Sunday, 31 December 2017

reading challange 2017

Sebab sudah bertekad ingin baca lebih banyak buku di tahun 2017, untuk itulah sticky post ini sengaja dibuat, yah, paling tidak, menampung foto buku-buku yang sudah saya baca. Pengen sih bikin review juga, meski mungkin gak semua yang saya baca bakal diulas... 


daftar belanja bacaan nona novi tahun 2017

#1: Si Janggut Mengencingi Herucakra 
Kumpulan Cerita karya A.S. Laksana 
review bisa dilihat di sini

Monday, 23 January 2017

kebaikan yang memuakkan


randomly taken from google 



seperti menemukan kembali 
mainan yang lama hilang 
kau memperlakukanku dengan 
sangat, sangat baik

bagai seorang ibu kecil terhadap bonekanya 
dimandikan, dipilihkan baju
didandani, dan blah... blah... blah... 

siapa pun, tak menolak diperlakukan baik
siapa pun, akan tetapi, menolak dibonekakan

kebaikanmu memuakkan
bagaimanapun, terima kasih. 



Monday, 9 January 2017

#kumcer: Si Janggut Mengencingi Herucakra

foto pribadi, buku pepustakaan :)


Ini buku pertama yang saya khatamkan di 2017. Suka sekali dengan ke-12 cerita di dalamnya. Ke kantor saya bawa, nongkrong sama teman sampai ke kondangan pun saya masih sempat nyuri-nyuri baca. 

Karena ini kumcer, bebas dong mau baca yang mana dulu dan mana yang belakangan. Si Janggut justru paling terakhir. 

Yang pertama saya baca, Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya. Judulnya ajah udah baper kan, gaes. Ceritanya tentang istri yang sangat mencintai suaminya, bahkan ketika dia meminta cerai pun, dia masih mencintai suaminya. Hanya saja, dia merasa suaminya tak lagi mencintainya. 

Benarkah sang suami tak mencintainya? Ketika dia berkata, lebih baik rumah beserta perabotannya dijual, bila perlu beserta kenangannya, tentu kita tahu bagaimana perasaan sang suami.  
"Kalau bisa sekalian dengan seluruh kenangan di dalamnya. Kau tidak membutuhkannya lagi, aku juga tidak membutuhkannya. "
Kisah berikut yang menarik perhatian saya adalah Rashida Chairani, perempuan korban pemerkosaan yang dikorbankan hukum. Tiga pemuda dari keluarga tepandang memperkosanya, ia dikeluarkan dari sekolah, diusir dari kos dan tak mendapatkan keadilan di kantor polisi. Siapa peduli dengan gadis muda dari keluarga miskin dengan perut buncit.

Lelaki ketiga di Malam Hari, saya menikmatinya. Pesannya hampir sama dengan Perpisahan Baik-Baik (PBB)dan Tentang Maulana dan Upaya Memperindah Purnama (TM). Bahwa cinta sejati adalah merelakan orang yang kita cintai berbahagia dengan apa yang dapat membuatnya bahagia. Cinta tak harus memiliki. 

Meski berdiri sebagai cerita yang terpisah, cerita PBB dan TM sepertinya masih nyambung. PBB bercerita tentang perpisahan Ratri dan Robi, sementara alasan Ratri melepaskan Robi bisa dibaca di TM. 

Eh, kesannya kok ini kumcer kayak roman picisan, bikin baper mulu. Tidak juga, sih, saya saja yang agak lebai. Biarpun isinya tentang cinta dengan segala jenisnya, A. S. Laksana tetap menuliskannya dengan kritis. Ia sangat piawai meramu kegiatan sehari-hari dan kisah orang sederhana seperti Maulana, Seto, Santoso, Trinil dan Nita jadi menarik dan memukau.  





Friday, 6 January 2017

2017

selamat tahu baru


Mengawali tahun baru, selain ucapan selamat, rupanya resolusi juga jadi trending. Beberapa kawan menanyakan adakah resolusi besar yang akan saya buat tahun ini? 

Saya bukan tipe orang yang detail. Memikirkan, menuliskan, dan melakukan hal-hal apa yang perlu dicapai dan digapai. Bukan bearti saya tidak punya mimpi, cita-cita dan keinginan begini-begitu. 

Dua atau tiga tahun lalu, saya kerap lewat depan TK H*ng Tu*h. Melihat bangunan dan mainan warna-warni, dalam hati, saya mau jadi guru. Asalkan guru TK. Tak lama, tahu-tahu saya sudah mengajar di situ.

