Monday, 9 December 2013

percayalah...



ketika kau mengajariku berjalan, 
apa yang sedang kau pikirkan?

ketika kau mengajariku berlari,
apa yang ada dalam pikiranku?

yang kutempuh sekarang,
sekadar berjalan, menjalani takdirku.

yang kulakukan sekarang,
hanya berlari, mengejar nasibku.

berjalan, bukan untuk pergi darimu.
berlari, bukan untuk menjauhimu.

percayalah...




*pict from here

Monday, 4 November 2013

feeling lost



tidak merasa
tidak berpikir
tidak mencinta

tidak merasa
tidak berpikir
tidak mencinta

Wednesday, 16 October 2013

memilih pasangan...



memilih pasangan itu seperti membeli celana (pakaian) dalam; 
tidak boleh dicoba, tapi harus yakin pas....




_______
pict from visual

Saturday, 31 August 2013

tayando maule..


setelah sekian tahun, saya bisa dengan puas menikmati kampung halaman. beginilah kondisinya. penduduk yang dulu dikenal sebagai petani kelapa-kopra dan nelayan, sekarang sudah banyak beralih profesi sebagai pembudidaya rumput laut. foto di atas ini, penampakan rumput laut yang sedang dijemur. harga jualnya lumayan, 10/kg.



Tayando, itu kampung saya. tepatnya tayando yamru. ia pulau kecil yang bisa ditempuh dari tual dengan perahu motor atau kapal feri. sekitar 4 jam perjalanan. penduduknya menempati sepanjang pesisir pantai. sedang bagian daratan dan hutan di baliknya difungsikan untuk berkebun. 



saya bahagia bertemu dengan sanak famili di kampung. semua orang baik dan ramah. lebih-lebih, setiap kali melihat saya, mereka teringat almarhum bapa saya. ia saudara mereka yang paling ramah. 




mama saya juga merasa senang selama seminggu di kampung. kalau soal biaya hidup, makan terutama, di sini lebih murah memang. paman saya, sembari merawat rumput laut, bisa memancing atau menjala ikan untuk dibawa pulang. jika tidak sempat, kami bisa beli sendiri. harganya juga jauh lebih murah dibanding di kota. 10 ribu, sudah dapat 15-20 ekor ikan palala. 



sehari-hari, saya menghabiskan waktu berkeliling kampung. mengikuti sepanjang garis pantai. ditemani sepupu-sepupu saya yang masih kecil. kadang-kadang berdua saja dengan mama saya. duduk diam di belakang rumah bibi saya. memandang laut, menunggu matahari tenggelam. menunggu waktu berbuka tiba. 



yang unik selama di kampung, toa dari masjid selalu mengumandangkan surat ar-rahman setiap kali masuk waktu salat. mungkin cuma satu kaset itu yang ada di masjid. "fabiayialairabbikumaatukadziban..." dengan nikmat serta rizki yang melimpah, daratan yang subur, laut dengan aneka ragam kehidupan di dalamnya. maka, nikmat tuhan manakah lagi yang kau ingkari? ia semacam pengingat, bagi penduduk kampung untuk senantiasa mensyukuri nikmat tuhan yang melimpah, dengan meramaikan masjid-Nya...


mari, kembangkan layarmu ke tayando.. ke maluku..




 






Friday, 23 August 2013

perjalanan ke timur


langit dan laut, setiap hari



Perjalanan pulang kali ini saya anggap perjalanan wisata. Dengan KM Tidar saya berlayar ke Tual. Kapal ini milik PT. Pelni. Ia murah dan merakyat. Cukup Rp500 ribu, saya sudah bisa dapat tiket ekonomi tujuan Tual. Penumpang senantiasa padat. Kalau tidak cepat, kadang-kadang tidak dapat tempat tidur yang sudah disediakan. Banyak yang akhirnya bersyukur bisa tidur di depan ruang informasi, sekitar mushala, bahkan di tangga-tangga dek. Bagi penumpang yang menginginkan perjalanannya lebih aman, nymana dan sedikit mewah, bisa membeli tiket kelas 3, 2, 1 atau VIP.   
port of makassar

KM Tidar bertolak dari Tanjung Perak, Surabaya, melewati Makassar, Bau-bau, Ambon, Banda Naira, hingga akhirnya tiba di pelabuhan Yos Sudarso-Tual. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Ia akan singgah di masing0masing  pelabuhan sekitar 2-3 jam lamanya. Tergantung jumlah muatan dan penumang tiap pelabuhan. Semakin banyak, semakin lama.  
masih di pelabuhan makassar



Itulah yang saya tunggu~tunggu selama perjalanan. Saya akan menyempatkan diri berjalan~jalan sebentar sekitar pelabuhan. Pertama~tama dicari, tentu saja rumah makan. Pedagang kaki lima pun jadi. Selama di laut, saya benar~benar tidak pernah menyentuh jatah makanan yang disediakan kapal --tahu lah macam apa makanan yang dimasak untuk sekian ribu orang. Paling hanya buah dan sedikit makanan kafetaria untuk mengganjal perut.   

lama-lama jadi suka foto laut-langit...

