan, pakaian juga cobaan sendiri. Entah kenapa selama Ramadan, orang mendadak jadi sangat islami bin arabi. Ramadan memiliki tren fashion tersendiri; baju kokoh, kaftan, jubah, jilbab, atau pakaian lebih tertutup. Syahrini meluncurkan produk abaya renda. Kaftan-kaftan dan jubah laris diburu pembeli di pasar. Hijaber-hijaber lebih sering diundang untuk demo cara memakai jilbab ala hijaber di televisi.

Mal juga tak mau kalah, diskon spesial Ramadan digelar. Midnight sale spesial lebaran juga ada. Dan saya harus menahan diri sekuat mungkin buat baju baru. Untuk itu saya sangat berterima kasih kepada lagu, baju baru alhamdulillah, tak punya pun tak apa-apa. Masih ada baju yang lama. Lagu anak-anak ini sangat membekas hingga sekarang.

Ya,
Kenapa harus baju baru? Mumpung lagi murah.( Ah, korban iklan)
Kenapa harus baju baru? Ini kan buat ibadah, ketemu bos aja pake baju bagus, ketemu Tuhan, baju baru dong. (emang Tuhan bisa dilobi cuma dari baju baru?)
Kenapa harus baju baru? Buat dipakai  pas silaturahim dan halal bi halal. Masa pakai baju tahun kemaren. (mau pamer niyeh...)

Biasanya setiap lebaran ada bonus THR dari mama buat belanja baju lebaran, tapi uangnya lebih sering saya tabung atau membelikan barang lain yang sedang saya butuhkan dibanding beli baju. Lain cerita kalau, meski saya tidak minta, mama sudah membelikannya. Mungkin mama tahu saya pengen banget, tapi gengsi mau minta. Baju-baju pemberian mama biasanya tipe-tipe yang menurut saya terlalu cantik dan anggun untu saya. Saya malah tidak pede kalau dipakai selain lebaran. Mau dipakai kuliah, kuk cantik sekali kayak mau ke kondangan orang nikah. Mau dipakai ke acara kawinan, lah kuk saingan sama si pengantin ^.^. Ya sudah, bajunya disimpan lagi buat lebaran tahun depan dan depannya lagi.

Oya. Lebaran tahun kali ini bakal jadi rekor sendiri buat saya. You know what, mukena punya saya saat ini umurnya sudah hampir empat tahun :). Saya beli waktu masih semester satu. Dan satu-satunya yang saya punya. Selama ini saya benar-benar menahan diri untuk tidak membeli mukena baru selama yang satu ini masih bagus dan enak dipakai.

baju lama asal bersih dan rapi oke juga dipakai saat lebaran ^o^

Mudik; feels like home everywhere
Makanan, Baju dan mitos ketiga menurut saya mudik. Mudik, betapa hebatnya kata ini buat orang rantau macam saya. Sampai sekarang saya masih berpikir, lebaran lebih khidmat dan nikmat jika dirayakan bersama keluarga di rumah.

Kala-kala, jika sedang sendirian di kos, saya membayangkan sahur, buka puasa, dan lebaran bersama bapa, mama, dan adik di rumah sana. Tual-Maluku.

Namun semuanya buyar kalau sudah berkumpul dengan saudara dan teman saya yang di Malang atau di Banyumas. Kebahagiaan datang dan kerinduan kepada orangtua menguap begitu saja. Saya menyadari satu hal; saya akan mudik setiap lebaran, pulang ke rumah. Dan rumah itu adalah tempat di mana kamu merasa diterima dengan sukacita, dan kamu berbahagia didalamnya. Lebaran tahun 2010 saya merayakannya di Banyumas, 2011 di Tual, dan insyaallah 2012 di Malang. Aih, banyak juga yah rumah saya… 
home to you, mudik to you >-<

Teruslah berjuang...
Ramadan seperti sekolah, selama berpuasa banyak yang harus kita pelajari dan siapkan untuk sebelas bulan sesudahnya. Apa-apa yang kita tempa selama Ramadan, mestinya bisa terus dijaga dan dirawat agar semakin berkembang di bulan-bulan selanjutnya. Bulan syawal, iedul fitri, bukanlah hari kemenangan. Bukan hari bebas dari belenggu puasa. Justru inilah pintu menuju tahap selanjutnya; suatu pembuktian, jawara manakah yang bisa tetap istikomah.  



novi mengucapkan: selamat menjalankan ibadah puasa dan mohon maaf lahir dan batin :)




____________________
trims ukhti Dhiba Ainisa Umarghanies untuk gambar-gambarnya yang menawan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...