Sunday, 31 December 2017

reading challange 2017

Sebab sudah bertekad ingin baca lebih banyak buku di tahun 2017, untuk itulah sticky post ini sengaja dibuat, yah, paling tidak, menampung foto buku-buku yang sudah saya baca. Pengen sih bikin review juga, meski mungkin gak semua yang saya baca bakal diulas... 


daftar belanja bacaan nona novi tahun 2017

#1: Si Janggut Mengencingi Herucakra 
Kumpulan Cerita karya A.S. Laksana 
review bisa dilihat di sini



 #2: Jatuh Cinta Diam-Diam 
Masih kumpulan cerita, karya Dwitasari 



#3: Penjual Bunga Bersyal Merah 
Sekali lagi, kumpulan cerita juga, karya Yetti A.K.A
Baru kali ini baca karya Yetti dan langsung jatuh cinta dengan imajinasi dan tema-tema ceritanya. Agak suram-suram gitu sih. 



#4: Cerita Cinta Enrico
Novel karya Ayu Utami. Narasinya mirip-mirip Pengakuan Eks Parasit Lajang, semacam biografi seksualitas Riko, yaitu tokoh Rik dalam Pengakuan Eks Parasit Lajang.
eniwei foto ini diambil dari sini



#5: Milea, Suara dari Dilan 
Novel favorit lanjutan dari Dilan #1 dan Dilan #2 karya Pidi Baiq. 
Gak sekocak dan seromantis Dilan, Suara dari Milea. Yang ini lebih sedih dan frustasi. Sama lah kayak perasaannya Dilan :(



#6: Rahasia Hati 
Novel karya Natsume Soseki ini sudah saya baca sejak tahun 2016, dan baru tamat pada April 2017. Lumayan lama yah. 

Wednesday, 5 July 2017

sariawan, santriwan & rohaniwan



foto dari sini


"Sariawan... Sariawati... ?!?!"

Ceritanya, saat ramadan kemaren, sayup-sayup, di dalam kamar mandi sekolah, terdengar sapaan yang ganjil dari kelas pesantren kilat di ruang sebelah.

Lepas dari kamar mandi, saya simak lagi baik-baik. Masa iya toh, santri-santri peskil disapa sariawan/wati.

"Santriawan... Santriawati.... ?!?!" Lagi-lagi, dari pengeras suara, terdengar mentor menyapa santri-santri.

Oh, ternyata santriawan/wati.... Tapi kok masih tetap ganjil di kuping yah. Diucapkan juga kurang pas di lidah.

Lebih ganjil lagi sebab yang ngucapin guru-guru madrasah. Nyapa santri ajah keliru (Eit, guru juga manusia kali.)

Besoknya, saat mendampingi seorang mentor peskil, lagi-lagi santri-santri disapa dengan panggilan santriawan/wati, yang dikuping saya jadinya sariawan/wati.

Dari pada kuping keri terus-terusan, akhirnya saya menegur belio dengan halus. Saya bilang ke belio bahwa bukan santriawan/awati, melainkan santriwan/wati.

Kata santriwan/wati berasal dari kata santri. Arti kata santri menurut KBBI Online bisa dilihat di bawah ini.

santri/san·tri/ n 1 orang yang mendalami agama Islam; 2 orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh;
Jadi,
kata santriwan berasal dari kata santri + imbuhan -wan, untuk menunjukkan Jenis kelamin laki-laki.
kata santriwati berasal dari kata santri + imbuhan -wati, untuk menunjukkan jenis kelamin perempuan.

Bukan,
Santri + imbuhan -awan = Santriawan
Santri + imbuhan -awati = Santriawati

Sambil tulis ini, sebenarnya saya juga agak mikir gini, kok, orang yang ahli dalam hal kerohanian, sebutannya rohaniawan, bukan rohaniwan???

Apa jangan-jangan kata yang berakhiran huruf "i" harus diimbuhi -awan/awati, bukan -wan/wati. Jadi Ucapan yang benar adalah memang rohaniawan/wati dan santriawan/santriawati.