Di Makassar, bisa menikmati kuliner khas seperti Coto Makassar yang terkenal itu. Kalau saya paling ngiler saat tiba di Bau~bau. Sangkola alias suami, dibuat dari olahan ketela singkong, bentuknya kayak gunung. Enak dimakan selagi hangat, sebagai pengganti nasi. Jangan lupa pesan ikan bakar yah ;) 

 
meninggalkan bau-bau yang mendung

Semakin ke timur, wisata kuliner ikannya semakin beragam. Kebetulan ketika sampai Ambon, sudah banyak rumah makan yang tutup. Biasanya warung-warung ini selalu sedia ikan bakar.
 
Terakhir, sebelum masuk Tual, ada satu pulau lagi yang disinggahi kapal. Pulau Banda Naira. Di sini, bukan perut saja yang bisa dipuasin. Kalau kamu termasuk pencinta sejarah, Banda tempatnya. Keluar pelabuhan langsung disambut museum dan masjid untuk mengenang Bung Hatta dan Bung Syahrir. Keduanya dulu pernah diasingkan di pulau Banda. Semakin masuk, semakin banyak tempat yang ditemui, salah seperti rumah bekas pengasingan Hatta-Syahrir, rumah budaya dan beberapa bangunan kuno yang masih dilestarikan. Puncaknya, benteng Belgica yang bisa ditempuh dengan ojek, becak, atau jalan kaki kalau kuat :)

 
meninggalkan gunung banda

Laut banda juga indah, ia terkenal dengan lautnya yang dalam. Mau nyelam atau renang sepertinya juga bisa, tapi belum pernah lihat penumpang nekat berenang @.@


Jangan heran yah liat foto-fotomya... Namanya juga di kapal. Kalau di dalam dek, kanan-kiri muka-belakang yang tampak depan mata adalah manusia dan beraneka barang bawaan. Keluar dek, sepanjang mata memandang hanya laut menghampar dan langit memayung. Jadi, jangan sampai kamu ketiduran saat kapal sedang berlabuh…. 

meninggalkan banda, menuju tual..

Sunday, 18 August 2013

babak baru...

Hari ini, bukan saja minggu ceria, melainkan juga minggu spesial.

Beberapa dari teman dan kerabat saya melangsungkan momen spesial mereka di hari ini, 18 Agustus... Dan saya turut berbahagia serta merayakan momen spesial ini.

Teman saya, Cindi, si empunya blog secangkirkopipanas, akan melangsungkan pernikahn. Begitu juga dengan teman smp saya, Siska yang tinggal di Madiun.

Berhubung saya sudah di Tual, saya tidak bisa menghadiri pernikahan mereka. Tapi doa dan restu saya selalu menyertai :)

Sementara di rumah, kami sekeluarga beserta keluarga besar mama saya akan melaksanakan hajatan antar ongkos, semacam saserahan menjelang pernikahan Om Fakih minggu depan...

selamat berlayar menuju hidup baru...

*gambar dari undangannya cindi

Saturday, 10 August 2013

#basi 1

Paling makan ati dah kalo berurusan sama birokrasi dan administrasi...

Beberapa bulan lalu saya menyambangi bagian administrasi pusat kampus, ijazah dan KTP dibawa serta. Saya hendak mengurus profil biodata saya yang keliru dan tidak sesuai antara identitas satu dengan yang lain. Misal tanggal lahir saya di transkrip nilai sementara tertulis; 30 Desember 1899. Serasa baru kelur dari lembaran buku sejarah :*

Alamat rumah saya juga keliru. Harusnya 5E ditulis S5. Saya tak habis pikir. Tulisan saya di form yang jelek atau pengentri data yang salah baca.

Sepeleh, tapi menurut saya penting. Siapa tahu suatu hari kelak akan berguna menyambung silaturahmi antara saya dengan teman-teman atau dengan fakultas dan universitas sendiri.

Kepada petugasnya saya bilang kalau mau memperbaiki data-data saya. Saya tunjukkan transkrip nilai saya yang keliru itu dan bilang kalau data profil saya di SIAKAD juga ada yang salah, sehingga mempengaruhi surat keterangan beasiswa juga. 'Jadi ini mau diganti semua, mbak?' Tanya si mas, kelihatannya masih muda, magang.

Mungkin dia tanya untuk memastikan saja. Tapi kuping saya geli dengarnya. Dalam hati saya mau jawab #1 'Gak, mas. Saya cuma kasih tahu aja.' #2 'Gak, mas. Ke sini mo ngecengin sampean ae og.'

Sebelum pulang saya bertanya lagi memastikan apa data bisa langsung diperbaiki, otomatis terperbarui dan terintegrasi. Saya benar-benar berharap kelak tidak ada kekeliruan lagi jika ada data pribadi saya yang dipublikasikan universitas.

Nyatanya, saya sedikit kecewa demi melihat SK yudisium, alamat rumahnya juga salah. Bukan apa-apa, tapi saya merasa sudah mengkonfirmasi, jadi semestinya kesalahan sepeleh seperti ini tidak perlu terulang...

Karena di buku wisuda juga salah, saya penasaran profil saya yang di siakad. Ternyata benar dugaan saya. Tidak ada perubahan.

