Wednesday, 28 November 2012

perihal kenangan


Tahukah kau, di mana orang mati sekarang?
Kenangan

Lalu di mana waktu kita yang telah berlalu?
Kenangan

Akan ke mana waktu kita sekarang?
Kenangan

Dan, waktu yang akan datang pun
Kemudian hari bakal jadi
kenangan

Tapi kenangan yang mana dan bagaimana?
Tak tahulah...
Kita terjebak, di entah kenangan siapa


Tuesday, 27 November 2012

ganjil vs genap


Ganjil.
Bukan perasaanku.
Tapi situasi sekarang.
Dulu kita genap.
Lalu tanpamu...

Iya, dulu empat.
Genap. Sekarang tiga.
Bukankah itu angka ganjil…

Jadi,
Kadangkadang, untuk menggenapkan
Aku memintamu berkunjung,
Ke dunia di mana kita bisa tak lagi ganjil
Kenangan… 




Wednesday, 14 November 2012

Menziarahi perempuan


Perempuan, inilah aku -anakmu perempuan
Berjalan jauh menyusuri gundukan tanah basah kuburan baru
Membaui hadirmu di antara makam berkijing dan tidak
Berusaha menemukan namamu pada nisan lamat-lamat

Sungguh perjalanan panjang
Menziarahi guna berlutut di depan belulangmu
Sembari menaburkan kembang dan meletakkan sebuket mawar- persis di bawah namamu

Terberkatilah kau perempuan,
Untuk memberikan apel kepada lelakimu; telah kau bukakan pikirannya
Untuk keberanianmu telanjang; upaya mendapatkan kunci menuju bumi
Bumi tempat kau dan lelakimu memadu kasih
Beranak pinak
Bumi tempatmu menemukan arti

Terberkatilah kau perempuan,
Pada luruh darahmu kehidupan bermula; lalu kau dinistakan karenanya
Dari rahimmulah manusia -anak-anakmu
Dan dari dada ranummu pula manusia menyusu kehidupan
Hisap habis menyisakan puting besar sarat jejak gigitan kemarahan

Kau perempuan terbuang
Anak-anakmu, bibir mencium pipi,
Tapi tangan yang memeluk punggungmu berbelati
Menusukmu sebagai ganti kehidupan yang kauberikan
Demi iri atas alam yang tak sempat mereka cicipi
Demi dunia tempatmu terusir dan menyingkir
Demi alam yang dinantikan
            Firdausi, bukan Bumi

Aku berdoa untukmu perempuan
Diakhir pertemuan
Sebelum melafal kata terukir di nisan 
H  A  W  A

Pada rahimmu aku berhutang kehidupan

Malang, 12 Agustus 2012





Wednesday, 7 November 2012

I'm Ok, Himmah :)


Suatu hari, setelah sekian lama, saya memutuskan untuk ke perpustakaan pusat kampus. Nyaris satu semester ini saya tidak pernah berkunjung ke perpus lagi. Di antara kami, saya dan perpus, seolah sudah tidak ada yang dapat dipertahankan (heh?). Tidak ada alasan bagi saya untuk mengunjunginya.

Ya, memang sudah mulai menyicil skrips(h)i(t), tapi tidak ngoyo, lagipula koleksi referensi milik perpus fakultas dan SAC lumayan lengkap. Saya juga lebih suka cari buku di Pasar Buku Wilis yang murah meriah, atau ke Togamas yang diskonnya gila-gilaan. 

Tapi hari itu saya memang harus ke perpus pusat. Saya perlu membaca banyak referensi. Tulisan untuk si ino harus segera diselesaikan.

Untuk bisa masuk perpus dan bebas meminjam buku, saya diwajibkan memperpanjang masa aktif KTM saya dan membayar Rp= 5.000 sebagai ganti biaya administrasi. KTM di kampus saya berlaku hanya sampai 8 semester perkuliahan, lebih dari itu harus memperpanjang.

Pencarian buku pun dimulai di lantai 3 perpustakaan. Berawal dengan mengitari satu demi satu rak-rak yang berjejer di sebelah utara. Karena buku yang saya cari bertema agama, saya yakin sekali pasti nyelip di antara rak sebelah sini. Mulai timur sampai barat, depan belakang, akirnya ketemu juga di rak kedua paling barat. Syiah-Sunni, ada diantara daftar yang tertera di rak.