Untuk membuktikan mana yang benar saya googling sana-sini, dan akhirnya nemu juga. Bahwa yang benar memang santriwan/wati. Sementara itu menurut wikipedia, orang Indonesia selama ini banyak yang salah eja rohaniwan jadi rohaniawan. Setelah saya cek di KBBI Online pun, tidak ada lema rohaniawan, yang ada adalah rohaniwan.

Nah seperti itu..., teman. Setelah ini, biasakan mengeja santriawan/wati dan rohaniwan/wati. Keliru dan khilafnya jangan dipelihara :)




_________________________
NB: tulisan ini tidak bermaksud nyinyir atau menggurui. Ini hanya catatan seseorang yang gemar belajar bahasa.










  

Saturday, 1 July 2017

Selamat Hari Raya Idul Fitri,

randomly taken from google


halo, teman 
apa kabar?

Selamat Hari Raya Idul Fitri, 

Mohon maaf yah, saya jarang nyapa teman-teman di blog. lagi gak dapat mood buat nulis. tapi untungnya nafsu bacanya masih gedeee.

eh, ternyata ada bagusnya bikin reading challange. jadi termotivasi buat banyak baca, meskipun sampai saat ini baru 9 buku yang dibaca, haha. bagi saya yang pemalas ini, itu udah bagus banget. suka merinding kalo blogwalking ke blogger-blogger buku. bacaannya banyak banget, mana tebal-tebal lagi bukunya.

Stok buku saya tinggal Mual karya Sartre dan Arsitek Hujan-nya Afrizal Malna. Ada juga kumpulan puisi Wiji Thukul, Nyanyian Akar Rumput yang menunggu dibaca. 

Teman-teman punya rekomendasi buku menarik? 





 

Friday, 12 May 2017

berisik

gambar dari sini


Hari-hari makin sibuk dan berisik. Lebih-lebih media massa dan linimasa. Penuh dengan berita dan drama yang itu-itu juga. Tentang aksi 1234567890, persidangan Ahok, karangan bunga, orkestra ini itu, dan hal-hal lain yang terkait. 

Media massa memusatkan perhatian pada satu orang, Ahok, seolah inilah hal penting dan laten saat ini. Seakan-akan persentasi toleransi antar umat beragama atau antar etnis di Indonesia sedang merosot hingga ke titik terendah. Seolah-olah NKRI hendak tercerai berai hanya karena Ahok dipenjara. 

Apa yang ada di media massa, yang terjadi di Jakarta sana, kemudian merembet hingga ke pelosok daerah. Orang-orang ikut berisik. Media massa menyihir mereka hingga lupa bahwa di sekitar mereka masih banyak hal yang lebih penting dan laten. 

Misal, pacar tak pernah telpon, sedangkan mantan mengirim pesan bertubi-tubi. Susu dan popok anak sudah habis, sedang uang makin tipis. Anak-anak SD dipungut sekian ratus ribu untuk biaya makan selama ujian nasional. Seorang siswa SD dilarang masuk kelas lantaran tidak membawa makanan yang sudah dipesan wali kelasnya saat ujian sekolah. Seorang gadis sudah empat bulan kabur bersama kekasih tomboinya. Juga curhatan guru-guru honorer Kementerian Agama Kota Tual yang sudah lima bulan belum terima honor. 

Kasus Kendeng, Noval Baswedan, Pembubaran diskusi buku, pembubaran pameran seni, Munir, Wiji Thukul, aktivis pers mahasiswa ditangkap, berita tentang mereka sudah tiarap dan tenggelam. Tuntutan buruh, demonstrasi mahasiswa, jeritan orang sakit dan tangisan anak-anak kelaparan hanya angin lalu. 

Kenapa media massa lebih memilih memborbardir kita dengan berita tentang Ahok daripada berita yang lain? 

Kenapa?

kenapa?