Giliran ijazah dan transkrip sudah jadi, masih ada ajah insiden nilai c+ itu... Alhasil, saya harus mengurus lagi ke administrasi pusat. Saya menemui petugas berbeda kali ini. Dia meminta saya menunggu, paling tidak seminggu kemudian.

Menunggu, menurut teori relativitas, seminggu serasa setahun!

Saya kembali seminggu setelahnya, and guess what?? Petugasnya bilang belum jadi.

Katanya sieh transkrip saya masih di fakultas, masih menunggu tanda tangan pembantu dekan. Sepertinya selama hampir sebulan dibikin ribet sama alasan begini, saya berinisiatif mengurus sendiri. Saya langsung tancap gas ke fakultas. Alhamdulillah.... Transkrip saya ternyata sudah ditandatangani, sudah lama nongkrong di laci Pak Aidar~ bagian administrasi fakultas. Beliau memberikannya langsung kepada saya.

"Sudah saya beresin semuanya" ujar saya sambil maksa senyum manis ke petugas administrasi. Saya serahkan map transkrip dari Pak Aidar ke dia. Sembari senyum-ketawa kagok gak jelas dia tanya. "Kok, fakultas gak telpon saya?"

Halo, mas. Kalo kata lagu dangdut; fakultasku memang dekat, 5 langkah dari kantormu. Tak perlu kirim surat, sms juga gak usah...

*pict from visualize

Wednesday, 7 August 2013

Ied mubarok

Bertepatan dengan lebaran yang tinggal hitungan jam: saya mohon maaf, terutama karena sudah sebulan tidak menyuguhkan postingan sama sekali. Atau sekadar berkunjung ke laman teman~teman.

Dan, tidak perlu repot~repoot minta maaf balik. Sebab kalian sudah saya maafkan :D

Happy ied mubarok :)

Wednesday, 3 July 2013

Senja di Ngadas


               Meski matahari perlahan
lenyap
               Kenangan tak mungkin
lindap

Monday, 1 July 2013

(bukan) pelangi

             Lalala, lalala, alangkah indahnya...

            Merah~kuning~hijau di langit yang biru

Thursday, 27 June 2013

Jembatan

Tidak mudah menyatukan aku dan kamu, bahkan dengan siapapun itu. Ada jarak antara keduanya yang perlu direkatkan. Untuk itulah kita membangun jembatan.

Bagi sebagian orang, proses membangun jembatan ini bakal mudah. Berbeda dengan aku, proses itu butuh energi ekstra. Susah payah.

Sebab itu, aku selalu berusaha merawat jembatan kita, agar ia tetap kokoh.

Jika sekali saja kau mencoba memutusnya -bahkan memikirkannya saja, tak perlu repot. Aku akan menyulut api hingga menjadikannya debu yang tak berarti dalam pusaran udara.

*pict from visualize

Thursday, 20 June 2013

pernah mimpi




Aku pernah bermimpi dalam tidurku. Aku memimpikan diriku. Aku yang sudah menikah. Punya empat anak lucu, menggemaskan, dan, tentu saja, nakal. Ada juga seorang lelaki di sana, mimpiku. Kami memanggilnya 'Papa.'

Kami menempati rumah yang tdak mungil, tidak juga terlalu besar. Meskipun begitu, halaman rumah kami cukup luas. Halaman depan penuh bebungaan; favoritku kembang kantor. Latar belakang untuk sepetak tegalan. Ada pohon mangga dan rambutan.

Setiap pagi aku akan melepas suami dan anak sulungku yang hendak bekerja dan sekolah. Mengantar mereka sampai jalan depan rumah. Aku akan mengajak dan mengajari si bungsu yang masih dalam gendongan, melambaikan tangan saat mobil melaju. Dua anak kembarku akan berlari mengikuti mobil, berlari-lari kecil di belakangnya sampai mobil menghilang di ujung jalan.

Dulu, aku pernah bekerja di sebuah penerbitan. Namun setelah malaikat kecilku berjumlah lebih dari dua, aku memilih resign. Sekarang, aku hanya sesekali menerima pekerjaan freelance sebagai penerjemah. Inilah yang kulakukan sekarang. Mengurusi keluarga kecilku; memasakkan makanan favorit anak-anak dan Papa mereka; mnyetrika baju, menyiram tanaman; dan masih seabrek pekerjaan rumah lagi…

Bahagia. Di usia muda, punya suami, anak, dan rumah. Meski tak punya pekerjaan tetap, penghasilan masih tetap ada.

Hanya saja, seperti yang aku bilang sedari awal. Semua kebahagiaan itu hanya mimpi. Mimpi yang hanya singgah sebentar dalam tidurku. Saat aku terjaga, aku sadari satu hal. Mimpi itu, ia bukan manifestasi keinginan terdalamku. Ia ada dalam mimpiku, tapi bukan hal yang aku impikan. Bukan mimpiku. Ia mimpi makhluk-makhluk di luarku yang menuntut aku menjadi seperti itu. 

Mimpi itu, bisa saja ia milik ibu dan ayahku yang sudah tak sabar menggendong cucu. Mungkin juga mimpi pacar aku, yang sudah tidak sabar mengkavling aku sebagai Nyonya X. Menyandangkan namanya kepadaku.