Mata dan tangan saya mulai menyisir buku-buku. Dari atas kebawah, bawah ke atas lagi.  Nihil. Saya lantas berpaling ke rak sebelahnya, rak paling ujung. Mungkin petugasnya salah taruh.

Mulai lagi, dari kanan ke kiri. Atas-bawah, jungkir-balik. Perasaan sedikit putus asa bikin saya jadi lemas dan lapar. Setelah beberapa saat, akhirnya saya menemukan dua buku. Tuh, kan, apa saya bilang. Buku-buku Syiah-Sunni dipindah ke rak ini. Ada di pojok paling bawah. Buku-buku-nya tidak banyak. Dari lima buku yang saya butuhkan, hanya ada dua, sisanya mungkin lagi dipinjam.

Saya santai sejenak. Sudah tidak kuat rasanya berdiri, apalagi harus memiringkan kepala biar bisa baca judul buku di rak. Sembari selonjoran dan bersandar ke rak, saya membuka halaman-halaman buku. Membaca. Peduli amat dengan pengunjung lain. Lapar saya sudah naik sampai ke ubun-ubun.

Saya merasa perempuan di sebelahku menatap saya. Lama sekali. Sampai akhirnya saya balas menatapnya. "Navis?" sapa perempuan tadi keheranan, teman-teman di kampus memanggil saya Navis. Ia pindah posisi, ikutan duduk di depan saya. Saya cengengesan saja, sambil menatap wajahnya, saya coba ingat-ingat siapa namanya. Yang saya ingat pasti dia teman saya di PKPBA waktu semester satu-dua dulu. "Himmah…," akhirnya saya bisa nyebut nama dia.

Himmah yang di belakang itu, serius bgt blajar PKPBA


Ia mulai menyanyai saya. Kami sudah lama tidak bertemu. Dari tatapannya, saya merasa dikasihani. Mungkin tampang saya seperti orang depresi. "Kamu nyari buku buat apa? Masih ada kuliah? Atau buat Skripsi?" saya hanya menggeleng. Saya jelaskan kalau saya sedang tidak mencari buku untuk urusan kuliah. "Skripsi kamu belum selesai, yah? Teman-teman kita yang belum lulus siapa saja?" Ia terus menanyai saya. Menyinggung-nyinggung skripsi. Saya kasih tahu lagi, saya sudah proposal, dan skripsinya masih saya simpan dulu di loker, belum saya otak-atik lagi. Teman-teman kami jaman PKPBA dulu juga ada yang belum lulus, terutama anak sastra inggris, yang sejurusan dengan saya.

Teman saya ini belum juga berhenti menatap saya. Masih dengan tatapan aduh-vis-kamu-kok-kurus-kaya-orang-mikir-skripsi-yang-gak-selesaiselesai. Saya melengkungkan senyum lebar, dan berhenti menunjukkan raut orang kelaparan. Ekspresi wajahnya sedikit berubah.

Kami mulai bercerita yang asik-asik. Saya masih dengan posisi selonjoran, himmah di depan saya. Lorong antar dua rak ini jadi milik kami berdua. Himmah lulus semester 7, bulan mei lalu. Sekarang sedang melanjutkan S2 di pasca-sarjana di Batu. Sesekali terdengar, "Ayo, semangat. Selesaikan skripsimu, vis. " Ia terus-terusan menyemangati saya.

Beberapa saat kemudian saya memutuskan untuk keluar lebih dulu. Saya berlalu. Cacing dalam perut kegirangan. Tahu ajah kalo mau dikasih makan. Ketika hendak menuruni tangga, Himmah memanggil saya, tangannya mengacungkan buku yang tadi saya tinggalkan. Saya menggeleng, "Gak jadi. " sambil menunjukkan dua buku yang sudah saya pilih. Ia mengangguk, "Semangat ya!"

Saya tersenyum. Trims, sudah perhatian sama saya :)
Malang, 5 November 2012
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...