Wednesday, 7 February 2018

asin(g)



"Kamu berbeda." Tuduhmu.

Hanya karena tak kau jumpai ombak di kepalaku.

Kemarilah, cecap bibirku yang garam. Agar kau ingat rupa pantai tempatmu melabuh sauh.

Bagaimana rasanya?

"Asin(g)!"


Malang, 26 Januari 2018 
















Monday, 5 February 2018

Di tempat yang kau sebut wisata lumpur


Di tempat yang kau sebut wisata lumpur
Kehidupan hakiki pernah mengada

Di sini,
Manusia pernah beranak
Ternak pernah berkembang biak, dan
Tanaman pernah bertumbuh

Di tempat yang kau sebut lumpur wisata
Masa lalu hakiki pernah mengada

Lihatlah,
Di bawah pohon mana, dulu, Susi dan Joni kencan kali pertama
Di jalan mana Tanti dan Nita menuntun sepeda menjemput emak pulang dari sawah
Di halaman mana anak—anak riuh bermain gundu dan dadu

Lihatlah,
Tak lagi kukenali
Jalan setapak ke sawah Pak Turno
Tak lagi kukenali
Di warung mana para buruh mengaso
Tak lagi kukenali
Rumahku sendiri
Tempat ibu bapak memadu kasih
Tempat kami, anak-anaknya, dilahirkan
Tempat kami berbagi kehangatan lewat obrolan, gurauan dan pertengkaran-pertengkaran kecil

Di tempat yang kau sebut wisata lumpur
Kenangan hakiki pernah mengada

Namun kau lihat sendiri
Kenangan ini,
Kemana ia mencari jalan pulang
Kenangan ini,
Kenangan tak berumah

Di tempat yang kau sebut wisata lumpur
Kerakusan hakiki pernah mengada

Ingatlah ini,
Tangan-tangan kuasa menjamah
Dengan bor mereka memperkosa kami
Merebut kehidupan
Merenggut kenangan
Dikubur dalam genangan
L U M P U R    L A P I N D O

Di tempat yang kau sebut wisata lumpur





Malang, 23 Januari 2018 


















Pict by dekisugik

Saturday, 3 February 2018

Gerimis kasih


Gerimi
Kasih bigamis
Air mata genang
Kisah kita tinggal kenang

Perempuan mana yang senang
Akad bukan layang-layang
Hati teriris
Miris

Ironis
Habis mani
Kulepas kau, bang
Larung di air pasang

Bebaskan aku jangan gamang
Bahagialah tanpa alang
Renjana kalis
Kikis 


Bau-bau, 20 Januari 2018 
















_______________
Patidusa lagi.
Pict by monika-es from devianart


Thursday, 1 February 2018

Zarah kita satu





Hai, anakku
Anak yang tak pernah susah payah kurejan
Zarah, nak, ia jua mempertemukan kita
Engkau dengan ceriamu dikirim Tuhan
Luapi gurun hatiku penuh kebahagiaan

Memang tiada meroyan demi kau
Untukmu, ketahuilah, doadoa kurapal
Zarah, nak, ia jua mempertemukan kita
Nasab memang berlainan, namun
Ibu ingin kau ingat; ibu selalu mengibukkan diri padamu 

Monday, 29 January 2018

desah resah




fajar temukanku telah terkulai
di atas seprai
yang masai
abai
tubuh
penuh peluh
juga erang keluh
dan hati yang rusuh
Kemana lenyap gebu gairah
yang memeluk desah
jadi kesah
resah
pergi
kekasih lari
tanpa kecup dahi
tinggallah risau koyak hati 



Tual, 17 Desember 2017 













__________________________
Patidusa pertama. Udah sesuai kaidah belum? 😬

Pict by @ionabondlopez PicsArt 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...