Barangkali ia mimpi sauda-saudaraku. Mereka kelak akan kasihan, lebih-lebih malu, sekiranya dalam sejarah keluarga besar ada seseorang yang disebut-sebut sebagai perawan tua...


*pict from visualize



Thursday, 13 June 2013

C++

Kalau dipikir-pikir, satu nilai C+ saja tidak begitu berpengaruh banyak mengubah IPK saya. Itu nilai juga tidak jelek-jelek amat.

Tapi saya pernah punya obsesi konyol; gak mau koleksi nilai C+ di transkrip nilai. Jadi saya bela-belain buat mengulang tiap mata kuliah yang nilainya kurang memuaskan.

Tadi saat ambil ijazah transkrip nilai, saya sedikit kecewa melihat masih ada satu C+ yang tidak saya inginkan nongol. Saya ingat betul, nilai terakhir setelah mengulang bukan itu.

Malas juga sih kalo harus komplain dan mengurus ulang transkrip saya. Orang itu cuma satu. IPK masih tetap cumlaude. Cuma, kalau tidak saya urus, rasanya sia-sia saja usaha saya sewaktu mengulang dulu...

*pict from visualizeus

Wednesday, 5 June 2013

perempuan sendu...




Suaranya dalam, seperti datang dari ruang hati paling dalam, dari masa yang telah sangat purba. Tapi aku tak dapat membaca air mukanya. Tak mengerti apa yang sedang ingin dikabarkannya.

Ia terus bercerita. Aku mendengarkan.

Masa mudanya adalah kuncup bunga yang mekar mewangi. Ia, bukan gadis tercantik, bukan yang molek. Bukan yang biasa dibayangkan lelaki dalam fetis. Tapi kesalehan, intelektual, dan nasab bangsawan ada padanya. Ia anggun yang bersahaja. Tidak perlu kerling menggoda agar laki-laki berbondong-bondong datang melamarnya. Ia tak peduli itu.

Ia mencintai anak-anak. Ia menggandrungi berdiri di depan kelas, mengajar. Dunia ia mengabdikan hidup, dunia yang memberinya kebebasan di depan. Dunia yang membebaskannya dari dapur dan kasur.

Banyak pria datang mengetuk pintu hatinya. Tapi tak ada satu pun yang ia terima, sebab ia tidak berhak untuk itu. Ia tidak cerita, adakah di antara mereka, telah ia berikan hatinya.

Hidup, baginya, adalah ketaatan, kepatuhan. Lelaki yang berbagi kasur dengannya; yang memberikannya anak, bukan lelaki pilihannya. Lelaki itu, yang dipilihkan ayah dan ibunya.    

Laras air mata menyusuri gelembur pipi. Tangannya gemulai mengurut lengan  yang pernah menamparnya.

Tatapan lelaki menembus matanya. Menciptakan jeda hening. Mungkin ada penyesalan dan permohonan maaf yang tersampaikan. Suatu permohonan untuk membebaskannya dari perasaan bersalah. Agar ia tidak perlu berlama-lama sekarat di atas kasur rumah sakit dengan tubuh lumpuh, tak bersuara. Agar jalannya untuk kembali kepada Sang Pemilik tidak terhalang.

Apakah kamu mengerti apa itu cinta? Pernahkah kamu merasakannya?  Aku penasaran jawabnya, perempuan.

Ia mungkin saja tidak bahagia bersama lelaki yang tercatat dalam selembar kertas sebagai suaminya. Lelaki pemarah. Gajinya tidak seberapa untuk menghidupi perempuan ini. Lelaki yang menendangnya saat ia khusuk salat. Lelaki yang meniduri perempuan lain, sementara perempuan ini  menidurkan anak-anak di kamar belakang.  
Lelaki yang… semestinya ditinggalkan si perempuan.

Tapi perempuan ini tak mengenal kata lari. Ia hanya perempuan -perempuan beriman nan patuh. Hidup, baginya adalah ketaatan. Taat pada suami sebagaimana dianjurkan agamanya. Menjaga keutuhan keluarga, sebagaimana masyarakat menginginkannya.

Rumah tangga adalah pengorbanan dan pengabdian. Ia menahan diri, ia mengikhlaskan diri, seraya berharap; semoga segala yang telah dilewatinya adalah wujud bakti dan amal. Semoga berpahala baginya.

*pict from here


Sunday, 26 May 2013

Sudirman Cup


Lihat si Owi dan Butet nihh. Sama-sama machonya. Haha... kalo kata Ipeh, Owi tambah cakep dengan jenggotnya.

Saya sedang berbahagia sekaligus sedih…

Berbahagia karena akhirnya bisa nonton pertandingan bulutangkis setelah melewatkan beberapa perlombaan terakhir. Bukan nonton langsung di stadion sih, tapi lihat di tipi ajah. Itu juga cuma lihat satu partai pertama pertandingan Quartal Final Sudirman Cup. Indonesia melawan China; Owi-Liliyana vs Xu/Ma.

