Monday, 10 April 2017

trip to dieng #1


Jauh-jauh hari udah janjian mau jalan-jalan bareng sama Pipit dan Mita, teman semasa aliyah di Solo. Kita sudah beberapa kali agendain main bareng begini sejak kuliah. Saya di Malang, Pipit di Solo, dan Mita di Jogja. Pernah ke Prambanan, Sekatenan di Solo, main ke Noknik di Semarang, dan terakhir ngacir dari Solo ke Jogja setalah acara Reuni Akbar MAPK 2015. Kami tidak bertiga saja, biasanya juga ngajak teman-teman. Kali ini Ichda konfirmasi bisa ikut. 

Tadinya pengen akhir tahun bisa ketemu mereka, nyatanya baru bisa nyuri-nyuri waktu libur di bulan Februari. Saya maunya muncak, gak mau ke pantai. Soalnya kalo di Tual, refreshing-nya ke pantai terus. Beruntung punya teman-teman yang pengertian, pada nurutin ngidamnya ibu hamil  teman yang jauh-jauh dari Tual ke Jawa. 

Thursday, 6 April 2017

lelaki tua dan senja

gambar dari sini


lelaki tua seorang diri
duduk termenung
bersama kail
dan umpan yang dimakan kenangan

lelaki tua seorang diri
mengail rindu
pada masa yang tak kan kembali
kecuali pagi, kecuali senja
yang terus berulang 
tapi tak pernah sama 

lelaki tua seorang diri
temannya adalah kail
temannya adalah rindu
temannya adalah sepi
temannya adalah senja 



Monday, 3 April 2017

dalam hidup,

gambar dari sini


Dalam hidup, segalanya tidaklah selalu mudah. Hidup bisa begitu kerasnya. Ada saat dimana kamu begitu kuat. Lain waktu kamu jadi lemah. Lemah selemah-lemahnya. Hingga tak mengenali diri sendiri. 

Jalan hidup bisa sangat rumit. Semisal labirin. Kamu terjebak dan tersesat. Jalan pulang, kamu tak tahu. Mimpimu, sudah lama kamu lupakan. Ah, bukan lupa tepatnya. Bermimpipun kamu tak tahu caranya. 

Kemana kau menuju ketika terus berjalan? Apa yang kamu kejar ketika terus berlari?

Kamu seperti bukan kamu. Kamu berubah. Apakah hidup begitu keras dan rumit? Ataukah kamu yang lemah dan rapuh?

Monday, 23 January 2017

kebaikan yang memuakkan


randomly taken from google 



seperti menemukan kembali 
mainan yang lama hilang 
kau memperlakukanku dengan 
sangat, sangat baik

bagai seorang ibu kecil terhadap bonekanya 
dimandikan, dipilihkan baju
didandani, dan blah... blah... blah... 

siapa pun, tak menolak diperlakukan baik
siapa pun, akan tetapi, menolak dibonekakan

kebaikanmu memuakkan
bagaimanapun, terima kasih. 



Monday, 9 January 2017

#kumcer: Si Janggut Mengencingi Herucakra

foto pribadi, buku pepustakaan :)


Ini buku pertama yang saya khatamkan di 2017. Suka sekali dengan ke-12 cerita di dalamnya. Ke kantor saya bawa, nongkrong sama teman sampai ke kondangan pun saya masih sempat nyuri-nyuri baca. 

Karena ini kumcer, bebas dong mau baca yang mana dulu dan mana yang belakangan. Si Janggut justru paling terakhir. 

Yang pertama saya baca, Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya. Judulnya ajah udah baper kan, gaes. Ceritanya tentang istri yang sangat mencintai suaminya, bahkan ketika dia meminta cerai pun, dia masih mencintai suaminya. Hanya saja, dia merasa suaminya tak lagi mencintainya. 

Benarkah sang suami tak mencintainya? Ketika dia berkata, lebih baik rumah beserta perabotannya dijual, bila perlu beserta kenangannya, tentu kita tahu bagaimana perasaan sang suami.  
"Kalau bisa sekalian dengan seluruh kenangan di dalamnya. Kau tidak membutuhkannya lagi, aku juga tidak membutuhkannya. "
Kisah berikut yang menarik perhatian saya adalah Rashida Chairani, perempuan korban pemerkosaan yang dikorbankan hukum. Tiga pemuda dari keluarga tepandang memperkosanya, ia dikeluarkan dari sekolah, diusir dari kos dan tak mendapatkan keadilan di kantor polisi. Siapa peduli dengan gadis muda dari keluarga miskin dengan perut buncit.