Friday, 5 May 2017

Broken

Wajah-wajah Tual masa kini


"Bu Guru, panggil beta Broken saja." Seorang siswa sma kelas XII memperkenalkan dirinya. Kala itu saya baru lulus kuliah dan mengajar di salah satu SMA di Kabupaten Maluku Tenggara

Dalam hati saya pengen ngakak sekaligus ngedumel. Sebagai guru Bahasa Inggris, saya tau betul arti kata broken. Rusak. 

Saya pengen sekali menceramahi dia. Dasar anak ini, apa dia kira dia punya nama kaco-kaco itu bagus. huh... Tidak tahu dia kalau nama aslinya lebih keren dan mahal. Sebab dia muslim, untuk mengesahkan namanya ia perlu diaqiqah, dengan memotong kambing yang sudah cukup umur, sehat dan tidak cacat. 

Namun, saya memilih menahan diri. "Kok, Broken?"
"Iya, Bu. Biar keren to."
"Kamu tahu arti broken?"
"Ada artinya, Bu?"
"Coba, deh, buka kamus."
"Rusak," jawab seseorang.
"Wi... masa rusak tuh?" ujarnya tak percaya.
"Ibu, tapi di Ambon sana, semua orang punya nama Broken.," timpal yang lain. "Biasa satu panggil satu deng Broken."

Maksudnya, anak-anak muda di Ambon kerap menyapa sesama temannya dengan istilah broken. Seperti menyapa seseorang dengan "Boy", "Saudara", atau "Kawan". 

Sampai beberapa lamanya, hal tersebut masih mengusik pikiran saya. Saya sempat curiga, mungkinkah sapaan Broken tersebut sengaja dipakai untuk menunjukkan karakter dan pribadi orang ambon (baca: Maluku umumnya) sebagaimana prejudice umum tentang orang Ambon. Hitam, sangar dan keras. Bikin par orang tau skali... 

Hatta, suatu ketika saya bertemu dengan Onco Nisma dan Onco Gaya di Tk Hang Tuah Tual. Kala itu saya sudah tak lagi mengajar di SMA. Karena mereka anak bongso (bungsu), disematkanlah kata Onco (bentuk imut, manis, dan sayang dari kata bongso) di depan namanya. Onco Nis, Onco Gaya. Namum, dalam keseharian baik teman-teman guru maupun keduanya, kerap menyebut atau menyapa mereka dengan nama "Coken" saja. Terdengar lebih segar, gaul dan keren. 

Di sinilah, samar-samar saya mulai mengerti makna Broken yang sesungguhnya. Di Tual, dan mungkin juga di Ambon, orang-orang kerap meambahkan akhiran '-ken' pada nama mereka agar berkesan segar, gaul dan keren. Nama kaco-kaco istilahnya.

Misalnya, Nama + ken
Onco jadi Coken
Ali jadi Liken
Aco jadi Coken
Usna jadi Naken
Mohamad jadi Moken

Akhirnya, terpecahkan sudah makna "Broken" yang sesungguhnya. Broken memang diambil dari Bahasa Inggris, tapi artinya bukan rusak. Ia diambil dari kata bro(ther) + ken. Jadilah broken. Panggilan akrab untuk saudara atau teman. 

Pemahaman baru ini sekaligus menyentil kesadaran saya. Betapa saya sudah khilaf dan picik memahami anak-anak ini. Bagaimana bisa saya tidak tau istilah-istilah seperti ini. Bagaimana bisa saya seperti alien di rumah sendiri. 

Ada pepatah bilang, when in Rome, do as the Romans do. Seandainya saya bukan orang Maluku, seharusnya saya memahami anak-anak ini dengan kacama mata budaya setempat. Jadi bagaimana bisa saya orang Maluku, tinggal di Tual, tapi memahami budaya di sini dengan kepala seseorang yang asing. Berjarak.    

Haha. Saya sedang menertawai diri sendiri
    

  

Monday, 10 April 2017

trip to dieng #1


Jauh-jauh hari udah janjian mau jalan-jalan bareng sama Pipit dan Mita, teman semasa aliyah di Solo. Kita sudah beberapa kali agendain main bareng begini sejak kuliah. Saya di Malang, Pipit di Solo, dan Mita di Jogja. Pernah ke Prambanan, Sekatenan di Solo, main ke Noknik di Semarang, dan terakhir ngacir dari Solo ke Jogja setalah acara Reuni Akbar MAPK 2015. Kami tidak bertiga saja, biasanya juga ngajak teman-teman. Kali ini Ichda konfirmasi bisa ikut. 