Indonesia ketemu China sebelum Final itu celaka 13! Saingan berat. Sudirman Cup pertama kali digelar di Jakarta tahun 1989, Indonesia keluar sebagai pemenangnya kala itu. Setelah itu Indonesia belum pernah memenangkan kembali tropi pada ajang yang diselenggarakan dua tahun sekali. Paling Banter jadi runner-up, sementara Chinasudah 8 kali jadi juara.

Waktu QF Sudirman Cup berlangsung, saya sedang mengantar mama saya ke pelabuhan, dan numpang nonton di salah satu warung. Gak enak kan nonton lama-lama padahal hanya pesan segelas es susu coklat… Demi melihat Owi dan Butet (Liliyana) menang, rasanya sudah lebih dari cukup.
Pertandingan sisanya, Ipeh, Mas Cecep dan Puput menontonkannya untuk saya. Mereka berbaik hati melaporkan setiap perekembangan lewat SMS, WA atau Facebook.
Kalau sedihnya, lebih karena Sudirman tidak bisa pulang ke Indonesia maning. Indonesia lagi-lagi kalah dari tim China, 3-2.

Kalau foto yang di bawahnya ini, aku dapat dari link yang dibagi mas Cecep... padahal ini media resmi loh, bisa-bisanya yah nulis Indonesia "INDONS"...


Saturday, 18 May 2013

menyesali


Aku ingin kamu tahu, karena kucinta kau, bahwa kau selalu menghadirkan sendu dan pilu atas ingatan dan kenangan tentangmu. Bukan kesedihan karena perpisahan. Melainkan hati yang mungkin menyesali diri -- pernah jatuh hati kepadamu.

Apa yang kaurasakan jika kautahu ini...?

Monday, 13 May 2013

i'm into you

sebenarnya hari ini, 11 Mei, sama saja bagi saya. tidak ada yang istimewa di hari wisuda. tapi bagi keluarga saya ini sangat istimewa. nilai skripsi, sudah tahu. ipk, cumlaude. saya sudah tahu jauh sebelum wisuda. yah saya anggap ini semacam resepsi saja.

justru, hari ini sedikit sendu. saya selalu mengingat bapa saya yang telah tiada. kelulusan ini, saya hadiahkan kepada bapa. saya tahu, dialah orang yang sangat berbahagia.

dia yang selalu menyiapkan sekolah saya. yang menyiapkan seragam saya selalu bersih, tersetrika rapi. yang selalu membersihkan sepatu saya. melebihkan uang jajan saya kalau sedang sekolah. yang paling rajin membelikan buku-buku pelajaran saya. dia, yang selalu berseri-seri saat menerima raport saya.

bapa, ufweknon li rek o, bap.

Friday, 3 May 2013

Buruh


balaikota Malang, 1 Mei 2012


Sekarang, saya mungkin bukan buruh. Buruh dalam arti sebenarnya (berarti ada arti yang gak sebenarnya). Tapi suatu ketika ada kemungkinan jadi buruh. Kecuali, saya berani memutuskan untuk bekerja yang bukan buruh. Melahirkan komoditas yang bisa menghasilkan uang. Dan dengan uang itu saya bisa memenuhi kebutuhan saya akan komoditas lain.

Mahasiswa semacam saya, sejak masuk sekolah dasar sampai bangku kuliah sudah digadang-gadang oleh orang tua dan kerabat agar kelak jadi buruh. "Nak, kalo sudah besar jadilah arsitek atau dokter." Anak-anak kecil, bahkan sudah diproyeksi kelak jadi apa. Kalo ditanya cita-cita-nya pasti pada bilang jadi polisi, pilot atau dokter dan guru. Jarang-jarang gitu yang mau jadi seniman dan penulis. 

Saya bilang disiapkan jadi buruh. Lah, apalagi coba namanya. Dalam dunia kerja sekarang, kan, hanya ada dua posisi pemilik modal-pemilik tenaga, majikan-buruh, atasan-bawahan.

Mungkin bukan sebagai buruh dalam artian harfiah. Misal tukang nglinting di pabrik rokok atau buruh bathil. Tapi bisa saja jadi buruh bagian HRD, supervisor, manajer, atau guru. Apa pun lah, yang masih di bawah bos posisinya.


Tidak ada maksud menyinggung. Jangan tersinggung kalau yang manajer disamakan dengan buruh kasaran. Sebab toh nyatanya memang begitu. Cuma beda kelas saja. Pengkelasan yang kadang bikin sesama pekerja merasa begitu jauh satu sama lain. Asing. Kalo katanya eyang Marx alienasi.

Bukan itu saja, buruh-buruh ini terasing dari diri mereka sendiri. Buruh manajer, menyunggi kepentingan majikan untuk terus meningkatkan pendapatan dan mengawasi buruh-buruh di bawahnya. Buruh di bagian produksi, menyunggi kepentingan majikan untuk terus bekerja dan bekerja. Bekerja untuk menambah pundi uang-majikan. (Susah juga sih yah jadi buruh kasaran ini. Kerja susah, dibayar dikit. Kalo mogok kerja, perut mau dikasih makan apa?)