Lelaki ketiga di Malam Hari, saya menikmatinya. Pesannya hampir sama dengan Perpisahan Baik-Baik (PBB)dan Tentang Maulana dan Upaya Memperindah Purnama (TM). Bahwa cinta sejati adalah merelakan orang yang kita cintai berbahagia dengan apa yang dapat membuatnya bahagia. Cinta tak harus memiliki. 

Meski berdiri sebagai cerita yang terpisah, cerita PBB dan TM sepertinya masih nyambung. PBB bercerita tentang perpisahan Ratri dan Robi, sementara alasan Ratri melepaskan Robi bisa dibaca di TM. 

Eh, kesannya kok ini kumcer kayak roman picisan, bikin baper mulu. Tidak juga, sih, saya saja yang agak lebai. Biarpun isinya tentang cinta dengan segala jenisnya, A. S. Laksana tetap menuliskannya dengan kritis. Ia sangat piawai meramu kegiatan sehari-hari dan kisah orang sederhana seperti Maulana, Seto, Santoso, Trinil dan Nita jadi menarik dan memukau.  





Friday, 6 January 2017

2017

selamat tahu baru


Mengawali tahun baru, selain ucapan selamat, rupanya resolusi juga jadi trending. Beberapa kawan menanyakan adakah resolusi besar yang akan saya buat tahun ini? 

Saya bukan tipe orang yang detail. Memikirkan, menuliskan, dan melakukan hal-hal apa yang perlu dicapai dan digapai. Bukan bearti saya tidak punya mimpi, cita-cita dan keinginan begini-begitu. 

Dua atau tiga tahun lalu, saya kerap lewat depan TK H*ng Tu*h. Melihat bangunan dan mainan warna-warni, dalam hati, saya mau jadi guru. Asalkan guru TK. Tak lama, tahu-tahu saya sudah mengajar di situ.

Semasa kuliah, saya kerap memimpikan kerja yang nyaman seperti di Perpustakaan. Bekerja sembari memuaskan hasrat membaca sepuasnya dengan gratis. Sekarang, pekerjaan itu datang sendiri, dan saya harus melepas aktivitas di TK. 

Wah, mungkin ini yang namanya di mana ada kemauan di situ ada jalan. Apa yang saya inginkan, impikan, mewujud satu per satu. 

Lalu, apa yang harus saya impikan tahun ini? Kali ajah, mantranya masih berlaku. 

Beberapa hari lalu ketika sahabat saya, si mommy wanna be, Winda, bertanya apa saya ada resolusi 2017 ini, apa sudah ingin menikah? Saya hanya mengamininya 33x. 

Lalu Ellik juga bilang, "Kamu ke Malang gak cuma mau main doang, kan? ada tujuan khusus apa gitu..." Sepertinya dia sedang membayangkan rencana saya berlibur di Malang nanti akan dipenuhi dengan agenda nyebar undangan pernikahan ke teman-teman. 

Lihatlah, teman-temanmu begitu perhatian dan berharap. Jadi, apakah sudah waktunya saya juga ikut membayangkan undangan pernikahan, malam pacar, dan duduk pelaminan? 

Tapi saya juga pengen nuntut ilmu lagi. Sudah lama bermain-main. Sepertinya isi kepala dan hati perlu di charge lagi. Lagipula emak sudah punya menantu dan cucu. Jadi sementara ini bebas dari segala macam tuntutan.

Duh kah, galaunya udah kayak iklan f*ir and lovely. Nikah dulu atau s2 dulu? 

Entah lah... 

Yang pasti saya berharap bisa menamatkan banyak buku dan drama korea, lebih rajin ngeblog dan punya kaos Tan Malaka. Sudah. Itu dulu... lain-lainnya menyusul.  


Sekali lagi, selamat tahun baru! 



Monday, 26 December 2016

tentang lupa

aku gak bermaksud melupakanmu  



Sampai saat ini saya masih merasa tidak enak hati, pada beberapa kenalan, kolega atau pun kerabat. Pasalnya sifat penyakit lupa saya makin hari kok makin buruk. 