Semasa kuliah, saya kerap memimpikan kerja yang nyaman seperti di Perpustakaan. Bekerja sembari memuaskan hasrat membaca sepuasnya dengan gratis. Sekarang, pekerjaan itu datang sendiri, dan saya harus melepas aktivitas di TK. 

Wah, mungkin ini yang namanya di mana ada kemauan di situ ada jalan. Apa yang saya inginkan, impikan, mewujud satu per satu. 

Lalu, apa yang harus saya impikan tahun ini? Kali ajah, mantranya masih berlaku. 

Beberapa hari lalu ketika sahabat saya, si mommy wanna be, Winda, bertanya apa saya ada resolusi 2017 ini, apa sudah ingin menikah? Saya hanya mengamininya 33x. 

Lalu Ellik juga bilang, "Kamu ke Malang gak cuma mau main doang, kan? ada tujuan khusus apa gitu..." Sepertinya dia sedang membayangkan rencana saya berlibur di Malang nanti akan dipenuhi dengan agenda nyebar undangan pernikahan ke teman-teman. 

Lihatlah, teman-temanmu begitu perhatian dan berharap. Jadi, apakah sudah waktunya saya juga ikut membayangkan undangan pernikahan, malam pacar, dan duduk pelaminan? 

Tapi saya juga pengen nuntut ilmu lagi. Sudah lama bermain-main. Sepertinya isi kepala dan hati perlu di charge lagi. Lagipula emak sudah punya menantu dan cucu. Jadi sementara ini bebas dari segala macam tuntutan.

Duh kah, galaunya udah kayak iklan f*ir and lovely. Nikah dulu atau s2 dulu? 

Entah lah... 

Yang pasti saya berharap bisa menamatkan banyak buku dan drama korea, lebih rajin ngeblog dan punya kaos Tan Malaka. Sudah. Itu dulu... lain-lainnya menyusul.  


Sekali lagi, selamat tahun baru! 



Monday, 26 December 2016

tentang lupa

aku gak bermaksud melupakanmu  



Sampai saat ini saya masih merasa tidak enak hati, pada beberapa kenalan, kolega atau pun kerabat. Pasalnya sifat penyakit lupa saya makin hari kok makin buruk. 

Bagaimana perasaanmu kalau dengan begitu antusias menyapa/memanggil seseorang di jalan, tapi yang dipanggil hanya menatap bingung, dahi berkerut dan terpaksa nyengir??? 

Kalau lupa bawa pena, dompet, payung, ato hape saat bepergian, mungkin masih wajar. Pun lupa beli belanjaan emak meski udah diingatkan berkali-kali. Lupa nama-nama tokoh novel/komik/film juga masih taraf wajar. 

Tarohlah itu bukan sesuatu yang begitu penting untuk diingat-ingat. Dan lagi, mereka gak bakal bilang "Masa gak ingat aku?" "Kok bisa sih lupa sama teman sendiri?" Pokoknya gak bakal dikira sombonglah sama itu-itu benda.   

Beda lagi masalahnya kalau berhadapan dengan manusia yang punya hati dan perasaan. Hal pertama yang paling menohok perasaan saya terjadi sekitar setahun lalu. Saat reuni aliyah. 

Saya ingat semua teman-teman yang hadir. Bahkan yang bertahun-tahun tidak bertemu, seperti Aan, Vahrul, dan beberapa yang kuliah di Mesir. Dari jauhpun saya yakin, saya masih mengenali mereka. Ada satu yang tidak saya kenali, meski berkali-kali saya bongkar file-file dalam memori, tetap tidak ditemukan. 

Tak tahan, saya bertanya ke dia "Kamu angkatannya siapa yah?" gerrr. Sontak teman-teman sekelas geger. Aan di sebelah saya bertanya "Kamu nanya beneran apa guyon?" 

Duh, gak cuma malu-maluin, tapi udah bikin malu orang juga. Hanya gegera dia pakai kacamata, saya tidak bisa mengenalinya. 

Tak lama setelah itu, kejadian-kejadian yang hampir sama terulang. Saya bertemu teman sekamarnya Yessi saat di asrama, saya ingat mukanya, tapi tidak ingat namanya. Saya ingat betul Senyuman dan suara khas Radin saat memanggil "Ibu Guru," tapi saya sulit memanggil balik, karena tidak ingat namanya. 

Saya tidak mengenali Bibi Linda, hanya karenanya perutnyi buncit sedang hamil. Saya tidak dapat mengenali Bapaknya adit, hanya karena dia tidak pakai seragam anggota Brimob. Saya tidak mengenali mamanya Raffa hanya karena dia pakai behel. Dan masih banyak lagi... 

Apakah itu semacam penyakit? atau kebiasaan yang dipelihara? should i see a doctor? 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...