Saya heran, kenapa tiap Hari Buruh yang demo mesti pekerja-pekerja bawahan dan mahasiswa saja yang merayakan (aksi). Menurut saya, saat Hari Buruh (1 Mei) kemarin, manajer-manajer, semua pekerja di mana saja mestinya turut berpartisipasi  (dalam aksi) juga dong . Meski mungkin tidak turut merayakan Hari Buruh, itung-itung tenggang rasa sesama buruh gitu… :D



Sunday, 28 April 2013

the cutest cat

meooow.....

this happy cat is 5 years old

i am a sleepy cat too. call me Buba!



Saturday, 20 April 2013

Teman…




Dengannya,
Kamu tak perlu menahan kentut hanya untuk menjaga harga dirimu.
Kamu tak pernah malu memesan porsi tambahan, karena takut gemuk.
Kamu tak malu menghabiskan makan, cuma buat jaga imej.

Dengannya,
Kamu pede bernyanyi, merusak pendengarannya dengan suara cemprengmu.
Kamu merasakan senyap yang damai, tanpa kata, sebab dia setia di sampingmu tanpa banyak tanya.
Kamu leluasa berbagi gemuruh ide-ide yang riuh di kepalamu, tanpa takut dibilang liar.

Dengannya,
Kamu merasa nyaman bergandeng tangan.
Kadang cukup gandengan jentik atau telunjuk saja, kamu sudah aman.

 ___________________
pict from here



 

Friday, 12 April 2013

percaya





Lo masih solat, kan?
Lo masih percaya tuhan kan?

Untuk pertanyaan pertama, saya masih bisa meraba-raba maksudnya; Magrib-magrib gini sms-an ama gue mulu, emang lu gak solat? Tapi kalo disusul dengan pertanyaan kedua itu, nunggu sejam ato dua jam kemudian baru saya balas.

Pertanyaannya sih gampang yah. Mungkin juga yang nanya sekadar iseng-iseng dan keceplosan saja. Tinggal bilang masih atau tidak aja, saya mikirnya lama banget. Penuh pertimbangan. Ekspresi muka saya mungkin macam anak gadis ditanya; masih pake bra (beha) gak?

Kalau kamu sendiri yang mengajukan pertanyaan "lo masih percaya tuhan, kan?" ke teman kamu, sebenarnya jawaban apa yang kamu ingin dengar. Atas maksud apa kamu bertanya seperti itu?

Apatah kamu akan berucap," alhamdulillah, puji tuhan," ketika dia jawab masih percaya. Lantas, akankah kamu menjauhi teman kamu jika dia bilang tidak. Mungkin kamu justru akan semakin mendekatinya, untuk menyerunya kembali di jalan yang benar…

Bagaimana caranya kita mengukur kepercayaan? Bilang "iya", apatah itu memang berarti saya percaya. Dan bilang "tidak",  apa itu mewakili ketidakpercayaan.

Teman saya yang nanya ini, mungkin akan sangat girang jika saya bilang, "ya iya, masihlah, boi.  percayaaa banget." Sayangnya saya tidak tega mengggembirakan dirinya  dengan kebohongan saya.

Saya memang percaya.
Selalu percaya.
Tapi, selalunya itu tidak selalu pake banget. Kadarnya berbeda tiap detik, menit, hari. Waktu. Kadang ia begitu kuat, kadang lindap. Yang saya yakini, kepercayaan itu selalu ada di antara reruang hati. Dan saya (akan) selalu berusaha menjaganya agar baranya terus menyala menerangi hidup saya.  







Thursday, 4 April 2013

merasai hidup


Di tepi ketinggian ini, ada nama yang bukan takut. Menjalar dari jari-jari,
berhenti di lutut. Lalu debur-debur kecil menyapu dadamu, sebelum kau 
rasakan satu hentakan di ulu hati.

Kau menghalau kupu-kupu, beterbangan dalam perutmu, setiap kali kau 
lihat ujung kakimu. Serta yang jauh di bawahnya.

Kau, mungkin ngeri. Kakimu bergeser sesenti ke belakang.
Bukan mundur, tapi bersiap untuk maju. Mendaki lagi.

Ketinggian tak menggentarkanmu. Semakin tinggi, 
semakin kau tentang dan tantang.

Di ketinggian ini, pada nama yang bukan takut; kau membebaskan diri dari 
kotak yang mengerangkengmu dalam kenyamanan, untuk merasai hidup.


pict from visualize





Saturday, 30 March 2013

rasakanlah...




Kebahagian, tiap kali kau mengingatku
Suka cita, saat kau memikirkanku

Rasakanlah…

luapan cinta, ketika kau merindukanku


___________________

pict from walcoo.com

Saturday, 23 March 2013

foto ijazah "berjilbab"