Bagaimana perasaanmu kalau dengan begitu antusias menyapa/memanggil seseorang di jalan, tapi yang dipanggil hanya menatap bingung, dahi berkerut dan terpaksa nyengir??? 

Kalau lupa bawa pena, dompet, payung, ato hape saat bepergian, mungkin masih wajar. Pun lupa beli belanjaan emak meski udah diingatkan berkali-kali. Lupa nama-nama tokoh novel/komik/film juga masih taraf wajar. 

Tarohlah itu bukan sesuatu yang begitu penting untuk diingat-ingat. Dan lagi, mereka gak bakal bilang "Masa gak ingat aku?" "Kok bisa sih lupa sama teman sendiri?" Pokoknya gak bakal dikira sombonglah sama itu-itu benda.   

Beda lagi masalahnya kalau berhadapan dengan manusia yang punya hati dan perasaan. Hal pertama yang paling menohok perasaan saya terjadi sekitar setahun lalu. Saat reuni aliyah. 

Saya ingat semua teman-teman yang hadir. Bahkan yang bertahun-tahun tidak bertemu, seperti Aan, Vahrul, dan beberapa yang kuliah di Mesir. Dari jauhpun saya yakin, saya masih mengenali mereka. Ada satu yang tidak saya kenali, meski berkali-kali saya bongkar file-file dalam memori, tetap tidak ditemukan. 

Tak tahan, saya bertanya ke dia "Kamu angkatannya siapa yah?" gerrr. Sontak teman-teman sekelas geger. Aan di sebelah saya bertanya "Kamu nanya beneran apa guyon?" 

Duh, gak cuma malu-maluin, tapi udah bikin malu orang juga. Hanya gegera dia pakai kacamata, saya tidak bisa mengenalinya. 

Tak lama setelah itu, kejadian-kejadian yang hampir sama terulang. Saya bertemu teman sekamarnya Yessi saat di asrama, saya ingat mukanya, tapi tidak ingat namanya. Saya ingat betul Senyuman dan suara khas Radin saat memanggil "Ibu Guru," tapi saya sulit memanggil balik, karena tidak ingat namanya. 

Saya tidak mengenali Bibi Linda, hanya karenanya perutnyi buncit sedang hamil. Saya tidak dapat mengenali Bapaknya adit, hanya karena dia tidak pakai seragam anggota Brimob. Saya tidak mengenali mamanya Raffa hanya karena dia pakai behel. Dan masih banyak lagi... 

Apakah itu semacam penyakit? atau kebiasaan yang dipelihara? should i see a doctor? 

Thursday, 8 December 2016

theme song

lagi, dari google
I'll fly away tomorrow 
To far away
 I'll admit a cliché 
Things won't be the same without you
I need to know what's on your mind
These coffee cups are getting cold
Mind the people passing by
They don't know I'll be leaving soon
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm
I need to know what's on your mind
These coffee cups are getting cold
Mind the people passing by
They don't know I'll be leaving soon
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.ht

kamu bilang ingin berhenti kerja 

kenapa? 
I'll fly away tomorrow
To far away
I'll admit a cliché
Things won't be the same without you
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm

I'll fly away tomorrow
To far away
I'll admit a cliché
Things won't be the same without you
http://musiklib.org/adhitia_sofyan-adelaide_sky-lirik_lagu.htm
kamu ingin pergi. pergi jauh. 

apa karena itu kau terus memutar Adelaide Sky - Adhitia Sofyan. semacam theme song, lagu yang sesuai dengan suasana hatimu saat ini. atau justru ingin pergi karena terus-terusan mendengarkan lagu ini. terbawa perasaan. 

kemana?

mungkin ke luar Indonesia. mungkin saja ke tempat yang tak seaman dan senyaman sekarang, katamu. 


I've been meaning to call you soonBut we're in different times

kapan? 

you'll be leaving soon.

kamu tahu, aku juga kerap berpikir sepertimu. ingin pergi jauh, kabur, lari dari kenyataan saat ini. tapi aku tak pernah bisa. seolah ada yang merantai hatiku, tuk tidak meninggalkan kampung halaman.

seandainya suatu ketika aku pergi, aku akan pergi untuk kembali. 

untuk apa?

mengejar cita-cita. impian. kebahagiaan.