Tadinya pengen akhir tahun bisa ketemu mereka, nyatanya baru bisa nyuri-nyuri waktu libur di bulan Februari. Saya maunya muncak, gak mau ke pantai. Soalnya kalo di Tual, refreshing-nya ke pantai terus. Beruntung punya teman-teman yang pengertian, pada nurutin ngidamnya ibu hamil  teman yang jauh-jauh dari Tual ke Jawa. 

Thursday, 6 April 2017

lelaki tua dan senja

gambar dari sini


lelaki tua seorang diri
duduk termenung
bersama kail
dan umpan yang dimakan kenangan

lelaki tua seorang diri
mengail rindu
pada masa yang tak kan kembali
kecuali pagi, kecuali senja
yang terus berulang 
tapi tak pernah sama 

lelaki tua seorang diri
temannya adalah kail
temannya adalah rindu
temannya adalah sepi
temannya adalah senja 



Monday, 3 April 2017

dalam hidup,

gambar dari sini


Dalam hidup, segalanya tidaklah selalu mudah. Hidup bisa begitu kerasnya. Ada saat dimana kamu begitu kuat. Lain waktu kamu jadi lemah. Lemah selemah-lemahnya. Hingga tak mengenali diri sendiri. 

Jalan hidup bisa sangat rumit. Semisal labirin. Kamu terjebak dan tersesat. Jalan pulang, kamu tak tahu. Mimpimu, sudah lama kamu lupakan. Ah, bukan lupa tepatnya. Bermimpipun kamu tak tahu caranya. 

Kemana kau menuju ketika terus berjalan? Apa yang kamu kejar ketika terus berlari?

Kamu seperti bukan kamu. Kamu berubah. Apakah hidup begitu keras dan rumit? Ataukah kamu yang lemah dan rapuh?

Monday, 23 January 2017

kebaikan yang memuakkan


randomly taken from google 



seperti menemukan kembali 
mainan yang lama hilang 
kau memperlakukanku dengan 
sangat, sangat baik

bagai seorang ibu kecil terhadap bonekanya 
dimandikan, dipilihkan baju
didandani, dan blah... blah... blah... 

siapa pun, tak menolak diperlakukan baik
siapa pun, akan tetapi, menolak dibonekakan

kebaikanmu memuakkan
bagaimanapun, terima kasih. 



Monday, 9 January 2017

#kumcer: Si Janggut Mengencingi Herucakra

foto pribadi, buku pepustakaan :)


Ini buku pertama yang saya khatamkan di 2017. Suka sekali dengan ke-12 cerita di dalamnya. Ke kantor saya bawa, nongkrong sama teman sampai ke kondangan pun saya masih sempat nyuri-nyuri baca. 

Karena ini kumcer, bebas dong mau baca yang mana dulu dan mana yang belakangan. Si Janggut justru paling terakhir. 

Yang pertama saya baca, Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya. Judulnya ajah udah baper kan, gaes. Ceritanya tentang istri yang sangat mencintai suaminya, bahkan ketika dia meminta cerai pun, dia masih mencintai suaminya. Hanya saja, dia merasa suaminya tak lagi mencintainya. 

Benarkah sang suami tak mencintainya? Ketika dia berkata, lebih baik rumah beserta perabotannya dijual, bila perlu beserta kenangannya, tentu kita tahu bagaimana perasaan sang suami.  
"Kalau bisa sekalian dengan seluruh kenangan di dalamnya. Kau tidak membutuhkannya lagi, aku juga tidak membutuhkannya. "
Kisah berikut yang menarik perhatian saya adalah Rashida Chairani, perempuan korban pemerkosaan yang dikorbankan hukum. Tiga pemuda dari keluarga tepandang memperkosanya, ia dikeluarkan dari sekolah, diusir dari kos dan tak mendapatkan keadilan di kantor polisi. Siapa peduli dengan gadis muda dari keluarga miskin dengan perut buncit.