Saya dan Winda, pada suatu siang, sedang sibuk menempelkan foto di atas lembar formulir pendaftaran skripsi. Sehari sebelumnya, kami berdua heboh narsis-narsisan di sekretariat si Ino. Kami berdua terlalu malu dan sangat tidak pede kalau harus ke studio foto, lalu merelakan diri didempul sana sini, pakai kebaya, hanya untuk di tempel di lembaran bernama ijazah.
Di sebelah kami mahasiswa lain juga sibuk mengisi berkas pendaftaran. Berkali-kali ia melirik foto kami. Kepada temannya ia bilang “Fotomu pake kerudung, gak? Aku gak loh. Males beli materai 6 ribu.”
Demi mendengar itu, saya tidak tahan untuk nyahut, “6 ribu doang juga.”
Aturan di kampus, untuk foto ijazah, mahasiswi harus berbusana nasional/kartinian. Bagi yang berkerudung, wajib melampirkan surat pernyataan bermaterai yang isinya “klaim” bertanggung jawab penuh atas segala kemungkinan buruk karena foto berkerudung pada ijazah.
Saya tidak tahu, bagian administrasi kampus saya dapat ide dari mana untuk bikin peraturan macam ini. Selama SMP-SMPA, ijazah saya berkerudung, dan tidak harus menyertakan surat pernyataan segala.
Sering sih, saya dengar sekolah melarang siswanya berkerudung saat foto ijazah. Dan setahu saya, kepala sekolah yang melarang, justru akan ditegur diknas. Bukankah tiap orang berhak melaksanakan perintah agamanya, termasuk berkerudung meski cuma di ijazah.  
Saya coba melacak ke belakang. Kepingan-kepingan prejudis terhadap perempuan berjilbab menyerbu, berdenging, menuding-nunding tepat depan hidung. 
           “gak punya kuping yah? Kok ditutupin.” 
          “cacat”
          “susah cari kerjaan loh...”
          “dapat jodoh susah...”
          Dan apalagi?
Mungkin ini yang melatarbelakangi adanya aturan foto berjilbab. Ketakutan dan kehawatiran berlebihan, serta prasangka yang sama sekali tidak berdasar. Dulu, instansi pemerintahan bahkan pernah mengeluarkan peraturan mengenai seragam sekolah, siswa tidak boleh berkerudung. Tapi itu dulu sekali. Entah sudah dihapus apa belum.
Kalau di zaman yang menjunjung kebebasan seperti sekarang ini, saya rasa sudah tidak berlaku lagi. Muslimah indonesia dibebaskan untuk berjilbab. Lapangan kerja juga dibuka luas untuk siapa saja, termasuk yang berjilbab. Bagi perusahaan atau instansi yang tidak memperbolehkan atau melakukan diskriminasi terhadap perempuan berjilbab justru kena hukum.
Jadi kenapa universitas masih mempertahankan peraturan seperti ini?  
Universitas saya termasuk PTAIN terkemuka, setiap mahasiswinya diwajibkan berjilbab. Setahun pertama digembleng di pondok dengan materi keislaman serta diwajibkan berpakaian laiknya muslimah yang solehah. Akhirnya malah paradoks, karena tidak bisa menjamin mahasiswanya untuk tetap berjilbab di foto ijazah. Universitas gagal menjamin kepada khalayak di luar universitas, bahwa berjilbab bukan berarti tidak normal dan tidak berprestasi. 
Bagi saya, ini bukan masalah materai Rp6000, apalagi cuma selembar foto. Ini masalah prinsip, ketika kamu memilih berkerudung. Soal foto ijazah ini, hanya ujian kecil saja...   




__________________________
akhirnya ujian (sidang) skripsi saya selesai sudah, tinggal menunggu hasil ^.^
*pict from here



Sunday, 17 March 2013

formalitas akademik


Kuliah, semakin ke sini, semakin banyak formalitas-formalitasnya. Awal bulan lalu, saya mengikuti ujian komprehensif, kompre. Yang diujikan semua mata kuliah yang sudah diikuti sejak semeter awal. Ujian dibagi dua, ujian keagamaan untuk semua mata kuliah agama, dan ujian kesusastraan.

Jauh sebelum ujian dimulai, saya sudah bisa menebak-nebak nilai yang akan saya dapat. Saya bukan peramal loh, hanya saja saya sering baca nilai pengumuman ujian kompre dan ujian skripsi di fakultas. Nilai kisaran A, B+ dan B. Jarang ada yang dapat C-E.

Sederhana saja analisis saya. Kalau kamu menilai dirimu kamu cukup pintar, kamu berhak dapat nilai A. Apalagi kalau dosen penguji juga mengenal kamu dengan baik, dalam artian dia tahu seberapa kapabilitas kamu selama perkuliahan.

Sampai tiba hari-H ujian, saya tidak mempersiapkan diri sama sekali. Saking banyak mata kuliah yang akan diujikan, saya malah bingung mau belajar yang mana dulu dan mulai dari mana.

Pasrah deh pokoknya… sedari awal, saya yakin banget gak bakal dapat nilai C. Jadi, mau belajar atau tidak, bisa jawab dengan baik atau tidak, sepertinya juga gak ngaruh. Karena menurut saya cuma formalitas, gak papa lah yah sedikit mengentengkan.

Anggapan saya semakin diperkuat saat ujian kesusastraan tiba. Kebetulan, dari lima peserta ujian, 3 orang mahasiswa kebahasaan, sementara yang kesusastraan ada saya dan 1 orang lagi. Kami berlima dijadwalkan untuk ujian di ruang dan penguji yang sama. Kedua pengujinya dosen kebahasaan. Materi yang diujikan, semuanya tentang bahasa. Mulai dari phonology, morphology, syntax, yang dulu pernah saya pelajari dalam mata kuliah dasar. Lalu ada lagi beberapa mata kuliah yang asing bagi saya, semacam psycholinguistic, discourse analysis, pragmatic, dan lain-lain.