I'll be hearing my own foot steps under Adelaide sky
Would you be kind enough to remember me
ah, kamu ... 

impian apa yang hendak kau wujudkan. kebahagiaan seperti apa yang kau cari. apa kamu sedang menghukum dirimu sendiri? 

Tan Malaka -yang kerap diasingkan ke luar negeri- pernah bilang; salah satu hukuman terberat selain hukuman mati, yaitu meninggalkan tempat kelahiran, masyarakat, pekerjaan, para teman yang dicintai, dan mengembara tak berketentuan di negeri asing.

won't be back if you could.

aku terdiam. seketika hatiku kosong. tak tahu mengatakan apa. hanya senyum. 


won't be back if you could.

Muhammad, kamu tahu, dengan berat hati hijrah ke Madinah. bukan untuk menetap di sana. ia hanya mengatur strategi,untuk merebut kembali kota Mekah. 

you wish you could tell me earlier. katamu lagi. 


I'll let you know what's on my mindI wish they've made you portableThen i'll carry you around and roundI bet you'll look good on me

Persis setelah Adhitia selesai bernyanyi, Megan Trainor menyahut

so, i'm gonna love you, like I'm gonna loose you
i'm gonna hold you, like i'm saying goodbye

aku ingin menahanmu, tapi siapa bisa apa aku. aku hanya tahu mencintaimu.

jadi, 
aku akan mencintaimu, seolah akan kehilanganmu
aku akan mendekapmu, seolah akan berpisah.   
 



Thursday, 1 December 2016

caraku mengingatmu

randomly take from google


awan gelap itu, sayang, rintik yang ritmis dan uar tanah basah. 
semuanya membisikkan kerinduan. 

kerinduan pada satu nama yang tak kukenali
wajah yang samar-samar
dan sosok yang teramat jauh
 
 

Monday, 28 November 2016

batal beli kaos

pict from here



Saya pengen order kaos tokoh, yang ada sablonan wajah Tan Malaka guede-gude di bagian depan, biar orang-orang tahu kalau saya sedang nge-fans sama blio. 

Saya mengunjungi beberapa online shop kaos tokoh. Rata-rata warna dan desainnya seragam. Kalau gak hitam yah putih. Ada pula yang merah jreng, tapi jarang. Di antara yang seragam itu, ada satu yang saya suka. 

Sebelum memutuskan beli di online shop  tersebut, saya liat-liat dulu isi web dan instagramnya. Hm... lah kok ada gambar Ahok pula di situ. Tentu saja saya kaget. Kamu tahu kan, kaos tokoh itu biasanya identik dengan pemikiran dan pergerakan ke-kiri-an

Akhirnya, gak jadi deh pesan di situ. 

Saya emang agak sensi kalau masalah Ahok ini. Lepas dari kasus penistaan agama. Atau identitasnya sebagai etnis Tionghoa atau seorang nasrani. Rasis dan picik jika berpikir seperti itu... 

Kasus Ahok ini memang lagi hot. Tidak menyangkut diri Ahok pribadi saja, tapi juga identitas yang diembannya. Kasus ini seperti menebarkan benih-benih permusuhan di antara orang muslim dan Ahok. Beberapa nasrani pembela Ahok bisa saja terpengaruh. Ia juga berpretensi memecah belah muslim pembela al Quran dan pro Ahok. 

Hanya gegara satu orang ini, Habib Riziq bela al Qur'an, dipojokkan. Buya Syafi'i Maarif bela Ahok, dipojokkan pula. 

Saya agak mengambil jarak dari peristiwa ini. Sebab informasi yang disampaikan media hanya sepotong-sepotong. Cenderung tidak seimbang. Jadi, pemirsa harus lebih bijak, agar tidak menelan begitu saja isu-isu yang penuh intrik dan berkelindan sana-sini.

Capek juga kalo ngikutin berita di TV. Baru ajah istirahat dari maraton drama kopi sianidanya Jessica, sekarang udah Ahok menista Al-Qur'an. Besok apalagi? Kancil korupsi timun?

Well, balik lagi ke laptop. Jadi, bukan lantaran hal di atas saya jadi sensi. Yang saya tidak suka, dia seringkali gusur-gusur warga. Mau alasannya mereka penduduk liar, mau mempercantik Jakarta, atau apapun, saya tetap tidak suka. Itu menyayat-nyayat hati nurani, gaes. Melihat orang-orang kecil diperlakukan seenaknya.  Niatnya mempercantik yang lain, tapi malah melukai yang lain. Haduh. Cantik itu memang luka!