Lelaki ketiga di Malam Hari, saya menikmatinya. Pesannya hampir sama dengan Perpisahan Baik-Baik (PBB)dan Tentang Maulana dan Upaya Memperindah Purnama (TM). Bahwa cinta sejati adalah merelakan orang yang kita cintai berbahagia dengan apa yang dapat membuatnya bahagia. Cinta tak harus memiliki. 

Meski berdiri sebagai cerita yang terpisah, cerita PBB dan TM sepertinya masih nyambung. PBB bercerita tentang perpisahan Ratri dan Robi, sementara alasan Ratri melepaskan Robi bisa dibaca di TM. 

Eh, kesannya kok ini kumcer kayak roman picisan, bikin baper mulu. Tidak juga, sih, saya saja yang agak lebai. Biarpun isinya tentang cinta dengan segala jenisnya, A. S. Laksana tetap menuliskannya dengan kritis. Ia sangat piawai meramu kegiatan sehari-hari dan kisah orang sederhana seperti Maulana, Seto, Santoso, Trinil dan Nita jadi menarik dan memukau.  





Friday, 6 January 2017

2017

selamat tahu baru


Mengawali tahun baru, selain ucapan selamat, rupanya resolusi juga jadi trending. Beberapa kawan menanyakan adakah resolusi besar yang akan saya buat tahun ini? 

Saya bukan tipe orang yang detail. Memikirkan, menuliskan, dan melakukan hal-hal apa yang perlu dicapai dan digapai. Bukan bearti saya tidak punya mimpi, cita-cita dan keinginan begini-begitu. 

Dua atau tiga tahun lalu, saya kerap lewat depan TK H*ng Tu*h. Melihat bangunan dan mainan warna-warni, dalam hati, saya mau jadi guru. Asalkan guru TK. Tak lama, tahu-tahu saya sudah mengajar di situ.

Semasa kuliah, saya kerap memimpikan kerja yang nyaman seperti di Perpustakaan. Bekerja sembari memuaskan hasrat membaca sepuasnya dengan gratis. Sekarang, pekerjaan itu datang sendiri, dan saya harus melepas aktivitas di TK. 

Wah, mungkin ini yang namanya di mana ada kemauan di situ ada jalan. Apa yang saya inginkan, impikan, mewujud satu per satu. 

Lalu, apa yang harus saya impikan tahun ini? Kali ajah, mantranya masih berlaku. 

Beberapa hari lalu ketika sahabat saya, si mommy wanna be, Winda, bertanya apa saya ada resolusi 2017 ini, apa sudah ingin menikah? Saya hanya mengamininya 33x. 

Lalu Ellik juga bilang, "Kamu ke Malang gak cuma mau main doang, kan? ada tujuan khusus apa gitu..." Sepertinya dia sedang membayangkan rencana saya berlibur di Malang nanti akan dipenuhi dengan agenda nyebar undangan pernikahan ke teman-teman. 

Lihatlah, teman-temanmu begitu perhatian dan berharap. Jadi, apakah sudah waktunya saya juga ikut membayangkan undangan pernikahan, malam pacar, dan duduk pelaminan? 

Tapi saya juga pengen nuntut ilmu lagi. Sudah lama bermain-main. Sepertinya isi kepala dan hati perlu di charge lagi. Lagipula emak sudah punya menantu dan cucu. Jadi sementara ini bebas dari segala macam tuntutan.

Duh kah, galaunya udah kayak iklan f*ir and lovely. Nikah dulu atau s2 dulu? 

Entah lah... 

Yang pasti saya berharap bisa menamatkan banyak buku dan drama korea, lebih rajin ngeblog dan punya kaos Tan Malaka. Sudah. Itu dulu... lain-lainnya menyusul.  


Sekali lagi, selamat tahun baru! 



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...