Saya hanya melongo melihat soal ujian yang dibagikan Mr. Right . Gampang sih sebenarnya; 1)berikan penjelasan singkat dari istilah-istilah di bawah ini. 2) jelaskan satu teori kebahasaan yang sudah kamu pelajari, siapa tokohnya, dan bagai mana teorinya.

Buat anak bahasa yang kayak begini sambil merem juga bisa, lah yang sastra kaya saya ini? Cuma bisa nebak-nebak aja. Udah kaya lelakon OVJ lagi belajar bahassa inggris. Psycholinguistic, psyicho itu psikologi, linguistik itu bahasa.

Waktu teman-teman protes malah dijawab; kalo kamu maunya soal susastra, ya, ke Bu M saja. Susul orangnya di Australi sana.

Diengggg.

Ih, segitunya, pak. Si Wafiq malah (me)ngakak-ngakak(i) nasib saya, " belum-belum, udah didiskriminasi begini," katanya. Untungnya beliau berbaik hati, soal kedua, buat anak sastra dipersilakan menejelaskan teori sastra. 

Saya maklum, dosen-dosen sastra, musim perkuliahan ini, banyak yang sedang tidak bisa mengajar lantaran sedang meneruskan kuliah. Tapi kan tidak semuanya. Masih ada beberapa dosen, meskipun dosen muda yang bisa diperbantukan sebagai penguji. Atau, paling gak, dari jurusan menyediakan soal khusus, dan tidak diserahkan semua ke penguji. Benar-benar menegaskan posisi kompre sebagai agenda formalitas.

Nila A dan B+ yang tertera dalam surat tanda lulus ujian kompre tidak punya makna apa-apa, bagi saya, kecuali sebagai prasyarat ujian skripsi.

Haish, pengen cepat-cepat lulus! 
dan terbebas dari belenggu formalitas akademik...





Saturday, 9 March 2013

catatan, wiji thukul


Apa yang kamu pikirikan sesaat setelah membaca sebuah puisi? Mungkin di antara kita ada yang dibikin bingung; ini puisi maksudnya apa sih,, gelap banget. Mungkin juga ada yang senyum-senyum mencerna romantis di dalamnya, atau berdecak kagum akan keindahan rangkaian kata-katanya. Ada juga yang habis baca puisi, semangatnya makin membara.

Dari semua yang pernah saya baca, ada satu yang bikin saya terenyuh, sampai menangis. Meski berkali-kali dibaca, selalu menyisakan sendu. Catatan, sebuah puisi dari Wiji Thukul. Mungkin gara-gara sebelumnya membaca tulisan Menunggu Bima Pulang, yang pernah dipublikasikan di Majalah Inovasi, dan juga riwayat singkat Wiji Thukul yang ditulis Linda Christanti.

Catatan, ia seolah mewakili suara mereka -yang diambil paksa dari rumah dan tak pernah kembali….

Catatan
Wiji Thukul


Gerimis menderas tengah malam ini
Dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-sendi
Dalam sunyi hati menggigit lagi
Ingat
Saat pergi
Cuma pelukan
Dan pipi kiri kananmu
Kucium
Tak sempat mencium anak-anak
Khawatir
Membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak)
Bertanya apa mereka saat terjaga
Aku tak asa (seminggu sesudah itu
Sebulan sesudah itu
Dan ternyata lebih panjang dari yang kalian harapkan!)
Dada mengepal perasaan
Waktu itu
Cuma berbisik beberapa patah kata
Di depan pintu
Kau lepas aku
Meski matamu tak terima
Karena waktu sempit
Aku harus gesit
Genap 1/2 tahun aku pergi
Aku masih bisa merasakan
Bergegasnya pukulan jantung
Dan langkahku
Karena penguasa fasis
Yang gelap mata
Aku pasti pulang
Mungkin tengah malam ini
Mungkin subuh hari
Pasti
Dan mungkin
Tapi jangan
Kau tunggu
Aku pasti pulang dan pasti pergi lagi
Karena hak telah dikoyak-koyak
Tidak di kampus
Tidak di pabrik
Tidak di pengadilan
Bahkan rumah pun
Mereka masuki
Muka kita sudah diinjak!
Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
Dan aku jarang pulang
Katakan
Ayahmu tak ingin jadi pahlawan
Tapi dipaksa menjadi penjahat
Oleh penguasa
Yang sewenang-wenang
Kalau mereka bertanya
"Apa yang dicari?"
jawab dan katakan
dia pergi untuk merampok haknya
yang dirampas dan dicuri



"dia pergi untuk merampok haknya, yang dirampas dan dicuri." Kata-kata ini sangat berkesan bagi saya. Hak kita, ia tidak jatuh ke pangkuat kita begitu saja. Untuk mendapat hak kita, ia bahkan harus direbut paksa, dirampok…. Wiji Thukul, menyadari benar itu. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...