Wajar dong, kalau saya sensi, kok, ujug-ujug ada muka Ahok -si tukang gusur- di lini masa online shop kaos tokoh itu. Hak dia juga sih sebenarnya. Mau jualan muka tokoh siapa saja juga boleh. 

Saya bertanya-tanya, selain sebagai pemimpin daerah, kontribusi apa yang sudah diberikan Ahok?  Mungkin sebab saya tidak tinggal di Bangka Belitung atau Jakarta -tempat Ahok pernah memimpin-, jadi saya tidak tahu sumbangsih apa yang sudah diberikan Ahok bagi rakyat-nya.

Saya scroll  terus ke bawah, melihat lebih banyak isi instragram itu online shop. Saya menemukan Che Guevara, Tan Malaka, Wiji Thukul, Munir dan Cak Nun. Di antara para toko pemikir, revolusioner, pejuang kece-kece itu terselip wajah Ahok. 

Memangnya dia sehebat para tokoh itu? 
Apa dia sekanan mereka?
Apa dia se-kiri mereka? 

Saya tidak melihat itu dalam diri Ahok. 

Hanya karena sebagian besar umat islam -yang dianggap kanan- mendemo Ahok, bukan berarti Ahok itu seorang kiri yang perlu diselamatkan.

Saya rasa, sebelum berpihak, sebaiknya berpikir kritis terlebih dahulu. Jangan sampai belok kiri jalan terus, eh, malah nabrak.    




 

Wednesday, 16 November 2016

sebenarnya

pict from google


Sebenarnya saya mau nulis ini dan itu. Tapi sementara di draft dulu ajah. Lagi panas-panasnya di kepala, takutnya malah terlalu emosional dan gak bisa objektif...

Jadi di postingan ini saya cuma mau bilang, kalo, tulisan saya tentang Pengakuan Eks Parasit Lajang-nya Ayu Utami juga di-publish di Padepokan Air Mata ... dan ada juga, semacam surat balasan, dari emak Fitri yang nulis tentang budaya kawin lari merarik dalam suku Sasak. Tulisannya emak fitri bisa dibaca di sini 

Selamat membaca, teman...    

Saturday, 12 November 2016

#novel: Pengakuan Eks Parasit Lajang




Saya mengenal Ayu Utami, dari buku-buku yang saya baca di perpustakaan kampus. Bagi seorang yang tertarik dengan isu perempuan macam saya, tulisan Ayu Utami makin bikin penasaran. Lebih menarik ketimbang karya-karya perempuan lain. Misal Djenar Maesa Ayu atau Fira Basuki. 

Larung, Saman dan Bilangan Fu, ketiganya berhasil mengajak saya mengenal sosok-sosok lain seperti Toeti Heraty, Derrida, Simone de Beauvoir dan beberapa lainnya.

Kadang-kadang terjadi diskusi kecil antara saya dan teman-teman. Saya ingat, ada Mbak Fitri, Istanti, Winda, Feny dan Ellik yang juga membaca karya-karya Ayu. Bilangan Fu yang paling fenomenal. Apa saja kami bahas, dari kisah percintaan sampai seksualitas dan feminisme dalam karya-karya Ayu. Beberapa dari mereka mengoleksi karyanya (sampai po juga loh...)

Namun, tertarik dan penasaran saja belum cukup untuk mengoleksi karya-karya Ayu. Saya pikir, baca di perpus saja sudah cukup. Sampai akhirnya, setelah semua lulus kuliah dan berpencar, diskusi berlanjut di facebook. Teman-teman merekomendasikan "Si Parasit Lajang." 

Kepada adik saya yang di Malang, saya minta dicarikan trilogi Si Parasit Lajang. Si Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico dan Pengakuan Eks Parasit Lajang. Dari tiga yang saya order, hanya Pengakuan Eks Parasit Lajang yang tersedia. Jadilah saya hanya membaca bagian terakhir. 

Di bagian akhir ini, berkisah tentang si A(yu) yang semulanya Si Parasit Lajang -menolak menikah tapi tidak selibat-. Sudah tentu A(yu) menolak menikah. Sebab pernikahan, dalam pandangan feminis terhadap budaya timur, adalah sebuah lembaga patriarki. Ia tentu tidak mau dicap perempuan lemah yang hanya dapat bergantung kepada kaum laki-laki.

Yang mengejutkan, di akhir trilogi ini, Si Parasit Lajang memutuskan pensiun. Ia Akhirnya menikah. Ironi memang, setelah sebelumnya ia meyakinkan pembaca agar tak perlu khawatir jika belum menikah atau memang menolak menikah.

Lantas, kenapa A(yu) memilih menikah? 

Pengakuan Eks Parasit Lajang ini menjawab semuanya. Ia semacam argumentasi yang ingin disampaikan A(yu) atas pilihannya tersebut.

Ketika sampai pada halaman terakhir, saya tertawa dalam hati. Seksualitas, feminisme, militerisme, dan spiritualitas yang dibincangkan Ayu dalam bukunya menguap begitu saja. 

Sepanjang, serinci, dan serasional apapun pengakuannya dan alasan yang ia kemukakan kenapa ia menikah, bagi saya, alasan tetaplah alasan. 

Saya menyadari satu hal. Hal sederhana yang kerap kita dengar. Bahwa jodoh, sesungguhnya, adalah rahasia tuhan. Takdir.

Sekhusyuk apapun kau meminta,
jika belum waktunya, 
tak akan kau dapat...

Sekuat apapun kau menghindar,
jika sudah waktunya,
tak dapat kau menolak... 

Thursday, 10 November 2016

Selamat Hari Pahlawan

Mari sejenak mengheningkan cipta, mengenang para pahlawan...

Masing-masing kita, pasti punya pahlawan yang diidolakan. Iya, kan?


 
Sebagai penggemar bulu tangkis, sudah tentu pahlawan saya Liliyana Natsir-Tantowi Ahmad yang mempersembahkan sebuah kado terindah bagi ulang tahun Indonesia, medali emas Olimpiade RIO 2016, saudara-saudara!  


Sebagai penikmat puisi, Chairil Anwar belum tergeser. Dia tetap nomor satu!


Dan, terakhir, entah dari mana saya mengenalnya. Saya ingat, dulu saya begitu penasaran dengan novel Pacar Merah yang bertengger di rak buku Togamas malang. Saya membelinya, belum juga dibaca, sudah duluan dibarter oleh mpok Istanti dengan buku The Second sex-nya Simone de Beauvoir. Hm...bukan dibarter sebenarnya, tapi jamninan. Sebab sudah lama bukunya saya pinjam tak kunjung dikembalikan.
 
Si Pacar merah itu adalah Tan malaka. Saya sedang berkenalan dengannya, mengenalnya lewat karyanya, Dari Penjara ke Penjara. Baru beberapa bab saya baca, tapi saya dapat merasakan semangat juang yang dikobarkannya dari dalam kubur sana. 

Bagi saya, ia sosok binatang jalang, dari kumpulannya terbuang. Ia pahlawan, yang terbuang dari sejarah. 

Kalau kamu, siapa pahlawanmu?
 

Tuesday, 8 November 2016

tertuduh

pict from here


Saya cuek, bukan berarti sama sekali tidak peduli. Saya cuek, bukan berarti sama sekali tidak peka. Saya ceplas-ceplos, bukan berarti sama sekali tidak menghargai perasaan orang lain. Ada saat di mana saya bisa begitu sensitif, meski hanya karena hal-hal yang kamu anggap kecil dan sepeleh. 

Setiap orang punya batas, tembok yang membentengi dirinya dari orang lain. Membentengi dari teman atau mantan. 

Dari seorang sahabat terbaik, saya belajar satu hal. Ia tipe orang yang tidak suka punya banyak koleksi/barang. Satu, dua, cukup. Jika rusak, tidak segera ia buang, lalu membeli yang baru. ia akan memperbaiki benda tersebut, lalu dipakai lagi. ia akan membuangnya jika memang sudah benar-benar tak dapat diperbaiki.  

Dalam bergaul, saya menerapkan filosofi teman saya tadi. Saya senang membangun jembatan dengan orang lain, dan akan menjaganya baik-baik. Satu kesalahan kecil, tentu dimaafkan. Dilukai sekali, tak mengapa. Toh, sudah tentu, dalam suatu hubungan pertengkaran selalu ada. Ia semacam bumbu yang menyedapkan.

Namun, segala sesuatu ada batasnya. Jika batas sudah diseberangi, dan hubungan tak sanggup lagi dipertahankan, mungkin sudah saatnya kita bakar saja jembatan yang menghubungkan kita.  

Kamu boleh menertawai saya di belakang, atau memaki di hadapan saya. Tapi menuduh? Saya tidak suka itu. Apalagi jika jelas-jelas saya tidak pernah melakukan itu.

Seumur-umur main facebook, seorang teman sesama PKL, saat mahasiswa dulu, terpaksa saya block. Sebab ia menuduh saya untuk hal yang, ah... sudahlah. 

Bagi saya, ketika kamu menuduh seseorang, itu artinya kamu sedang meragukan ia. Mungkin bukan meragukan, lebih tepatnya tak menaruh kepercayaan. Mana mungkin kamu percaya padanya, jika kamu yakin ia melakukan hal yang tak dilakukannya. 

Baru-baru ini hal itu kembali terjadi. Seorang menuduh saya, saya bahkan tak pernah bermimpi dan berkhayal tentang hal seperti itu. Apa yang saya lakukan? saya tidak memblock dia di jejaring medsos. Kekanakan sekali. 

Sebab kami dekat, tentu saya maafkan. Tapi, saya rasa semua tak lagi sama. Mungkin ini cobaan. Entah Menjauhkan, atau justru mengeratkan...     


 

Friday, 1 July 2016

kehendak

Beberapa hal kadang tidak berjalan sesuai apa yang kita kehendaki; 
               apa yang kita impikan, kadang susah digapai, bukan berarti tidak mungkin. 


Beberapa yang tidak dihendaki justru menyambut kita;
               selagi baik, sambut pula ia. Raih segala kesempatan yang mungkin tak kembai                  bila kautolak.                                  

Sunday, 3 January 2016

Halo, 2016

Halo, 2016!!!

Senang bertemu, 2016

Banyak hal terjadi di tahun 2015. Ada yang baik, ada yang buruk. 

Terima kasih atas segala nikmat.
Terima kasih karena dihindarkan dan diselamatkan dari hal-hal buruk.

Semoga di 2016 segalanya bisa lebih ramah... 


First selfie in 2016

Thursday, 24 December 2015

Sederhana

Bahagiaku sederhana
Sesederhana mengenalmu

Cintaku istimewa
Seistimewa dirimu


#gombaldiharilibur





Monday, 5 October 2015

Kelak

Setiap doa, kelak akan terkabul
Setiap tanya, kelak akan terjawab
Mungkin bukan sekarang
Dan kita perlu bersabar

Friday, 25 September 2015

Apa kabar?

Assalamu'alaikum, bloggers budiman.
Apa kabar? Sudah lama saya ingin menyapa anda. Tapi ada saja kendalanya. Misal; sinyal internet jelek, paketan habis, tidak sempat ngeblog.
Tapi sebenarnya, semua itu cuma alasan. sebenarnya saya kehabisan kata-kata. Umpama seorang penyihir yang lupa akan mantranya. Dan itu menyiksa sekali.
Akhirnya, saya alihkan dengan memotret. Jangan dibayangkan saya pakai kamera digital macam photographer~photographer itu. Apa saja saya abadikan; anak~anak, senja, matahari terbit, dan tentu saja wajah narsis saya sendiri. Semuanya bisa diakses di akun instagram saya @novi_rahantan
Okeh, abaikan curhatan saya. Mumpung masih bau sapi dan kambing, saya ucapkan "Selamat Hari Hari Raya Idul Adha 1436 H"
Jangan lupa follow ig saya @novi_rahantan. Mari berjejaring!

Monday, 9 March 2015

dihujani galau

saat galau, kau hanya perlu berlabuh di hati yang tepat


Saya rasa, galau kembali menghujani saya. Seperti musim hujan, ia turun sepanjanjng hari. Sepanjang minggu. Dan saya tak tahu kemana harus berteduh. 

Seringkali galau menuntun saya menjauhi keramaian. Jauh dari kamar, rumah, dan dari diri saya kemana saja ia mau. 

Semestinya ia membawa saya ke tempat makan. Melampiaskan kegundahan dengan melahap berpring-piring makanan enak. Mungkin makanan yang masuk ke perut akan memberi tahu saya kemana saya harus berteduh, berlindung dari kegalauan ini. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...